
"Udah deh kalian ga usah ribut! Udah pada tua kok ribut." ucap Tasya menyela keributan yang terjadi di antara Keenan dan Rendi.
"Nan, gue balik sama Rendi aja ya? itung-itung ucapan terima kasih gue ke dia lah. Gak papa kan Nan?" putus Tasya
"yakin lo pulang bareng dia sya?" tanya Keenan memastikan, karna ia tak ingin Tasya mengalami hal yang tidak baik.
"iya yakin Nan. Yaudah yuk Ren balik" ajak Tasya ke Rendi.
"Gue duluan ya bro" ucap Rendi sembari menepuk-nepuk pundak Keenan.
Sepanjang jalan mereka mengobol mengenai banyak hal. Entah mengapa kali ini Tasya tidak merasa canggung lagi dengan Rendi. Apa mungkin karna efek lagu tadi? Atau karna sesuatu hal yang lain? Hanya Tasya yang tau.
Tasya sampai di apartment nya pukul 1 pagi dan ia langsung merilekskan tubuhnya di atas ranjang kesayangannya itu, dan tak lama ia pun tertidur.
keesokan paginya
"Rendiii!! katanya lo mau jemput gue??? jadi nggak nih? kalo nggak jadi gue mau nebeng Keenan aja lah" ucap Tasya di telepon.
"Iya asya, jangan berisik dong! masa pagi-pagi princess udah teriak-teriak" setelah mengatakan itu Rendi langsung mematikan sambungan telfonnya dengan sepihak. By the way, mulai dari tadi malam Rendi memanggil Tasya dengan panggilan Asya, ia bilang itu adalah panggilan khususnya untuk Tasya.
Pagi-pagi buta ini Tasya sudah di buat naik darah oleh Rendi sebab sudah hampir pukul 7 Rendi belum juga menjemputnya.
Tasya masih setia berdiri di depan apartment untuk menunggu Rendi datang menjemputnya.
15 menit kemudian mobil ferrari itu berhenti tepat di depan apartmentnya itu.
"Lama banget si lo!! Udah tau guru tapi kok seenaknya ya!" ucap Tasya menyindir.
"Yaudah si gak papa, buruan naik asya!" ucap pengendara mobil ferrari itu, siapa lagi kalau bukan Rendi.
Tasya melangkahkan kakinya untuk menaiki mobil ferrari itu dan setelah ia memasang sabuk pengamannya, Rendi segera melajukan mobilnya menuju sekolah.
Dan ketika mereka tiba di sekolah ternyata gerbang sudah di tutup.
"Gara-gara lo lama si, gue jadi telat lagi kan!" ucap Tasya bersungut-sungut.
"Ya maaf si sya, tadi saya kesiangan" ucapnya sambil menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal.
"Yaudah lah, udah terlanjur juga. Gue mau masuk lewat belakang aja deh daripada lewat depan dan ketemu Pak Roby lagi" ucap Tasya sembari membuka seatbeltnya dan bersiap untuk turun.
"Sebentar sya! Tunggu, saya mau parkirin mobil di sana dulu. Saya ikut kamu deh" ucap Rendi menginterupsi.
Setelah memarkirkan mobilnya, Tasya dan Rendi menuju ke gerbang belakang sekolah.
"Ladies First" ucap Rendi mempersilahkan Tasya untuk memanjat gerbang duluan.
"Thank you. Balik badan gih!" ucap Tasya.
"Yaelah sya,,,, gak usah balik badan juga gak papa kali"
"Lo mau gue bogem yah!" ucap Tasya sembari menunjukkan tangannya yang terkepal itu tepat di depan wajah Rendi.
"Jangan lah. Nanti wajah tampan saya ternodai oleh tangan kamu yang jelek itu" ucap Rendi sambil mengelus pipinya.
"Cihh... Dasar guru tua sok ganteng!" ucap Tasya
__ADS_1
"Emang saya ganteng ya, buktinya semua siswa di sini pasti mengejar-ngejar saya" ucapnya pede
"Kasian banget ya, karna nggak ada yang muji jadinya muji-muji diri sendiri deh" ucap Tasya mengejek.
Tiba-tiba Rendi mendekatkan wajahnya tepat di wajah Tasya menyisakan jarak kurang dari satu jengkal.Mereka saling menatap seakan enggan untuk memutuskan kontak mata mereka.
"*Pantes anak-anak pada naksir sama Rendi, ternyata dia kalo di lihat-lihat emang ganteng banget sih. Batin Tasya
"Kenapa juga nih jantung kok berdebar gini sih!" batin Tasya lagi karna ia tak paham dengan apa yang mulai ia rasakan.
"Kenapa lo secantik ini si sya? gue kan jadi bisa jatuh cinta beneran ini" batin Rendi*
Tasya hanyut dalam manik mata coklat milik Rendi. Manik mata coklat itu membuatnya tenang dan nyaman.
Dalam jarak kurang dari satu jengkal itu Tasya mengagumi keindahan wajah Rendi. Dan ia tidak bisa lepas dari manik mata coklat yang membuatnya nyaman itu.
"Jangan di liatin sampe segitunya kali Asya, ntar kamu naksir lho sama say. Eh tapi saya bakal seneng sih kalo kamu beneran naksir saya" ucap Rendi tepat di depan wajah Tasya.
"Apa-apaan sih lo Ren!" Tasya langsung memalingkan wajahnya menyembunyikan rona merah yang ada di pipinya itu.
"Cie ada yang salting nih" Rendi terkekeh dan berusaha menormalkan detak jantungnya untuk menyembunyikan apa yang ia rasakan.
"Udah ihh!!! cepetan balik badan!!" Tasya mendoring tubuh Rendi agar Rendi membalikkan badannya.
"Yah,, Asya baper deh" ucap Rendi terkekeh lagi sambil menatap lurus membelakangi Tasya yang sedang memanjat tembok belakang.
"Banyak bacot lah lo!" jawab Tasya di atas tembok.
"Rendi!! Cepet napa! Guru kok lelet!" Teriak Tasya di seberang tembok.
Rendi segera memanjat tembok tinggi itu untuk menyusul Tasya yang sudah masuk area sekolah.
"Asya, saya antar kamu ke kelas ya" Ucap Rendi ketika mereka melangkahkan kakinya menuju ke kelas.
"Yaudah iya"
"Sya, kemarin saya denger katanya kamu di bawa ke BK ya? Kok bisa Sya? Memangnya kamu kenapa lagi?" tanyanya beruntun.
"Kemarin saya telat masuk kelas Bu Rosa pak" jelas Tasya.
"Kok Pak sih Asya? Kan kita udah sepakat manggilnya nama aja!" ucap Rendi tak suka mendengar Tasya memanggilnya dengan sebutan Pak.
"Lah kita kan lagi di sekolah, gimana sih bapapk! Penasaran belum tua-tua amat deh, tapi kok udah pikun" ejek Tasya.
"Oiya ya, maaf deh saya lupa"
Tanpa sadar ternyata mereka sudah sampai di depan kelas XII MIPA 4.
"Assalamu'alaikum" ucap Rendi sembari mengetuk pintu kelas tersebut.
"Wa'alaikumsalam"
Pak Rendi segera menggenggam tangan Tasya dan membawanya masuk ke kelas tersebut.
"Maaf sebelumnya bu Rosa, Saya di sini cuma mau nganterin Tasya masuk kelas untuk belajar, Jangan di hukum ya bu" ucap Pak Rendi panjang lebar di depan bu Rosa.
__ADS_1
"Tapi Tasya telat pak, dan untuk setiap siswa yang telat di pelajaran saya harus di hukum dulu baru boleh mengikuti pelajaran" Ucap bu Rosa dengan nada sinis. Ia tidak suka melihat Tasya datang bergandengan tangan dengan Pak Rendi, karna sebenarnya sudah lama ia menyukai Pak Rendi tetapi sayangnya Pak Rendi tidak membalas perasaannya.
"Dia telat karna tadi di jalan bantuin saya ke bemgkel dulu bu, soalnya tadi ban mobil saya bocor. Tapi kalau memang itu peraturan agar bisa masuk di kelas ibu yaudah. Kasih aja hukumannya ke saya" terang Pak Rendi.
Kelas itu mendadak sunyi, ekspresi mereka berbeda-beda. Ada yang kaget dengan kedatangan Pak Rendi yang menggenggam tangan Tasya dan pemebelaannya, ada juga yang menatap tidak suka ke Tasya karna telah di bela oleh Pak Rendi.
"Bapak yakin mau gantiin Tasya menjalankan hukumannya?" tanya Bu Rosa tidak percaya.
"Iya bu, saya sangat yakin"
"Yaudah. Bapak bisa push up 20 kali untuk menggantikan hukuman Tasya." ucap Bu Rosa lesu karna ternyata Pak Rendi benar-benar serius dengan ucapannya tadi.
Tasya yang mendengar ucapan mereka tadi hanya bisa menggenggam tangan Pak Rendi seolah berkata "jangan Ren".
Pak Rendi hanya tersenyum menanggapi Tasya yang nampak khawatir. Seolah meyakinkan Tasya bahwa ini tak apa.
Pak Rendi pun langsung turun dan mengambil posisis push up.
Kelas tersebut masih hening dengan ekspresi yang berbeda-beda.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
NEXT????
Jangan lupa tinggalkan jejak 👣👣👣👣
__ADS_1