
Daniel menepikan mobilnya tepat disamping taman yang di penuhi bunga berwarna ungu.
"turun,"perintah daniel datar. Ana menatapnya terkejut apa daniel setega itu, meninggalkan wanita hamil ditempat yang sama sekali tidak ia ketahui.
Sangat jelas, ana menggeleng "aku berjanji tidak akan mengotori mobil mu ini," tapi jangan meminta ku untuk turun dari mobil." kata ana, dengan tangan yang masih menutup mulutnya. Tapi massih bisa didengar.
" turun, sebelum kau benar-benar mengotori mobilku. Ana masih bersikeras menggeleng,walaupun perutnya sudah begejolak.
" keluar!"bentak daniel.
ana-pun akhirnya menurut, ia pun menurut turun dari mobil milik daniel.
Ia mencari selokan untuk mengeluarkan semuanya,membantu meringankan gejolak diperutnya.
Berhasil, tetapi hanya cairan bening saja yang berhasil ana keluarkan.tapi sudah cukup membuatnya lebih baik, ya walaupun berimbas tubuhnya yang melemas.
ana mengatur nafasnya sejenak, dan ingin kembali ketempat daniel memparkirkan mobilny.tidak,maksudnya menurunkan ana dengan memaksa.tapi tidak bisa, kakinya terasa lemas.
Akhirnya ia mencari bangku kosong, dan ia dapatkan.bangku yang berada ditaman, dibawah re-rimbangan pohon-pohon.
Ana pun segera menuju bangku yang sangat dekat dengan dirinya ia bersandar pada bangku taman itu.
" kita istrahat disini dulu ya sayang," katanya pada bayi didalam kandungannya, tangannya juga ikut mengusap perutnya.
walaupun hari semakin siang dan biasanya akan terasa panas, tapi taman ini ia rasa tak seperti itu. Justru disini sangat lah sejuk dan ana menikmatinya.
sedangkan pria yang berada didalam mobil sedan bewarna hitam ini terus menggeram kesal, bagaimana tidak, sudah hampir 20 menit ana tidak kunjung kembali.
"Perempuan itu krmana?"
"jangan bilang dia tersasar !" mau tidak mau, daniel memutuskan mencari ana ditaman.
daniel memintanya keluar agar ana tidak mengeluar isi perutnya didalam mobil miliknya, bukan berniat untuk mengusir. Tapi kenapa ana tak kunjung kembali?
Matanya tertitik pusat pada bangku yang tengah diduduki seorang wanita, yang tidak lain tidak bukan adalah ana, Ia tampak menikmati taman ini.
Tanpa basa basi daniel menghampirinya.
benar saja, bagaimana tidak dikatakan menikmati. matanya sudah tertutup rapat, dengan kepala yang sedikit mendongak ke belakang.
Daniel duduk disamping ana, ia yang merasa iba-pun membawa kepala ana agar bersandar dibahunya.
wajah ana terlihat begitu damai, tapi tidak dengan mata daniel yang mulai terasa terusik karena ulah baju ana.
"wanita ini pasti ingin mengodaku!" umpat daniel kesal. Ana mengangkat kepalanya, ia tersadar dari tidur senjenaknya. tidak dengan daniel yang masih terbayang oleh fikiran-fikiran kotornya.
Ana yang sadar daniel menatap dadanya yang begitu teramat mengahayati segera.
" se-sejak kapan kau sa-sadar?" tanya daniel gugup.
"kau melihat apa?"
"ti-tidak, a-aku...."
"A-aku, hanya memperhatikan perutmu.
jangan berfikir yang macam-macam."
"kau ingin menyentuhnya?" tanya ana sedikit bahagia. Akhirnya suaminya itu mau mentap perutnya, yang didalamnya terdapat buah hatinya.
Perkataan ana berhasil membuatkan daniel membulatkan matanya dengan sempurna " aku?"
Ana mengangguk, kemudian ia meraih tangan daniel. tapi dengan cepat daniel menarik tangannya kembali.
"jangan coba-coba untuk mengoda ku?"
ana menautkan alisnya. Menggodanya?
"aku?"
"ya, karena itu tidak akan berpengaruh untuk ku."
Ana mengaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal, padahal ia hanya menawarkan untuk mengusap perutnya. Tapi kenapa ia malah berfikir ana telah mengodanya?
"kau kenapa disini?"daniel mencoba mengubah topik pembicaraan.
"maaf, tapi tadi-tadi tubuhku lemas sekali, jadi aku istirahat sebentar disini" tangannya sudah ia turunkan, sehingga kembali memapangkan dadanya yang sedikit terlihat
"20 menit sebentar?"
__ADS_1
" ma-maaf, ana menundukan kepalanya. Ia tidak tau akan selama itu.
"melakukan apa saja kai disini? Sebegitu lamanya?"tanya daniel begitu curiga. aku hanua beristirhat disini," jelas ana.
"yakin?"
"oh, atau jangan-jangan kau memiliki janji dengan pria hidung belanng?" katanya,
ekspresinya sudah berubah marah.
Ana menggeleng, itu tidak benar.
"aku hanya tidak senganja tertidur disini."
daniel terkekeh pelan dan akhiri seringaian "ya, silahkan lanjut acaramu itu.
" daniel bangkit kemudian perlahan-lahan meninggalkan ana.
"Daniel..." ana bangkit, ia hanya bisa menatap daniel yang tubuhnya sudah termat jauh.
Tiba-tiba ada sebuah cekalan diperggelangan tangan ana, dan berhasil membuatnya terkejut. 2 orang pria bertubuh tidak terlalu besar, sedang mengapit ana yang tengah terpaku, berdiri.
"dari pada kau sendirian, lebih baik kamj yang menemani mu." sambar pria yang lebih jauh menyeramkan dibanding pria yang memakai anting. Hampir seluruh tangannya di pakai tatto.
ana mencobba melepaskan cengkeraman itu, sayangnya, cengkeram pria yang ber -anting itu sangatlah kuat. cengkeramannya berhasil membuat saraf pergelangan tangan ana sakit.
"le-pas."
"tidak akan, kami tidak akan melepas berlian cantik seperti mu,"
"Sebuah kerugian besar, memiliki barang bagus,tapi tidak kami coba terlebih dahulu."
Ana mulai meneteskan air matanya. Ia sangat takut, bila ia diminta memilih untuk bertemu dengan ke- 2 pria menakutkan ini atau bertemu dengan perbuatan daniel kasar. Ia lebih baik bertemu dengan perbuatan daniel yang kasar .
Kini kedua preman itu semakin sensual menggoda ana.mengusap pipinya, membelai rambut dan menghembuskan nafasnya teoat ditelinga ana.
Dan sampai akhirnya hal yang tidak terduga itu-pu terjadi.....
" menikmatinya?"
"tapi sayang, aku tidak akan membiarkan kenikmatan busuk kalian berjalan dengan lancar!!" daniel buru-buru mendorong ek -2 pria itu dengan gagah.
Daniel? Iya, daniel benar-benar tidak pergi entah, tindakan konyol apa yang ia lakukan.berpura-pura meninggalkan ana.
"Brengsek! kau fikir kau siapa!!" daniel terus menggeluarkan perkataan kasar, saat tangannya dilayangkan kewajah pria beranting yang berani menyentuh wajah ana.
samlai akhirnya, pria brengsek itu tidak berdaya melarikan diri dari amarah daniel.
"pengecut!" teriak daniel.
daniel menoleh kebelakang, mencari keberadaan ana. Matanya terhenti saat mendapati ana sudah terduduk lemas diatas rumput, dengan air mata yang masih mengalir.
Daniel segera menghampiri ana, menuntunnya untuk berdiri.
"kau tidak apa-apa?"
ana menghempaskan tangan daniel memegang kedua bahunya, bahkan menjaub daniel 1 kangkah kebelakang. Ana sangat schok.
"ini aku," kata daniel yang mencoba mendekati ana.
"jangan mendekat.." jawab ana dengan bergetar bercampur isakan tangis
" ana," daniel menyentuh kedua bahu ana, yang lagi -lagin dilepas paksa oleh ana kembali.
"ana!" bentak daniel dengan cengkeraman kuat dikedua bahu ana. Bentakan daniel berhasil membuat ana terpaku.
"ini akau daniel!!" daniel menguncangkan bahu ana sedikit keras, agar ana tersadar dari shocknya.
Ana menghamburkan pelukannya dari daniel, Memeluk suaminya itu dengan erat.
"mereka, M-mereka..."suaranya tercekat dengan air selivanya.
tangan daniel melayang diudara untuk pertama kalinya, ia merasakan pelukkan ana, pelukan yang terasa hangat.
"Hiikkss....A-aku takut, jagan tinggalkan aku." pinta ana yang terdengar ditelinga daniel yang menyayatkan hati.
daniel merasa menyesal sudah berpura-pura meninggalkan ana, jika ia tidak melakukan hal konyol itu, pasti ana tidak akan seperti itu.
Daniel membalas pelukan ana, ia mengusap belakang ana dengan lembut.
__ADS_1
"Aku disini,"
sebenarnya, memeluk daniel hanyalah gerakan refleks dari ana yang merasa takut. Saat pelukannya mendapat balasan dari suaminya itu, ana dengan segera melepaskan pelukannya tak lupa ia menghapuskan air matanya.
"maaf, aku tidak bermaksud memelukmu." ucap ana. pasti setelah ini daniel akan marah pada dirinya, namun diluar dugaan ana. Justru tak sepatahpun keluar dari mulut daniel.
"Aku,"perkataannya terhenti saat daniel menatap.tatapannya yang tidak bisa dipahami.
"ya, sekarang kita pulang." ajaknya daniel meraih tangan ana dan mengenggamnya membawa ana pergi dari tempat itu
...**************...
Ana sangat gelisah, hatinya tidak tenang. Ia menginginkan sesuatu, tapi sangatlah tidak mungkin. Karena keinginannua tidak akan pernah terwujud.
"sayang, maafkan bunda tidak bisa menuruti permintaan mu," kata ana kepada bayi yang ada didalam kandungannya itu.
Bahkan ke-fokusan nya pada acara televisi mendadak buyar, karena keinginannya itu.
Tap...tap..tap.. Suara langkah mendekat, terdengar sari pendengaran ana.
Benar, daniel berdiri mematung hanya berjarak 3 meter dari tempat duduk. Hanya menggunakan boxer pendek dan kaus oblong berwarna hitam.
Ana yang bersantai dengan menaikan kakinya diatas sofa, buru- buru menurunkan kakinya bahkan ia sudah bangkit dari duduknya.
"pasti, ia lapar."fikir ana.
ana segera meninggalkan ruang tengah. Ana sibuk mencari bahan masakan didalam lemari pendingin. Tidak ada satupun bahan masakan ia temukan, lemari pendingin itu benar-benar kosong tak berpenghuni.
"sedang apa?" suara berat tiba- tiba terdengar saja dari belakang tubuh ana. Suara milik daniel.
"sedang apa?" daniel mengulang pertanyaan kembali.
"Aku", aku akan keminimarket."
Daniel mengernyitkan dahinya.
"untuk apa?"
"kau laparkan?" aku akan keminimarket akan membeli bahan makanan."
daniel merubah ekspresi wajahnya menjadi datar.
"kali ini aku tidak akan merepotkan mu," aku akan menggunakan kaki ku ini." jawab ana, yang sebenarnya ia tidak yakin mengatakan itu.
" kau tau kan perumahan disini?" ana mengangguk.
"kau ingin bertemu lagi dengan penjahat?" perkataan daniel berhasil membuat ana menciutkan nyalinya.
tapi sebisa mungkin ia kembalikan nyalinya yang mulai menciut itu."perumahan ini cukup banyak security, jadi tidak perlu khawatir."
"Tidak ada yang tidak mungkin."
" jadi, tetap disini tidak ada kemanapun!!" pinta daniel dengan tegas.
ana menggeleng keras "tidak, aku, kau belum makan." ana melangkah kakinya sedikit demi sedikit.
"berapa kali sudah ku bilang, tidak perlu repot-repot membuatku masakan."
Ana menghentikan langkahnya, kemudian membalikan tubuhnya "tidak daniel,"
Ck! "kau ini masih bisa mengerti bahasa manusia bukan?" kata daniel sedikit membentak.
walaupun pelan, tapi untuk ibu hamil perkataan seperti itu melukai hatinya.
Daniel mengusap wajahnya kasar, saat melihat ekspresi ana seperti ingin menangis.
ia menghampiri ana lebih dekat lagi.
" maksudku, kau mengertikan apa yang aku katakan?" raut wajahnya tetap hampir sama, menahan tangisan.
"lebih baik kau mengurus dirimu sendiri, tidak perlu mengurusi urusan ku." cairan bening dari mata ana perlahan turun, sepertinya ana salah mengartikan apa yang dikatakan daniel.
Huf! Daniel menghela nafasnya kasar, "oke sekarang ganti pakaian mu." permintaan daniel membuat ana bingung.
" untuk?"
" cepat atau tidak sama sekali! Ana mengangguk cepat, ia segera bergegas kekamarnya, begitupun dengan daniel.
...*******************...
__ADS_1
maaf baru posting lagi, karena beberapa hari ini sakit.
Mohon dukungannya untuk karya ku🙏🏻🙏🏻😊😊