
" catu tambah delapan cama dengan, cembilan.." deo bersuara sembari mengisi tugas rumahnya.
Ana tersenyum bangga kepada anaknya, pria kecil ini mampu mengerjakan tugas rumahnya sendiri, dimana kebanyakan anak seusianya mengerjakan tugas masih dibantu oleh orang tuanya. Tapi justru deo menolaknya, ia lebih suka mengerjakan sendiri.lalu setelah itu bundanya boleh membantunya, tapi hanya membantu mengecek saja, apa benar tugas rumah yang diberikan gurunya benar atau salah.
"sudah selesai?"
" belum unda..."
" bunda bantu ya?"
Dengan kepercayaan diri yang masih sama ia tetap tidak mau dibantu oleh bundany itu.
" Memangnya kenapa tidak mau dibantu sama bunda?"
deo menghentakan tulisannya sejenak" deo ndak mau cucahin unda.....kacian unda."
"kata bu gulu, selagi deo bica cendili, deo halus ucaha cendili, ndak oleh cucahin olang lain..."
Ana mencubit gemas pipi anaknya ini, "ya, anak pintar.."
Deo mengannguk dan mengulum senyum manisnya, setelah itu ia kembali melanjutkan pekerjaan rumahnya.
...----------------...
Daniel kacau, bagai raga tanpa jiwa. Hidupnya hancur, kacau dan berantakan. Dan penyebab itu semua adalah siska, wanita yang sangat ia cinta tega menipu dirinya.
Ia menganggap hidupnya sudah tidak ada artinya lagi, wanita yang dicintai telah menipunya dan anak yang ia anggap anak kandungnya, ternyata bukanlah anak kandungnya.
Lalu untuk apa ia masih bertahan dibumi, disaat semua sudah tidak artinya sama sekali.
'prang' daniel membanting botol wine yang berada dalam genggamannya, membanting hingga hancur berkeping-keping.
Ia menatap pecahan yang berasal dari botol wine miliknya, setelah itu ia mengambil potongan pecahan botol yang ukurannya cukup besar. Lalu ia arahkan pecahan itu ketangannya, tepat diatas nadinya.
"jangan tuan."teriak maidnya.
Ya, bi eliza yang semula hanya melewati kamar milik daniel, saat mendengar pecahan yang mirip dengan kaca, langsung segera masuk kedalam kamar daniel yang tidak tertutup rapat.
Iapun yang refleks segera menghampiri daniel dan segera membuah pecahan botol itu dari tangan daniel, walaupun ia tau, itu tidak sopan untuknya, tapi ia juga tidak mau jika tuannya mati m engenaskan.
" saya tidak meminta mu menghentikan ini!" daniel menggeram.ia mencoba mengambil pecahan itu kembali, tapi tangan bi eliza menahan tubuh daniel agar dirinya tidak dapat mengambil pecahan kaca botol itu, lalu melukai dirinya.
"tidak tuan, itu perbuatan dosa."
" dosa?"
"dosa katamu?" daniel tertawa menyeringai, bi eliza mengangguk sembari terus menahan tubuh daniel agar tidak terlepas dan kemudian melukai dirinya sendiri.
"tali saya ingin mati!" daniel terus memberontak, tali karena tubuhnya belum mendapatkan asupan energi, sedari kemaren ditambah dengan pengaruh alkohol, membuat tubuhnya melemah. Kejadian kemarin sungguh membuat dirinya benar-benar merasakan hancur.
"tidak tuan, masih banyak yang menyayangi tuan dan orang yang membutuhkan kasih sayang tuan."
" walaupun istri tuan telah meninggalkan tuan, tali tuan masih memiliki anak yang harus tetap membutuhkan kasih sayang tuan.."
Tubuh daniel melemas, ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya ia menangis.
Nyatanya adalah anaknya bukanlah anaknya, melaikan anak sahabat sendiri.
"setiap manusia pasti memiliki cobaan tuan, tuan tidak boleh berputus asa karena hanya masalah seperti ini.
" tuan tidak boleh melakukan ini," bi eliza membantu daniel untuk berpindah tempat keatas ranjangnya.
Daniel mmengusap air matanya, "saya hidup pun sudah tidak artinya bi."
" setiap mahkluk yang diciptakan pasti memiliki arti tuan, tidak ada mahkluk yang diciptakan tanpa memiliki arti."
"masih ada anak tuan, yang bisa memberikan arti hidup tuan yang telah menghilang."
"dia bukan anak saya bi," jawab daniel lemas.
" bayu bukan anak saya bi, bukan bi."
daniel memejamkan matanya, ia mencoba tegar mengatakan bahwa bayu bukanlah anaknya.
" bagaimana dengan non ana?" suara itu, suara itu tidak asing untuknya.
Daniel membuka matanya, dan matanya mengarah pada sumber suara yang berada pada arah pintu kamarnya.
" Bi nina?" lirih daniel pelan.
Pembantunya dulu, pembantu yang tidak mau bekerja lagi dirumah ini, setelah ana tidak tinggal dirumah milik daniel lagi.
Ia menyaksikan semuanya, menyaksikan bagaimana dulu ana,wanita yang sangat baik, diusir begitu saja hanya karena seorang wanita seperti siska.
Bi nina melangkah ragu kedalam kamar mantan majikannya dulu. Karena dulu ana selalu mengingatnya, bahwa dirinya tidak boleh memasuki kamar daniel selain daniel.
Bila tidak mau terkena amukkannya.
"bi nina," daniel bangkit berdiri.
" bagaimana dengan nona ana, tuan?"
__ADS_1
Ana? Mengingat tentang dirinya saja tidak pernah, ia sudah mengubur semua ingatannya tentang ana, ia benci mengingat wanita itu. Wanita yang telah membuat hidupnya berantakkan dan telah menyelingkuhi dirinya! Untuk apa ia mengingatnya.
Tanpa disadari daniel telah mengepal tangannya.
" tuan mengingat non an...."
" stop! jangan menyebut wanita ****** itu!" bentak daniel, nafasnya tersengal-sengal. Emosinya memuncak.
Bi eliza mengangga tidak percaya, sebutan itu terlaku kasar untuk didengar.
Bi nina hanya mengelus dadanya, ia sudah biasa mendengar hinaan mantan tuannya dulu, saat dirinya masih bekerja disini.
" saya tidak mengingat dirinya. Yang saya tau dia hanya seorang ******!"
" bagaimana bisa tuang mengklaim non ana sebagai seorang ******? Dia wanita baik,"
" perut dia membesar, itu karena perbuatan..." daniel menghela nafasnya sejenak dengan kasar.
" pria hidung belang!" lanjut daniel dengan desisan yang terdengar tajam.
Bi nina menggeleng tak percaya " dia anak tuan."
" bukan!" dia anak pria hidung belang" jawab daniel keras kepala.
" kalau bi nina hanya ingin membuat saya naik darah, silahkan pergi, pintu keluar sudah menunggu."
"tidak, saya yang meminta bi nina kemari...." timpal bi eliza.
Daniel menoleh kearah bi nina dengan sorot mata tajam." oh..jadi bi eliza, bersekongkol dengan bi nina agar saya mengingat wanita ****** itu lagi?!"
" bi nina adalah kakak saya, dan dia hanya tau saya bekerja dirumah seorang pengusaha tanpa tau tuan saya, tapi setalah saya menceritakan tentang kamar itu..."
Daniel menatap kearah bi eliza tak percaya"kau!" daniel menggeram kesal.
Hatinya selalu meminta untuk membukanya, tapi logikanya tidak pernah mengizinkannya.
Untuk seseorang yang berstatuskan pembantu, bi eliza sangat tidak pantas untuk melanggar perintah dari tuannya,
Ckleks~
Akhirnya bi eliza mengikuti kata hatinya, yaitu membuka pintu kamar yang selalu tertutup rapat itu.
Bi eliza menatap seluruh penjuru kamar peninggalan ana, dimana kamar sebesar dan seindah itu tidak ada penghuninya. awalnya ia bingung, kenapa ruang ini dibiarkan saja kosong. Apa ada sesuatu?
Bi eliza mulai menelusuri kamar ini, matanya menatap kearah dinding berwarna merah muda bercorak wallpaper garis putih, disana terdapat sebuah bingkai yang tergantung rapi, walaupun sudah berdebu.
Disana terdapat sebuah foto wanita cantik bermata coklat, yang sedang beridiri sembari membawa sebuah balon.
Ia kembali melangkah kakinya lagi, menuju nakas, disana juga terdapat beberapa deret foto wanita yang sama seperti didinging tadi, hanya gayanya saja yang membedakannya.
Matanya sejenak terhenti, saat melihat sebuah bingkai terbalik, bi eliza segera membenarkan posisinya agar sama seperti bingkai foto yang lainnya, saat tau didalam bingkai itu adalah tuannya bersama wanita bermata coklat tadi sedang mengenakan pakaian pernikahan.
bi eliza buru-buru meletakkannya kembali, saat mengetahui jam telah menunjukan pukul 20.00 malam dan itu berarti tuanya akan pulang.
ia tidak mau mengambil resiko dan memutuskan untuk menutup kembali kamar itu.
...----------------...
rasa penasaran dirinya belum terpuaskan, awalnya bi eliza ingin melihat kembali kedalam kamar itu di pagi ini setelah tuannya pergi beserta anak dan istrinya itu. Tapi sialnya daniel memanggil-manggil namanya dengan panggilan yang tidak biasa, panggilan amarah.
"bi eliza, bi eliza!" panggilan daniel dengan nada marah.
Bi eliza yang sedang berada didapur mendengar mmajikannya memanggilnya segera belari menghampirinya.
"ya tuan?"
" kenapa pintu kamar itu terbuka?"
bi eliza berfikir sejenak, pintu kamar?
Bi eliza mengingatnya, apa kamara yang berada diatas itu? Bi eliza segera merogoh saku celananya ia memberikan sebuah kunci pada daniel.
daniel lamgsung mengambil alih kunci itu kedalam tangannya.
"Dapat dari mana ini?"
"saya menemukannya didepan pintu kamar itu tuan." jawab bi eliza dengan menunduk.
Ah ya, daniel mengingatnya mungkin kunci itu terjatuh saat semalam ia berada dibawah minuman beralkohol, dan dirinya hendak mengeluarkan ponseln namun kunci kamar itu ikut lolos dari saku celananya.
"saya hanya mencoba mencocokan kunci itu dengan pintu kamar itu, dan hasilnya cocok.
tuannya itu tidak banyak bicara dan langsung bergegas pergi dari hadapannya.
"tapi, wanita cantik itu siapa?"
dirinya masih penasaran dengan sosok wanita cantik itu.jalan satu-satunya adalah menceritakan pada kakaknya bi nina.
...************...
" nina..." bi eliza menoleh kekanan dan kekiri mencari keberadaan kakaknya.
__ADS_1
"ada apa eliza?" jawab bi nina yang keluar dari dapur .
Bi nina, pembantu yang dulu pernah bekerja dirumah daniel. Ternyata dia adalah kakak dari bi eliza.
Bi eliza segera menghampiri bi nina,
" aku ingin menceritaka sesuatu kepada mu.."
Bi nina menarik tangan bi eliza agar ikut dengannya duduk disofa miliknya, "Apa?"
" Tuan itu aneh, aku jadi merasa takut dengannya. Dia tidak memperboleh siapapun memasuki kamar itu, Padahal klau dilihat-lihat, kamar itu bagus.
Bi nina memutar bola matanya, " ya sudah, kau disitu hanya bekerja. Ikuti saja perintahnya."
" tapi, dikamar itu aku menemukan sebuah fakta baru..."
"foto tuanku bersama seorang wanita."
Bi nina menghela nafasnya, lalu memangnya kenapa kalau majikannya itu berfoto dengan seorang wanita memang adiknya ini terlalu penasaran walaupun sudah berumur.
" fotonya dengan istrinya, apa salahnya?"
bi nina mencoba berfikir positif.
Bi eliza menggeleng keras, " dia bukan nyonya nina, dia wanita lain. Tapi dia cantik, kelihatannya dia wanita cantik dan anggun.
Tidak seperti nyonya siska yang selalu memasang wajah ketusnya itu." gerutu bi eliza.
Bi nina mencoba mengulang- ngulang nama yang baru saja adiknya itu katakan
" siapa namanya?"
"nyonya siska," tidak mungkin, nama itu banyak, tidak mungkin orang yang sama.
" aku takut tuanku Daniel, melenyapkan seseorang dikamar itu.lalu menyimpan mayat dikamar itu.aku tidak mau terlibat, kalau sampai kejadian itu benar-benar terjadi."
Kata bi eliza dengan ekspresi takut.
Lagi-lagi nama itu disebutkannya.
"Tuanmu Daniel ?"
" ya, daniel wiliam.CEO yang dulu pernah aku ceritakan padamu.."
Bi nina menganga, daniel wiliam dan ini sudah jelas pastu majikannya itu adalah daniel mantan suami ana, berarti kamar itu adalah milik ana, wanita yang berfoto sama daniel adalah ana. Bi nina yakin sekali.
" kamar berwarna merah muda?" bi nina mencoba bertanya kembali kepada adiknya, agar dirinya yakin bahwa itu benar-benar rumah itu milik daniel wiliam, mantan majikannya.
" ya,"
" dia mantan majikanku dulu, dan kamar yang kau lihat, adalah kamar non ana, manfan istrinya yang disia-siakan olehnya."
" mantan istri?"
"ya, wanita itu adalah non ana, istri yang selalu tidak dianggap olehnya. Betapa bodoh dirinya."
" aku masih tidak terima dengan perlakuannya kepada non ana.mungkin sampai detik ini, dia masih tidak menganggap bahwa anak yang berada dalam kandungan non anak dulu adalah anaknya.
Bi eliza mengusap dadanya, itu tidak mungkin, daniel terlihat sangat menyayangi anak kecil terutama pada bayu, putranya.
"kalau bisa kau masuk kembali dalam kamar itu, dan cari bukti bahwa non ana memang benar mengandung anaknya.aku tidak tega melihat wanita sebaik non ana di fitnah sekejam itu oleh tuan."
...***********...
Saat dirinya sampai dirumah daniel, ia terkejut melihat keadaan rumah, begitu berantakan, apa rumah majikan ini dimasuki oleh penjahat?
Bi eliza berlari menujuk kamar milik daniel untuk berniat menemuinya. Tidak, tidak benar menemuinya, saat telinganya mendengar pertengkaran hebat didalam.
Pertengkaran dimana siska, nyonyanya yang ketus menyatakan bahwa dia memiliki suami selain daniel, sudah bisa ditebaknya dari gerak geriknya saat berteleponan dengan seorang sering melontarkan kata sayang bahkan romantis.
" lancang sekali kau!"
" maaf tuan, saya tidak maksud untuk membicarakan masalah tuan dengan kakak saya. Saya hanya tidak tega dengan tuan yang terus-menerus ...."
" kau lancang !" geram daniel dengan penekanan setiap kata.matanya pun tak segan-segan menatap manik mata bi eliza dengan tajam.
"sekarang, kalian pergi!!" teriak daniel seoerti orang kerasukan
" tuan saya...."
"pergi!!!" murka daniel tak tertahankan lagi, matanya memerah, deru nafasnya kacau.
Bi nina menghela nafasnya kasar.
Kekeras kepalanya mampu menutupi fakta yang nyata.
" semoga tuhan mengizinkan tuan bertemu dengan anak kandung tuan dan sesegera mungkin meminta maaf pada non ana."
Setelah menyampaikan semua kepada daniel, bi eliza, bi nina segera pergi dari rumah daniel.
Daniel tertawa evil, persengkongkolannya yang sempurna! Apa cerita yang dibuat oleh ke 2 pembantu itu, sungguh mendramatisir, dan mampu membuat yang mendengarnya meras iba. Tapi sayangnya daniel tidak akan dengan mudah percaya.
__ADS_1
Mohon dukungannya untuk karya ku🙏🏻😊😊