LELAH

LELAH
Episode 2 (Bramono Praditya)


__ADS_3

Mereka tiba di rumah sekitar pukul 20.00.


Di mobil Rea habiskan dengan diam. Hanya sesekali dia bicara, itupun ketika Bram bertanya.


Sepertinya diam memang pilihan yang tepat ketika hati sedang dilanda gundah.


Bukan marah pada Bram, tapi lebih memikirkan kata-kata ibu mertuanya.


Bukan hanya kata kebencian yang dia dengar, tapi juga kata penghinaan.


Apakah lelaki kaya memang tidak pantas bersanding dengan wanita miskin?


Apakah lelaki yang bergelar tidak pantas mendapat kan wanita yang hanya tamatan SMA?


Lagi-lagi kesenjangan ekonomi dan status sosial yang jadi masalah, batin Rea getir.


Tidakkah ibu mertuanya melihat usahanya selama ini?


Bukan Rea tidak pernah berusaha mendekati ibu mertuanya, bahkan sering.


Tapi ibu mertuanya lah yang selalu menjaga jarak, seolah enggan mengenal atau memang sudah terlalu mengenal.


Mengenal hanya lewat prasangkanya saja.


***


Rea selalu berusaha untuk menjadi yg terbaik untuk Bram, meski Rea tau dia tidak akan bisa seperti ibunya Bram. Tak sehebat ibunya, tak sebaik ibunya, bahkan tak secantik ibunya.


Tapi dia selalu berusaha agar Bram bahagia menikah dengannya, menjadi rumahnya untuk pulang, menjadi sandaran nya ketika rapuh, dan menjadi sumber kekuatannya ketika dia mulai lelah.


Tapi ibu Bram selalu ingin mengatur segalanya, dia ingin rumah tangga mereka berjalan sesuai keinginannya.


Bukan tidak senang ketika ibu mertuanya datang berkunjung, tapi Rea hanya merasa tertekan dengan segala yang ibunya utarakan.


Masakan yang sangat tidak sesuai dengan selera Bram.


Penataan pernak-pernik rumah yang jauh dari kata rapi.


Bahkan..


Dia tidak bisa menyenangkan suami. Jangan kan untuk terlihat berkelas, cantik pun tidak.


Itu kata ibu mertuanya!


***


"Hey, kamu lagi mikirin apa sayang? Ada masalah?" Tiba-tiba Bram membuyarkan lamunannya.


"Enggak Mas, aku cuma capek aja. Sama agak pusing sedikit" Jawabnya sambil memijat kepala kemudian merebahkan kepalanya di kepala ranjang. Bram menariknya kedalam pelukan, menyandarkan kepala di dada bidangnya.

__ADS_1


"Apa ada yang kamu pikirkan?" Dia memandang Rea dengan tatapan khawatir.


"Enggak Mas, malah aku senang karena besok mas libur, kan? Jawabnya sambil memandang lekat wajah suaminya.


"Iya Sayang. Mas juga udah ngecek berkas-berkas penjualannya tadi dengan ibu. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


Besok mas temani kamu kemana aja yang kamu mau." Jawab Bram sambil mencium keningnya.


"Emhh ... biasanya kalau pusing tanda kurang olahraga kan?" Bram langsung memeluknya dan tersenyum jahil.


"Ihhh, Mas mesum!" Sambil tergelak dia berusaha melepaskan pelukan Bram.


"Aku pengen makan kamu" Bram bicara dengan suara yang serak.


Baru ingin berbicara, Bram telah membungkam bibirnya dengan ciuman panas.


Hingga ciuman itu turun ke leher, dan menghasilkan sensasi yang berbeda untuknya.


Tangan yang tadinya memeluk juga sudah berpindah.


Hingga tanpa sadar mereka telah tenggelam kedalam indahnya surga dunia.


***


Drttt..Drrtt..Drtt


Alarm berbunyi, menandakan sudah jam 05.10.


Mengikat rambutnya yang tergerai dan sudah tak tau bentuk.


Berjalan kearah kamar mandi, dan mengambil handuk. Mandilah tujuannya yang utama.


Setelah mandi dia membangunkan Bram. Kemudian bergegas untuk memasak.


Memasak makanan kesukaan Bram mungkin ide yang baik pikirnya. Melihat Bram makan dengan lahap, mampu memperbaiki suasana hatinya yang sedang buruk.


Cumi saos lada hitam, tempe goreng, dan tidak lupa dengan sambal terasi.


Setelah semuanya siap, dia menata nya di atas meja makan kaca dengan dikelilingi 4 buah kursi kayu jati bercat coklat.


Tidak banyak pernak-pernik di ruangan dapur mereka, hanya peralatan memasak dan alat-alat khas dapur yang memang dibutuhkan.


Ruangan dapur memang agak sempit, karena memang mereka belum berencana merenovasinya semenjak pertama kali rumah ini dibeli. Sekitar 5 bulan yang lalu.


Rumah mereka tergolong sederhana, dibanding rumah kakak-kakak nya Bram.


Rumah minimalis dengan ukuran 15x12, hanya ada tiga kamar tidur dengan masing-masing kamar mandi di dalamnya, satu ruang keluarga, satu ruang tamu, dan satu dapur.


Di teras hanya ada dua buah kursi bambu beserta meja.

__ADS_1


Di samping teras kiri, ada garasi yang hanya muat satu mobil dan satu motor.


Di teras kanan, ada pohon mangga dan beberapa jenis bunga.


Sederhana, tapi sangat nyaman untuk kedua pasangan yang baru mengecap indahnya pernikahan.


***


Sekarang Rea sudah tiba di salah-satu mall di Jakarta, dengan Bram tentunya.


Dari awal masuk hingga tiba di toko buku, Bram selalu saja menggandeng tangannya.


Menjadi pengantin baru memang seindah dan semenyenangkan ini ternyata, batin Rea.


Pantas saja dulu ibuny selalu bilang, awal-awal menikah itu adalah kebahagiaan.


Tapi sayang, ibunya tidak menyaksikan dia menikah. Ibunya terlalu cepat meninggal kan nya pergi menghadap Ilahi, yang menjadikannya yatim piatu sekarang.


Rea ingin membeli novel, karena persediaan novelnya sudah habis di rumah.


Membaca novel adalah pengisi kekosongannya ketika Bram sedang bekerja, dibalik itu membaca adalah hobinya.


Berjejer buku-buku dengan berbagai judul. Entah itu tentang bisnis, pengetahuan umum, resep memasak, sastra, ataupun cara merawat bayi.


Merawat Bayi.


Ya, pandangan Rea jatuh ke judul buku itu. Seketika kata-kata ibu mertuanya kembali terngiang. Membuat mood dan pikirannya jadi kacau.


Nafas juga serasa sesak bila dia mengingat itu.


Ternyata semudah itu membuatnya rapuh, hanya dengan mengingat omongan ibu mertuanya.


Bodoh? Mungkin.


"Emm, Mas kayaknya aku udah nggak minat untuk beli novel. Gimana kalau kita belanja sayuran aja, Mas?"


"Lho kok nggak jadi Sayang, apa novelnya nggak ada yang menarik untuk dibaca?"


"Bukan Mas, bukan. Cuma kalau aku pikir-pikir kan uangnya sayang kalau dibeliian novel, di rumah kan masih ada yang belum selesai aku baca. Mendingan uangnya dipake aja untuk keperluan lain" Kilahnya pada Bram.


Jika tetap di sini, bukan ketenangan yang akan dia dapatkan.


"Nggak apa-apa lah, uang itu udah Mas kasih buat kamu. Untuk keperluan rumah kan uang nya beda Sayang" Bram sedikit memaksa, karena jarang sekali ia menolak jika berhubungan dengan novel. Karena membaca novel adalah hobinya.


"Nggak usah Mas, lagian aku tuh udah haus banget. Kita cari minum dulu aja, ya."


"Beneran, nggak mau beli?"


"Iya Mas" Jawabnya sambil tersenyum.

__ADS_1


Senyum yang selalu berusaha Rea ukir untuk lelaki yang telah mencintai dan menyayanginya seluar biasa ini.


Suaminya, Bramono Praditya.


__ADS_2