LELAH

LELAH
Surat??


__ADS_3

"Kalian ngapain di sini? bukannya sekarang jam pelajaran udah di mulai ya? Cepet kembali ke kelas!!" ucap laki-laki itu.


Dan ya, laki-laki yang tadi memasuki perpustakaan adalah Pak Rendi.


"Ki,,,ki,,, kita lagi nyariin Tasya pak" ucap Riri terbata-bata.


"lah emangnya Tasya kemana?" tanya pak Rendi ke mereka.


"Tasya pergi pak, setelah kena tampar pak Timoty tadi. selain itu ya pak, tadi Tasya di permaluin loh di depan anak-anak yang lagi upacara. kebayang kan pak pastinya gimana perasaannya Tasya" ujar Calvin yang sudah mirip dengan ibu-ibu gosip itu.


"oh begitu,,, yaudah kalian kembali aja ke kelas, sebentar lagi kan jam pelajaran mau di mulai. Biar saya saja yang mencari Tasya" ujar pak Rendi sungguh-sungguh.


"bener nih pak nggak papa kalo bapak yang cari Tasya?? soalnya kita khawatir banget nih ama dia" ucap Rino memastikan.


"Iya serius, udah kalian balik aja. Jangan khawatir, saya pasti bisa nemuin Tasya kok"


"bener ya pak, jangan bohongin kita. hiks... hiks... hikss...saya takut Tasya ngelakuin hal yang nggak-nggak pak. Soalnya Tasya itu anaknya nekad banget. Hiks ... hiks.. hikss..." ucap Riri sembari menangis.


"udah dong ri, jangan nangis terus. Gue juga ikutan sedih nih kalo lo nangis terus" ucap Rino menenangkan sembari melakukan modusnya ke Riri.


"Yaudah yuk balik ke kelas! ada pak Rendi yang bakal nyari Tasya kok" ajak Calvin


Sedari tadi Keenan hanya diam memperhatikan mereka, saat Keenan mendekati pak Rendi ia membisikkan sesuatu ke guru olahraga itu. "Awas ya lo macem-macem ama Tasya. Abis lo ama gue!" ancam Keenan.


Tak lama setelah mengatakan itu, ia segera menyusul teman-temannya untuk masuk kelas.


Di lain sisi Pak Rendi hanya diam setelah perkataan Keenan. "gue jadi bingung deh, mau ngelanjutin rencana gue apa nggak? Kalo gue ngelanjutin apa nantinya Tasya gak papa ya?? Kok sekarang aja dia kaya udah nanggung beban berat banget sih?" gumam Pak Rendi.


"kemana ya gue cari Tasya"pikirnya sambil memegang kepalanya berusaha mengingat-ingat sesuatu.


"Oh iya, kayanya Tasya ke rooftop deh, kenapa baru inget sih! Oon banget deh gue" omelnya pada diri sendiri.


Pak Rendi langsung mencari Tasya ke rooftop, dan sesampainya di rooftop ia melihat Tasya sedang menghirup rokoknya itu dengan tatapan kosong entah melihat kemana.


Ia hanya memperhatikan Tasya dari jarak kejauhan, ia ingin melihat apa yang akan di lakukan seorang Tasya setelah mendapat perlakuan yang tidak baik di depan umum. Tapi setelah ia memperhatikan Tasya selama beberapa menit ia tidak melihat Tasya melakukan hal lain selain merokok.


"Kenapa kamu malah diam si sya? bukannya meluapkan amarahmu. Lebih baik kamu meluapkan amarahmu saja daripada harus diam begitu" gumam Pak Rendi.


Karna melihat Tasya terus-menerus membakar rokoknya itu, Ia pun memutuskan untuk mendekati Tasya.


"Kalau mau marah, ya marah aja. Dan kalau mau nangis, nangis aja.Menangis itu bukan hal yang memalukan kok" ujar Pak Rendi.


"Lo lagi lo lagi! ngapain lagi sih lo ke sini! Mending lo stop deh ngurusin hidup gue!" ucap Tasya sinis.


"Karna saya mendengar ada seseorang yang sedang kabur karna di permaluin sama pak Timoty, jadi saya hanya berusaha untuk mencarinya. Saya takut kalau ia melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya. Tadi temannya bilang sih, kalo orang itu termasuk orang yang sangat nekad" jelas Pak Rendi panjang lebar.


"Terus apa hubungannya sama lo! gue itu cuma salah satu murid di SMA Harapan inj dan satu lagi, gue itu bukan siapa-siapa lo!!"


"Karna itu, saya ingin jadi siapa-siapa untuk kamu"


"Maksud lo apa hah!"


"saya ingin jadi teman kamu sya, kamu bisa percaya sama saya. Saya siap kok berbagi keluh kesah yang kamu miliki"


"Dan saya tau, kalau kamu itu sebenernya cinta kan sama Keenan, tapi sayangnya dia hanya menganggap kamu adiknya" ucap Pak Rendi sok tau, ia berasumsi seperti itu karna ia melihat bagaimana cara Keenan memperlakukan Tasya.


"Kalo iya kenapa, hah! Apa urusannya sama lo!"


"Tasya, tasya. Saya itu tau bagaimana rasanya mencintai tapi tak pernah terbalaskan. Jadi mending kamu nggak usah sok-sokan tegar di hadapan saya."


"Saya bisa membantu kamu untuk melupakan rasa cintamu itu ke Keenan sya, saya janji" ucapnya lagi.


"Tapi sayangnya gue nggak mau!"


"Yaudah kalau kamu nggak mau sya, tapi ijinin saya untuk jadi teman kamu ya! Kalau nggak, saya bakal kasih tau Keenan kalau kamu sebenernya suka sama dia. Dan yah kita bisa liat gimana nanti sikapnya ke kamu!" ucap Pak Rendi mengancam.


"Yaudah iya, gue mau jadi temen lo! gak usah pake acara ngancem segala kali" ucap Tasya pasrah.


"Nah gitu dong! yaudah ah, ini kan udah mulai jam pelajaran lebih baik kamu masuk ya!" pintanya.


"iya iya!" Tasya mengiyakan perkatan pak Rendi, menurutnya lebih baik masuk ke kelas dari pada harus berlama-lama dengan pak Rendi.


Tasya memasuki kelasnya dengan perasaan yang sedikut lebih baik setelah ia berdebat dengan pak Rendi. Entahlah mengapa setelah perdebatan itu ia merasa lebih baik sekarang, walaupun jika mengingat kejadian tadi pagi akan membuat moodnya buruk lagi.


"Kenapa baru masuk!" suara itu menghentikan langkah Tasya.


"Karna baru pengen masuk sekarang"


Semua tatapan mata mengarah pada percakapan dua orang di depan mereka. Iya, mereka adalah Bu Rosa dan Tasya.


"Sekretaris mana buku absen?" tanya bu Rosa kepada Sekretaris kelas itu.


Sang sekretaris pun menyerahkan buku absen itu pada Bu Rosa tadi.


"Apa-apaan ini!! Kamu tidak pernah masuk kelas dan selalu bolos! Sekali-nya masuk kelas di pelajaran saya kamu bikin ulah!" ucap bu Rosa marah

__ADS_1


"Woy Ri, berarti gue nggak di ijinin pas gue chat lo kalo ada acara mendadak?" Tanyanya pada Riri


"Kata sekretaris nggak boleh kalo nggak ada surat izin Sya" ucap Riri


"Cihhh.... nggak adil banget si!" ucap Tasya.


"Nggak adil kamu bilang!! Emang harus pake surat tertulis kalo mau izin, jangan mentang-mentang kamu pintar dan sering mengikuti olimpiade internasional jadi seenaknya kamu sekolah di sini!!" caci bu Rosa ke Tasya


"ASAL IBU TAU YA!! KETUA KELAS DAN ANTEK-ANTEKNYA SERING NGGAK MASUK SEKOLAH TANPA SURAT TERTULIS TAPI DI BUKU ABSENNYA DI TULIS IZIN!! Emang saya nggak tau! Cih!! Mentang-mentang punya kuasa jadi seenaknya gitu"Tasya tersenyum sinis.


"KAMU INI SUDAH NGGAK PERNAH MASUK SEKOLAH, SEKARANG MALAH NUDUH YANG NGGAK-NGGAK!!SEKARANG IKUT IBU KE RUANG BK!!!" ucap bu Rosa marah.


Guru itu pun segera membawa Tasya pergi ke ruang BK jadi sementara kelas itu tidak ada yang mengisi.


"Mampus lo!" Ucap sang ketua kelas.


Tiba-tiba Riri bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju meja yang di duduki ketua kelas tadi.


BRAKKKK


Riri menggebrak meja yang di tempati oleh Andi tersebut.


"MAKSUD LO APA HAH!!" Sang ketua kelas yang di ketahui namanya VARREL pun berdiri dari tempat duduknya.


"LO TOLOL APA BEGO SIH!! LO SENENG KAN LIAT TASYA DI HUKUM ??? CIHH... SOK BERKUASA BANGET SIH LO!" ucap Riri sambil senyum merendahkan.


"IYA EMANG GUE SENENG!! LO PUAS!!! DIA CUMAN BISA NGERUSAK NAMA BAIK KELAS INI TAU NGGAK!! BIARIN AJA DIA DI KELUARIN, GUE SENENG BANGET MALAH!"


"GOBLOKKK!!" Riri melangkahkan kakinya menuju toilet karna ia merasa kesal dengan Varrel.


Saat di jalan setelah dari toilet Riri berpapasan dengan Rino.


"Ri!!! Riri!!" panggil Rino, karna sedari tadi Riri hanya berjalan diam tanpa memperhatikan sekeliling.


"Eh Rino, kenapa?" tanyanya


"Lo kok keliatan kaya lagi kesel gitu si, emangnya kenapa??" tanya Rino penasaran.


"Itu gue kasian ama Tasya, dia di bawa bu Rosa ke BK" katanya lemas


"Kok bisa sih?"


"Ya karna Tasya ketauan sering bolos, padahal ya ga bolos juga, orang gue udah izinin tapi ya gitu gak di bolehin gara-gara gak ada surat tertulisnya. Padahal ya Si Varrel tu sering juga ga masuk ga pake surat juga, tapi tetep di absen di tulisnya izin. Ga adil banget kan No, kesel deh gue!" ucap Riri


"udah gak papa, yang penting kamu udah berusaha bantu Tasya. Yaudah, kamu ke kelas gih, nanti kamu di hukum juga lagi" ucapnya pada Riri.


sementara itu di ruang bk


"Mau sampai kapan kamu kaya gini terus sya?" Ucap Pak Roby, guru BK SMA Harapan itu kepada Tasya.


"Kamu itu udah kelas XII sya, tinggal sebulan lagi kamu ujian. Bapak harap kamu bisa mengubah sifat dan kelakuan kamu. Sekolah itu gunanya untuk belajar sya, bukan untuk buat cari masalah. Bapak tau kalau kamu itu sudah pintar, sangat pintar malah. Tapi kamu juga harus bisa menghargai guru-guru yang mengajar lah" ujar Pak Roby lagi.


"Maaf pak" cicit Tasya.


"kamu bikin pusing bapak tau nggak! Bapak selalu sabar buat ngehadepin sikap kamu, tapi nggak lagi untuk sekarang"


Tiba-tiba pak Roby berdiri dari duduknya dan mengeluarkan selembar kertas dari laci mejanya.


"Besok orang tua kamu harus ke sini! bapak nggak terima alasan apa pun!" ujar Pak Roby sembari menyodorkan kertas itu.


"Maaf pak, saya janji gak bakal ngulangin kesalahan saya. Saya mohon jangan kasih saya surat itu" Tasya menunduk dan memohon kepada pak Roby.


"Ambil surat ini dan kamu boleh keluar sekarang!"


Tasya langsung mengambil selembar surat itu dari tangan Pak Roby dan segera bangkit dari tempat duduknya.


"saya permisi pak!" Pamit Tasya sopan ke pak Roby.


Setelah keluar dari ruang BK, tasya berjalan dengan menunduk sedih. Sampai-sampai ia tak sadar jika Keenan sudah ada di depannya saat ini.


"Lo kenapa sedih gitu sya?" tanya Keenan.


"Gue dapet surat ini Nan" ucapnya sedih


"siapa yang bakal dateng, Nan?"


"Gue kan gak punya siapa-siapa lagi" ujar Tasya lagi.


setelah membaca surat itu Keenan paham akan apa yang Tasya maksud.


"Lo gak usah khawatir sya. Ntar biar mommy yang dateng, mommy kan mama lo juga sya" ucap Keenan.


"beneran Nan?? tapi nanti apa mommy gak kecewa ya sama aku, aku takut mommy kecewa sama aku kaya mamah" ujar Tasya.


"Udah kamu sans aja sya" ucap Keenan menenangkan Tasya.

__ADS_1


"Ke taman aja yuk sya, daripada balik ke kelas kan" ajak Keenan, karna ia tau Tasya sedang tidak dalam mood yang baik. Untuk itu ia ingin sedikit menghibur Tasya.


Tasya dan Keenan menghabiskan sisa waktu di sekolahnya untuk bercanda dan mengobrol di taman belakang sekolah. Walaupun sering kali Tasya tidak menanggapi apa yang Keenan ucapkan. Sampai bel pulang pun terdengar berbunyi nyaring menandakan bahwa waktu menunjukkan pukul 15.00 da itu artinya jam belajar-mengajar sudah usai. Dan seluruh siswa-siswi berhamburan keluar sekolah untuk menuju ke rumahnya masing-masing.


"Sya, mau ice creamnya sekarang?" tanya Keenan ketika mereka melangkahkan kakinya meninggalkan taman dan mereka menuju ke parkiran untuk mengambil motor sport kesayangan mereka.


"Nanti malem aja deh nan" ucap tasya.


"Lo yakin malem-malem mau makan ice cream sya?" tanya Keenan meyakinkan Tasya.


"iya Keenan, gue yakin kok 1000% malah"


"Yaudah, ntar malem gue jemput deh jam 8 lah ya, kek biasa" ucap Keenan.


Tasya pun melangkahkan kakinya untuk mendekati motor sportnya yang terparkir rapih di area parkiran SMA Harapan ini.


Tasya mengeluarkan motor sportnya dan tak lupa juga ia memakai helm full face miliknya dan mengendarai motornya itu melewati Keenan tanpa menyapanya terlebih dulu.


" Gue gak bakal biarin adik kesayangan gue tersakiti. Gue bakal selalu jagain lo sya. Hati-hati ya sya di jalannya" batin Keenan


Memang sejak keluar dari ruang BK tadi Tasya lebih banyak diam dan melamun entahlah apa yang ada di pikiran gadis cantik itu. Padahal sedari tadi ia sudah berusaha untuk menghiburnya agar tidak sedih terus.


Tasya hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk sampai di apartment nya.


Setelah sampai di apartment nya ia langsung duduk dan mengacak-acak rambutnya frustasi.


Sudah banyak masalah yang terjadi menimpanya hari ini, semoga esok akan lebih baik dari hari ini. Pikirnya.



"Assalamu'alaikum mom" Ucap Keenan sembari membuka pintu rumahnya.


"Wa'alaikumsalam sayang" jawab mommy nya Keenan.


Keenan mencium punggung tangan serta kedua pipi mommy nya itu.


"Mom, Keenan pengen ngomong sesuatu sama mommy" ucap Keenan membuat mommy nya di rundung rasa penasaran yang tinggi.


"Mau ngomong apaan sih sayang?" tanya mommy Keenan penasaran mengenai hal apa yang akan anaknya bicarakan kepadanya.


Keenan membawa mommy nya untuk duduk di sofa ruang tamu, Keenan mengeluarkan selembar kertas milik Tasya yang di berikan Pak Roby tadi ke mommy nya.


Kemudian mommy nya membaca surat tersebut.


"Tasya kenapa Nan??" Tanya mommy nya penasaran.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.NEXT???


Jangan lupa tinggalkan jejak 👣👣👣👣


__ADS_2