LELAH

LELAH
Penyesalan Daniel


__ADS_3

Beruntung, kejadian saat ia bertemu dengan adalah hari juma'at hari terkahir deo sekolah, jadi ia bisa melindungi diri didalam rumah selama 2 hari.


Dan ia harap daniel melupakan itu semua, anggaplah semua kecelakaan, tidak lebih. Dan setelah itu berlalu begitu saja.


" Unda, pintu mobilnya ndak dibuka?"


sepertinya deo sudah menunggu begitu lama, akibat ana terlalu lama melamun kejadian 3 hari yang lalu.


"iya sayang," ana langsung membuka kunci pintu bagian deo.


" masih ingat kata-kata bunda?"


Deo mengangguk,"ndak boleh pelgi jauh, kalau deo ndak minta ijin unda." ana tersenyum, lalu mengecup pipi anaknya.


Deo meraih tangan bundanya kemudian menciumnya.


" Bye,...bye unda,"


Ana hanya tersenyum, deo masuk kedalam sekolahnya.


...----------------...


Waktu pulangpun telah tiba, tapi tidak biasanya bundanya itu belum datang, bahkan satu persatu teman-temannya sudah oulang dijemput orang tuanya.


"deo kenapa belum pulang?" tanya wanita cantik dengan rambut diikat kuda. Tak lupa membawa tas slip bag miliknya.


" ibu gulu,"


" Unda belum jemput. "


Guru cantik ini mengulas senyuman, kemudian mengusap puncak kepala deo. "Ayah Deo?"


Deo terdiam sejenak," Ayah nda tau, kalau papa dilumahnya bu gulu."


Guru cantik itu sempat berfikir sedikit, maksudnya dengan Ayah yang tidak tau dan papa dirumah apa?


Tapi Guru cantik ini mengiyakan ucapan deo, ia memaklumi ucapan anak didikannya itu yang masih kecil.


"permisi,"


Guru cantik dan deo menoleh bersamaan kearah kiri.


"Paman?" lirih deo pelan, ia masih mengingat paman yang menabraknya waktu itu.


"Deo pulang dengan saya," kata daniel


Guru cantik itu terdiam, dengan menatap daniel bingung.


"maaf pak, tapi deo biasanya pulang dengan bundanya." jawab ibu guru cantik itu, sembari memegang pergelangan tangan deo, takut bila orang yang ada didepannya itu adalah penculik.


Ya, Guru cantik ini tidak bisa mengiyakan permintaan daniel, ia tidak bisa menyerahkan deo begitu saja kepada orang lain, apalagi ia baru pertama kali melihatnya.


Daniel membuang nafasnya pelan, " saya Ayahnya."


Guru cantik ini menatap wajah deo sekilas, kemudian kembali menatap daniel.


Daniel mengeluarkan sesuatu dari balik jasnya, yaitu sebuah kartu nama miliknya.


"kalau anda curiga, anda bisa mencari saya di alamat diperusahaan ini."


Guru cantik ini mengambil kartu nama milik daniel, kemudian menatap kartu itu


" jadi dia pemilik Kings Group?" bantin ibu guru cantik, sembari menatap daniel sejenak.


Tentu, siapa yang tidak tau dengan perusahaan Kings Group, perusahaan terkenal dan tersukses.


Tapi ibu guru cantik buru-buru menepisnya. Tidak, bagaimanapun deo adalah anak didiknya. Ia tidak akan menyerahkan anak muridnya kepada orang, yang anaknya sendiri nampak tidak mengenali Ayah nya.


"Maaf deo tidak bisa ikut dengan anda."kata ibu guru cantik itu."


" saya Ayahnya, dan ana tidak bisa menjeputnya karena..."


"karena, dia bersiap-siap untuk mendatangi sebuah acara."jawab daniel meyakinkan.


ibu guru cantik menatap daniel tidak percaya.


Daniel akhirnya memasang wajah datarnya, " bisa saja saya membeli sekolah ini sekarang juga, kemudiam memecat anda." ancam daniel, membuat mata ibu guru cantik itu langsung membulat.


guru cantik itu seketika langsung terdiam.apa yang ia harus lakukan.


Daniel menggeratkan rahangnya " detik ini pun saya....."


"Deo p-pulang sama paman ini ya,"kata ibu guru cantik sesegera mungkin. Dan itu membuat senyum evil daniel merekah sempurna.


Deo menggeleng, "nanti Unda malah, kalau deo ndak minta izin unda."


Ibu guru cantik menggaruk tengkuknya bingung.


"Deo mau permen"


mata biru milik langsung berbinar permen?


Penawaran yang sangat menggiurkan.


" mau." ucapnya, seraya mengangguk dengan semangat.


Ibu guru cantik langsung mengeluarkan permen yang ia miliki didalam tasnya, lalu memberikannya pada deo.


" untuk deo, tapi deo pulang sama paman ini ya...." deo menatap daniel lalu mentap permen yang berada digenggaman gurunya.


Deo langsung merampas permen itu, daniel tersenyum senang.


" kami berdua pamit." kata daniel kepada guru cantik. Kemudian pergi dengan mengenggam jemari deo.


...----------------...


Ana membawa mobil dengan kecepatan tinggi. pasti deo sudah menunggunya lama.


tercatat sudah 10 menit ana terlambat.


Semua karena pertemuan bisnis nya dengan kliennya yang meminta rancanagan busananya.


Ya profesi ana sekarang adalah seorang perancang busana/designer.biasanya kliennya tidak ada yang mendadak meminta untuk mendesign permintaan kliennya secara langsung, tapi ia juga tidak biaa menolak.


Jadi ia terpaksa mengikuti kemauan kliennya.


Ana membawa mobil miliknya sampai didepan gerbang sekolah deo. Utungnya para orang tua yang menjemput anaknya menggunakan kendaraan bermotor sudah tidak ada, jadi ia bisa membawa mobilnya untuk diparkiran tepat didepan sekolah.


Memang beruntung bisa menghentikan mobilnya sedekat ini, tapi dimana keberadaan deo.


Baru saja ingin turun dari mobil, seorang satpam sudah menghampiri mobil ana. Ana segera menurunkan kaca mobilnya.


" Bunda Deo?" ana mengangguk, dengan senyum dibibirnya.


"tadi deo sudah dijemput oleh seorang laki-laki...."


Ana mengernyirkan dahinya " laki-laki?"


" ya, tapi bukan laki-laki yang tinggi dan berdagu belah itu." yang dimaksud satpam itu adalah Noven.


Kalau bukan Noven?


"Daniel..." curiga ana, ana sangat yakin pasti laki-laki itu adalah daniel.


Karena tidak mungkin itu Rakha, karena kaknya itu sedang memiliki proyek diluar negeri dalam jangka waktu yang lama.


Tidak, deo tidak boleh bertemu dengan daniel untuk saat ini. bagaimana bila daniel akan menghina dia lagi? Menghina sebagai anak dari pria hidung belang dan anak haram?


"mereka pergi kemana pak?" tanya ana panik.


Sayangnya, satpam itu hanya menjawab dengan sebuah gelengan.


" terimakasih banyak pak," ana menutup jendela mobilnya. Ia menjalankan mobilnya.


Ana menangis, ia tidak tau apa yang dilakukan pria itu. Sungguh deo hanyalah anak kecil.


...----------------...


Tidak perduli dengan pria disampingnya, yang deo perdulikan hanyalah permen yang berada digenggamannya.


"Deo suka?" deo hanya mengangguk kepalanya.


Betapa Bahagianya daniel, akhirnya ia bisa bertatap muka dengan anaknya.anak yang saat ini telah ia akui secara lahit dan batin. Ia mengakui kebodohannya dulu yangvsempat tidak mengakui pria kecil disampingnya ini bukanlah anaknya.


"Deo sayang bunda?" tanua daniel lembut.


Deo mengangguk " sayang."


Daniel mengambil nafasnya dalam-dalam.

__ADS_1


"kalau Ayah?"


"Deo ndak tau Ayah," jawab deo polos.


Sembari terus menjilat peemen lollipo ditangannya.


Hati daniel terasa nyeri, saat anaknya sendiri tidak tau Ayahnya.


" kalau ketemu Ayah, deo mau bilang sesuatu padanya tidak?" Deo mengangguk.


"seperti bilang sayang?"


Mata deo ia arahkan keatas langit, seperti ya pria kecil ini sedang berfikir. Kemudian ia turunkan kembali pandangannya, menatap manik mata daniel.


" mau bilang kenapa Ayah pelgi?"


Hati daniel tertohok mendengarnya.


Apakah sejahat itukah dirinya kepada anak lucu ini?


" Deo mau bertemu dengan Ayah?"


Lagi dan lagi deo mengangguk. Bukan sekedar mau, tapi sangat ingin.


" kalau begitu deo berarti sudah bertemu Ay....."


" Deo!!" panggil yang begitu marah terdengar begitu tak juah dari mereka duduk. Deo dan daniel menoleh.


Disana sudah ada ana denga tangan mengepal, bahkan mulai melangkah kakinya mengarah pada daniel dan deo.


Ana segera menurunkan anaknya yang sedang terduduk dengan permen-permennya, ia membawa deo untuk sedikit berjaga jarak dengan daniel.


" bunda sudah pernah bilang, jangan pergi kemanapun tanpa meminta izin dari bunda!" bentak ana


" Unda tapi..."


" dan ini," ana merampas permen yang berada digenggam deo kemudian membuangnya.


" berkali-kali bunda ingatkan deo, jangan memakan permen, tapi masih deo makan."


"deo tidak sayang bunda?"


"Unda," mata deo mulai berkaca-kaca.


Tanpa sadar ana sudah memarahi anaknya ini, memarahinya untuk pertama kali bahkan membuang makanan kesukaannya itu.


Ana sedikit merunduk, ia menyadari kesalahannya,


"maafkan bunda," sesal ana.


Air mata deo turun satu persatu.


"Deo cayang Unda..." isak deo pelan


ana membawa deo dalam gendongannya. Ia tidak bermaksud untuk memarahi anaknya ini.bahkan sampai membuat ia menangis.


ana mengusap air mata deo "ssst, maafkan bunda."


" Ana,"


Ana menatap tajam kearah daniel, tapi ia tau mau memancing emosinya yang baru mereda, ia kemudian berjalan meninggalkan daniel dengan membawa deo yang berada dalam gendongannya.


Tidak, daniel hanya ingin deo tau bahwa Ayahnya sudah ada dihadapannya, daniel mengejar ana sampai tepat dimobil ana.


Ana sudah berhasil memasukan deo kedalam mobilnya, tapi tidak dengan dirinya yang tangannya sudah ditahan oleh tangan kekar milik daniel.


" Ana,"


"lepas."ana mencoba melepaskan eratan tangan daniel yang berada dipergelang tangannya, tapi tidak bisa daniel terlalu kuat.


"Deo itu...."


"Apa? Anak yang seperti ada didalam fikiran mu itu!?" jawab ana cepat diiringi putaran tubuhnya menghadap daniel.


"Dia anakku kan?" lirih daniel.


Ana memejamkan matanya. Anaknya? Bahkan ia tidak menganggap deo ada saat ia masih berada dalam kandungan ana, menganggapnya hina.


dan sekarang ia menyebutnya sebagai anak?


Ana membuka matanya, kemudian membuang nafasnya " Dia bukan anak mu?"


Daniel mencengkeram pergelangan tangannya ana dengan kuat, ia marah, ia tidak terima dengan jawaban ana.


"Deo bukan anak mu!!" jawab ana penuh penekanan yang begitu murka.


" bohong dia anakku!" daniel semakin marah, bahkan mencengkeram pergelangan tangan ana semakin kuat.


" Dia bukan anak mu, apa kau tuli!"


"Deo tidak memiliki Ayah, kau paham!" teriak ana murka.


"Dia anakku, kalau kau masih tidak mau mengakuinya, aku akan melakukan tes DNA!" ancam daniel.


Ana tertawa, tertawa yang terdengar evil.


"Tes DNA? Kau bilang teas DNA? Aku tanya padamu, letak kegunaan tes DNA itu dimana?


Saat deo masih berada didalam kandungan, Ayahnya sama sekali tidak menganggapnya, dan menuduhnya sebagai anak dari pria hidung belang."


Katakan, letak kegunaannya dimana?!


Untuk mengetahui bahwa seseorang itu adalah anak kandungnya atau bukan?"


Perlahan-lahan daniel mengendur eratan pergelangan tangan ana.


"Tapi sejak awal, kau sudah tidak menganggapnya sebagai anak kandung mu, untuk apa kau melakukan itu?!"


"Dia anaku...." lirih daniel dengan kepala tertunduk.


" ya anakmu," ucap ana, membuat daniel mendongakkan kepalanya kembali.


"Anak mu bersama siska, baru dia anakmu."


Daniel menggeleng, tanpa sadar air mata daniel menetes membasahi pipinya "dia bukan anakku."


" bukan anakmu?"


"bukannya itu buah cintamu dengannya, anak yang benar- benar kau harapkan, bagaimana bisa bukan anakmu?" kata ana acuh, dengan memendam sakit hatinya


" Dia, menipuku." kata daniel mulai melemah.


menipu? Apa ana harus percaya? Tidak.


Ana hendak membuka pintu mobilnya tapi daniel kembali menahan tangan ana.


"Dia anakku kan? Dia, dia...." Air mata daniel sudah membasahi pipinya.


Ana membalikan tubuhnya kembali, "Deo tidak memiliki Ayah."


"Tidak!!!" Deo anakku, kau bohong!!"


teriak daniel tidak terima.


" kau merasa terbohongi?"


" ya, karena kau berusaha menutupi diriku,dari deo!!".


Ana memejamkan matanya, " Aku menutupinya?"


" bukannya kau sendiri yang tidak menerima semua kenyataan, kalau deo bukan anak...."


Ana benar- benar tidak sanggup untuk mengatakannya.


"Deo anakku, kau tidak bisa menutupinya dariku ana! Dia anakku."


"Tapi sejak awal deo hadir didalam rahimku, Ayahnya sudah tidak menganggapnya, menyentuhi melalui perutku saja ia tidak mau."


"bahkan saat ia lahir kedunia ini, Ayahnya dengan tega meninggalkannya."


Daniel menggelengkan kepalanya dengan hati yang terasa nyeri.


" Aku menyesal semua itu, dan sekarang aku menerimanya,aku menganggapnya dan ingin mneyentuhnya, mmemeluknya, Menyayanginya, berada disampingnya." isak daniel begitu menyayat hati.


Ana tersenyum kepada daniel, tersenyum penuh kesakitan.


Menyesal?


Deo tidak tau, kenapa bundanya ini terlalu lama berada diluar bersama paman itu.jadi ia memutuskan untuk keluar dari mobil, mengahampiri mereka. " Unda....."

__ADS_1


Ana menoleh kearah deo yang berdiri, ia juga menatap daniel dengan tatapan bingung. Tanpa perlu aba-aba perintah dari bundanya, deo menghampiri mereka yang sedang berdebat.


"Ayo Unda..." sekilas deo menatap daniel


"Ayo unda,ndak ucah bicala cama paman ini." ketus deo, nampak deo masih terlihat kesal dengan prilaku daniel.


"Deo ini Ayah," lirih daniel, membuat siapapun mendengarnya akan ikut terbawa suasana kesedihan.


Deo mengernyitkan dahinya tidak mengerti


"Ayah?".


Daniel melangkahkan kakinya untuk lebih dekat kepada deo, namun balita kecil itu menyembunyikan tubuhnya dibalik tubuh ana.


"Deo ingin bertemu Ayahkan, ini Ayah sayang,"ucap daniel begitu menyayat hati.


" Ayah deo kelja," jawab deo acuh.


" Ayah tidak bekerja, Ayah ingin bertemu deo saja."


Dibalik tubuh ana deo menggeleng keras.


"Paman bukan Ayah deo, ayah deo kelja."


Daniel menatap manik mata ana, ia sangat membutuh bantuan dari ana. Tapi justru ana malah membuang tatapannya. Sungguh ana tidak menyukai keadaan ini.


" ana...."


Ana harus berkata apa? Membohongi kembali anaknya dan terus menerus mengatakan bahwa Ayahnya sedang bekerja?


Tidak, ana tidak tega melakukan itu semua.


Mengatakan yang sejujurnya?


Tapi daniel sendiri yang tidak mau mengakui anaknya.


Daniel menatap ana dengan memohon.


"Ana..."


Ana menggeleng pelan, tidak, kenyataannya memanglah tidak mudah. Ana tidak bisa,untuk mengatakan semuanya.setelah apa yang telah ia lakukan kepada deo dulu.


Daniel mencoba meraih tangan milik deo, namun deo justru malah menjauhkan tangannya dari daniel.


" janan pegang tangan deo."


"ini Ayah, deo bilang, deo mau bertemu Ayah, Ayah sudah disini sayang." lirih daniel.


Deo mengintip sedikit dari samping tubuh ana,


" Ayah deo kelja Unda, paman ini ndak bekelja."katanya seraya menarik pelan baju ana.


Daniel menatap sendu mata Deo,


"Ayah sudah pulang, Ayah pulang untuk bertemu deo."


"Teluc kenapa kalau paman ini Ayah deo, paman balu pulang dari kelja?kenapa?


" karena Ayah..."


"tandanya paman ndak cayang deo."


Daniel menggeleng, "Ayah sayang deo."


" bohong, kalau paman cayang deo,paman nsak akan tinggal deo dan unda lama."


Sungguh daniel sangat menyesal, ia menyesal dengan semua keadaan ini.


" Deo, ini Ayah. Ayah sayang deo, Ayah bukannya tidak mau bertemu deo.hanua saja..."


" ndak! Paman bukan Ayah deo, Ayah deo kelja!" bentak deo tak terima dengan pernyataan dari daniel.


Ana melirik anaknya, sejak kapan anaknya ini berbicara dengan orang yang lebih dewasa


dengan menggunakan nada sperti itu.


"Deo." tegur ana, sembari menggelengkan kepalanya.


"paman bukan Ayah deo Unda.."


Daniel menggeleng tidak setuju, "paman Ayah deo, Ayah sayang deo."


" Ndakk!!" kalau paman cayang deo, paman ndak akan pelgi! Ayah teman-teman deo meleka cayang cama teman-teman deo, dan tinggal belcama, teluc kenapa paman tidak begitu? Paman ndak pelnah mau melihat deo?" ana yang mendengar Uneg-Uneg anaknya merasa miris.


Daniel menelan selivanya


"Ayah kerja sa...."


"papa deo kelja juga, tapi dia mau lihat deo."


Perkataan deo berhasil membuat daniel mengernyitkan keningnya.


"Papa?"


Deo yang malas berdebat dengan daniel, masuk kembali kedalam mobil.


" Ana, maksud deo apa?"tanya daniel penasaran.namun ana diam seribu bahasa.


Atau jangan-jangan ana sudah menikah?fikir daniel.


" kau menikah lagi?"


Ana menatap manik mata daniel sejenak,setelah itu dia masuk kedalam mobil dan pergi meninggalkan daniel.


Tanpa menjawab pertanyaan itu.


daniel harus mencari tau,siapa sosok yang deo panggil sebagai papa.


...-----------------...


Ana menyesalinya, kenapa mereka harus bertemu.


Tapi ia tidak bisa mneyangkal takdir Tuhan, yang mungkin, memang dirinya harus dipertemukan kembali dengan daniel.


"Unda... "Ana tersadar dari lamunannya.


"iya syang?" jawb ana,dengan mata yang terfokus pada layar televisi.


" Deo ingin beltemu ayah," ana menatap sekilas kearah anaknya. Ternyata anaknya itu tidak percaya dengan semua pengakuan daniel.


ana mulai berfiki, apa ini balasan tuhan untuk daniel. Dulu daniellah yang tidak mau menerima kehadiran deo, dan sekarang?


" Unda..."deo menyadarkan kembali bundanya yang melamun lagi.


"I-iya sayang,"


"Deo ingin beltemu Ayah," ucap deo dengan penuh harap.


Ana membawa tubuh deo keatas pangkuannya.


" Bunda mau beltanya pada deo,"


" iya Unda?" kata deo, dengan menatap lakat mata bundanya.


" kalau paman tadi Ayah deo, apa deo..."


deo langsung turun dari pangkuan bundanya, ia menatap mata ana dengan kesal.


"Dia itu paman, bukan Ayah!"


" iya sayang. Ini kan hanya berandai-andai saja." jawab ana, yang tak mau membuat deo semakin marah.


" kalau paman tadi Ayah deo, deo mau tidak memanggilnya Ayah? Atau memeluknya seperti yang deo inginkan?"


Deo mulai berfikir.....


Apa pantas pria yang sudah memarahi bundanya mendapatkan pelukan, jika benar itu Ayahnya.


" Deo ndak tau."acuh deo.


Ana mengusap puncak kepala anaknya dengan lembut.


" Deo bilang, kalau bertemu Ayah, deo akan memeluknya?"


Dengan yakin deo mengangguk "Tapi kalau peluk paman itu deo ndak mau.paman jahat malah- malah Unda."


" Tapi deo...."


Deo menghentakan kakinya kesal, lalu meninggalkan ana.

__ADS_1


Ana menghela nafasnya, " mungkin ini hukum karma untuk mu daniel."


Mohon dukungannya untuk karya ku🙏🏻🙏🏻😊😊


__ADS_2