LELAH

LELAH
Aku Pergi


__ADS_3

Hari ini ana jadi tidak merasa kesepian. Itu semua berkat noven yang dengan suka rela mau menemaninya. Bahkan ia mau mengantar ana sampai rumah menggunakan mobilnya.


" terimakasih noven, sudah mau menemaniku..." kata ana melalui jendela mobil yang sengaja noven buka.


Noven melemparkan senyuman, " kalau begitu aku pulang ya, jaga keponakan ku itu.jangan membuatnya sulit karena ulah mu yang keras kepala."


Ana mengerucutkan bibirnya.


" memangnya aku kenapa?"


"contohnya seperti tadi. Berjalan-jalan seorang diri, kalau tiba-tiba lahir bagaimana? Berarti kau membuat keponakan ku itu sulit, kata noven, diakhiri tawaan yang mengeleggar.


Ana masi mengerucut bibirnya.


"Aku bercanda,"


"aku pulang ya," noven menyalakan mobilnya, kemudian pergi dari depan rumah ana.


ana tertawa kecil bila mengingat perkataan noven, mengenai tentang bahaya ibu hamil berjalan seorang diri, walaupun ia tau akan hal itu, ia berpura-pura seolah ia tidak tahu. Karena ia tahu noven sedang berusaha agar ia tetap tersenyum.


~ Ckleks..


pandangannya tidak langsung tembus seisi rumah, karena sekarang sebuah dada bidang telah menghalangi jalannya.


"Daniel?" ada perasaan senang saat mengetahui bahwa suaminya telah kembali. Suaminya kembali sebelum persalinan itu terjadi. Dan saat itu juga senyum itu mengembang dengan sempurna.


Tapi, entah dimana letak kesalahan ana, daniel menarik pergelangan tangan ana secara tiba-tiba, menariknya kasar dan menyeretnya hingga kedalam kamar milik ana.


Brakss! Daniel menutup pintu kamar ana secara kasar dan kencang.


Ia hempas pelan tubuh ana diatas ranjang


"bagus,"


"kau dari mana?!" bentak daniel,dengan nafas yang mengebu-ngebu.


"berjalan-jalam sedikit, mengelilingi komplek," jawab ana, dirinya pun masih sempat memberikan senyuman pada daniel, walaupun daniel baru saja memperlakukan hal kasar padanya.


" Bohong!" teriak daniel dengan murka.


Seketika itu juga, senyum di bibir ana lenyap, " aku tidak berbohong."


Daniel mengenggam paksa pergelangan tangan ana kemudian mmemaksanya untuk beridiri.


"sshhh...sakit.." ringis ana, pasalnya tangannya saat ini di cengkeram kuat oleh daniel.


"aku kan sudah pernah mengatakan pada mu untuk tidak macam-macam selama aku tida ada."


" dan tadi kau sudah melanggarnya,"


benar, ana sudah melanggar perintahnya, bukan kan ia meminta wanita itu untuk tetap dirumah, tapi kenapa justru ia malah pergi bersama noven, adiknya!


Daniel tau mobil yang istrinya naiki itu adalah mobil milik noven, karena ia sempat mencari keberadaan wanita itu dan tak sengaja melihat wanita itu keluar dari mobil milik adiknya itu.


Ana mengernyitkan dahinya tidak mengerti. Daniel kembali menghempaskan tubuh ana diatas ranjang.


"aku telah salah memberi peringatan pada seseorang, terlebih itu adalah seorang ******! Ana teepaku mendengarkan hinaan daniel.


" kau tidak sadar kalau kau ini sedang hamil?!"


" kau tidak malu dengan semua perbuatan mu itu?!" bentak daniel habis-habisan.


Ana masih terpaku, dengan air mata yang tanpa sadar sudah mengalir cepat dan deras.


Ana menagis tanpa isakan.


~Ckleks


Sesosok siska sudah berdiri dibelkang daniel.daniel yang merasakan kehadiran seseorang menoleh kebelakang.


Siskapun mendekat kearah ana, dan berdiri disamping daniel.


plakk! Tamparan keras mendarat dipipi ana, tamparan itu berasal dari tangan siska. Mendarat dengan sempurna.


"setelah kau mengambil daniel, kau ingin menyelingkuhinya?!"


"bahkan dia mengandung anak pria hidung belang!" murka daniel tidak tanggung- tanggung saat ia mengingat ana keluar dari mobil adiknya!


Bagai disambar petir ana mendengar semua perkataan daniel. Ia masih menganggap anaknya ini anak pria hidung belang, ia belum mengakui anak kandungnya ini?


Luruh sudah harapannya pada daniel, harapan yang masih sangat ia harapkan bahwa daniel akan kembali baik padanya, semuanya sudah hancur! Hatinya begitu sakit, bahkan ini lebih sakit dari apa yang daniel lakukan pada fisiknya.


Ana bangkit dari duduknya dengan air mata yang membasahi pipinya,

__ADS_1


Plakk! Ana menampar balik siska sekeras mungkin bahkan tubuhnya sampai terjatuh diatas ranjang.


Daniel yang menyaksikan tamparan itu segera menghampiri siska, menghampiri kekasihnya itu dengan wajah yang panik.


"sayang kau baik -baik saja?" panik daniel,


Siska meringis kesakitan bahkan menangis dengan sangat pilu mendapat tamparan dari ana.


Daniel yang tak terima atas perlakuan kasar ana, menarik sedikit pergelangan tangan ana agar menjauh dari ranjang. Kemudian setelah ia mencengkeram pipi ana kuat-kuat.


" kau tidak melihatnya! Dia kesakitan!"


" seharusnya kau berfikir dulu sebelum melakukan sesuatu." murkanya. Otot-otot lehernya pun ikut serta, menandakan bahwa daniel begitu murka pada ana.


" apa dia berfikir juga sebelum menampar aku?" kata ana sembari menahan isak tangisnya.


" kau seharusnya yang berfikir, jika terjadi suatu hal yang membahayakan pada kandungan siska bagaimana?" banyak perkataan daniel yang tidak terduga dan berhasil membuat ana terdiam, bahkan nafasnya dan jantungnya seakan berhenti.


"kenapa? Terkejut?"


"iya siska hamil, hamil anakku.buah cinta kami berdua, anak yang benar- benar aku harapka, sekarang ia tumbuh disana." ucap daniel panjang lebar, kemudian melepas cengkeramannya dipipi ana.


Ana terduduk lemas diatas lantai. Kakinya tidak sanggup lagi untuk menopang. Paru-parunya seakan berhenti memompa udara.


" tidak usah drma!"


Ana menatap suaminya itu dengan lemas.


"Anak kita?"


Daniel tertawa menyeringai, " anak mu, bukan anak ku..."


Demi apapun, ini keterlaluan! Daniel sama sekali tidak mau mengakui anaknya sendiri, darah daginnya sendiri.


"dia anak mu."


Daniel menyeringai " tidak perlu menutupi sifat busuk mu itu."


"akau tau, dia itu anak pria hidung belang."


Tuduh daniel habis-habisan, memangnya ia bodoh membiarkan wanita itu untuk mengandung anaknya!


Ana kembali bangkit, menatap mata daniel tanpa rasa takut, mentapnya dengan dalam.


"Anak kandung mu, bukan anak pria lain!" ana tak bisa menahan emosinya, ia berteriak dengan sangat keras didepan wajah daniel


"omong kosong!"


"Setelah puas bermain cinta dengan pria hidung belang, terus kau ingin mengakui kalau itu anak ku?" bentak daniel yang lebih murka kepada ana.


" akau tidak mengerti dengan jalan fikiranmu, bisa- bisa nya menjadi wanita bayaran tanpa berfikir panjang, tanpa berfikir kedepannya!"


"Dan sekarang, bayi didalam kandungan mu, yang menjadi imbasnya."


"pasti dia sekarang menyesal memiliki ibu sepertimu, bahkan ia akan menganggapnya hina setelah lahir.


"bayi yang malang, ana har....."


*Plakk!!


sebuah tamparan mendarat dengan sepurna dipipi daniel*. Ana menapar daniel, memang itu pantas untuknya.


" jangan menghina bayi ku!" nafas ana mengebu-ngebu, matanya memerah. Daniel yang mendapat tamparan seketika mematung.


Sikap dan perkataan daniel sudah tidak bisa ditoleransi untuknya. Ayah macam apa yang dengan tegannya menghina darah dagingnya sendiri.ia rela bila dirinya saja yang dihina olehnya, tapi jangan bayinya ini. Bayi yang tidak berdosa ini.


" bahkan kau lebih hina disandingan denga pria hidung belang diluar sana!" ana tidak bisa meredam emosinya, bahkan ia mengatakan dengan sebuah penuh penekanan.


Dan kini daniel siap melayangkan sebuah tamparan untuk ana.


"tampar, tampar aku. Aku tidak akan marah!"


"aku tidak akan masalah jika kau menyakiti fisikku. Tapi jangan kau menghina bayi ku!" murka ana.


Daniel mengurung niatnya, dan menurukan tangannya kembali dan menyisakan kepalan amarah.


" kau membenciku, akupun tak aka masalah! Tapi jangan membenci bayi ini, dia anak mu, darah daging mu. Kau sendiri yang menanamkan benih itu dirahimku. Tapi kenapa juga kau menyangkalnya!"


Daniel menyunggingkan senyum devilnya," tapi aku tidak pernah merasa, kalau aku yang menanamkan benih dirahim mu itu, *****!


" dan ya, aku membencimu dan bayi har...."


Plakk!!

__ADS_1


ana kembali mendaratkan tamparannua dengan sempurna di pipi daniel, menamparnya dengan keras bahkan suara dari tamparan itu terdengar begitu nyaring.


"sudah ku katakan, jangan menghina bayiku! Aku tidak akan menerimanya! Kau paham!" teriak ana yang tidak bisa menerimanya.


Daniel tidak terima dengan perlakuan kasar ana, ini ke 2 kalinya ana menampar dirinya.


Daniel benar- benar tidak bisa lagi. Daniel menarik kasar pergelangan tangan ana, membawanya keluar dari kamarnya ini, bahkan jalannyapun menjadi terseok-seok.


Ia membawa wanita hamil, bagaikan binatang.


Setelah itu daniel menghempas tubuh ana keluar rumah, menghempaskannya layaknya sampah.


" pergi!" teriak daniel.


Ana menatap daniel tidak percaya. Suaminya itu....


"Aku bilang ,PERGI!!" bentak daniel lebih keras lagi.


Daniel mengusirnya?


Ana menghapus sisa air mata yang menempel dipipinya, menghapusnya dengan kasar.


ana tertawa bak orang yang tidak waras.


" aku akan pergi, aku akan pergi."


" tapi sebelumnya aku ingin mengucapkan maaf pada mu, kalau aku telah merusak kehidupan mu, bahkan hubunganmu dengan kekasihmu itu,"


" jujur akupun tidak ingin melakukan itu semua. Tapi...." ana mencoba lebih tegar, tanpa air mata yang terjatuh.


"terimakasih karen kau sudah mau menanam benihmu itu dirahimku, awalnya aku berfikir itu semua hanyalah khayalan saja. Tapi ternyata tidak, kau mewujudkannya."


" kau tidak perlu khawatir aku akan merawatnya dengan baik. Merawat anak mu ini yang akan kupastikan, ia tidak akan kekurangan kasih sayang."


"aku tidak perduli." daniel bersikap acuh pada ana. Ia benar- benar tidak perduli dengan semua omong kosong yang dilontarkan oleh ana.


"aku mengijinkan mu untuk menyentuhnya."


" sungguh, daniel benar-benar tidak mau berkompromi dengan ana. Yang ia tau sangat murka dengan semua omong kosong ana.


Daneil tidak mengubris perkataan ana.


" kau yakin tidak ingin menyentuhnya?"


ana mencoba memastikan kembali agar daniel mau menyentuhnya.tapi tidak, lihat pria itu, hanya diam mematung, bahkan ia tidak mau menatap ana sidkitpun.


"kurasa tidak, bodoh sekali aku ini!"ana sudah seperti kehilangan akal, ia tertawa puas dihapan daniel, saat daniel mengabaikannya.


"tapi, ku pastikan kau tidak akan bisa menyentuhnya!"


" Tidak akan!" janji ana penuh amarah yang memuncak.


"akupun tidak mengaharapkan itu!"balas daniel sengit.


Hati ana begitu sakit mendengarnya. Ia pun membawa tangannya keatas perutnya, memandang bayi yang ada didalam kandungannya begitu menyayat hati.


"Ayah mu tidak mengharapkanmu sayang..."


" jangan bersedih sayang, bundapun tak mengharap pria itu menyentuhmu, bahkan mengambilmu. Bunda sangat bersyukur akan hal itu.." ucap ana pada bayi yang ada dalam kandungannya.


"pergi!"usir daniel yang kesekian kalinya.


Perlahan-lahan ana menaikan kembali tatapannya, pada mata milik daniel.


"aku akan pergi, tidak perlu khawatir."


" berbahagialah dengan calon istrimu dan anak kandung barumu."


" tidak-tidak, maksudku anak kandungmu. Ya, anak kandung mu. Hanya janin yang berada dalam kandungan siska, tidak ada yang lain."


Daniel tak menjawab perkataan ana, wanita ini benar-benar berbeda. Sejujurnya daniel masih tidak menyangka, bahwa seorang ana bisa semurka ini. Tapi apa perdulinya, memang itu yang ia inginkan, menyakiti ana sesakit mungkin, tidak perduli dengan kemurkaan itu.


Walaupun sebenarnya dihati kecilnya ia mengakui bahwa sebenarnya ia salah melakukan hal ini pada ana.


"terimakasih telah memintaku pergi, karena jika kau tidak memintanya, mungkin aku masih berada dirumah ini, bertahan seperti orang bodoh, lalu akan membawaku pada kegilaan."


"Tapi sekarang tidak, kau sudah memintanya pergi.dan aku benar- benar pergi"


"silahkan pergi, dan jangan kembali." ucap daniel, dengan membuang wajahnya.


Ana tersenyum penuh kesakitan, kemudian ia memutar tubuhnya, perlahan-lahan ia meninggalkan rumah ini. Rumah yang menjadi saksi atas semua kesakitan yang dirasakan wanita malang ini.kini semua hanya tinggal kenangan saja.


Dan saat semua yang diperjuangkan, harus berakhir sia-sia. Berakhir dengan luka, luka yang teramat dalam.

__ADS_1


Mohon dukungannyaa untuk karya ku🙏🏻🙏🏻😊😊


__ADS_2