
Satu tahun yang lalu...
Bang Rasyid calling...
"Halo, bang. Ada apa?"
"Bram kamu jemput aku ya, soalnya mobil aku macet di jalan. Cepat!
Diana udah mau lahiran kayaknya"
"Oke..oke. Abang jangan panik, aku segera ke sana. Alamatnya dimana, bang?"
"Nanti aku kirim. Jangan kemana-mana dulu Bram, langsung kesini. Diana nggak mau pake grabcar, gak nyaman katanya."
"Oke..oke"
Bram meluncur ke alamat yang Rasyid kirim. Ketika jalanan agak lengang, dia memanfaatkan kesempatan itu sebaik mungkin. Dia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Saat tiba, Rasyid langsung memapah Diana keluar dari mobilnya. Masuk ke mobil Bram dan menutup pintunya dengan gerakan cepat.
"Bram, gak bisa lebih cepat lagi bawa mobilnya? Diana udah kesakitan banget ini. Gak tega aku liatnya."
"Sebentar lagi nyampe kok ini" Jawab Bram berusaha lebih fokus lagi menyetir.
Rasyid berdecak, "Lebih cepat Bram, aku gak mau terjadi apa-apa sama anakku. Jalanan juga sepi begini."
Bram memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tiba-tiba dari arah depan terlihat ibu paruh baya menyeberang, dia menentang dua buah kantong plastik besar di masing-masing tangannya. Sepertinya ibu itu tidak menyadari ada mobil yang akan melintas.
Bram hilang kendali, karena kejadiannya sangatlah cepat.
Braaaakkkk
Tubuh ibu tadi berguling naik di atas atap mobil, kemudian terhempas keras ke dasar kelamnya aspal.
Bram terdiam, bingung harus berbuat apa. Suara Rasyid terdengar hanya seperti sebuah dengungan.
Rasyid menepuk bahunya, menyadarkan nya kembali atas kejadian yang baru beberapa detik terjadi.
__ADS_1
"Bram, cepat jalan! Nanti aja kita urus ibu itu. Ini keadaannya lagi gawat, kamu harus cepat bertindak!"
"Bang, ibu itu ketabrak! Kita gak tau kondisi ibu itu sekarang. Bagaimana bisa Abang nyuruh aku lari dari tanggung jawab." Bram marah, dia berteriak kencang.
"Lalu bagaimana dengan Diana, tidak kah kamu memikirkan itu, hah!?" Rasyid marah.
" Lagian hanya satu dua warga yang lihat. Cepat, sebelum mereka kesini!"
Bram memukul stir dengan kuat, marah dengan dirinya sendiri.
"Ahhh..Shit!!" Umpatnya.
Bram melajukan mobilnya, meninggalkan ibu paruh baya itu dengan berlumuran darah.
Sisi kemanusiaan ia abaikan, tapi dia berjanji akan bertanggungjawab atas kesalahannya malam ini.
***
Bram duduk di koridor rumah sakit, masih terlihat ramai meski jam sudah menunjukkan pukul 20.00.
Banyak orang berlalu lalang, yang baru datang maupun yang hendak pulang.
Seketika ingatan Bram tertuju pada kejadian sekitar setengah jam yang lalu.
Wajah Bram menampakkan kekhawatiran, mungkinkah ibu tadi?
Ibu paruh baya yang ditabraknya, tapi ia malah pergi meninggalkannya begitu saja dengan noda darah yang mengotori seluruh tubuhnya.
Bram menyusul ke IGD, dimana pasien tadi dibawa. Terlihat seorang gadis yang menunggu diluar dengan penampilan yang acak-acakan. Dengan terus menangis dan meratap berucap 'Ibu'.
Ada dua orang laki-laki yang memberikan sebotol air mineral kepada gadis itu, berbicara sebentar kemudian menepuk bahunya pelan. Kemudian terlihat dua orang itu pergi.
Bram berlari kecil, berusaha mencegatnya.
"Emm..maaf pak, permisi" ucap Bram sambil tersenyum.
"Iya, ada apa ya?" Lelaki yang memakai baju kaos berwarna biru menjawab.
__ADS_1
"Tadi saya dengar ada pasien yang tabrak lari. Sepertinya bapak tau dengan pasien tersebut. Siapa tau saya bisa membantu untuk pengobatannya, pak"
" Syukurlah, masih ada orang baik seperti bapak. Kasihan ibu Nani pak, dia janda. Anaknya perempuan, hanya bekerja sebagai penjaga toko bunga. Sering sakit-sakitan tapi masih aja kerja." Lelaki yang satunya menyahut.
"Memangnya ibu Nani kerja apa, pak?"
"Cuma buruh cuci, pak. Kabarnya tadi dia ingin pulang kerumahnya setelah mengambil cucian kotor dari rumah besar yang ada di pengkolan dekat taman. Tiba-tiba ada mobil yang melaju kencang dan hilang kendali. Sudah nabrak, tidak bertanggung-jawab pula! Orang kaya memang tidak punya hati!" Laki-laki berbaju biru menceritakannya dengan penuh emosi.
Jlebb
Bram seperti tertusuk mendengar penjelasan kedua laki-laki tadi.
Bagaimana bisa dia menjadi sejahat ini? Pikirnya.
"Kalau begitu kami permisi dulu, pak. Semoga niat baik selalu dimudahkan, dan membawa keberkahan untuk bapak dan keluarga. Mari pak" Kedua lelaki tadi pamit dengan senyum yang menyiratkan kekaguman.
Bram hanya mengangguk dengan tersenyum canggung.
Bram hanya memperhatikan gadis itu dengan jarak yang tidak terlalu dekat, memastikan kondisi dari pasien tadi. Berharap pasien itu baik-baik saja, meski ia tahu kenyataannya jauh dari kata itu.
***
Hari telah berganti, Bram baru saja pulang dari pemakaman ibu paruh baya yang kemarin ditabraknya.
Ia meninggal setelah satu jam mengalami gagal nafas.
Tak bisa Bram jelaskan bagaimana hancurnya gadis itu.
Dia bahkan tidak langsung pulang ketika pemakaman sudah usai. Dia tetap di sana, menangis memeluk pusara ibunya. Bahunya berguncang, dan semakin lama guncangan itu semakin kuat.
Bram tidak mampu berbuat apa-apa. Ingin menghibur tapi mereka tak saling mengenal.
Ingin menemani tapi mereka bukanlah teman.
Seiring rasa bersalah yang selalu mencabik hati, Bram memutuskan sesuatu. Mengambil keputusan besar dalam hidupnya.
Dia berjanji akan membahagiakan gadis itu, melindunginya dengan segenap raga yang dia punya, menghapus kesedihannya hari ini dengan senyuman indah kedepannya.
__ADS_1
Dan gadis itu adalah Edrea Maharani...