
Pagi.
Rea sudah menyiapkan dua gelas teh hangat beserta sosis dan nugget goreng, untuk menemani sarapan mereka pagi ini.
Bram keluar dengan menggunakan kemeja berwarna navy, dan celana panjang berbahan dasar khaki.
Tidak lupa, sebuah jam tangan yang selalu dia pakai. Jam tangan pemberian dari Rea saat ulang tahun nya yang ke-30 sekitar dua bulan yang lalu.
"Emmm ... Sayang nanti malam kita makan di luar aja gimana? Sekaligus kita pergi nonton atau hanya sekedar jalan-jalan. Soalnya sudah lama kan kita nggak kencan, pengen juga jalan berdua kayak orang pacaran." Tawar Bram sambil terkekeh karena mengingat mereka dulu pacarannya hanya tiga bulan. Dan jarang sekali Rea punya waktu untuk keluar, walau sekedar jalan-jalan.
"Emang kamu pulang cepat hari ini, Mas?"
"Aku usahakan Sayang, tapi paling lambat nanti aku pulangnya sekitar jam 19.00 jadi langsung jemput kamu. Aku mandi sama ganti bajunya di kantor aja."
"Apa gak sebaiknya aku aja yang ketempat kamu Mas? Kasihan kamunya kalo bolak balik, kan lumayan jauh. Aku bisa naik ojek online kok."
"Nggak usah, kamu tunggu di rumah aja. Jangan lupa dandan yang cantik." Bram mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda Rea.
***
Sarapan sudah selesai. Bram sudah bersiap pergi ke kantor dengan Rea yang mengantarnya di teras depan.
__ADS_1
Rea mencium punggung tangan suaminya, dan mengenggamnya menuju garasi.
Bram menarik kepala istrinya, dan mengecup keningnya dalam.
"Hati-hati di rumah, kalau mau kemana-mana kabarin, ya."
"Iya Mas, udah tiga kali loh mas ngomong ini. Lagian mau kemana juga aku mas, teman aja cuma ada dua orang" Kesal Rea sambil mengerucutkan bibirnya.
"Haha ... Mas lupa kalau udah ngomong ini tiga kali Sayang" Bram tergelak melihat wajah kesal Rea.
"Hati-hati mmMas, bawa mobilnya jangan ngebut. Kabarin kalau udah sampai ya."
"Ok sayang, dah." Bram melambaikan tangannya.
Manusia seolah berlomba-lomba untuk mencapai tujuannya paling cepat, karena tidak jarang banyak pengendara yang melanggar aturan dan membahayakan orang lain.
***
Arloji Bram sudah menunjukkan pukul 17.00.
Bram sudah bersiap untuk pulang, pekerjaan nya selesai lebih cepat dari yang dia duga.
__ADS_1
Dia memutuskan untuk mandi dan berganti pakaian di rumah saja, agar penampilannya lebih rapi dan tidak terburu-buru pastinya.
Tiba-tiba gawainya berbunyi, panggilan masuk dari ibunya.
"Halo ... Assalamualaikum, Buk"
"Waalaikumsalam. Bram, kamu dimana sekarang? Ibu mau ketemu, ada hal penting yang ingin ibu bicarakan."
"Tapi Buk, malam ini Bram ada janji. Besok pagi gimana Buk, kalau nggak ibu bisa bicarakan lewat telpon aja."
"Bram, ini bukan masalah biasa. Perusahaan properti yang di kelola kakak kamu dalam masalah. Ibu tunggu kamu sekarang!"
"Oke ... oke buk. Bram ke rumah ibu sekarang."
"Ibu nggak di rumah, Bram. Nanti ibu kirim alamatnya."
Tut ... Sambungan terputus.
Bram harus pergi, dia tidak bisa memikirkan apapun lagi karena ini menyangkut masalah keluarganya. Dia memeriksa gawainya untuk melihat alamat yang dikirimkan ibunya.
Hanya itu tujuannya sekarang, ke alamat Restoran yang ibunya kirimkan.
__ADS_1
"Semoga Rea bisa mengerti, dengan keadaan sekarang mana mungkin aku bisa pergi bersenang-senang. Semoga tidak ada yang masalah yang terlalu mengkhawatirkan, Tuhan." Bram bermonolog sendiri.
Memacu kendaraannya dengan kencang, Bram mengabaikan janjinya dengan Rea.