
JEDAARR......jantung daniel bagai disambar petir. Ia menatap ana, kemudian menatap pria disamping ana, pria yang ia anggap merebut kasih sayang orang tuanya, ia adalah noven wiliam.
"S-suami?"
" iya dia suamiku." jawab ana.
Daniel tertawa sumbang, ia juga memberikan tatapan bergantian pada ana dan noven.
"Suami?"
Noven mengenggam jemari ana, kemudian ia angkat tepat didepan wajah daniel.
" Ya, dia istriku, istri sahku."
Daniel tertawa sumbang, namun setelah itu ia menepis kasar tangan mereka agar tangan mereka berdua terlepas, " tidak mungkin!!"
Noven siap melangkahkan kakinya siap melempar bogem mentah di wajah kakaknya itu, tapi dengan segera ana menahannya.
" deo noven," peringat ana, noven melirik kearah deo yang berada di gendongan ana.
astaga, bahkan pria kecil riang itu kini telah berubah ketakutan.
kini noven membawa tubuh munggil deo,kedalam dekapannya.
" Tidak apa-apa sayang, ada papa disini..."
Noven menenangkan deo. Deo melingkarkan tangannya dileher noven, pria kecil itu juga telah melupakan mainan yang diberikan daniel untuknya.
Daniel meraih tangan ana bahkan ia bertekuk lutut dihadapan ana, " ana kau bohongkan, kau belum nikah, kau masih mencintaiku kan..."
Cinta?bahkan dia sendiri yang telah menghancurkan cinta tulusnya, bagaimana bisa ia mengatakan cinta itu masih ada dan tetap utuh?
"aku sudah menikah." ana menunjukan cincin yang melingkar dijari manis kirinya. Noven mengajak ana bukan sekedar ingin tau keadaannya setelah penerbangannya gagal, tapi ia sudah mempersiapkan semuanya dengan matang, yaitu melamar ana di restaurant itu. Melamar ditengah keramain, namun kali ini rasanya berbeda hatinya terasa begitu berbunga-bunga saat noven melakukan hal ini
" *kau maukan menikah dengan ku?" menjadi ibu dari anak-anakku, menjadi pendamping hidup dan matiku?" bahkan noven mengatakan ungkapkan dihatinya cukup keras, membuat pengunjung restaurant riuh, berbeda dengan ana hanya diam, merasakan atmosfir kebahagiaan.
"jawabannya hanya dua, iya dan setuju."
Tapi entah kenapa tiba-tiba kilasan masa lalunya yang kelam muncul diotaknya, daniel yang menyiksanya dan mencampaknya begitu sadis*.
tanpa sadar ana sudah melepaskan genggaman noven, membuat raut wajah pria itu terlihat bingung.
"ada apa?" kau tidak suka dengan lipihan jawabanya, baik lah aku ganti, iya dan..."
"Aku mau pulang." ana memutar balik badanya, dan perlahan berlalu pergi meninggalkan noven yang masih bertekuk lutut diatas lantai restaurant dengan ratusan tatap mata yang kini menatapnya miris.
...----------------...
Ana mematung didepan parkiran, apa yang telah ia lakukan barusan, yang pasti ia membuat noven kecewa dan bahkan mungkin ia mulai menyerah dengan semua, tapi anapun tidak tau haru melakukan apa, baginya pernikahan bukanlah sesuatu hal yang main- main, ia hanya takut kejadian lalu terulang kembali. Tapi ia tidak bisa mengungkiri bahwa rasanya untuk noven telah hadir.
Ana mengusap wajahnya kasar, "maafkan aku noven."
" Hei,kenapa?" suara lembut itu membuat ana menoleh kepalanya.
" ana jadi tidak enak, ia sudah membuat malu noven yang kesekian kali.
" aku membuat kamu...."
" aku tidak malu, aku kan sudah pernah mengatakan, aku tidak akan pernah malu untuk melakukan hal yang harus memang aku lakukan.melamarmu salah satunya, bila hari ini gagal, aku masih memiliki hari esok, dan aku terus melakukan itu sampai aku menemukan jawaban, yang intinya selama aku masih ada nafas, aku akan terus mencoba."
...----------------...
perjuangan dan penantian noven selama ini akhirnya terwujud, menikahi ana salah satunya, akhirnya ana menerima lamaran noven dan sekarang mereka telah resmi menjadi sepasang suami istri.
Orang tua anapun tak meragukan memberikan anaknya kepada noven, karena selama ini mereka sudah melihat dari awak bahwa noven adalah sosok yang pantas yang menjadi pasangan hidup ana.walaupun ia sudah sangat tau bahwa noven adalah adik dari mantan suami anaknya.
" terimakasih.."noven tersenyum, matanya tak lepas sedikitpun dari manik mata ana.
"untuk?"
"sudah menerima lamaranku dan memberikanku kesempatan untuk menjadi suamimu."
Ana tersenyum manis untuk noven.
noven memandang sekitar. Para tamu undangan tengah menatap mereka dengan penuh iri mungkin lebih tepatnya.
__ADS_1
Noven mendekat bibirnya ketelinga ana, "jangan tersenyum."
Ana menuatkan alisnya bingung.
"memangnya kenapa?"
"senyuman mu terlalu manis, mereka melihatnya" noven melirikan tatapannya pada segerombolan pria yang masih menatap mereka berdua, lebih tepatnya kearah ana.
Ana mengikuti arah lirikan mata noven, dan seketika itu juga wajahnya ia datarkan.
"mereka anak kecil"
benar, segerombolan pria itu adalah segerombolan anak kecil teman sekolah deo.
jangan bilang kalau noven?
Noven melipat kedua tangannya,diatas dada, "tapi mereka pria."
" tapi mereka anak kecil tidak masalah."
" tidak bisa, mereka tidak boleh menatap istri orang sperti itu.
Ana tertawa mendengar perkataan noven, " kau cemburu dengan mereka?mereka hanya anak kecil."
noven menatap ana. Bahkan ia hanya bercanda mengatakan itu, tapi sepertinya ana menganggap itu serius, lihat saja istrinua itu kini menertawainya begitu puas.
Ana semakin mengeraskan tawaannya,
" aku baru tau kau tipe orang pecemburu yang aneh,
Kau....hhmpff..."
Noven membungkam bibir ana dengan bibirnya,ana yang sadar ini bukan tempat yang pas untuk melakukan hal seperti ini memukul dada noven, novenpun melepaskan ciumannya.
" bagaimana deo menglihatnya."gerutu ana kesal.
"tidak, mereka bersama orang tuamu..."
Jawab noven santai seolah-olah didepannyapun tidak ada anak kecil.
" mau mencobanya lagi?"
Ana langsung membulatkan matanya. Satu hal yang ana baru ketahui, suaminya ini ternyata memiliki otak vulgar.
Daniel menggeleng kepalanya tidak percaya, " kau ingin kita seperti dulu lagi kan?" membesarkan besarkan deo dan ya, aku sudah menyisakan ruang hatiku untuk mu dan deo..."
Ana melirik kearah noven, mengisyaratkan bahwa ia harus meenyelesaikan masalahnya dengan daniel, noven pun mengerti dan pergi dengan membawa deo yang berada didalam gendongannya.
Daneil membawa tangan ana keatas dadanya ,"kau merasakannya ana?"
Ana merasakannya, detak jantung yang berirama dengan cepat.
"itu yang aku rasakan beberapa bulan ini didekat mu, aku merasa lebih hidup berada didekatmu dan doe, anak kita."
" dan disini juga, aku sudah menyisihkan ruangan itu untukmu dan deo."
Setiap kata yang terucap dari bibir daniel sangat menyakitkan untuk hati ana.kenapa ia baru menyisakan hati untuknya dan deo disaat hatinya sudah tertutup rapat-rapat untuknya.
Ana menurunkan tangannya dari dada daniel.
"Ada apa? Aku srius ana, aku sudah menyisakan ruangan itu, seperti yang kau inginkan.
"menyisakannya?"
Daniel mengangguk yakin, "ya, untuk mu dan anak kita."
Ana hanya tersenyum getir mendengarnya.
"bagaimana bisa?"
" tentu saja bisa, karena kau..."
" dulu aku bertanya apa ada ruang dihatimu untukku sedikit saja dan kau mengatakan tidak ada,dan deo. Bahkan aku sudah sangat memohon pada mu untuk menyisakkan ruangan itu untuk deo,dan kau tidak menginginkan itu. Sekarang kau mengatakan kau menyisakan ruang itu untuk ku dan deo?"
Demi apapun daniel menyesal pernah mengatakan itu semua kepada ana. Ia amat sangat menyesal.
__ADS_1
Daniel menggelengkan kepalanya "Tidak, sekarang aku sudah menyisakannya."
Daniel meraih kembali tangan ana, bertekuk lutut dihadapannya.
" kau maukan menjadi istri ku lagi? Menjadi pendamping ku lagi...."
Ana melepas genggaman daniel.
" maaf, tapi aku tidak bisa.."
Daniel mendongak setelah itu ia bangkit
" ana..."
ana menggeleng," aku tidak bisa, aku sudah menikah." jelas ana.
Daniel menatap tak percaya, " kau mencintai ku ana.."
"aku memang sangat mencintai mu..."
Daniel yang mendengarnya tersenyum, secercah harapan sepertinya masih ada pada dirinya.
" Tapi sebelum pernikahan itu berakhir dan sebelum surat cerai itu aku tanda tangani dan kau yang memintanya, aku sangat mencintaimu..."
" ana..."
" bahkan, entah bodohnya aku atau apa, aku sangat mencintaimu disaat aku tau cintamu tidak akan pernah bisa untukku, karena yang aku tau cintamu hanya untuk siska, ya hanya siska." ucapan ana sangat menyayat hati saat melontarkan nama siska.
Daniel menelan selivanya, hatinya sakit mendengar ucapan ana.
" siska dia...."
" Dia wanita yang sangat kau cintai, aku tau. Bahkan kau lebih memilihnya bukan, saat aku berjuang untuk mempertahankan hubungan itu?"
"Aku.."
" tidak perlu merasa bersalah. Aku yang salah mencintai pria yang mencintai kekasih... tidak, apa saat itu aku tidak boleh mencintai suami ku?"
" jelas tidak, dia saja tidak mengijinkannya. Tentu saja, dia tidak mau membagikannya wanita sepertiku, wanita yang sederajat dengan wanita kupu-kupu malam." ucap ana dengan senyum getirnya.
" tidak ana, itu tidak benar."
" itu benar, dan setiap hari ia mengatakannya untuk ku."
Daniel menggenggam tangan ana,
" ana aku minta maaf aku menyesal, aku tidak bermaksud untuk mengatakan itu semua..."
Ana tersenyum sembari melepaskan ngenggaman erat daniel. "aku sudah memaafkanmu dan tidak perlu menyesal, semua sudah berlalu."
"jadi?"
Ana menautkan alisnya bingung.
"jadi kau....?"
Ana menghela nafasnya, " memaafkan bukan berarti semua bisa seperti dulu.memang aku sempat berniat untuk tidak memaafkanmu, tapi saat kau datang dan mau mengakui deo bahkan ingin menjadi Ayah yang baik untuknya, eggo ku seakan runtuh, perlahan aku memaafkanmu, walau sebenarnya sangat berat."
Kaki daniel lemas, ia bertekuk lutut tanpa gairah.
"hanya kisah kita yang berakhir tapi kau denga deo masih memiliki hubungan yang kuat." ucap ana.
Ana benar, tapi anaknya itu sangat membenci dirinya walaupun belum tau wujud ayah yang sebenarnya. Daneil tidak tau apa reaksi deo saat daniel benar-benar mengungkapkan identitas dirinya kepada deo, yang jelas deo pasti akan membencinya.
" Tunjukanlah kalau kau memang ingin menjadi Ayah yang baik mungkin dari yang terbaik seperti yang kau katakan, deo pasti akan mengerti." ucap ana seakan-akan tau isi pikiran daniel.
Setelah itu ana pergi dari hadapan daniel. Menyisakkan daniel seorang diri ditaman ini, dengan ribuan perasaan menyesal yang mendalam.
"bahkan burung merpati saja tidak akan sanggup kehilangan pasangannya.lalu, bagaimana aku? Manusia pendosa yang menyesali setelah semuanya lenyap!" sesal daniel.
Semua sudah lenyap, bahkan seseorang yang mencintainya dengan sangat sudah pergi, ia merasa ini adalah karma untuknya, ia menyadari ia memang pantas mendapatkan semua, tidak mendapatkan cinta dan kepercayaan lagi. Yang ada hanyalah sebuah penyesalan yang menghampirinya dan menemaninya.
EN
Mohon dukungannya untuk karya ku🙏🏻🙏🏻😊😊
__ADS_1