LELAH

LELAH
Extra Part 1


__ADS_3

Ana tertawa saat noven tak henti-henti mengelitik perutnya dengan posisi ia memeluk istrinya diranjang. Ia justru merasa puas melihat istrinya bisa seperti ini.


" berhenti sayang...." noven yang tidak tega mendengar suara ana yang sudah seperti ini orang yang tidak berdaya akhirnya menghentikan aksinya itu, dan hanya menyisakkan pelukan yang berat saja.


" I'm so sorry baby...." noven mengecup pipi ana.


"Unda, Papa...."


Ana dan noven langsung menolehkan kepalanya kearah sumber suara, yaitu tepat diambang pintu yang sudah terbuka dengan lebar. Sontak noven melepaskan pelukkannya dan ana segera bangun dari ranjang.


dengan kangkah kaki yang setengah gontai, deo melangkahkan kakinya menghampiri pasangan suami istri yang usianya sudah menginjak 1 tahun.


Ana merasa parno sendiri, bagaimana kalau anaknya ini melihat kejadian yang baru saja terjadi, padahal ia hanya mencoba membangunkan noven saja untuk segera membersihkan diri, karena ini sudah melewati dari batas biasa bila noven berangkat kerja.


"Anak bunda sudah bangun?" ana mengusap puncak kepala deo saat anaknya ini sudah berada dihadapannya.


Deo mengangguk kecil, " Deo mau kelumah Ayah unda..."


Semenjak kejadian hari dimana daniel mengetahui bahwa ana telah menjadi istri dari adiknya, perlahan ia mulai mengihklaskan, walaupun ia sempat ingin berniat jahat akan menghancurkan keluarga kecil yang baru ana dan adiknya bangun sehancur-hancurnya, tapi membantalkan semua niat jahatnya itu semua karena deo menyadarkan semua kesalahannya, pria kecil itu menceritakan bahwa ia sangat sedih saat teman-teman yang lain bisa satu rumah dengan ayahnya, bahkan ia sangat menginginkan Ayahnya untuk memeluknya, tapi ana selalu mengatakan bahwa daniel sedang bekerja.


Bila ia tetap melakukam kejahatan itu, pasti deo akan semakin tidak menganggapnya Ayah kandungnya dan ia dan deo akan semakin jauh darinya.


Beruntung, karena ia mengikhlaskan semuanya, perlahan tapi pasti deo mulai menerima daniel sebagai Ayahnya.


Ana tersenyum menatap anaknya, " Ayah sedang tidak berada disini sayang." deo langsung memasang raut wajah sedih, ia sangat merindukan Ayahnya itu, apa lagi ia sering membelikanya Hero superman kesukaannya dan permen super banyak.


Noven yang melihat raut wajah Deo sedih segera turun dari ranjang dan mendekatinua dan menyamain posisinya.


"bagaimana kalau kira kepantai.?" ajak noven dengan menatap bergantian mata ibu dan anak itu.


"nanti disana deo bisa melihat banyak pemandangan yang begitu indah"


" sayang kamu tidak bekerja?" tanya ana


Noven tersenyum, sepertinya istrinya ini sudah lupa, kalau ini adalah hari libur. "ini adalah hari minggu."


Ana menggaruk tengkuknya, " bagaimana aku bisa lupa?"


Noven bangkit kemudiam mengecup pipi ana, "karena kau terlalu sibuk mengurus aku dan deo."


" jadi hari ini aku mau kita berlibur,"


deo pun akhirnya menyetujui, lagi pula ia juga penasaran dengan pantai, kata teman- temannya disana banyak pasir yang bisa dibangung istana. Dan ana ia akan setuju kemanapun bila anaknya ini menyetujuinya juga, selagi tempat itu nyaman dan aman


...----------------...


dimasih hari yang sama di negara yang berbeda, daniel harus segera menyelesaikan pekerjaannya di negara ini, bahkan ia harus meninggalkan deo untuk beberapa bulan kedepan. Ia pun tak sempat bertemu denhan anaknya, karena berangkatnya ini sangat mendadak. Entahlah apa ia akan sanggup menahan rindu pada anaknya itu.


Untung saja daniel memiliki banyak foto anaknya didalam ponselnya, setidaknya ia bisa melepas rindu dengan melihat fotonya saja, walaupun rasanya akan sangat jauh berbeda.


"Ayah menyayangi mu,"ucap daniel, tersenyum menatap foto deo sembari menunjukan deretan giginya.


...----------------...


Mereka berjalan menuju pantai, dengan deo terlelap didalam gendongannya dan ana yang berada disampingnya.


Sedangkan ana, ia menatap seluruh penjuru tempat itu. Jadi ini yanh dimaksud berlibur ditempat indah oleh noven? Pemandangan wanita-wanita bule hanya mengenakan bra dan underwear saja.


"sayang..." ana memegang lengan noven dengan langkah yang langsung ia hentikan.


Noven menoleh kearahnya, "ya sayang?"


" ini yang sayang maksud indah?ucap ana yang mulai tidak suka.


Noven mengangguk seraya tersenyum, "ya indahkan?"


"Aku tidak mau disini," ucap ana.


Noven mengernyitkan dahinya, "ada apa?"


Ana mendecak, bahkan ia masih bertanya kenapa? Sudah jelas -jelas disana banyak yanh terbuka pakaiannya. Dan ia sangat tidak suka itu.


" ya aku tidak suka disini."ucap ana lagi.


"coba kau lihat lagi, disini sangat indah sayang." jawab noven lembut seraya tersenyum.


"aku tidak mau."


Noven mengusap puncak kepala ana," iya kita akan pergi, tapi setelah kita kesan....."


Suaminya itu tidak mengerti, ia langsung saja berlalu meninggalkan noven dan deo yang masih terlelap.


...----------------...


" maksudnya apa, melihat pemandangan indah seperti itu,apa aku kurang....."


" tentu aku tidak seperti mereka," ia merasa kesal sendiri, atau jangan-jangan suaminya itu mengajaknya melangkah lebih jauh agar ia bisa menggodanya.


" kau kenapa?" tanya noven saat dirinya sudah memasuki mobil dengan posisi masih mengendong deo.


" Tidak."singakat ana.


" Aku hanya ingin mengajakmi..."


"Apa? Mengodanya?" selak ana ketus.


Noven mengernyitkan dahinya bingung,"aku tidak mengerti."


pikir saja sendiri sampai mengerti sendiri.batim ana menggerutu.


Melihat istrinya itu diam noven menyalakan mesin mobilnya, sebelumnya ia juga memberikan deo pada ana.


noven sedang mencari kesalahan yang ada pada dirinya sampai-sampai istrinya bersikap ini padanya, ia merasa tidak ada yang salah, tapi kenapa istrinya itu marah.


"sekarang kau mau kemana?" tanya noven, ia tidak mau kejadian yang sama sekali belum ia ketahui permasalahannya terjadi lagi.


Ana hanya mengedikan bahunya.


"keluar negeri, Arena bermain atau makan?"


Mendengar noven menyebutkan kata makan, perut ana seketika merasa lapar.


"Tidak masalah tapi jangan salahkan aku kalau pipimu itu semakin membulat." ucapnya menggoda ana."


Ana menatap noven kesal,benar dugaannya, ia mengajaknya kepantai pasti ingin membandingkan bodynya dengan wanita-wanita disana. Kalau seperti ini lebih baik dirumah saja, seperti biasanya.


Noven melirik kearah ana, aura mengerikan sudah terpancar dari wajah ana.sungguh ia hanya bercanda, ia hanya ingin mencairkan suasana.


"tidak, pipimu itu sangat menggemaskan." ralat noven.

__ADS_1


"diamlah"


Noven malas mencubit pipi ana dengan gemas, uh" istriku sangat mengemaskan."


...----------------...


Mereka berdua kini telah terlihat rapi, ana menggunakan gaun merah, dan noven menggunakan jas hitam.


Mereka berdua kini tengah mengahadiri sebuah acara penting yang telah diadakan oleh temannya noven. Mereka menghadiri acara ini tanpa deo, ia sedang berada dirumah frans, karena permintaannya sendirilah ia ingin menginap dirumah opanya.


Ana memegang lengan noven tanpa mau melepaskannya sedikitpun, ia hanya takut terpisah dari noven, karena tempat ini cukup ramai.


"sayang aku letih," ucap ana pada akhirnya, karena ia tidak terbiasa mengenakan sepatu hak seperti ini.


"Hei.."sesosok pria datang langsung memeluk noven, noven pun membalas pelukaknnya.


Ana menghela nafasnya, jangan bilang ini adalah teman noven lagi. Kalau iua, dipastikan ana akan menjadi kacang diantara mereka.


Ana menguncangkan lengan noven, "sayang, aku ingin duduk.."bisik ana, agar tidak menyinggung pria yang sudah dipastikan adalah teman noven, karena kalau bukan, mereka tidak akan seakrab ini.


Sayangnya noven tak mengubrisnya, ia malah asyik mengobrol sama temanya.


Tak lama datang lagi seorang wanita, dengan menggunakan gaun hitam berdada rendah. Dan itu membuat ana melongo melihatnya.


"Noven...." parahnya wanita itu langsung memeluk noven dengan sangat erat, bahkan pegangan ana pada lengan noven samapi terlepas itu karenanya. Apa ia tidak melihat disampingnya ada istrinya, istri sahnya.


"aku rein, kau mengingatku?" ucapnya sembari melepaskan pelukannya.


ana menatap bertiga itu miris, kalau tau jadinya seperti ini, ia lebih baik tidak ikut, kalau perlu ia dirumah frans saja menemani deo yang menginap disana.


Melihat noven yang makin asyik bersama temannya itu, anapun memutuskan mencari bangku sendiri. kalau ia terus mengikuti noven ia tidak sanggup, suaminya itu tidak akan merasakan betapa pegalnya mengenakan hak seperti ini.


Disaat pasangan suami istri disini bersanding dengan pasangannya, ana disini bersanding dengan ponselnya sembari duduk manis dibangku. Bahkan mungkin noven telah melupakannya karena teman-temannya itu.


" sayang kau disini?"


Ana melirik kedapannya, setalah itu memainkan ponselnya kembali.


"Aku mencari mu, aku fikir kau menghilang.." ucap noven ia pun ikut duduk disamping ana.


"Hei...kau marah padaku?" tanya noven, dengan menyentuh pipi ana lembut.


Dan ia masih bertanya?


" maafkan aku, aku yang salah, seharusnya aku tidak sibuk sendiri, aku kemari denganmu bukannya sendiri." noven mengecup kening ana.


Ana hanya mengangguk, menandakan ia memaafkan suaminya,


" kau haus?" tanya noven.


"sedikit,"


"kalau begitu tunggu, aku ambilkan minum untukmu dulu," noven pun bergegas pergi untuk mengambil minum untuk ana.


20 menit berlalu, mata ana menelusuri kesaana kemari mencari noven, karena suaminya itu belum menampakan batang hidungnya juga. Ia memutuskan untuk mencari noven.


Ana menghela nafas, saat ia meliha jarak dari tempat ia duduk dan tepat air tidak begitu jauh, tapi noven justru malah menghilang.


" sayang..."liri ana pelan saat ia melihat noven sedang bersama wanita, wanita itu adalah rein, wanita yang mengenakan gau yang berdada rendah itu.


Ana menghampiri mereka berdua yang tengah tertawa. Entah apa yang mereka tertawakan, yang jelas tertawa mereka membuat ana marah.


" noven..."ana menarik lengan noven agar menjauh dari Rein.


" bisa tidak kau tidak mendekati suamiku, kau ingin menggodanya?" ucap ana cukup keras dengan nada tak suka, membuat orang yang berada disekitaran mereka menatapnya dengan serius.


" ana pelankan suara mu."tegur noven agar ia mengontrolkan suaranya.


"Hei..."Rein mengulurkam tanganya pada ana, namun langsung ditepis ana.


" Tidak perlu, aku sudah tau."Rein hanya tersenyum saat mengatakan kalau ia sudah mengetahui sosoknya.


"ya, kau ini penggoda, penggoda suami orang. tidak lihat ditangan suamiku ini ada...."


" Ana!" bentak noven, saat suara istrinya mulai tidak terkontrol dan malah semakin ia keraskan suaranya.


Ana menatap noven, "Aku benar, kalau ia bukan pengoda untuk apa ia mendekati mu yang jelas-jelas sudah...."


" Aku bilang diam!" bentak noven lagi dan kali ini cukup keras, dan itu membuat ana diam terpaku. Ini adalah kali pertama noven membentaknya dan itu ditempat umum seperti ini.


"Rein, maafkan aku." noven langsumg mencengkeram pergelangan tangan ana cukup keras dan membawanya pergi dari tempat ini.


Noven menarik ana hingga keparkiran mobil dan langsung melepaskan cengkeramannya itu. Tercetak jemari noven dipergelangan tangan ana cukup jelas.


" kau ini apa-apaan ana, kau ingin membuatnya malu ana!" bentak noven kembali.


"tapi dia..."


" diam dan jangan menjawab!"tegas noven, ia sangat marah dengan sikap ana yang menjadi seperti ini.


" tidak ada yang menggoda, dan merasa tergoda. Kau saja yang terlalu terbawa erasaan!"


Ana menatap noven tak percaya.


" kau seharusnya tidak seperti itu kepadanya, dia baik kepadamu seharusnya kau juga sikap baik padanya, bukannya malah menuduhnya yang bukan- bukan."jelas noven dengan nada yang masih meninggi.


"istriku tidak seperti ini, dia wanita penyabar dan lemah lembut, mana istriku yang bersikap seperti itu?"


" aku menunggumu dan kau ..."


" dan kau menuduh ku berselingkuh, bukan begitu?"


Ana menelan selivanya, sungguh ia tidak pernah berfikiran sejahat itu. Ia hanya tak suka melihat suaminya berdekatan dengan perempuan lain. Ia tidak ingin kejadian masa lalunya terulang kembali, karena itu sangat menyakitkan.


Noven kembali masuk meninggalkan ana diparkiran hanya seorang diri.


...----------------...


Tok...tok...tok..


"Ana, buka pintunya, panggil noven dari luar kamar.


ana tak menjawab ia hanya menangis dalam diamnya.


Ana sengaja pulang tidak bersama noven, ia memilih pulang menggunakan taxi.


Ia juga masih tak menyangka noven akan berfikiran sejahat itu padanya, menuduh suaminya itu berselingkuh? Seharunya ia tau dan tidak seperti itu kalau ia mengetahui masa lalu istrinya ini.


" nana, buka pintunya. Ayo kita tidur dikamar kita. Aku tidak mau sendiri. Noven masih berupaya membujuk ana ahar mau tidur dikamar merek.

__ADS_1


Lebih baik ana berad dikamar deo untuk semalam, ia terlalu letih berurusan dengan keributan, yang hanya ia inginkan untuk saat ini adalah menangis.


Noven memutuskan untuk membiarkan ana tidur dikamar deo, ia merasa menyesal membentak ana, terlebih berfikiran seperi itu padanya.seharusnya ia tidak berkata seperti itu, seharusnya ia mengerti apa yang dirasakan ana.


Noven akan meminta maaf pada ana esok pagi, ia akan berusaha meminta maaf kepada ana sampai ia mendapatkan maafnya itu.


...----------------...


Noven kembali mengetuk pintu kamar deo dengan membawa sarapan untuk ana, karena istrinya itu tidak kunjung keluar dari sana.


Jadi ia memutuskan untuk membuatkan sarapan untuk ana.


Tok...tok..


"sayang, abg membawakan sarapan untuk mu,"


tidak ada jawaban yang ada hanya keheningan saja.


Cklekss~


Noven membuka pintu kamar deo awalnya ia kunci ternyata ternyata tidak terkunci sama sekali.


Tubuh munggil itu terbaring diatas ranjang dengan mata yang terpejam.


Noven mendekati ana dan tak lupa ia meletakan sarapan itu diatas nakas.


Wajah yang begitu tenang tergambar jelas diwajah ana.dan itu membuat seulas senyuman dibibir noven terlukis.


" ana, bangun.abang sudah membuatkan sarapan untuk mu." ana hanya berdehem saja dengan mata yang masih terpejam.


"kau belum makan dari semalam, ayo sekarang...." noven menghentikan ucapannya saat tangannya yang awalnya beniat ingin merapikan anak rambut ana dan otomatis menyentuh kening ana, ia merasakan kening ana terasa sangat panas.


Noven mendudukkan dirinya diatas ranjang dan mengecek ulang suhu tubuh ana menggunakan telapak tangannya.


"nana kau sakit." panik noven, noven baru menyadari bahwa nafas ana sudah melemah.


Dalam fikirannya ada satu, rumah sakit.ia harus membawa ana kerumah sakit tanpa basa basi lagi noven membawa tubuh ana kedalam mobilnya dan segera kerumah sakit.


...----------------...


Ana membuka perlahan matanya,"ini dimana?" lirihnya pelan, bahkan ia bingung ada selang yang menempel ditangannya.


" sayang kau sudah sadar?" noven segwra menghampiri ana.


ana yang mendapati kehadiran noven langsung membuang pandangannya kearah lain.


"Kau tidak apa- apa? Apa ada yang sakit?" tanya noven khawatir. Ia ingin menyentuh tangan ana namun ana langsung menepisnya.


" maafkan aku, aku tau aku salah, tapi aku tak bermaksud mengatakan itu." aku juga tidak seharusnya membentakmu, suami seperti apa aku ini memarahi istrinya sendiri.


Ana menatap kembali mata noven, ia meneteskan air matanya.


"Hei,, kenapa menangis? Perkataan mu membuat aku tersinggung?" noven mengusap air mata yang membasahi pipi ana.


Ana menggeleng, "maafkan aku, aku membuatmu malu. Aku tidak seperti yang kamu inginkan."


"Hei, kau masih seperti ana yang dulu, hanya saja...."


" hanya saja perasaan mu sudah tidak ada untukku? Atau memang benar ada wanita lain?


ana menghempaskan tanga noven yang beeada dipipinya, ia kembali menjadi marah lagi.


" semudah itu kau tergoda dengan wanita lain?" ana kembali menangis.


Noven yang tidak mau melihat ana menangis segera menghapus air matanya. Ia ikut berbaring disamping ana yang masih cukup luas, ia peluk erat tubuh ana, dan mengecup keninnya berulang-ulang.


" apa semua wanita hamil akan seperti ini?"


" Aku....apa, hamil?" tanya ana yang masih terisak kearah noven yang masih mejam mata.


" sayang..." noven hanya berdehem saja.


"kau menghamili seorang wanita?" curiga ana. Lagi, noven hanya berdehem saja.


Mendengar deheman noven, saat itu juga ana ingin melepaskan tangan noven yang melingkar ditubuhnya.


"lepas, kau jahat noven," berontak ana, noven semakin mengeratkan pelukannya.


"jangan memelukku!"


"ssst diam lah, kasian baby kita..."


Ana menghentikan gerakan tubuhnya baby kita?


" baby"


Noven meletakan tangannya diatas perut ana lalu menatap mata ana dalam-dalam.


" wanita itu kau, istriku. Aku menghamilimu." ucap noven dengan senyuman yang bahagia.


Ana ikut meletakan tangannya diatas tangan noven ." aku hamil?"


Noven mencium pipi ana,"iya sayang, usianya sudah menginjak 3 bulan."


" 3 bulan ?" kaget ana. Pasalnya ia sama sekali tidak merasakan gejala morningsick, tidak seperti saat ia hamil deo, ana sama sekali tidak bisa menahan yang namanya mual.


" ya, pantas saja kau sering marah pada ku."


Ana menautkan alisnya


"ternyata seperti itu hormon ibu hamil,"


" aku tidak marah, aku hanya kesal."


" begitu?" ledek noven


" aku tidak marah, kau saja yang terlalu terbawa perasaan." ana mengembalikan ucapan noven semalam dengan nada tak suka.


Noven merubah posisinya menjadi duduk, daan mencubit gemas pipi ana." bumil marah-marah terus, nanti babynya takut,"


Ledek noven


" abang..." kesal ana.


"Uh, iya bumil maaf ya."


" kalau begitu abang ambil dulu sarapan untuk mu ya," noven turun dari ranjang dan keluar dari ruangan untuk mencari tempat makanan yang khusus orang sedang sakit.


Ana mengusap perutnya yang masih rata. Ia sangat bersyukur dititipkan kembali mahkluk kecil yang tengah menjalanin perkembangan didalam rahimnya.

__ADS_1


"perkataan papa jangan didenga ya sayang." ana tersenyum bahagia dengan terus mengusap perutnya.


Mohon dukungannya untuk karya ku🙏🏻😊😊


__ADS_2