
semuanya." Menepuk pelan pundak perempuan tomboi itu, Rea berlalu ke arah depan taman untuk menunggu ojek pesanannya. Meninggalkan Karin di parkiran.
Dia tidak sanggup bila harus membicarakan Bram disaat moodnya sedang dalam keadaan baik.
***
Sesuai dugaannya, ia tiba sehabis adzan Maghrib dikumandangkan. Jalanan jam segini memang masih macet, karena banyaknya para pekerja yang baru pulang kerja, wiraswasta yang baru menutup tokonya, atau seperti dirinya, pulang setelah menghabiskan waktu untuk menghibur diri sendiri.
Mobil Bram sudah terparkir rapi di garasi. Tumben suaminya pulang cepat, pikirnya.
Rea langsung masuk setelah mengucap salam tapi tidak ada jawaban.
Di kamar, Bram sedang shalat.
Rea lekas mandi dan menggunakan piyama berwarna biru muda.
"Udah pulang, Re? Tadi Mas berapa kali hubungi kamu tapi nomor kamu nggak ak
Seusai shalat, dia mendapati Rea sedang duduk di depan meja rias. Memandangi wajah sambil menyisir rambutnya.
"Tadi ketemu Karin, Mas." Begitulah dia, menjawab seperlunya tanpa mau menjelaskan apapun.
Dan itupun karena ditanya, bila Bram mengambil langkah diam maka ia akan ikut diam.
Rea bangkit dari tempat duduknya, kemudian berpindah. Duduk di tepi ranjang, dan menghadap ke arah Bram.
__ADS_1
Sedang Bram duduk di sebuah sofa yang berseberangan dengan ranjang tidur.
Teringat pesan yang dikirimkan ibunya sekitar dua minggu yang lalu, Rea sedang bertemu dengan laki-laki di sebuah Kafe dekat Minimarket tempat biasanya mereka belanja.
Seketika ada nyeri di hati Bram. Perasaan marah, kecewa, dan dikhianati berkecamuk di dalam sana.
Ingin rasanya bicara sarkas pada Rea tentang hubungannya dengan laki-laki itu, tapi Bram tak cukup banyak bukti.
Hanya sebuah
"Lain kali kalau mau pergi bilang, biar Mas nggak bingung mikir kamu kemana, sama siapa, ngapain aja." Bram berusaha mengajak Rea mengobrol, untuk menghentikan kebekuan dalam rumah tangganya.
"Apa pernah, Mas minta izin aku untuk pergi? Apa pernah, Mas ngasih kabar ke aku kalau sedang pergi? Apa pernah, Mas memikirkan perasaan aku yang sedang menunggu tanpa tau Mas akan pulang atau tidak?" Rea memberanikan diri untuk menatap mata Bram.
Netra mereka beradu, tapi tidak lama. Rea muga seperti tidak mengharapkan itu, kan? Diam, dingin, nggak pernah mau ngobrol, benar-benar berubah!" Bram sudah tidak bisa menahan emosinya, bahkan sekarang dia sudah berdiri di hadapan Rea.
"Apa maksud kamu?" Bram mengernyitkan keningnya, bingung dengan ucapan perempuan dingin itu.
"Ayra ... Aku tau ada Ayra di hati kamu, Mas," ucap
Rea terduduk di tepi ranjang, dengan tangan menutupi sebagian wajahnya.
Bram berlutut, kemudian menarik tangan Rea ke dalam genggamannya.
"Hey, kamu salah paham. Itu sama sekali tidak benar, Sayang. Ayra hanya bagian dari masa lalu aku. Aku peduli sama dia, karena aku kasihan. Murni karena kasihan dan nggak lebih." Bram berusaha meyakinkan Rea, dia tidak ingin masalahnya menjadi bertambah rumit.
__ADS_1
Bram juga bingung dengan hatinya, dia amat tidak tega bila melihat istrinya menangis. Terutama penyebab wanita itu menangis itu adalah dia, suaminya sendiri.
Tapi, bila didekat Ayra, dia tidak bisa menolak apapun yang wanita itu minta. Menolak ajakan ataupun permintaan dari wanita masa lalunya itu sama saja dengan menorehkan rasa bersalah tersendiri di hatinya.
Entahlah, saat ini hatinya memang tidak bisa sejalan dengan logika.
Bram ingin memiliki keduanya. Senaif itukah dirinya, pikirnya.
Rea terdiam, dia tidak akan percaya begitu saja atas apa yang Bram ucapkan. Dia tidak sebodoh itu.
"Hidup miskin mengajarkanku untuk memakai logika, tidak hanya menggunakan hati saja, Mas. Harusnya aku ikuti saja logikaku saat itu, mana mungkin laki-laki kaya dan tampan sekelas Mas Bram bisa mencintaiku dengan amat sangat. Ternyata sekarang logikaku memang benar, aku hanya pelarian. Dulu, jangankan berpikir untuk bisa menikah denganmu, berharap bisa memimpikan dirimu saja aku tak berani, Mas."
Bram terdiam, perasaan bersalah yang luar biasa memenuhi rongga dadanya hingga membuatnya sesak untuk bernafas.
"Ini tidak seperti yang kamu bayangkan, aku bisa menjelaskan semuanya, Sayang." Bram memohon
"Cukup! Kali ini biarkan aku yang bicara, Mas. Bukankah ini yang kamu mau dari hubungan ini?" Rea menatap Bram tajam, saat ini emosi benar-benar sedang menguasainya.
"Kamu sering pulang telat, karena ku pikir kamu pergi bersama teman-temanmu untuk menghilangkan bosan. Bukankah seorang suami juga butuh hiburan, bukan? Kamu sering pulang larut, karena ku pikir kamu lembur. Bukankah pekerjaan memang lebih penting daripada aku?"
"Sayang, jangan bicara seperti itu. Banyak hal yang tidak kamu mengerti!" Bram mencoba mengentikan Rea. Dia tidak tahan harus mendengar semua kesakitan istrinya yang telah disebabkan oleh dia sendiri.
Tapi sepertinya Rea tidak terpengaruh sedikitpun, dia tidak mendengarkan ucapan Bram.
"Setiap kali aku mencuci bajumu, selalu saja ada bau parfum perempuan. Tapi aku selalu berpikir itu adalah bau parfum sekretaris atau karyawan kamu di kantor. Tapi setelah kusadari, bau parfum itu selalu sama, hampir setiap harinya. Dan sekarang aku tau, itu adalah bau parfum wanita-mu, Ayra. Di sini sakit, Mas. Sakit sekali." Rea menangis, menumpahkan segala rasa sakit yang dia coba pendam selama ini.
__ADS_1
Bram memeluknya dengan erat, mencium kening wanitanya itu berkali-kali. Dia takut, takut akan kehilangan istrinya secepat ini. Bahkan sebelum dia mengucapkan kata cinta untuk pertama kalinya. Dia tidak akan sanggup kehilangan Rea.