
Beberapa hari terkahir ini, daniel selalu memeberikan perhatian kepada ana, walaupun secara tidak langsung tapi ana merasakan itu.
Ana senang karena pada akhirnya, sedikit demi sedikit suaminya itu mau menerimanya.
Seperti hari ini ana sangat menginginkan mangga muda yang benar-benar masam. tapi harus tangan daniel lah yang mengambilnya sendiri dari pohon.
Apa daniel akan menuruti permintaannya yang sangat merepotkannya kali ini? Karena sebelumnya ngidamnya hanya menginginkan bisa meenyentuh dan mencubit hidung mancung daniel saja.
"hhmm daniel." panggil ana sedikit takut, ia menghampiri daniel yang asik menonton acara televisi.
Seakan mengerti, daniel membawa tangan ana kembali keatas hidung mancungnya "terserah-terserah mau kau apakan. Aki tidak akan marah."kata daniel pasrah.
ana menurunkan kembali tangannya
"aku..."
"oh.., atau kau ingin ayah bayi ini tau kondisimu sekarang?" tanya daniel tanpa berfikir panjang, lebih tepatnya ia tak menyadari kata-katanya itu.
Ana mengernyitkan dahinya. Untuk apa memberi tahu kondisinya kepada ayah bayi yang dikandungnya? Orangnya sudah berada didepan mata.
Daniel tersadar, ia sudah salah bicara. "ma-maksud ku, kau ingin apa?
"Aku ingin mangga.."
Daniel bersandaran pada didinding sofa, matanya mengarahkan pada televisi "beli saja,"
ana menggeleng " itu sudah biasa."
" mau yang luar biasa? Memangnya ada?" tanya daniel.
"Ada." kata ana semangat
"kalau begitu, beli saja," katanya, masih mata yang terfokus pada televisi.
"tidak ada yang menjualnya."
"tadi katamu ada, tapi tidak ada yang menjual? Itu tidak termasuk kategori yang luar biasa."
" Memang ada, tapi kau sendiri yang harus mengambil buahnya." daniel terganga, ia menoleh kearah ana tidak percaya.
"Aku?"
"kau mau kan?" tanya ana semangat tentu saja daniel menggeleng keras, orang pentimg sepertinya dirinya harus memanjat pohon layaknya monyet? Itu tidak mungkin.
" Tidak," tolak daniel tanpa berfikir panjang.
" Mau ya, ana memasang wajah melemasnya."
"Tidak."
"please...." ana meminta dengan sangat memohon.
Akhirnya setelah berkali-kali memohon pada daniel agar mau menurutinya, daniel pum pasrah dan mengiyakannya.
Senyum milik ana mengembang dan sangat sempurna.
...****************...
setelah mencari mangga di komplek ini, ternyatan yang memeiliki pohon mangga hanyalah, Engkoh xian pemilik rumah yang sangat galak, bila konsentrasinya diusik.
Daniel sudah memberi kode kepada ana agar ngidamnya dibatalkan saja, karena tidak mungkin dia menyelinap masuk dalam perkarangan rumah Engkoh Xian, bisa-bisa tidur siangnya terganggu. Dan hidup daniel bisa tamat karena mendapatkan pukulan rotan dibokongnya.
tapi ana tetap bersikeras bila ngidamnya kali ini harus terlaksanakan, karena sudah sejak lama, sejak malam sebelum makan malam itu terjadi.
Ngidam itu telah ana rasakan, tapi selalu ia tahan, sampai akhirnya perasaan itu sudah tak bisa ditahan lagi.
Ia tidak menginginkan bayinya ileran, seperti orang-orang katakan bila sewaktu ngidam tidak terwujudkan.
dengan berat hati, daniel menyelinap masuk kedalam perkarangan rumah Engkoh xian.
"Engkoh, saya permisi meminta mangganya"kata daniel pelan
" ambil saja," daniel pula yang menjawabnya sendiri, dengan logat mandarinnya.
daniel mulai memanjat pohon milik Engkoh xian, sebenarnya ini tidak sopan. Tapi apa boleh buat keadaan yang memaksanya.
Satu persatu buah mangga berhasil daniel peti, dan saat ia fikir mungkin mangganua sudah lebih dari cukup hendak turun.
Seekor anjing berukuran besar sedang menggonggong, tepat dibawah pohon mangga, dengan tatapan mengarah keatas, tepar dimana daniel duduk diatas batang pohon.
" Huss....pergi," usir daniel pelan
anjing itu justru semakin menggonggong dengan keras.
"bisa mati aku, kalau Engkoh xian bisa tau."gerutu daniel pelan
" Haiya, bleky, lu hewan kenapa oo?"
suara Engkoh xian mulai terdengar, sepertinya ia akan keluar .
"Habis aku!" daniel tidak bisa berkutik.ia berada diatas pohon, tidak ada tempat persembunyian diatas sana.
Hal terduga itu terjadi, engkoh xian keluar dari dalam rumahnya, dengan rotan yang selalu ditangannya. Wajahnya tanpa kesal, karena anjing kesayangannya itu teramat berisik, padahal tidak biasanya bleky, seperti itu.
__ADS_1
"Lu, hewan kenapa o?" kata Engkoh xian yang kini berada tepat dibawah pohon.
"ada yang ganggu lu o?"
daniel yang berada diatas pohon, berusaha agar tidak mengeluarkan suara, bahkan ia tidak bergerak sedikitpun. Agar batang pohon yang ia injak tidak bergerak, dan menimbulkan kecurigaan Engkoh xian.
Namun sayang bleky, anjing kesayangan Engkoh xian terus menggonggong tanpa henti, bahkan terus menatap keatas pohon.
"Haiya, lu hewan bikin pusing pala oe o?"
katanya sembari memegang keningnya.
Engkoh xian tidak tau apa yang membuat anjing terus menggongong dan menatap keatas pohon mangga. Akhirnya ia memutuskan menatap atas pohon.
"lu olang ngapain o?" omel engkoh xian, sembari memukul-mukul rotan dibatang pohon.
"maaf koh, saya ...." jawab daniel ragu."
"lu olang maling? Haiya,"
" Tulun o, tulun..." pintanya, dengan terus memukul rotan dibatang pohon mangga.
Daniel menggeleng, tentu saja ia tidak mau.
Bisa-bisa Anjing galak milik Engkoh xian menggigit bokong daniel, setelah itu ditambah bonus dengan pukulan rotan Engkoh xian. Menyakitkan.
"Tulun o, sebelum Oe panggil walga,"
Bagaimana ini? Ini merupakan pilihan yang sulit, memilih untuk turun lalu setelahnya mendapat gigitan dibokongnya plus pukulan rotan, atau diamuk massa lalu masuk berita bahwa seorang CEO terciduk telah menggambil buah mangga.
Tanpa sadar langkah daniel tepat diujung batang pohon mangga yang sangat rapuh.
Bruks.. Begitulah bunyi tubuh daniel yang ber-benturan dengan tanah.
Mungkin karena sudah puas melihat seseorang yang telah mengambil mangga pemiliknya, bleky pergi dari tempat itu dan kembali dalam kandangnya.
Sedangkan daniel, ia meringis kesakitan, seluruh tubuhnya terasa sakit.terutama pada bagian bongkongnya.
"Haiya, lu olang?" ngapain lu olang maling mangga oe?"
Daniel bangkit, dengan tangan yang memegang pinggangnya.
"Maaf koh, tapi..."
Prakk!...prakk! 2 buah pukulan dilayangkan oleh Engkoh xian.
"aduhh, maaf koh.."
...****************...
"Daniel kenapa lama sekali," ana nampak tak bisa diam.
Anapun memutuskan untuk menyusul daniel yang berada dipekarangan rumah Engkoh xian.
pemandangan yang ia lihat pertama kali diperkarangan rumah Engkoh xian, membuatnya sangat terkejut.
Daniel terus menghindar dari pukulan Engkoh xian.
ana bergegas menghampiri daniel, ia jadi merasa bersalah kepadanya.
"permisi koh, maaf...." kata ana
Engkoh xian menghentikan pukulan yang siap ia layangkan.
"maaf koh, ini salah saya. Bukan salah daniel,"
"kalau Engkoh ingin mukul, pukul saja saya," pinta ana.
Daniel membulatkan matanya tidak percaya.
Tentu Engkoh xian tidak akan melakukan itu, memukul wanita hamil .
"Tidak o, saya tidak mau."
"seharusnya saya, tidak memaksa suami saya untuk meminta mangga Engkoh xian." kata ana sedikit melemas. Tidak pasti keinginan kali ini tidak akan terwujud.
Engkoh xian justru malah mengambil galah, lalu mengarahkannya pada beberapa buah mangga miliknya. Setelah itu ia berikan kepada ana.
" Ambil O ambil,"
"kalau saja ini olang bilang sm oe, sudah oe kasih."
Ana menatap daniel, pantas saja Engkoh xian marah dan memukulnya. Ternyata ini lah penyebabnya.
"Tapi Engkoh..." kata ana tidak enak.
"sudah ambil saja o, oe mau lanjut tidul siang" kata Engkoh xiam, kemudian masuk dalam rumahnya.
Ana dan daniel pun keluar dari rumah Engkoh xian.
...****************...
Daniel tak mengeluarkan sepatah katapun, hanya suara ringisan saja yang ia keluarkan.
__ADS_1
"kau tidak apa-apa? Tanya ana.
daniel tidak menjawab, ia malah menyadarkan tubuhnya kesisi belakang sofa.
"Daniel," panggil ana lagi.
" apa lagi?" Jawabnya malas.
" Aku ingin mangga."
Daniel menegakkan tubuhnya dan menatap ana aneh "mangganyakan ada pad mu, bukan pada ku."
ana menggeleng "aku tau."
" lalu apa lagi? aku capek!"
Ana mengeluarkan tangannya yang sedari tadi ia sembunyikan dibalik tubuhnya, sudah ada sebilah pisau dan mangga yang masih utuh.
"Aku ingin kau yang mengupas buahnya."
"Tidak, kau saja, aku letih." katanya sembari menyandarkan tubuhnya kembali kesisi belakang sofa.
"Daniel tapi aku.."
Dering ponsel daniel menghentikan rengekan dari ana, dengan malas ia mengangkat telefon itu.
"ya?"
"........"
Entah siapa yang menelefonnya, yang jelas daniel langsung menegakkan tubuhnya dan matanya yang semula terpejam, ia buka dengan lebar.
"....."
"Ya, aku segera kesana."
Tut. Daniel mematikan telefonnya.
"Daniel aku,"
"Pergunakan tangan mu itu jangan manja." ketus daniel, lalu meninggalkan ana sendiri diruang tamu.
Ana terduduk lemas mendapat respon dari daniel seperti itu.
Tak lama kemudian, daniel terlihat sudah bersiap menggunakan pakaian casualnya.
sepertinya ia akan pergi, tapi bukan untuk kekantor.
"kau ingin kemana?"tanya ana.
Daniel menghentikan langkahnya, kemudian menoleh kearah ana.
"ada urusan penting."
" tapi aku ingin mangga ini dikupas oleh mu."
daniel menghela nafasnya panjang " aku tidak ada waktu." katanya, kemudian bergegas pergi .
Baiklah, mungkin benar daniel sedang memiliki urusan penting. Ana akan menunggu sampai suaminya itu pulang.
Tanpa sadar ana terlelap diatas sofa, ia masih menunggu kepulangan daniel, hanya untul memakan sebuah mangga yang disiapkan oleh suaminya.
tapi sudah 6 jam berlalu, dan hari semakin sore, daniel belum juga pulang.
Harus menunggu berapa lama lagi, untuk memkan buah ini?
"Ayah mana ya," ana mencoba mengajak berbicara anak yang ada didalam kandungannya, dengan mengusap perutnya dengan lembut.
"sabar ya sayang, sebentar lagi ayah pulang."
Sembari menunggu daniel pulang, ana kembali kekamarnya untuk membersihkan diri. Setelah itu memasak untuk suaminya.
ana dapat menyelesaikan semuanya dengan cepat, yang ia lakukan sekarang hanyalah menunggu daniel pulang.
Namun sayang daniel tidak muncul batang hidungnya sama sekali. Walaupun ana sudah mengirimnya pesan, daniel juga tidak membalasnya. Bagaikan ditelan bumi.
Ana pun memutuskan untuk kekamar, tubuhnya sudah sangat lelah, menunggu hal yang sama sekali tidak pasti.
...****************...
Tak disangka saat membuka matanya, matahari sudah menerobos melalui celah-celah ventilasi, dan gorden yang semula tertutup dengan rapat, sudah terbuka.
Matanya tak percaya menatap atas nakas, sudah tersedia sarapan dan segelas susu. Pasti daniel yang telah menyiapkannya, karena siapa lagi kalau bukan dirinya? Maid tidak mungkin, karena daniel tidak mengerjakan 1 orangpun maid.
Ana bangkit, lalu duduk disisi ranjang.
Ckleks...
Refleks, ana menoleh kearah pintu dan disana sudah berdiri seorang wanita diambang pintu kamarnya.
Maaf lama update nya, karena 1harian mati lampu.
Mohon dukungannya untuk karya ku🙏🏻🙏🏻😊😊
__ADS_1