
Ana masih tidak percaya dengan semua perkataan noven kemaren.
Noven, dia....
" nana,will you marry me?"
Ana menganga tidak percaya, noven melamarnya?
" Aku?" tanya ana ragu.
" ya, kau ana..."jawab noven tanpa rasa ragu.
ana melepaskan perlahan tangannya yang digenggam oleh noven.
"kenapa nana?" kata noven bingung
" ini bukan Aprilmoop noven..." ana mencoba mencairkan suasana.
"memang bukan, dan aku."
"maukan menikah dengan ku?"
Ana menatap noven dengan tidak percaya
"Aku?" noven mengangguk dengan semangat.
Ana tertawa pelan dan tidak menggubris perkataan noven yang menurutnya melantur.
"Apa karena kau mantan istri kakak ku,daniel? Kau takut kalau aku seperti dia?" seketika ana menghentikan tawanya.
"kenapa kamu membawa-bawanya?"
Kata ana tak semangat.
"Aku tak perduli kalau kau mantan kakakku, yang aku tau dan aku yakin, kalau kau cinta sejati ku"
"Kau ingat seseorang yang pernah aku ceritakan padamu, tentang seorang yang aku cintai..."
"Itu kau nana."
" secara langsung aku melamar mu, tapi kau sama sekali tidak meresponnya. Kau menganggap orang itu adalah orang lain,"
" dan aku tidak menyangka, bahwa kau sudah menikah, menikah dengan kakak ku sendiri."
Ana tidak tau lagi harus berbicara apa.
" kau alasan aku untuk kembali lagi kesini."
Ana jadi merasa bersalah, karena selama ini ia menjadi wanita yang tidak peka terhadap perasaan seseorang.
"tapi itu semua bukan kesalahan mu, ini salahku yang mementingkan rasa maluku."
" Tapi aku tidak mau memendamnya cukup lama lagi, cukup 9 tahun saja. Dan sekarang aku ingin mengakhiri itu semua."
lagi-lagi ana dibuat tak percaya olehnya, 9 tahun katanya?
" 9 tahun?"
'' ya, pria macam apa aku ini, punya mulut tidak bisa dimanfaatkan untuk mengungkap perasaan."
"SMA noven?" ana masih tak percaya semuanya. Noven mengangguk yakin "Ya, dan sekarang aku mau kau menjadi milikku nana," ucap noven semakin mempererat genggamannya."
" menikah dengaku nana..."
Ana tidak tau harus mengatakan apa, bayang-bayang masa lalunya dengan daniel masih melekat jelas diotaknya, ia trauma dengan semuanya.
" Aku janji, aku tidak akan memyakiti mu nana,"
"Aku...."
__ADS_1
" Unda..." perkataan ana berhenti saat deo memanggil namanya.
"hei...sudah bangun saja, ucap noven gemas."
Tangannya yang digunakan untuk menahan tubuh deo, ia gerakan untuk mengelus punggung deo.
Deo menegakkan kepalanya, yang sebelumnya bersandar dibahu noven" papa, maim bola."
Noven menatap ana, begitupun dengan ana. Setelah itu mereka berdua tertawa. Pria kecil ini sangat mengemaskan, dirinya masih sempat"sempatnya ingat dengan keinginannya untuk bermain bola.
ana mengambil deo dari pelukan noven.
" sekarang waktunya pulang."
"deo mau main bola unda...."
" main bolanya besok ya sayang, papanya capek mau pulang..." ana mencoba memberi pengertian pada anaknya itu.
" papa ikut kelumah deo?" kata deo polos.
Ana dan noven saling melemparkan pandangan.
"papa pulang kerumahnya sayang,' ucap ana lagi.
" papa teman-teman deo, meleka ikut pulang cama teman deo cama undanya juga,"
"kenapa papa ndak pulang cama deo dan unda juga?" skamat. Ana tidak bisa menjelaskannya.
" nanti hali-hali, deo bica main bola cama papa," ana tertegun mendengar perkataan anaknya itu.
Andaikan saja pernikahannya dengan daniel tidak hancur, pasti deo bisa merasakan seperti teman-temannya, tinggal 1 rumah dengan ayahnya.
Dan merasakan langsumg kasih sayang ayahnya.
" Rumah deo dan bunda jauh dari tempat kerja papa, makanya papa pulang kerumah papa," noven mencoba membantu ana, agar deo bisa sedikit mengerti.
"jauh ya?" tanya deo sambil mengerjap-ngerjap matanya.
"dimalahin ibu gulu." selak deo dengan bibir yang mengerucut
Noven mencubit gemas pipi deo " pintar, sekarang deo dan bunda pulang ya,"
Deo yang akhirny mengertipun mengangguk.
Ana mencium puncak kepala anaknya itu berkali-kali. Ia sangat bersyukur memiliki deo, ana yang sama sekali tidak diinginkan ayah kandungnya sendiri.
" papa antar pulang ya?"
Wajah deo nampak bingung dengan tawaran noven.
" nanti papa di malahin bu gulu, kalau antal deo pulang. Lumah deo dan pekelja papa kan jauh,"
"jadi papa ndak ucah antal deo, nanti papa kacian dimalahin bu gulu," perhatian sekali pria kecil ini pada papanya.membuat ana semakin tertegun, terlebih noven.
"iya noven, aku dan deo membawa kendaraan."
Noven mengangguk, lalu mencium kening deo berkali-kali. Seakan dia tidak mau jauh dari deo.
"pesan papa apa?" noven mencoba mengetest daya ingat pria kecil ini
"ndak oleh nakal..."
noven kembali mengalihkan tatapannya pada mata ana.
" Tu nana, deo sudah mengajak ku tinggal bersama..."bisik noven ditelinga ana, membisikan sebuah kode.
" noven!, ana memukul bahu noven, karena ia tahu noven sedang meledeknya.
Noven melengkungkan senyumannya lebih lebar "kapanpun itu aku tetap menunggu jawaban mu," bisik noven.
__ADS_1
Ana merasa bahwa dirinya tidaklah pantas untuk pria seperti noven. Tapi ia-pun tidaklah mau egois, deo sangat membutuhkan sosok Ayah dihidupnya. Sosok Ayah seutuhnya.
" Undaaa....." deo terbirit-birit berlari menuju kearahnya.
Pria kecil ini mengenakan seragam playgroup yang sangat mengemaskan untuknya.seragam yang berbalut topi layaknya seorang kapten.
"Deo kok sudah keluar?" tanya ana heran, hanya anaknya saja yang keluar lebih dahulu. Anaknya juga berhasil pula membuyarkan lamunannya ana barusan.
"Deo dapat bintang 5 unda..."
" telus cama bu gulu boleh pulang deh.."
Ana mengecup puncak kepala deo kemudian mengusapnya dengan lembut.
" Anak siapa sih Pintar sekali," puji ana pada putranya ini.
" Anak unda, papa, dan Ayah..."jawab deo polos.
Seketika wajah ana langsung datar. Mood bahagianya tiba-tiba menghilang, saat mendengar kalimat terakhir yang diucap anaknya.
"Unda...undaa.." panggil deo, dengan menarik-narik lengan ana.
"hhmm..."
" papa pulang kelumah deo kapan unda?" ana mengigit bibir bawahnya, ia bingung harus mengatakan apa.
"Unda...." deo menarik lengan ana, ia tidak sabar mendengar jawaban dari bundanya itu.
" iya, nanti sayang. Sekarang papa sedang sibuk," ana mengendong anaknya, kemudian perlahan-lahan meninggalkan playgroup.
"kalau Ayah?" Ayah kapan pulang kelumah deo?"
Ana menghentikan langkahnya. lagi-lagi pertanyaan polos deo, berhasil membuat bundanya seketika meras hujaman ribuan peluru.
"Undaaa...." deo berteriak pelan ditelinga ana.
"A-ayah deo si-sibuk juga, sayang." jawab ana dengan terbata- bata.
" Deo mau lihat Ayah unda...."
" Ayah kelja telus.."
"Ayah ndak cayang deo, Unda?"
Ana mengigit bibir bawahnya, kali ini ia menahan isak tangisnya yang ingin ia keluarkan. Ia tidak boleh menangis didepan anaknya ini.
" Ayah sayang deo," dengan seberusaha mungkin ana mengeluarkan senyumannya, agar anaknya ini percaya, percaya dengan kata-katanya yang sebenarnya tidak akan pernah terjadi.
"telus kenapa Ayah ndak pelnah pulang?"
"Ayah ndak mau lihat deo ya Unda?"
"deo nakal ya unda?"deo trus menggecar ana dengan pertanyaan -pertanyaan menyedihkan itu.
Ana mengeluarkan sesuatu dari tas miliknya, sebatang lollipop yang di inginkan deo.
"Deo mau?"
Tanpa basa-basi deo mengambilnya "makaci unda.."
Ana mengangguk dan tersenyum.
permen adalah jalan salah satu -satunya untuk deo, agar melupakan sesuatu yang telah dikatakan sejenak.
Jujur, hati ana sangat tertohok mendengar perkataan deo barusan.perkataan yang terus-menerus diucapkannya.
Ana merasa bersalah membohongi anaknya itu.Ayahnya itu tidak akan pernah datang, dan tidak akan menampakan wajah dihadapannya, Ayahnya telah menolak kehadirannya didunia ini, menolaknya sangat kejam. Bagaimana ia akan datang padanya, memberikan kasih sayang yang sesungguhnya.
melihat putranya sudab asik dengan lollipopnya itu, ana segera melangkah kakinya ,Menuju mobil mereka.
__ADS_1
Mohon dukungannya untuk karya ku🙏🏻😊😊