
Kedua sahabat ini puas saling bercerita,
Bercerita masa-masa SMA meraka dulu.
masa-masa menurut mereka indah penuh kegilaan.
Sitomboy lily yang telah berubah menjadi feminim. Dan si polos ana yang tetap tidak ada perubahan, bentuk tubuhnya pun tetap sama.mungil.
" bagaimana kabar mu lily?"
" aku baik-baik saja."
"sekarang penampilan mu berubah lily, semakin cantik."
"iya ana, aku berubah setelah menikah sama heru.
"aku jadi senang melihat penampilan kamu sekarang lily anggun.
" tunggu..." kata lily, yang tiba-tiba, dengan wajah yang serius.
"ada apa?" tanya ana panik
"sepertinya, tubuhmu sedikut berisi ya...
Pria itu memberimu makan apa saja?" ana refleks memegang kedua pipinya.
Tentu saja tubuhnya mulai berisi, ia tengah hamil 5 bulan hanya saja perutnya yang buncit itu tidak terlalu terlihat karena efek dari baju miliknya.
" tunggu-tunggu.." kini lily mengarahkan matanya mengarah pada perut ana, yang menurut nya sedikit aneh dari perut orang-orang biasa.
Bahkan lily menyentuh perut ana.
perut membuncitnya sangat terasa sekali oleh tangan lily. Padahal sebelumnya, ia tidak menyadari perut ana yang sudah membuncit.
"You pregnant?" ana mengangguk
" oh my god! Kau serius?
" lily benar" tak menyangka ana mungilnya tengah mengandung. Itu sangat lucu.
"iya lily.." jawab ana gemas
" berapa bulan?"
" 5 bulan."
"oh my god...ana aku bahagia mendengarnya,"
" Pasti suami mu sangat bahagia, jadi aku tidak sabar aku untuk melihatnya segera lahir didunia ini." perkataan lily sungguh membuat ana merasa sedih.
Bahagia? Ia saja ragu akan kehamilan ana, apa benar anaknya atau bukan.bagaimana ia merasakan bahagia.
"ana?" panggil lily pelan, membuat ana terbuyar dari lamunannya.
"hhmm, iya..." lily mencubit gemas pipi ana ".
"Pipi tirus ini sudah mulai berisi ya,"
" Perut yang tadinya rata, bahkan terlihat tulang rusuknya, jadi berisi seperti ini."
ana mengerucutkan bibir tipisnya
"jahat sekali..." ana merajuk.
" bumil marah, ah aku jadi takut, nanti mengadu pada suaminya lagi," ledek lily.
"oh iya ana, ngomong-ngomong suamimu jago juga membuat sipolos ana ini menjadi hamil." otak mesum lily ternyata tetap ada padanya, dan itu berhasil membuat ana terkejut.
"lily."
" Pasti permainan kalian sangat panas."
Ledeknya diselingi senyum nakal.
" lily!" lili puas meledek ana, ia sangat rindu
Meledek ana yang polos ini.
Lily membuatnya mengingatkan malam itu, malam yang membuat ana selalu mengingat setiap inchi sentuhan yang diberi daniel, walau dalam keadaan mabuk.
" ana? are you oke?" ana terbuyar dalam lamunan panasnya.
" yes"
3 jam belalu..dan sekarang tepat pukul 16:00 tanpa sadar waktu sudah berlalu begitu cepat. berdiam diri di restaurant ini hanya memesan minuman saja.
"kau ingin kembali?" tanya lily, ia takut ana jenuh berada disini. Karena biasa nya mood orang hamil sangat sensitif. Dan yang lily takutkan ana tidak mau mengatakan bila ia merasa bosan.
"No, I still miss you."
" sudah sore ana...pulang saja ya kau kan sedang hamil. Nanti ada waktu kosong kita bertemu lagi oke?" ana mengangguk pasrah.
" tapi aku tidak bisa mengantar mu pulang, aku masih memiliki janji.."
__ADS_1
My grandma ingin datang kerumah, jadi aku harus menjemputnya dulu dibandara."
" Baiklah, kalau begitu aku pulang duluan ya?" lily bangkit dan sudah siap-siap akan pergi.
" tenang saja, minumnya sudah aku bayar.
bey..." lily pergi dengan tangan yang terus melambai kearah ana. Sampai tubuhnya menghilang dari ana.
Yang sekarang ana lakukan adalah menghubungi daniel.
tapi sepertinya hasilnya nihil daniel tidak mengangkat teleponnya. Sudah lebih dari 10 kali ana meneleponnya tapi sama sekali tidak ada jawabannya.
" kenapa tidak diangkat.."ana mencoba menghubungi suaminya itu, justru yang ia dapat hanya suara jaringan komunikasi.
...****************...
Mencari, itu yang sedang daniel dilakukan. Mencari kekasihnya yang tak kunjung kembali. Merindukannya, ia sangat merindukan kekasihnya itu. Dan rindulah yang membawanya sampai didepan rumah siska bersama orang tuanya.
Sejujurnya ia marah pada kekasihnya itu, sudah seminggu ia tanpa kabar. Dan itu sangat membuatnya tersiksa! Ia tau kalau siska sedang merawat dadynya yang sedang mengobati penyakit. Yang entah apa penyakit yang dideritanya.
Yang jelas siska secara mendadak me-lost contact daniel.
Tok..tokk..
" Ya, mencari siapa?" wanita paruh baya yang mengenakan daster bermotif yang membukakan pintu
"siska ada?"
"siska?" wajah wanita paruh baya itu sedikit memasang wajah bingung.
" ya, siska wistie.' lanjut daniel.
" maaf dirumah ini tidak ada yang bernama siska wis...."
" siska wistie.." ulang daniel
" ya itu, saya ART disini. Dan disini rumah ini milik kevin pyrstia.."
Daniel tertawa pelan, apa ART ini membuat lelucon. Sudah jelas ini rumah milik siska wistie, Ayah kandungnya.
"Setahu saya, tuan membeli rumah ini setahun yang lalu.."
Lengkungan dibibir daniel perlahan menghilang. Setahun yang lalu? Lalu, untuk apa siska datang kerumah ini 2 minggu yang lalu.
dengan beralasan mengambil pakaian, saat dirinya mengantarnya.
" jadi?"
"ya anda salah alamat."
Apa ia sedang dibohongi siska?
tidak, daniel merasa dirinya harus menghubungi siska kembali, walaulun berujung kekecewaan.
Tunggu, belasan panggil tak terjawab?
dan nomor milik siapa yang dihubunginya?
menghubunginya menggunakan nomkr pribadi milik daniel.
Hanya deruan nafas yang daniel keluarkan.
ia tidak memperdulikan apalun lagi, yang ia harus lakukan adalah menghubungi siska.
Bahkan mungkin, ia sudah melupakan ana. ana yang sudah menunggunya direstaurant dan mungkin juga lupa janjinya yang akan menghubungi ana.
Tudak, sebenar nya tidak! Hanya daniel yang tidak memiliki nomor istrinya itu....
...****************...
"aku dimana?" tentu saja berada disebuah mobil, yang entah mobil milik siapa.
"tunggu, kenapa aku ada disini?" ana heran, setahu dirinya, ia berada direstaurant dan....
"apa aku diculik," ana mulai panik, pandangnya mulai menatap disekitar.
Parkiran restaurant tadi?
" ana" suara dari pengemudi disampingnya berhasil membuat ana terkejut
" noven..."
"maaf ana...aku melihat mu berada didalam tidur, dan akhirnya aku.memutuskan membawa mu kedalam mobil ku."
tidak, sebenarnya itu bukan kebetulan.
*Mata noven menatap dengan seksama ana yang berdiri di pinggir trotoar. Untuk apa ia beridir dipinggir trotoar siang hari seperti ini? Untuk merubah warna kulitnya? Fikir noven yang menduga-duga dari kejauhan.
Sebenarnya noven sudah berniat menghampiri ana, namun sayang sedan putih lebih dulu menghampirinya sedan milik Rakha.
Niat awal noven sebenarnya ingin melihat kondisi ana yang terakhir kali ia lihat oleh mata telanjangnya, kakaknya itu memperlakukan ana dengan kasar.
Tapi, kali ini pria pemilik sedan putih itu menarik lengan ana, sampai pagar delan rumahnya. Apa yang harus noven lakukan?
__ADS_1
Mendekat kearah rumah? Itu tidak mungkin, sepertinya ini bukan waktu yang tepat.baiklah, menunggu salah satu cara yang tepat.
Beberapa saat kemudian mobil milik daniel sepertiny keluar. Berjalan meninggalkan rumahnya dan laki-laki itu seorang diri yang pada akhirnya pemilik mobil sedan putih itu mengikuti mobil milik daniel.
noven pun tak bisa diam saja, ia harus mengikutinya pula untuk memastikan ana.
Noven trus bergumam sendiri, apa yang sedang terjadi? Apa daniel memperlakukan ana dengan kasar lagi, sampai-sampai pemilik mobil sedan putih itu mengikutinya.
Noven yang diam-diam mengikutinya sempat tidak menyangka, kenapa berhenti direstaurant ? Apa daniel mengajaknya makan siang, Astaga kalau itu iya. Akan menyakitkan baginya.
Benar saja daniel mengenggam tangan ana sangat erat. Noven tidak boleh egois, ana istri dari kakaknya. Jadi, tidak masalah jika daniel mengajaknya untuk makan siang.
Tak lama mobil sedan putih itu menghilang, dan kini hanya tinggal noven yang dipinggir jalan.
Sekarang, apa yang harus ia lakukan sekarang? Mengintai sepasang suami istri yang belum bisa ia percayai, sedang makan siang bersama? Itu gila.
Ia ingin menjalankan mobilnya kembali, tapi ia urungkan niatnya, saat sepasang bola matanya menatap tubuh tegap kakaknya, keluar dari restaurant hanya seoarang diri.
Ada rasa sedikit bahagia dan heran. Ia bahagia ternyata pemikirannya tentang masalah makan siang itu salah. Dan membuatnya heran, kenapa kakaknya hanya keluar seorang diri? Apa dia meninggalkan ana seorang diri didalam restaurant? Apakah dia memperlakukan hal yang kasar pada ana
Lalu meninggalkannya sendirian. Atau...
Mata noven mulai mencari keberadaan ana, apakah dia sedang diperhatikan oleh semua orang disini karena menangis? Seperti tempo lalu saat ia menemukan ana ditaman. Tidak, itu tidak boleh terjadi lagi.
nafas lega noven hembuskan, saat yang ia lihat ana sedang bersama wanita.
Wanita yang dulu hampir membuat noven naik dara, lily. Tapi sepertinya wanita itu telah berubah menjadi feminim.
Dan ana tidak sedang menangis atau bersedih seperti ditaman waktu itu.melaiman kebahagian bersama sahabatnya.
"syukurlah.." gumam noven dari jauh.
Entah apa yang membuat ana masih berada direstaurant ini seorang diri, bahkan pada akhirnya ia terlelap diatas meja restaurant.
Dan noven menghampiri ana, dan yang sudah pasti ia memopong ana menuju mobilnya*.
"jadi, kau kenapa?" Noven mengeluarkan pertanyaan, sudah ia ketahui.
"mungkin aku tertidur."
"ohya noven, aku jadi membuat repot kamu..."
"aku sudah direpotkan oleh kamu," ana teringat sesuatu, ia mengeluarkan ponselnya, untuk mengecek apa ada telepon atau messengger dari daniel atau tidak dan kenyataan nya memang tidak ada.
Ana sedikit kecewa, kenapa daniel tidak menghubunginya?
"Suami mu yang kasar itu mana?"ana segera menatap noven.
" dia tidak kasar, hanya khawatir."
"iya, maksudku itu." ralat noven yang begitu tidak suka
" dia ada urusan lain, jadi tadi aku harus menunggunya sebentar sampai dia menelepon ku, dia sudah berjanji pada ku."
" Tidak, tapi aku tidak sabar menunggunya... Jadi aku meneleponnya lebih dulu, tapi tidak diangkat."
"aku sudah tau jawabannya," ana terlihat mengernyitkan dahinya.
"kau ingin pulang, tapi suamimu itu tidak datang, jadi kau ingin menunggui suami mu itu?"
Ana menggeleng " dia sudah berjanji ingin menjemput ku,"
" Aku antar pulang," noven sudah siap memutar kunci mobilnya, tapi ana menahan tangan noven.
"Tidak, suami ku sudah berjanji untuk menjemput ku, dan aku harus tetap disini."
ana ingin keluar dari mobil noven tapi kini giliran noven yang menahan tangan ana.
"aku temani, tapi disini saja, tidak didalam katanya karena ia sudah yakin, pasti kakaknya itu tidak akan pernah datang dan tidak akan peduli pada ana. Ana hanya diam.
Berdua didalam mobil bersama noven?
Noven mengerti apa yanh ada didalam fikiran ana, pasti ia tak mau berduan didalam mobil bersama pria lain yang bukan suaminya.dan noven sudah faham.
" kau didalam, dan aku diluar."
" tidak mau," tolak ana. Ini mobil milik noven, kenapa pemiliknya harus diluar? Tidak sopan sekali.
noven keluar dari mobilnya tanpa mengeluar sepatah kata apapun. Ia tidak terima penolakan dari ana, yang terpenting ana aman itu sudah lebih dari cukup.
jadi ini keputusan ana, menunggu daniel tanpa sepengetahuannya yang sibuk mencari kekasih gelapnya.
Jam sudah menunjukkan pukul 19:00, tapi suaminya itu belum juga kunjung datang. Apa iya lupa? Atau memang sengaja? Entalah, ana semakin kecewa padanya.
"Aku ingin pulang," kata ana saat noven menampakan wajahnya di kaca jendela.
Akhirnya ana menanyakan pertanyaan yang sudah sedari tadi ia tunggu setelah penawaran yang ditolak berkali-kali.
Noven mengangguk dan masuk kedalam mobilnya.
Noven menatap ana sedih, kenapa daniel begitu teganya pada ana, wanita polos baik hati ini. Apa dia menjadi pria bodoh hanya demi seorang gadis yang ia lihat didanau?
Kalau tidak ada noven, mungkin ana masih berada direstaurant, bisa dilihat, betapa santainya daniel dirumah megahnya ini, tapi tidak dengan otak dan fikirannya yang masih tertuju pada siska.
__ADS_1
...****************...
Mohon dukungaanya untuk karya ku🙏🏻🙏🏻😊😊