
Setelah berfikir dengan matang, ana akhirnya memutuskan untuk meninggalkan kota ini.
Ia merasa, dikota ini dirinya sudah merasa tidak aman, karena kehadiran sosok daniel.
"Unda, kita mau pelgi kemana?" tanya deo bingung, saat melihat keramain dibandara.
"ketempat dimana, kenyamanan yang deo bisa dapatkan."jawab ana sembari tersenyum, deo mengangguk-angguk paham.
"Ana,"
Deg, jantung ana berdegup saat mendengar suara yang memanggil namanya.
Perlahan ana mulai menolehkan kepalanya.
"Noven."
Noven yang mengenakan pakaian casual dengan memakai kacamata hitam, menghampiri ana yang sedang bersama deo.
"Papa...." teriak deo girang, ia langsung berlari kearah noven, dan langsung disambut oleh noven dengan cara membawa tubuh deo kedalam gendongannya.
banyak pasang mata kaum hawa menatap noven, mereka menatap noven dengan tatapan tepersona.
Ana mulai mendekati kearah noven.
"papa kemana saja, papa lama ndak ketemu deo." ucap deo dengan bibir mnegerucut.
" papa..." deo menatap sejenak kearah ana yang sekarang sudah beeada dihadapannya, lalu ia tersenyum kearah ana.
"Ana."
" Noven.." jawab ana lembut.
"kalian mau kemana?" tanya noven kepada ana.
Ana menarik nafas panjang, "Jerman."
Noven membulatkan matanya,
"J-jerman?"
Ana mengangguk "ya, aku dan deo akan mulai kehidupan baru disana. Dimana orang yang tidak diharapkan, tidak akan muncul lagi dihadapan kami."
Noven mengernyitkan dahinya,
orang yang tidak diharapkannya, apakah itu dirinya?"
"A-apa itu aku?" tanya noven dengan nada takut
Sekarang giliran ana yang mengernyitkan dahinya bingung." noven?"
" y-ya apa itu aku? Dan apa kau tak mau melihat ku lagi? A-apa aku memiliki salah padamu? Atau aku membuatmu...."
ana tertawa mendengar perkataan noven."memangnya perkataan ku tadi, sangat menyinggung kamu?
Noven menggaruk tengkuknya " ya, tidak maksud ku...."
Ana membawa tangannya keatas pundak noven lalu menyentuhnya lembut.
" dan itu bukan kamu." jawab ana semanis mungkin.
Noven menatap lekat mata milik ana, setelah itu ia menatap tangan ana yang masih berada dipundaknya.
Sedangkan ana, ia baru menyadari bahwa tanpa sadar, dirinya menyentuh pundak noven.
Ana segera menurunkan tangannya.
" M-maaf noven"ucap ana sembari menggaruk tengkuknya.
" lalu untuk siap....."
"papa, deo ingin cupelman ," ucap deo dengan manja.
noven mentap deo,"superman?" dan dengan semangat pula deo menjawabnya dengan anggukan.
Noven memberikan senyuman kepada deo, namun bukan senyuman biasa, itu adalah senyuman penuh harap.nove mendekati bibirnya ketelinga deo, dan mulai membisikan sesuatu yang tidak bisa didengar oleh ana.
" Oke," ucap deo dengan tangan kanan memberi hormat pada noven, menandakan bahwa ia setuju dengan ucapan noven yang dibisikan khusus untuknya.
Sedangkan ana ia hanya menautkan alisnya bingung." Ngomongin apa kalian?" deo segara menggeleng.
" Come on boy!!!" noven membalikan tubuhnya dan perlahan-lahan mulai melangkah kakinya.
" Noven, deo mau dibawa kemana?"
"membuatnya senang..."teriak noven tanpa menoleh dan terus berjalan meninggalkan ana yang masih berdiam diri. Ana hanya menghela nafasnya.
...----------------...
Wajah datar daniel melihat layar laptop dengan serius. Tangannya bermain diatas keyboard dengan lihai.
__ADS_1
Deringan suara telepon kantor daniel berbunyi dan daniel langsung mengangkatnya.
"Hm."
"T-tuan kami sudah menemukan lokasinya.."
Daniel langsung bangkit, " cepat katakan"
Ucapan daniel dengan binar wajah yang bahagia.
" Ngghh...T-tuan, nyonya, ia....."
" katakan!! Bentak daniel.
" ia dan putra mu...."
"katakan, brengsek!!"
"mereka akan pergi meninggalkan negara ini."
Jawab pria yang menelepon daniel dengan intonasi suara bergetar.
" Apa?"gertak daniel dengan suara amarahnya.
"ya, saya mendapatkan informasi ini dari tetangga..."
" katakan mereka sekarang ada dimana?"
"M-mereka..."
"katakan!! bentak daniel
"tapi tuan, semua akan sia-sia karena..."
" dimana mana mereka?!!" bentak daniel sekali lagi hingga urat yang ada dilehernya menonjol.
" mereka sekarang ada dibandara, dan kira-kira sekitar 30 menit pesawat yang aka mereka tumpangi akan segera take off..."
Tut, daniel mematikan sambungan teleponnya.
...----------------...
Noven mengajak deo mengelilingi bandara haanya untuk mencari benda yang sangat disukai oleh deo, sampai akhirnya noven mendapati toko yang menjual mini robot superman.
Langsung saja noven membelokkan langkahnya untuk masuk dalam toko itu.
mata biru deo menatap kagum seisi toko yang mereka kunjungi.
Noven tersenyum melihat deo bisa sebahagia ini.
" Deo mau itu?" tunjuk deo kearah superman yang menurutnya menarik.
Tanpa basa-basi, noven melangkahkan kakinya menuju robot superman yang deo tunjuk.
"Deo mau itu papa," ucap deo semangat, dengan tangan menunjuk salah satu robot superman yang ia sukai.
Dengan cekatan noven mengambil robot superman yang dipilih deo, namun ia tidak langsung memberikan pada deo, melainkan ia tahankan terlebih dahulu ditangannya.membuat mata pria kecil itu menatap bingung kearahnya.
"kacih deo," pinta deo
"papa kasih deo, tapi deo harus mengatakan sesuatu pada bunda."
Deo nampak berfikir sejenak,tapi secepat mungkin pria kecil itu mengangguk kepalanya.
" katakan pada bunda, kalau deo mau tetap disini, tidak mau kejerman."
Sebenarnya, ini adalaha sesuatu hal yang dibisikan noven tadi saat didepan ana.
Deo mengingatnya, "nanti deo bilang itu ke unda, rapi cuplemannya kacih deo dulu." pinta deo sembari menggerakan jemari-jemarinya.
noven mencium gemas puncak kepala deo lalu memberikam superman yang diinginkannya.
...----------------...
Hanya tinggal 10 menit lagi pesawat yang ana tumpangi akan segera landas.namun anaknya itu belum juga menampakan batang hidungnya dan itu membuat ana khawatir.
" angkat Noven..." ucap ana, saat nada panggilannya belum juga berubah menjadi suara noven.
" Ana"
ana menghela nafasnya lega, kemudian memutar tubuhnya "noven kemana saj...."
Perkataan ana terputus, saat ia mengetahui bahwa yang memanggilnya bukan lah noven melaikan daniel.
Ana memejam matanya. lagi dan lagi ia menyesali kejadian ini, kenapa dirinya harus bertemu dengan daniel kembali.
"Deo..."
Ana membuka matanya kembali dan langsung menarik kopernya, untuk menjauh dari daniel, namun pria itu justru menahan lengan ana.
__ADS_1
" ana, maaf." ucap daniel penuh penyesalan.
" lepas." pinta ana seraya mencoba melwpaskan cengkeraman daniel, namun sayang cengkeraman daniel dilengan ana terlalu kuat.
" Tidak akan." ucap daniel. perlahan ana mulai melemaskan usahanya untuk keluar dari cengkeraman daniel, lalu memutar tubuhnya membuat posisi mereka saling berhadapan.
Ada selengkung senyuman dibibir daniel,
" ana, maaf. aku benar - benar menyesal."
"Dan aku..."
" dan kau, tolong jangan ganggu aku lagi!"
Ucap ana, diakhiri dengan hentakan tangan ana, yang berhasil dari cengkeraman daniel.
" pemberitahuan pada penumpang bahwa sebentar lagi pesawat akan segera take off.dimohon kepada para penumpang agar segera......"
Ana memutar tubuhnya kembali dan melangkah kakinya,saat mendengar pemberitahuan itu.namun daniel kembali menahan lengan ana.
" kau tidak akan pergi." ucap daniel membuat ana kembali menoleh kepadanya.
" dan aku tetap akan perg....."
" kau tidak akan pergi!" bentak daniel sekeras mungkin, membuat para penunggu lain yang sedang duduk atau melakukan aktivitasnya, menatap kearah dirinya dan daniel dengan tatapan bingung.
" mau aku pergi kemanapun, itu bukan urusan mu!" balas ana yang ikut membentak.
Daniel yang tidak suka dibantahpu, memutuskan merampas slim bag milik ana.
" kembalikan!"
Daniel memasukan tangannya kedalam slim bag milik ana.
" kembalikan !!" ucap ana, sembari meraih passport miliknya yang sudah berpindah tangan kedalam tangan daniel.
" ini" Srekk, daniel merobek passport milik ana, merobeknya menjadi 4 bagian.membuat ana mengangga tidak percaya dengan perbuatan yang sudah daniel lakukan kepada passport miliknya.setelah itu daniel menjatuhkan passpirt milik ana yanh sudah hancur keatas lantai.
Ana menatap passport miliknya,lalu menatao manik mata daniel.
" sudah ku katakan, kau tidak akan pergi."
Ucap daniel penuh kemenangan.
Plaakkk.....ana menampar pipi daniel dengan amat sangat keras. Membuat pipi pria itu terhuyung kekanan, bahkan sekarang jejak telapak tangan berwarna merah telah membekas disana.
"kenapa kau melakukan itu!!!!"
Marahnya, tentu saja, karena tanpa passport itu dirinya tidak akan bisa melanjutkan niatnya untuk tinggal dijerman.
"karena aku tidak ingin kau pergi."
Ana tertawa sumbang mendengar perkataan danie," kau melupakan semua perkataanmu dulu?!"
"kau lupa?"
"kau memintaku untuk pergi! Kau memintaku untuk pergi dan jangan pernah kembali lagi. Dan aku berusaha mengikuti semua keinginanmu, dan sekarang kau..."
"Unda..." suara deo terdengar. Deo telah kembali berasama noven.
Noven melangkahkan kakinya menghampiri ana dan sosok seorang pria yang membelakanginya.
Setelah posisi noven mendekati ana, deo memberontak untuk turun, dan dengan menggunakan kaki kecilnya, deo menghampiri ana.
setalah sampai dihadapan ana,deo pun sekilas menatap daniel, namu ia segera mengalihkan tatapannya pada mata ana.
"Unda cupleman..."ucap deo girang seraya menunjukan mini superman miliknya.
" papa belikan ini, ucap deo memperlihat gigi rapinya, menandakan ia sangat senang.
"papa?" lirih daniel pelan. Deo langsung menatap daniel tidak suka.
"paman kenapa dicini?" paman malah-malah unda ya?" curiga deo dengan pandangan tidak suka, detik itu juga daniel menggeleng sekeras mungkin.
"Tidak deo, Ayah..."
"paman bukan Ayah!" bentak deo, lagi dan lagi daniel menyebut kata Ayah, deo sangat tidak menyukai daniel menyebutkan kata itu.
Ana meraih jemari deo, kemudiam hendak melangkah kakinya menuju pintu keluar.
Ya, pintu keluar karena rencananya untuk memulai hidup barunya harys terhambat.dan itu semua karna daniel.pria itu merobek passport milik ana.
Namun daniel buru-buru menahan langkah mereka berdua dengan menghalangi jalan mereka.
"minggir!! ketus ana, bentak ana keras. Membuat mereka menjadi bahan perhatian.
Mendengar bentakkan ana, daniel langsung menyingkir tubuhnya dari hadapan ana. Anapu langsung melangkah kakinya bersama deo meninggalkan daniel
"Aku tidak akan membiarkan mu pergi!!"batin daniel emosi.
__ADS_1
Mohon dukungannya untuk karya ku🙏🏻😊😊