LELAH

LELAH
Perasaan Ibu Hamil


__ADS_3

Ana membuka matanya, yang ia rasakan pertama kalinya adalah bumi yang sepertinya berputar, lebih tepatnya itu adalah dari rasa kepalanya yang terasa sakit dan tambah pula dengan cahaya matahari yang mulai terik menusuk dimatanya.


"aku," ana memegang keningnya, ia mencoba mengingat-ingat kejadian apa yang membuat kepalanya sampai terasa pusing seperti ini.


"iya." "seharusnya kau tidak menarik perhatian Dion seperti tadi."


" karena kau tidak pantas mendapat perhatian darinya."


"seharusnya kau menyadarinya dia itu pria berkelas, yang pantas untuk wanita berkelas dan wanita baik-baik.bukan seperti mu," ******!


Ana merasakan sesak didadanya kembali, ia masih tidak mengerti letak kesalahannya ada dimana, sampai-sampai daniel dengan tega menghinanya seperti itu.


*Ckleks~


Ana menatap kearah pintu*, untuk melihat siapa yang membuka pintu kamarnya.


Ternyata orang itu adalah daniel, yang sudah mengenakan jas hitamnya.


Ana masih merasakan sakit saat melihat wajah daniel, terutama umpatnya semalam yang selalu sukses membuat hatinya sakit.


"ana..." ana membuang wajahnya kesisi kiri tempat tidurnya berlawanan dengan posisi pintu.


Daniel telah menyakiti perasaan wanita hamil, seharusnya ia tidak melakukan itu.


"maaf," untuk pertama kalinya daniel mengucap kata maaf kepada ana. Setelah sekian kali ia menyakiti ana, inilah kata maaf pertamanya.


"jangan lupa sarapan mu, dan jangan lupa minum obat ."


setelah mengingatkan, daniel pergi dari kamar ana. Ana yang merasa sudah tidak ada kehadiran daniel segera membalikan badanya.


Matanya melirik keatas nakas, sudah tersaji roti berselai coklat, susu, air mineral dan obat.


Namun ana tidak peduli! Ia sama sekali tidak punya mood untuk bersarapan. Yang ia inginkan hanya menangis.


...****************...


5 jam berada dikantor, seluruh fisiknya berada dikantor miliknya. Tapi tidak dengan fikirannya yang tidak berada disini.


"kau kenapa?" fahri membuyarkan lamunan daniel.


"tidak." katanya, serayap mengusap wajahnya yang mulai letih.


" masalah siska?" wajah daniel seketika berubah. Entah sudah berapa lama ia tidak mengingatkan nama itu, dan sekarang kembali diingatkan lagi oleh sahabatnya.


"Atau istrimu?"


Daniel bangkit dari duduknya, ia berjalan menuju jendela besar, yang langsung membawanya kepada pemandangan indah, yang disana terdapat danau yang diatasnya terdapat kapal, gunung yang begitu indah dan langit biru.


Membuat siapapun yang melihatnya akan terkagum.


" menurutmu, perasaan ibu hamil itu seperti apa?


Fahri tertawa tak tertahankan, tertawa hingga air matanya keluar.


"kau bertanya pada orang yang salah."


"kau fikir memangnya aku pernah hamil?"


daniel memutar balik tubuhnya wajahnya masih tetap sama, datar tanpa ekspresi.

__ADS_1


"perasaan ibu hamil itu seperti apa?"


daniel terus mendesak fahri agar menjawab.


tawaan itu perlahan menghilang, saat raut wajah daniel tetap masih datar.


"sensitif,"


" perasaan ibu hamil itu sensitif."


"mungkin,"


" lalu, kalau kita menyakitinya dengan perkataan menyakitkan bagaimana?" tanya daniel semakin penasaran.


"sakit nel, sakit."


"tidak berdarah namun terasa sakit." ujar fahri sembari meniru orang yang sedang tersakiti, dengan meletakan tanganya diatas dadanya.


"lalu?"


" Bisa saja ibu hamil yang merasak tersakit itu terus memikirkan perkataan kasar itu, kemudian pada akhirnya dia melakukan perbuatan yang tidak terduga."


"oh..atau jangan-jangan kau melakukan sesuatu hal kepada ana?" tuding fahri


Fikiran daniel mulai melayang-layang jangan-jangan ana melakukan hal yang tidak terduga itu? Seperti yang dikatankan fahri barusan.


"bro..." lagi-lagi fahri berhasil membuyarkan fikiran daniel.


Daniel segera mengambil ponselnya yang tergeletak diatas meja kerjanya, beserta sahabatnya yang masih diam mematung.


...****************...


Dan makanan yang disajikan tadi pagi oleh daniel, sama sekali tidak disentuh olehnya.


masih tetap utuh pada posisi yang sama.


Ckleks..


Tak ada sedikitpun niat ana menoleh, kearah pintu untuk melihat siapa yang datang. Mau itu pencuri sekalipun, ana tidak akan peduli.


"bagus."


" kenapa ini masih utuh?" katanya dengan suara ciri khasnya, serak-serak basah.


Suara milik siapa lagi kalau bukan milik daniel, suara ciri khas yang hanya dimiliki oleh suaminya di kompleks perumahannya ini. Ana semakin tidak mau menoleh, ia malu matanya sudah terlanjur membengkak.


"Entah telingamu masih berfungsi atau sudah tidak berfungsi." sindir daniel.


Ana akhirnya menoleh kearah daniel berdiri, tepat didepan nakas.


" Sama sekali tidak diharga..." perkataan daniel terhenti saat melihat mata ana membengkak.


"memangnya kenapa?" aku tidak mau makan. Kalau kau mau, kau saja yang memakannya." ketus ana, Ia perlahan bangkit dan berganti posisi menjadi duduk.


" tapi kau tidak mengharga..."


" kalau begitu, kau saja yang menghabiskannya." kata ana keras kepala.


Daniel yang tak terima dengan perkataan ana, ia ambil piring diatas nakas, kemudian memotong roti yang sudah disiapkan dirinya tadi. Tangannya ia ulurkan kedepan mulut ana.

__ADS_1


"makan." pintanya, ana menggeleng.


Ck!! Daniel kemudian duduk samping ana.


"makan." kini daniel sedikit memaksa, tapi tetap ana tidak mau membuka mulutnya.


Prang! Daniel membanting sendok itu diatas piring dan suara bantingan dari sendok itu membuat ana terkejut.


"Apa sulitnya, tinggal memakannya saja!"


"dengan kau tidak makan sama saja kau ingin membuatku susah!" bentak daniel tidak terkontrol.


ana mengigit bibir bawahnya, menahan agar isaknya tidak terdengar.


Kenapa pria ini membentaknya?


"A-aku,"


"Apa?" bentak daniel.ana tak menjawabnya, tapi air mata ana menjelaskan kesedihannya.


Daniel membungkam mulutnya, apa yang baru saja ia katakan. Tiba-tiba saja perkataan fahri terlintas diotaknya.


"Bisa saja ibu hamil yang meeasa tersakiti itu terus memikirkan perkataan kasar itu, lalu dia frustasi, kemudian pada akhirnya dia melakukan perbuatan yang tidak terduga."


Daniel meremas tangannya sendiri dengan kesal. Dan hanya menyiksakan kepalan.


" Ana, makan ya.." kata daniel berusaha lembut kepada ana.


Ana menggeleng, daniel mencoba mengontrolkan emosinya agar tidak terpancing.


"nanti kalau kau tidak makan, babynya kasihan tidak mendapatkan nutrisi,"


"kau ingin membuat bayi itu tidak mendapatkan nutrisi? ternyata saat bayinya lahir, bayinya mendapatkan vonis gizi buruk."


Daniel mencoba memberi pengertian pada ana.


Ana perlahan menghentikan tangisnya.


"jadi jangan egois, ya" daniel menekankan kata egois dan diakhiri senyumannya.


Benar apa kata daniel, dia tidak boleh egois, ia tidak boleh memikirkan dirinya sendiri, ia harus ingat bahwa didalam kandungan nya ada nyawa yang memerlukan nutrisi.


Ana akhirnya mengangguk, daniel mulai menyuapi ana, dari suapan pertama hingga yang terakhir, daniel lah yang menyelesaikannya.


Daniel bangkit dan membawa nampan untuk dikembalikan kedapur. Tak lama kemudian daniel kembali dengan membawa segelas susu. Ia kembali dengan membawa segelas susu hangat yang baru, dan dia sendirilah yang membuatkan untuk nya.


"Minum," pintanya, sedangkan ana menatap suaminya dengan bingung.


Daniel tidak mau ambil pusing, daniel lah yang menyodorkan gelas itu kemulut ana dan ana dengan mudahnya membuka mulutnya, dengan tatapan yang masih mengarah kesuaminya.


" Finish." ucapnya, segera menarik gelas dari mulut ana. Setelah memberikan susu kepada ana daniel pergi dari kamarnya.


Tanpa terasa bibir ana sudah mengembang sebuah senyuman, senyuman yang sangat manis.


Ana tidak akan pernah melupakan momment ini, momment yang menurutnya sangat indah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Mohon dukungannya untuk karya ku🙏🏻🙏🏻😊...

__ADS_1


__ADS_2