
Sebulan berlalu, selama itu pula daniel tidak berjumpa dengan anak sematawayangnya itu. Daniel sangat merindukannya,tapi ia memiliki proyek baru diluar negeri dengan berat ia harus mendatangi proyek barunya itu, tapi sekarang tidak lagi, ia akan menemui deo dan akan mengajaknya tinggal bersama dengannya, bukan deo saja ia juga akan mengajak ana kembali kerumahnya.
Ya kerumahnya, ya entahlah daniel sangat menginginkan hal itu terjadi, ia merindukan sosok ana, ia ingin hidup bersama denganya lagi bersama deo, membangun sebuah keluarga kecil. Daniel akan melamar ana, ya daniel akan melakukan itu.
Hari ini, ia akan melamar ana, melamar wanita yang masih sangat ia yakini bawha ana masih mencintainya.dari cara wanita itu menatapnya, memberikan senyuman bahkan memberi perhatian padanya, daniel sangat yakin hal itu.
Ditangannya sudah ada sebuah cincin yang daniel buat khusus untuk ana, cicin yang nanti akan ia sematkan dijari ana dengan hatinya tanpa paksaan apapun.
Daniel akan meminta ana untuk membawa deo ketaman, dimana ia biasa menemui deo.setelah hubungannya hampir dekat dengan ana.
Tapi sebelum dia menghubungi ana, alangkah lebih baik jika dirinya yang lebih dulu sampai ditaman,agar wanitanya itu tidak menunggu terlalu lama akibat dirinya.
Tapi sepertinya kali ini daniel tidak perlu repot-repot menghubungi ana, karena wanita ini sudah berada ditaman bersama deo,keduanya tengah asik dengan cada gurau mereka.
Daniel yang melihatpun tersenyum, ia memutuskan untuk menghampiri mereka dan
Mungkin ikut bergabung dengan canda gurau yang sedang mereka lakukan.
Daniel melangkah kakinya mendekat kearah mereka berdua.jujur, jantung daniel seakan mau terlepas dari tempatnya, saat dirinya sudah berada didekat mereka.
"Hhmmm...." daniel berdehem, membuat daniel dan ana langsumg terfokus padanya.
deo yang sedang duduk diatas bangku taman langsung berlari kearah daniel berdiri dan ana,wanita itu berdiam diri.
"Paman pulang..." ucap deo.
Daniel mengangguk lalu mengenggam jemari tangan deo untuk ikut dengannya menghampiri ana yang masih duduk terdiam ditaman.
"hm...hai?" sapa daniel senetral mungkin, walau sebenarnya jantungnya berdetak begitu cepat.
Ana bangkit, menatap daniel cukup lama, stelah itu ia memberikan senyuman pada daniel.
"Apa kabar?" tanya daniel lembut, demi apapun suhu tubuh daniel mendadak dingin, ia grogi berada dekat ana.
"seperti yang kau lihat..."
Daniel mengangguk-angguk.daniel tau wanita itu terlihat baik-baik saja, bahkan lebih baik bila dibandingkan 1 bulan yang lalu.
" paman kenapa lama pelginya?" tanya deo daniel melirik kearah doe yang tingginya hanya selutut saja, kemudian mengusap lembut puncak kepala deo.
"paman bekerja sayang." jawab daniel lembut.
Deo mengerjapkan kedua matanya," paman tau ndak, Unda....."
"Haha...Apa? Paman?" suara tawa yang begitu keras terdengar membuat daniel dan deo langsung menoleh kearah samping kanan, begitu pun ana iapun ikut menoleh.
"Dia panggil kau paman? Haha..are you serious?" ucapnya dengan nada meremehkan.
Tangan daniel yang tidak mengenggamkan jemari deo ia remas dengan kuat.orang yang kini dihadapannya, membuat emosinya mendidih.
Orang itu menyamakan posisinya dengan deo, " kau memanggilnya paman?" deo yang masih polospun hanya mengangguk.
Orang itu kini telah menyentuh pipi deo,namun dengan cekatan ana menghempas tangannya.
Orang itu kini menatap ana dengan merendahkan, " Hai wanita jal...."
"cukup siska!!!" bentak daniel murka. Orang itu adalah siska, mantan istrinya yang dulu ia berikan hatinya dengan sepenuh hati, namun ia mematahkannya.
Deo yang takut daniel mengeluarkan suaranya cukup keras, mulai menjauhnya tubuhnya dari daniel.
Siska tertawa jahat," kenapa sayang, dekati kembali pamannya.....ucapnya yang sedang memanasi daniel, karena anaknya sendiri takut dengan Ayahnya.
Deo menggelengkan kepalanya.
"bocah kecil, kau takut padanya? padaha dia itu...."
"cukup siska!!! Sekarang kau pergi!" ucap daniel dengan penuh penekanan disetiap kata.
Lagi dan lagi siska tertawa jahat, ia mendekati ana, " Anak mu itu tampan, aku jadi meragukan kalau ia adalah anaknya..."sindir siska, sungguh itu sangat menyayat hati ana.
"Oh..tidak-tidak, memang dia bukan anaknya bukan? Kenapa aku bodoh sekali, bahkan dia sendiri yang tidak mengakuinya.."
Ana menahan sakit dihatinya, ia masih mengingat jelas bagaimana dulu daniel bersikeras tidak mengakui deo sebagai anaknya,melaikan sebagai anak dari seorang pria hidung belang.
Siska menghampiri daniel, " dan kau, untuk apa kau menemuinya lagi? Bukannya kau sendiri yang mengatakan, kalau......"
" HENTIKAN! DAN PERGI!!" murka daniel, bahkan ia menarik lengan siska dengan kasar, lalu menghempasnya, beruntung daniel menghempas tubuh siska tidak terlalu kasar, sehingga wanita itu tidak tersungkur jatuh.
Tapi Sebelum daniel menarik lengan siska secara kasar ana sudah lebih dulu menarik deo dalam gendongannya, ia tak mau anaknya menyaksikan semua kejadian ini.
"PERGI !!! bentak daniel
Siska tersenyum sinis, setelah itu ia benar-benar pergi dari hadapan mereka bertiga.
Daniel mengatur emosinya sejenak agar stabil, setelah itu ia menghampiri ana yang kelihatannya masih teringat dengan perkataan siska.
"ana, aku, maaf....." lirih daniel dengan kepala tertunduk.
Ana membungkam mulutnya sejenak, setelah itu ia membuka suaranya, "ya" katanya sembari duduk.
"aku tidak bermaksud...."
"aku tau," jawab ana seadanya.
Daniel jadi merasa bersalah sama ana, pasti kedatangan siska yang tiba-tiba membuatnya mengingat kembali masa lalunya yang begitu menyedihkan.
Deo yang semula ada dipelukkan ana, memilih untuk turun dan duduk disamping ana. Anaknya itu kini menatap wajah ana dengan penuh tanya.
" tante itu ciapa unda?" tanya deo penasaran.
Ana menelan salivanya " Dia...."
__ADS_1
" Dia bukan siapa-siapa sayang," serobot daniel, seraya duduk disampimg deo.
"tapi kenapa paman malah-malah ke tante itu?" kini deo mentap manik mata daniel.
" karena tante itu"
"Ngghh.... paman bawakan superman untuk deo, daniel mencoba mengalihkan pembicaraan, berhubungan dia membelikan oleh-oleh untuk deo yaitu Hero kesukaannya.
Mata deo langsung berbinar" cupelman?" daniel mengangguk sembari tersenyum, " deo mau?" tidak usah ditanya masalah itu sudah jelas deo tidak akan bisa menolaknya.
Pria kecil itu mengangguk semangat...
tanpa basa basi lagi daniel membawa deo kedalam gendongannya, untuk menuju kemobilnya.karena sebenarnya ia akan memberikan oleh -oleh itu setelah dirinya melamar ana, tapi tidak mungkin, pasti suasana hati ana sedang kacau karena siska.
jadi daniel memutuskan meninggalkan ana sejenak ditaman.
...----------------...
Daniel mendudukan deo didalam mobilnya, setelah itu ia pun menyusul duduk disamping anaknya.
Daniel langsung mengambil paperbag yang ia beli khusus untuk deo.
"ini untuk deo,"ucap daniel.
" untuk deo?" deo mencoba meyakinkan perkataan daniel, pria itu hanya mengangguk.
Dengan senang hati deo mengambil paperbag itu, sejenak pria kecil itu terdiam menatap paperbag yang ada didalam genggamannya.
"untuk deo?" tanya deo kembali.
daniel mengusap lembut puncak kepala deo, "iya sayang, untuk deo."katanya seraya tersenyum.
" paman kenapa baik cama deo?"
daniel terenyuh dengan perkataan deo, karema paman sayang deo. "karena paman suka," lain dibibir, lain dihati, itulah yang daniel rasakan.
Deo mengeluarkan pemberian daniel yang berada di dalam paperbag.
"Memangnya paman ndak punya anak cepelti unda yang punya deo?" senyum itu perlahan memudar dari bibir daniel.
"paman celalu kacih ini sama deo,padahal deo bukan ciapa-ciapa paman..."ujar deo yaang tanpa disadari sangat mengenai ulu hati daniel.
"paman....."
" kalau paman, Ayah deo bagaimana?"
Deo menatap daniel tak berkedip.sedangkan daniel, ia membukam mulutnya. Pria itu tidak sadar mengucapkan perkataannya barusan.
Daniel menelan selivanya kasar, "Hmmm, ini sayang mainannya, lihat paman belikan banyak untuk deo..." daniel mencoba mengalihkan pembicaraan, namu sayang anaknya itu tetap tidak teralihkan, ia masih menatap daniel.
Deo menggeleng "paman itu paman, Ayah itu ayah, kalena ayah itu jahat,Ayah tinggal unda, tinggal deo juga, ayah ndak pelnah mau lihat deo. Kalau paman baik, paman cuka kaci deo cupelman, cuka ajak deo main-main."
Hati daniel seperti disayat ribuan pisau. Sebenci itukah ia dengan sebutan Ayah?
Mata daniel memanas, rasanya air matanya ingin ia tumpahkan detik itu juga, tapi ia tahan,ia tidak bisa menangis didepan anaknya. Hatinya terasa sakit.
"deo ndak mau ayah!" ulang deo lagi.
Daniel memeluk deo, ah sungguh, bahkan sekarang anaknya ini telah membencinya.walaupum kenyataan deo tidak tau bahwa didepannya ini adalah ayah kandungnya.
Deo melepaskan pelukan daniel,
"Ayo paman main cupelman," ajak deo dengan senyuman sumringah. Daniel meniyakan permintaan deo.
...----------------...
Siska tertawa jahat, baginya merusak kebahagian daniel saat ini adalah kebahagian untuknya, ia puas, ia sangat puas saat melihat ana mengingat masa lalunya, karena siska tau pasti daniel akan kembali pada ana, dan siska tidak akan membiarkan itu. Setelah rencananya untuk menguras semua harta kekayaan daniel gagal, sekarang sebagai gantinya adalah ia harus menghancurkan kebahagian daniel.
Namun sayang, ia tidak berhasil, tapi setidaknya ia bisa membuat wanita itu mengingat masa lalunya yang begitu kelam.
...----------------...
Anna terduduk diam ditaman. perkataan siska masih tergiang-giang di fikirannya, perempuan itu membuatnya mengingat masa lalu yang sangat menyakitkan untuknya setelah ia mencoba melupakan masa lalu itu dengan susah payah.
" ana...." ana tau siapa yang memanggilnya, ia mendongakkan kepalanya.
Daniel telah kembali bersama putranya, dengan sebuah paperbag ditangannya wajah anak kecil itu terlihat bahagia.
Deo berlari kearah ana," Unda paman belikan ini," ucap deo girang.
Ana tersenyum seraya mengusap puncak kepala deo, "bilang apa sama Ay..paman..." ucap ana yang hampir menyebutkan kata yang dibenci deo.
"makaci paman." ucap deo diakhiri dengan cengiran yang menunjukan gigi putihnya.
Daniel menghampiri mereka berdua lebih dekat, kemudian mengusap puncak kepala deo " sama-sama sayang."
Daniel mengalihkan tatapannya pada mata ana, ia menatap mata ana dalam-dalam.
"ana, maaf...." kata daniel dengan penyesalan terdalam.
Ana tidak tau, mungkin ini sudah yang kesekian ratus kata maaf yang daniel lontarkan dengan menatap mata ana. ana tau pasti itu adalah perminta maaf yang begitu tulus, ana bisa membaca dari sorot mata daniel.
Ana hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
" ana aku ingin mengatakan sesuatu pada mu...." ucap daniel serius
"ya" jawab ana singkat, dengan mengalihkan matanya kearah lain.
" aku tahu selama ini aku salah, aku bodoh, aku jahat, bahkan aku menyerupai seperti seorang devil, aku menyakitimu , menyelingkuh....."
" cukup.aku tahu itu." ana tidak sanggup lagi mendengar perkataan daniel.
__ADS_1
Daniel menggeleng,"bahkan aku meragukan kandungan..."
"cukup." ucap ana lumayan keras.
Matanyapun ikut ia pejamkan.
"kau menanggung semua ini sendirian, kau tau menjadi single parent itu tidak mudah, kau berjuang sendirian di saat wanita-wanita lain didampingi oleh....."pasangannya masing-masing. Lanjut daniel yang bisa ia ucapkan dalam hatinya.
" aku menyesali semua itu ana, aku menyesal. Seharusnya aku tidak melakukan itu semua."ucap daniel panjang lebar.
deo yang berada ditengah antara daniel dan ana hanya terfokus pada mainannya. Ia sama sekali tidak terganggu dengan perdebatan diantara kedua orang tuanya.
Ana sama sekali tidak merespon perkataan daniel.benar, yang dikatakan daniel memang benar, menjadi single parent tidaklah mudah, banyak orang yang mengosipinya memiliki anak dari perselingkuhan, bahkan menuduhnya melakukan pekerjaan seorang pelacur.
Tapi apa yang harus ana lakukan, ini semua sudah menjadi takdirnya
" memang seharusnya aku tidak pantas mendapatkan maaf darimu, orang brengsek seperti aku...."
" setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan."
Daniel manatap lekat manik mata ana,
aku menerima takdirku, mungkin tuhan lebih percaya padaku untuk menjaga dan merawat deo tanpa didampingin pasangan."
Suasana hening sesaat.
"hhmm..." daniel turun dari bangkunya, kemudian memegang kedua tangan ana yang menganggur diatas pahanya.
"Eh.." gumam ana pelan, dia kaget bukan main mantan suaminya ini tiba-tiba memegang keda tangannya.
Daniel menatap manik mata ana tanpa rasa ragu, bahkan tatapan ini berbeda dengan tatapan daniel dulu saat menatap siska.tatapan ini membawa siapapun berada dalam ketenangan, kenyamanan dan bahkan mungkin.....
"Aku tau semua ini sudah terlambat..."
" kau tidak perlu melakukan ini, aku sudah...."ana mencoba menuntun daniel agar tidak berposisi seperti ini, namun pria itu menahannya.
" biarkan seperti ini ......" ana kembali menuntun daniel agar berdiri, tapi pria itu menahannya lagi.
Genggaman tangan daniel sebalah kanan ia lepaskan, kemudian ia memasukan tangganya kedalam saku jasnya, setelah mendapatkan apa yang ia cari, daniel langsung mengarahkannya pada jemari ana.
"aku ingin kita sperti dulu lagi dan....."
Ana langsumg menarik tangannya, ia menatap daniel dengan tatapan bingung,
"Maksudmu apa?"
"aku ingin kau menjadi istri....."
Belum sempat melanjutkan kerah kemeja daniel sudah ditarik seseorang, kemudian tubuh daniel dihempaskan begitu saja dengan kasar, tak begitu lama setelah dihempaskan, kerah kemeja daniel kembali ditarik membuat tubuh daniel kembali berdiri.
Bughh...bughh
Ana yang menyaksikan langsung bangkit dari duduknya, ia juga memeluk deo menghalangi pandangan anaknya itu agar tidak melihat kekerasan yang kedua kalinya, yaang sebelumnya dilakukan daniel terhadap siska.
" maksudmu apa?!!!" amarahnya pada daniel, bahkan urat-urat dilehernya ikut menonjol.
Daniel membalas pria itu dengan cara mendorongnya hingga tersungkur jatuh, " kau yang apa-apaan!" amarah daniel ikut tersulut.
Pria itu bangkit lalu menarik kerah baju daniel kembali, " melamar ana, maksudmu apa?!" teriaknya didepan wajah daniel.
Daniel menyunggingkan bibirnya dan perlahan-lahan ia mulai mengeluarkan tawa devilnya, "bukan urusan mu!!" balas daniel yang ikut berteriak tepat didepan wajah pria itu.
"Cukup," teriak ana takut, bahkan sekarang deo memeluknya dengan erat. Spertinya deo takut dengan suara teriakan yang dihasilkan dari 2 manusia pria dihadapannya.
Namun sayang, teriakan ana tidak juga memberhentikan mereka.
Kini gantian daniel yang meninju wajah pria itu hingga tersungkur jatuh.
"Hentikan!" ana menghampiri keberadaan mereka, dengan deo yang berada digendongannya.
Daniel mengatur nafasnya, ia tersadar dari emosinya, apa yang telah ia lakukan, melakukan hal yang seharusnya tidak ia lakukan didepan deo.
Pria itu bangkit dan ia kemudian berdiri disamping ana,
" ada deo dan kalian..."
" ana maafkan aku," sesal daniel ingin meraih lengan ana namun ditepis kasar oleh pria yang mendorong tubuh daniel.
" jangan menyentuhnya!"
Daniel menatap pri itu dengan tatapan tajam dan menusuk, "bukan urusanmu!"
"jelas urusan ku!" katanya lebih marah.
lagi-lagi daniel mengeluarkan tawaan devilnya, "apa? Apa aku tidak salah mendengar?"
Pria itu mencoba menahan emosinya.
sedangkan daniel, ia kembali menyentuh lengan ana, tapi kali ini ana yang menepisnya.
Daniel menatap mata ana sendu, " ada apa?" ana diam tak menjawab.
Daniel menggeratkan giginya, ia mengalihkan tatapannya kearah pria disamping ana, pria yang selalu membuat hidupnya susah.
" pasti karna ulahmu!" daniel ingin melayangkan tinjuannya, namun tangan ana menahan lengan daniel.
Daniel menatap ana tidak percaya,
"Ada apa?" biar aku memukulnya, dia tidak pantas mengatur hidupku, dan tidak seharusnya juga dia melarangku untuk menyentuh......"
"Dia suamiku."
__ADS_1
Mohon dukungannya untuk karyaku🙏🏻🙏🏻😊😊