
Kacau, dirinya terlihat kacau. bahkan janggutnya mulai ditumbuhi bulu-bulu halus.
Kerjaan daniel setelah kisahnya berakhir adalah hanya berminum-minuman. Untuk melangkahkan kakinya saja, diringa seolah tidak mampu. Pandangannya pun selalu berhalusinasi, berhalusinasi bayu, tapi ia buru-buru menepis itu semua.
" dia bukan anakku!" dengan secepat mungkin daniel menepis bayang-bayangan bayu. Tapi entah kenapa bayangan bocah kecil itu justru terpampang jelas dimatanya, bahkan langkah kakinyapun sekarang ia tuju pada sebuah ruangan yang selalu daniel kunci.
Daniel yang tak mau siapapun orang memasuki kamar itu segera berlari menuju pintu kamar ana yang tertutup rapat, saat bayangannya tentang bayu ingin membuka kamar itu. Tapi saat tangannya hendak menyentuh kenop pintu, tangan kecil bayu mendadak lenyap bahkan tubuhnya ikut menghilang.
Daniel dengan segera melepaskan genggamannya pada kenop itu.
Entah kenapa emosinya selalu dbuat mendidih saat dirinya berada didepan kamar ana, daniel membalikan tubuhnya, mencoba pergi dari depan kamar milik ana dulu.
Tiba-tiba saja perkataan bi eliza mengingatkan dirinya. Yang mengatakan bahwa kamar ana masih ada yang harus ia telusuri.
Apa lebih baik dirinya mengikuti apa yang bi eliza katakan?untuk menelusurinya?
...----------------...
Rengekan,dan rengekan yang hanya bisa deo lakukan saat ini. Ia merindukan kakek dan neneknya.
"Deo ingin kakek dan nenek...." rengeknya tak henti-henti.
Ana jadi merasa serba salah sendiri, tidak mungkin untuk saat ini menemukan deo kepada kedua orang tuanya, karena mereka sedang berada diluar negeri.
" iya sayang, kita kerumah kakek dan nenek kalau mereka sudah pulang ya,"kata ana mencoba memberi pengertian kepada deo.
"Deo menggeleng" kalau begitu deo mau kelumah oma dan opa."
Walau hubungannya dengan daniel telah berakhir, ana tetap memperkenalkan orang tua Ayah anaknya, karena bagaimanpun juga deo adalah cucunya, walaupun ayahnya sendiri tidak mau mengakuinya.
Ana terdiam sejenak, bukannya ia tidak mau mengajak deo kerumah opa dan omanya, tapi ia takut bila ia sedang berada disana ia akan dipertemukan dengan daniel.
Karena bila ini terjadi,ini akan menjadi kunjugan pertama deo kerumah oma dan opanya. Karena, bila orang tua daniel ingin menemui deo merekalah yang datang di kediaman ana.
"aduh sayang bunda sibuk."
"deo mau Oma dan Opa."masih tetap pada pendiriannya.
ana mengaruk tengkuknya, ah ia sangat bingung, "i-iya telepon oma dan Opa dulu bagaimana?"
Deo mengangguk dan menyetujui apa yang bundanya inginkan.
...----------------...
Daniel memasuki kamar ana berkat dorongan hati kecilnya. Matanya mulai menelusuri kamar yang dulu pernah ia injak 3 tahun yang lalu.
Foto-foto pemilik kamar inipun masih tertata dengan rapi dinding.
Semua masih sama, hanya saja kamar ini mulai kotor.
Matanya terhenti saat melihat sebuah bingkai yang terbalik, menutupi foto yang berada didalamnya.langkahnya mulai ia langkahkan menuju bingkai yang ada diatas nakas, lalu mengambil bingkai itu.
Mungkin ini adalah foto yang dimaksud bi eliza, foto pernikahannya dengan seorang wanita.daniel meletakan kembali foto itu diatas nakas, tapi dengan posisi yang seharusnya.
Tangannya mulai bergerak kembali, menarik satu persatu setiap laci kecil yang didalamnya tidak ada apapun, dan sampai akhirnya matanya terfokus pada laci paling akhir, yang didalamnya terdapat sebuah buku, buku yang bersampulkan warna pink yang bertuliskan princess, disana juga terdapat pena yang berwarna sepadan dengan warna buku itu. Daniel yang diliputi rasa penasaranpun segera mengambilnya.
Daniel menghampiri ranjang kosong yang berbalut seprei yang sudah 3 tahun tidak pernah tersentuh lagi. Ia mulai duduk sisi ranjang milik ana dulu.
__ADS_1
Ada perasaan heran dalam hatinya, buku milik siapa ini.setaunya ia tidak pernah memiliki buku ini, apa lagi dengan warna? Pink dan ungu ini, ana sangat menyukai warna itu.apa ini buku miliknya?
...----------------...
" Hallo, Opa..." suara girang deo terdengar jelas, apalagi saat dilayar ponsel milik ana mulai terpampang jelas wajah frans Ayah daniel.
" Hei, cucu tampanku."sapanya dengan senyuman rindu."
" Deo, lindu opa, deo kelumah opa boleh?"
Jawab pria kecil ini dengam cadelnya.
"boleh sayang, deo mau kesini?"
Ana yang tak menampakakn wajahnya,hanya tersenyum tipis mendengarnya.sejujurnya ana sangat ingin mengunjungi rumah orang tua mantan suaminya itu, namun ia takut bila dirinya akan bertemu kembali dengan sosok pria itu.
Deo menoleh kearah ana yang berada disampingnya "Unda, kata Opa boleh..."jawab anaknya dengan menampilkan giginya kecil yang terlihat sangat mengemaskan.
"ada bunda disana?" kata frans, ia fikir cucunya ini meneleponnya tanpa didampingi ana, ternyata ana disampingnya.
Deo mengalihkan pandangannya lagi pada ponsel milik ana, kemudian mengangguk.
ana yang ketahuan hanya menyimak langsung menampakan wajahnya, " pa.."
Jawab ana lembut dengan senyum tipis yang terlihat manis.
Frans tersenyum melihat ana, " wah tambah cantik saja anak papa yang satu ini..."
puji frans, walaupun sudah bukan menantunya, tapi frans masih tetap menganggap ana sebagi putrinya.
"papa bisa saja." jawab ana malu-malu.
Deo mengangguk " Mau, deo lindu Opa. Kalena kemalin, kemalin, kemalin,kemalinnya lagi deo ndak ketemu Opa. " ya, terakhir bertemu dengan Opanya sekitar 1 tahun yang lalu, ketika umurnya berusia 3 tahun.
"Hei, ber 2 saja sama opa ngobrolnya, papa noven tidak diajak?"
" ada ana ternyata...." tiba-tiba saja wajah noven muncul dari layar ponsel, membuat ana menjadi kikuk sendiri.
Hubungan noven dan frans kembali membaik, setalah kejadian ana bercerai dengan daniel, dan disitu pula noven muncul, menjelaskan semuanya pada papanya bahwa kakaknya itu sangatlah menyiksa ana.
sebenarnya hanya masalah kecil saja antara frans dengan anaknya noven, permasalahannya hanya karena masalah dirinya harus menjadi CEO di perusahaan, tapi sungguh noven saat itu sangat tidak tetarik,
Dan ia memutuskan untuk pergi.
Bahkan frans sampai meminta bodyguardnya untuk mencari noven.namun sayang setiap bodyguard menemui noven, mereka tidak berhasil menangkapnya. Karena noven terlalu pintar dalam taktik bersembunyi.
Ia juga tidak mau dibenci terus -menerus oleh kakaknya sendiri. Karena jabatan itu memang seharusnya hanya daniel lah yang memegangnya, bukan dirinya.
"papa, papa cama Opa?" tanya deo polos noven tersenyum mendengar Deo bertanya, "*iya sayang....."
"noven ,kau ini. Papa sedang berbicara dengan cucu lucu papa, kau malah ambil alih video callnya*..." frans kembali menampakkan wajahnya.
Deo tertawa kecil melihat tingkah Opa dan papanya itu "Opa dan papa ndak boleh belantam."
Ana yang menyaksikan ikut tertawa.
"deo mau kelumah opa..." ah, rengekan pria kecil itu kembali lagi.
__ADS_1
"kapan-kapan saja ya sayang" ucap frans.
Deo memasang raut wajah kecewanya " Opa ndak lindu deo?Opa cebel sama deo?"
"tuh kan papa, cucu sendiri dibuat kecewa." ledek noven pada frans.
Sontak saja frans segera menarik telinga noven, membuat pria itu meringis kesakitan.
Ana mendekatkan bibirnya ditelinga deo
" papanya diapain tu sama Opa?"
deo yang merasa kesal terhadap Opanya, segera mengeluarkan suara oktafnya. "Opa!! jangan talik- talik telinga papa!!" omel deo dengan suara ciri khas anak balita.
Merasa dibela deo, noven semakin mendramatisir keadaan "telinga papa lepas. Tolongin papa, deo." kata noven dengan ektingnya
"Opaaa!" wajjah deo melemas, bahkan matanya mulai mengenang dibola matanya.
Ana yang melihat ekspresi deo dari layar kamera, langsung menatap anaknya. Yaampun, ternyata anaknya ini ingin menangis.
"Hei, anak laki-laki tidak boleh?"
"Opa nakal! Opa talik-talik telinga papa noven, opa juga ndak mau ketemu deo."
Noven yang merasa bersalah segera meminta maaf pada deo " papa bercanda, telinga papa masih adakan." noven memperlihatkan telinganya, dengan kekehan yang masih terdengar.
" Hei, opa bukannya tidak mau bertemu deo, tapi opa sedang tidak berada dirumah. Opa sedang di jerman sayang."
" menemani, papamu yang menyebalkan ini untuk..." belum sempat melanjutkan nya noven membekap mulut papanya itu.
"y-ya opa sedang menemani papa, wisuda yang ke 2 kalinya." sanggah noven.
" kamu wisuda?" kenapa ana tidak diberi tahu?"
Noven mengaruk tengkuknya " inginnya seperti itu, tapi kau harus mengurus sekolah deo. Tidak mungkin deo izin walaupun masih berada di playgruop. Aku tidak ingin deo tertinggal dalam pelajaran."
ana mengangguk mengerti. Perhatian sekali pria satu ini, ana jadi tertegun.
" pokoknya nanti papa, Opa dan Oma akan kembali secepatnya ya sayang?" kata noven pada deo yang nampaknya masih merajuk.
"Deo tidak mau menjawab? berarti boleh lama?"
Deo menggeleng walaupun masih sedikit merajuk. "ndak boleh."
" Oke,"
" selamat ya noven," ucap ana dengan senyuman.
Noven mengangguk, "Selamat atas jawaban waktu itu? Selamat karena kamu sudah menerimanya?"
Ana mengigit bibir bawahnya " selamat atas kelulusan mu."
Noven tersenyum lagi " kelulusan, atas menunggu jawabanmu it...."
"Sudah ya noven, aku tutup." pulsa ku limit. Aku tutup ya, pa.."
Tut, ana mengakhiri sambungan video call. dan tanpa sadar pula bibir ana melengkungkan senyuman
__ADS_1
Mohon dukungannya untuk karya ku🙏🏻🙏🏻😊😊