
" Aku mencintai mu, sebelum dia hadir lalu merampasnya." Noven wiliam
Semenjak kejadian ditaman, noven selalu memikirkan ana. Ia takut kalau nanti Daniel akan melakukan sesuatu kepadanya.
Apa lagi menyakiti bayi itu, noven tidak akan sanggup melihatnya.
Sebulan ini noven selalu mengintai kediaman rumah ana dan daniel. Karena bila sewaktu-waktu noven melihat ana tersakiti, noven akan lebih mudah menyelamatkan. Tapi ana tak pernah menunjukan batang hidungnya.
Sampai akhirnya, hari ini, ana keluar bersama sebuah mobil hitam, Yang sepertinya bukan milik kakaknya. Tapi tidak mungkin pula, itu mobil milik orang lain.
Entahlah, noven pun memutuskan mengikuti mobil itu, sampai akhirnya mereka berhenti disebuah rumah sakit.
Tapi noven hanya melihat ana saja yang keluar dari mobil itu, tidak dengan pengemudinya.
Walaupun tidak yakin, noven tetap menganggap pengemudi itu adalah daniel, karena tidak mungkin orang lain yang mengantar ana. Supir? Lebih tidak mungkin lagi, karena ana bukanlah tipe orang yang suka menyusahkan orang, noven tau itu. Tapi, kalau itupun daniel kenapa ia justru malah meninggalkan ana dirumah sakit ini?
Noven yang tidak mau kehilangan jejak ana, segera mematikan mesin mobilnya, dan menyusul ana dari belakang, memperhatikan dari jauh.
Dari apa yang terlihat olehnya, pasti ana ingin memeriksa kandungannya. Karena ini merupkan kursi khusus untuk pasien yang memerikasa kandungan.
Wajahnya terlihat murung, saat matanya menatap sekitarnya dimana para wanita bersama suaminya, sedangkan dirinya hanya seorang sendiri.
Mata noven mendadak terhenti disatu titik, menatap kearah seorang yang ia kenal dan itu jarak ia dan orang tersebut tidak begitu jauh. Orang itu adalah kakaknya, daniel. Ia sedang bersama wanita lain sepertinya tidak asing untuknya juga.
Ana menelan silvanya, " kalau ana melihatnya, pasti ia sedih". Dan yang harus noven lakukan adalah mengalihkan pandangan ana secepat mungkin, sebelum ana melihat pemandangan menyakitkan itu. Tapi sepertinya niat noven kalah cepat. Lihat saja, ana sudah memergoki pemandangan yang menyakitkan itu.
Noven yang tidak mau ana merasakan sakit hatinya, segera berlari kearah ana.
Ana tidak boleh sampai melihatnya. Urusan ana menanyainya, belakang saja. Yang terpenting, pandangannya bisa teralihkan dari manusia pendosa itu.
...----------------...
"Kamu ada urusan apa dirumah sakit?"
otak noven baru saja ingin memikirkan sebuah jawaban bila ana bertanya kenapa ia bisa berada dirumah sakit, tapi sayangnya ana sudah terlanjur melontarkan pertanyaan kepadanya.
Noven diam sejenak, dengan mata fokus pada jalanan didepan.
"Noven?" panggil ana
" aku abis menjenguk teman sakit."
"Aku tersasar dan ternyata aku bertemu denganmu." jawab noven senyambung mungkin. Walaupun dihatinya meras tidak yakin dengan jawabannya.
Ana terdiam tak menjawab. Noven sangat bersyukur kalau ana tidak melemparkan pertanyaan kepadanya lagi, itu tandanya ana percaya dengan ucapanya barusan.
"kalau mobil hitam itu?" ana tampak bingung dengan pertanyaan noven.
Noven meremas stir mobilnya, seharusnya ia tidak menanyakan hal itu. Bisa-bisa ia ketahuan telah membututti ana dirumahnya.
"Ya, aku tidak sengaja melihat mobil hitam di perkarangan rumah mu saat aku menuju rumah sakit." jelas noven.agar ana tidak curiga padanya.
Ana menormalkan kembali keningnya
"itu milik kak Rakha."
Noven menatap sekilas kearah ana.
siapa lagi pria itu? batin noven kecewa.
Kenapa begitu banyak yang mendekati ana.
" kakakku, kamu tidak ingat?" lanjutnya lagi, dan itu sedikit membuat hati noven sedikit lebih lega.
Noven sejenak untuk mengingatnya kembali.
__ADS_1
"Ya, Bang Aka?" noven mengingatnya.
Tidak salah lagi, pasti aka yang selalu diceritakan oleh ana dulu. Kakak sepupunya over protective padanya, tapi noven hanya mengetahuinya sebagai Aka, bukan Rakha.
Ana menganggu.
" kenapa bisa menjadi Rakha?" tanya noven bingung.
" memang namanya Rakha, tapi tante biasanya memanggil dia Aka, aku jadi ikut terbawa saat kecil."
Tapi setalah aku fikir-fikir lagi, Rakha lebih cocok untuknya," jawab ana diakhir tawaan.
Lagi dan lagi noven bahagia melihat ana tertawa. tapi orang itu, orang itu membuat kebahagian ana tersendat, karena keegoisannya. Noven tidak akan bisa menerimanya!
...----------------...
Setelah siska kembali, daniel memutuskan kembali pada niat awalnya, untuk tetap menyakiti ana lalu setelah puas ia akan menceraikan wanita itu.
Walaupun sebenarnya dihatinya merasa salah melakukan ini, tapi ia tidak akan merubah keputusan awalnya tetap untuk menyakiti ana .
"Sayang," panggil siska lembut.
Mendengar suara lembut siska, daniel tersadar akan lamunannya, lalu menghentikan langkahnya.
" kau kenapa?" tanya siska dengan nada yang masih sama .
"Aku?"
"tidak apa-apa." jawabnya, sambil mencium kening siska.
Siska memeluk tubuh daniel dengan erat, begitupun dengan daniel memeluk balik tubuh siska dengan erat pula. Walaupun daniel merasa sedikit aneh saat memeluk tubuh siska, kenapa rasanya tidak seperti dulu.
Memeluknya rasanya tidak sebahagia dulu, sebelum siska pergi meninggalkannya selama berbulan-bulan.
"kapan kau akan menikahiku?" lagi-lagi daniel selalu dituntut dengan pertanyaan itu.
" Dalam waktu dekat, aku akan menikahimu." ucapnya, daniel tidak henti-hentinya mengecup puncak kepala siska dengan lembut.
Siska mengembang senyum kebahagiannya
...----------------...
Ana harus ingat perkataan dokter, ia harus menjaga kandungannya. Ia tidak boleh egois pada dirinya sendiri.
Ia harus tetap makan, sekalipun dirumah ini ada siska, kekasih suaminya itu.
"Non ana makananya dimakan." bi nina membuyarkan semua lamunan ana.
"tapi bi, harus temani saya disini." pinta ana.
Tentu saja bi nina menolaknya dengan gelengan, karena bila tuannya tau. Bisa-bisa tuanya itu marah pada dirinya, bila dirinya menuruti kemauan nyonya nya ini, menemani makan tempat majikannya biasa makan. Sangat tidak sopam sekali baginya.
" kalau bibi menolak, saya juga menolaknya." ancam ana.
Bi nia menggeleng, tidak iapun tidak akan membiarkan nyonya yang sedang hamil ini tidak makan.
"bibi akan temani disini." mau tidak mau bi nina menuruti permintaan ana, bi nina kemudian menarik bangku, lalu mulai mendudukinya.
"bibi harus makan juga," ana mengambil piring, lalu mengisi piring kosong itu dengan masakan yang telah dimasak sendiri oleh bi nina.
Sejenak bi nina menganga tidak percaya "jangan non," jawab bi nina sedikit takut.
" bibi takut padanya?"
"Ada ana bi, bibi tenang saja."
__ADS_1
Ana meletakan piring itu dihadapan bi nina, bi nina ragu untuk memakannya. Tapi bila ia tidak memakannya pasti ana akan mengancamnya juga, mengancam kalau dirinyapun tidak mau makan.
"Ana...."
Ana menoleh kesumber suara yang memanggilnya. Orang itu adalah siska, siska memanggilnya. Disampingnya pula ada daniel yang selalu berada didekatnya. Ya mereka layaknya magnet yang tidak terpisahkan.
Mereka ber-2 menghampiri meja makan.
siska menatap daniel bingung, apa daniel mengizinkan seorang pembantu memakan diruangan tampat majikannya makan? Bahkan mendahului majikannya?
Sedangkan Bi nina segera bangkit.
" pelayan kalau sudah diberikan kesempatan enak, ya begini, keterusan." sindir daniel kepada ana, namun justru bi nina lah yang merasakannya.
" maaf tuan,"kata bi nina, ia menunduk takut.
Ana bangkit dari duduknya,
" maaf tuan, tapi ini bukan kesalahan bi nina."
"tapi saya."
" Bagus kalau sadar dengan sendirinya."
sindir daniel kembali.
bi nina bingung dengan keadaan, kenapa ana ikut memanggilnya dengan sebutan tuan?
"lain kali kalau ingin makan, didapur bukan disini."
" bereskan semuanya!" bentak daniel pada ana, dan lagi-lagi bi nina yang merasakannya.
Ana membereskan semuanya, memindahkan semua kedapur dengan dibantu oleh bi nina.
...----------------...
Bahkan ana tidak bisa mengerti dengan semua keadaan ini. Apa kesalahannya, sampai Tuhan memberikan cobaan seberat ini kepadanya.
Air matapun sepertinya tak pernah bosan untuk hadir membasahi pipinya.
Tok...tok..tok..
ckleks...
seolah merasakan apa yang dirasakan ana, setelah kejadian tadi bi nina segera menyelesaikan pekerjaan dapur lalu memasuki kamar ana.
Ia tahu, tak seharusnya ia ikut campur masalahnya. Tapi ia sama sekali tidak tega melihat ana seperti ini, terlebih ia sedang hamil.
Ana segera menghapus air matanya dan seperti biasanya, mengembang senyum kepalsuan.
Bi nina langsung memeluk ana, ia tahu ini sudah diluar batas seorang pelayan memperlakukan majikan.tapi bi nina pun sudah menganggap ana seperti anaknya sendiri, jadi tidak mungkim dirinya membiarkan ana menangis.
"Maafkan bibi non, karena bibi non dimarahi tuan, karena bibi juga non diusir dari ruang makan." isak bi nona.
" ini bukan salah bibi, ini salah saya."
bi nina melepaskan pelukannya, dan ana buru-buru kembali melengkungkan senyumnya.
" bibi tidak usah khawatir, saya baik- baik saja." jawab ana sesegar mungkin.
Bi nina kemudian pamit untuk kembali kedapur. setalah bi nina kembali kedapur, ana kembali menangis.
Bi nina yang belum benar- benar pergi mendengar semua isakan tangisan ana.ia tak mengerti dengan hati ana, masih tetap kuat setelah suaminya mensedejaratkan dengan dirinya.
Mohon dukungannya untuk karya ku๐๐ป๐๐ป๐
__ADS_1
Cerita selanjutnya akan sedih.sedia tisu ya gaes๐๐๐๐