LELAH

LELAH
Sahabat


__ADS_3

Selama hamil, ana selalu menggunakan Dress yang longgar pada bagian perutnya, tentu saja ia sering menggunakan dress yang longgar karena ia merasa nyaman ditubuhnya.


Dan sialnya pada bagian dadanya hampir semuanya rendah. Tapi ana bersikap biasa saja, toh siapa yang akan tertarik pada wanita hamil sepertinya.


Ana menghampiri daniel yang kelihatannya sudah terlihat rapi, menggunakan jas hitam.


Ana mengerutkan keningnya bingung, untuk apa ia menggunakan pakaian seperti ini?


hanya menemani keminimarket saja dan ia berpakaian serapi ini?


Ana mulai berfikir dan mengerti, pasti daniel menggunakan pakaian serapi itu, pasti ingin bertemu dengan kekasihnya.


"ya," kali ini aku akan mengikuti apa kata mu," ana memutuskan membalikan badanya, saat pemikirannya menganggap daniel akan pergi bersama kekasihnya itu. Tapi dengan cepat tanganya diraih oleh suaminya.


"siapa yang meminta mu untuk pergi?"ana menoleh kebelakang, dan perlahan-lahan membalikan tubuhnya kembali.


"aku bisa pergi sendiri...."ucap ana.


Daniel menaikan sebelah alisnya.


"kau ingin pergi bersama...."


"siapa?" selak daniel.


Ana ingin membuka suaranya lagi, tapi daniel buru-buru menyelakannya "Diam!" ketusnya.dan ana langsung terdiam.


"Ayo." ajaknya.


"kemana?" tanya ana, bukankah pria ini ingin bertemu dengan kekasihnya?


daniel memutar kedua bola matanya, kenapa wanita ini masih bertanya. "ikut saja, bisakan?" ketus daniel.


Ana hanya mengikuti langkah kakinya saja tanpa bertanya lagi padanya.


...***********...


Sebuah restaurant menengah atas dengan nuansa prancis, membuat ana kagum seisi restaurant. Pasalnya, walaupun ana berasal dari keluarga terpandang, tapi papinya tidak pernah mengajarkannya untuk mengenal dunia glamour. papinya selalu mengajarkan kesederhanaan, wajar bila ana sedikit terkagum pada tempat ini.


Tunggu, kenapa daniel membawanya kesini? seharusnya ia menurunkan ana didepan minimarket, bukan turun bersama hingga didalam restaurant ini. Atau jangan-jangan, suaminya ini membawanya kepada pria hidung belang?


"Aku mohon pada mu, jangan membawa ku ketempat ini," ana memohon dengan sangat-sangat, bahwa ia sendiripun tidak menyadari bahwa volume suaranya itu berada di tingkat lebih besar dari suara biasanya.


Daniel menatap aneh, ia justru melangkah kakinya membawa ana.


"Daniel, aku takut." ucap ana.

__ADS_1


Daniel tidak perduli dengan semua omong kosong istrinya, dan terus mengenggam tangan ana hingga langkah mereka terhenti pada sebuah meja.


"Aku mohon jangan memaksaku untuk bertemu dengan pria hid..."


"diam dan jangan berbicara lagi!" kata daniel sedikit menekankan perkataannya.


Ana membungkam mulutnya itu agar daniel tidak murka padanya walaupum sebenarnya perasaan takut melingkupi dirinya.


"duduk," perintah daniel, ana hanya bisa menurut. Dan daniel mengikuti duduk disamping ana, membuat ana menatapnya kebingungan.


"Apa?" ketus daniel saat tau ana menatapnya, dengan segera ana menggelengkan kepalanya itu.


Hampir 15 menit mereka terdiam ditempat tanpa bicara, tanpa makanan juga. Dan terhitung pula sudah hampir 7 kali pelayan restaurant ini menghampiri mereka, daniel hanya memberikan seulasan senyuman saja dan setelah itu pelayan restaurant itu pergi dari hadapan mereka berdua.


Tap..tap..tap..derep suara langkah sepatu semakin terdengar mendekat.


Ya, pria berbalut jas biru memdekat kearah meja daniel dan ana. Pria yang sepertinya memiliki otot dibalik tuxedo miliknya itu.


pemikiran ana mengenai pria hidung belang ternyata sudah salah besar.tapi ia justru mengira pria itu pasti seorang milyarder yang membutuhkan kehangatan dari seorang perempuan.


Habislah sudah, haruskah ia melarikan diri dari sini?


"what's up bro? " katanya sembari memeluk daniel dan menepuk bahunya.


"hitung saja sendiri dari kita lulus sekolah.."


" takutnya kalau aku menyebutnya sudah berapa lama, ketahuan kalau kita ini sudah berumur...." balasannya dengan kekehan, kemudian duduk dikursi tepat dihadapan ana.


" oh iya, proyek yang kita bicarakan itu jadikan?"


" jadi, kapan lagi bisa berbisnis dengan CEO terkenal ini..." puji pria ber-tuxedo biru kepada daniel. Matanya sejenak menatap ana yang sedari tadi hanya terdiam, mendengarkan percakapan ke-2 pria didekatnya.


"Dia siapa?"


Ana melirik kearahnya sejenak namun secepat mungkin ia alihkan kearah lain.


Daniel menatap kearah ana, ia hanya terdiam. Bukam sesuatu hal penting bukan memperkenalkan ana kepada rekannya. Daniel memilih untuk mengalihkan pandangnya kembali.


" sekarang kita resmikan menjadi patner kerja?" kata daniel mencoba mengalihkan pembicaraan.


hati ana terasa sakit saat daniel tidak menjawab pertanyaan pria dihadapannya itu, setidaknya kalau ia tidak mau mengakui ana istrinya, perkenalkan saja ana sebgai dirinya sendiri, Anatasya.


"Resmi." jawab pria itu dengan senyuman, yang dipastikan sangat manis.


Daniel memanggil pelayan untuk memesan makanan, sedangkan pria dihadapan ana tengah menatapnya, bahkan ia salah fokus pada bagian dada ana.

__ADS_1


Daniel yang menyadari sahabatnya ith menatap istrinya dengan sangat dalam, bahkan menatap bagian yang tidak boleh dilihat selain dirinya, ia jadi merasa tidak suka.


"pertanyaanku tadi belum kau jawab?"


Rupanya pria ini masih penasaran dengan sosok ana.


"Dia siapa?" lanjutnya lagi.


Sejenak daniel menghela nafasnya panjang "kau ingin tau dia siapa?"tanya daniel sembari memasang wajah serius.


Sahabatnya itu mengangguk dengan semangat.


daneil menatap dalam mata sahabatnya itu, menatapnya tanpa ekspresi sedikit pun.


" manusia." jawab daniel diakhiri dengan tawaan, yang terdengar sangat garing.


Sahabatnya itu hanya tertawa, namu tak lama kemudian ia mengakhiri wajahnya menjadi datar. Ini benar- benar tidak lucu.


"Sorry, Dion sheptihenson tidak akan tertipu lagi."


" Dion-dion, kau bisa mebedakan mana ekspresimu tertipu dan mana yang tidak tertipu.." remeh daniel.


Pria itu bernama Dion septhenson atau biasa dipanggil Dion. Teman daniel sewaktu SMA. Sahabat pria konyol ini sudah berubah, menjadi pria yang sedikit lebih serius.


Saat makanan dihidangkan dan daniel sibuk membenarkan posisi piring-piring. Dion kembali mencuri pandang kearah ana dan ana sama sekali tidak menyadari itu.


Lagi-lagi Dion harus terciduk oleh daniel, karena ketahuan menatap ana secara diam-diam.


" makanan sudah siap." daniel sengaja membesarkan volume suaranya agar Dion segera tersadar dari perbuatannya, menatap sesuatu yang tidak boleh ditatapnya.


"oh, iya." Dion mulai memasukan makanan yang ia pesan kedalam mulutnya, menggunakan sendok.


"makan." bisik daniel sembari menyodorkan sebuah piring kedepan ana.


Daniel ikut membuka mulutnya, dan menyantap makanannya. Matanya mentap Dion. Ternyata sahabatnya masih mencoba mencuri pandang lagi kepada ana.


Daniel benar- benar geram, apa mata sahabatnya itu tidak bisa menatap kearah lain, kenapa selalu kearah ana.


" kau ingin tau dia siapa?" tanya daniel tiba-tiba, membuat Dion dan ana segera mengalihkan matanya kearah daniel.


" hhmmm" Dion mengangguk menyetujui, berhubung ia sangat penasaran dengan ana.


" Dia...."


Mohon dukungannya untuk karya ku

__ADS_1


__ADS_2