
Kehamilan ana sudah menginjak 7 bulan. Dan dalam waktu 3 bulan terakhir, daniel benar-benar berubah kepadanya. Bahkan ia sangat peduli kepada keadaan ana, seperti tidak menginginkan hal buruk terjadi padanya.
" Kau ini bodoh atau apa?" gertak daniel sembari menatap ana yang berada didepannya.
"ini sudah 8 kali putaran, kau memutar kompleks ini." daniel menghitung setiap kali putaran yang ana lakukan bersamanya dikomplek ini.
Daniel dan ana sedang melakukan jalan sehat di sekitar komplek perumahannya, karena ana yang memintanya. Walau pada awalnya daniel menolak, tapi berkat rengekan dari ibu hamil ini daniel merasa tidak tega. Dan meng-iyakan. Lagi pula ini adalah hari libur, jadi tidak salahnya menemani sekaligus melatihkan tubuhnya yang sudah jarang sekali mendapat latihan.
"lalu masalahnya apa?" kata ana dengan nafas yang mulai tersengal-sengal.
daniel menepuk keningnya, lalu menyusulnya dan setelah itu ia halang langkah ana.
"kau hamil."
" dan kau harus selalu meningingatkan itu."
Daniel selalu mengingatkan ana dengan perkataan itu, ana tak pernah bosan dengan peringatan dari daniel, karena itulah momment yang ana inginkan, bayinya mendapat perhatian dari ayahnya.
"Aku tau," langkahnya ia tepikan pada sebuah bangku kosong di tepi jalan. lalu menempatinya untuk mengambil energinya kembali.
Astaga, kenapa dirinya sampai lupa tidak membawa air. Bagaimana ini? Tenggorokannya terasa kering dan ia sangat membutuhkan air untuk segera ia teguk untuk membasahai tenggorokannya itu.
Tidak mungkin ia meminta daniel untuk membelikannya air, pasti ia akan marah.
Hanya silvanyalah yang dapat sedikit membantunya untuk membasahai tenggorokannya itu.
Daniel merasakan ada yang aneh dari ana, karena beberapa kali ia memegang lehernya.
"ada apa?"
Ana terkejut mendengar suara daniel yang menanyakannya.
"Tidak,"
Terlihat dari wajahnya, pasti wanita ini membutuhkan air. Karena ulahnya dia jadi kehilangan cairan! Fikir daniel.
"tunggu disini,"
"kau mau kemana?"
daniel tidak menjawabnya dan langsung pergi begitu saja dari taman ini.
Baiklah karena daniel sudah menyuruh untuk menunggu ia harus menjalaninya.
20 menit ana menunggu, tapi suaminya itu tak kunjung juga untuk menunjukan batang hidungnya.
Ana mulai bosan dengan keadaan, apa yang ia harus lakukan sekarang? Berdiam diri atau mencari?
Ia pun sepakat pada dirinya untuk mencari daniel.
Dipinggir jalan pun ia tidak menemukan sedikitpun keberadaan suaminya.
"ia kema...." tatapanya titik fokus pada sebuah taman.
Disana sudah terdapat seorang pria dengan wanita, dan sosok pria itu adalah daniel. Sedang apa dia disana?
Ana yang merasa marah, melangkah kakinya menuju taman itu.
"Kau!" bentak ana
Daniel yang mendapati kehadiran ana dengan refleks daniel berdiri, begitupun dengan wanita itu.
"Ana," kata wanita itu, ia nampak tidak kaget dengan kehadiran ana. Karena ia sudah tahu, bahwa ana adalah pembantu dari kekasihnya.wanita ini adalah siska.
__ADS_1
Ana ternganga saat melihat wanita dihadapannya adalah siska.
Wanita itu benar-benar kembali.
"kau kenapa disini?" tanya ana bernada tidak terima.
Siska mendekat kepada ana, menatap perut buncit. Perut yang terakhir kali ia lihat datar, sekarang telah berubah.
"kau hamil ana?" kata siska tidak percaya.
"iya ," jawabnya seraya mengusap perut buncitnya itu.
"*Are you serious?"
"Berapa bulan?" tanya siska yang semakin penasaran.
"7 bulan*"
daniel nampak mematung, ia tidak tahu harus melakukan apa.
"Berarti terakhir kali aku dirumah daniel, kau sedang hamil?"
"Wah, aku tidak menyangka," katanya, tangannya juga ikut mengusap perut ana.
"tapi suami mu dimana?" ana ternganga mendengar pertanyaan siska, sesekali ia melirik daniel yang berada disamping siska sedang mematung.
"Dia...."
" dia ada dikampung halamannya, i-iya dia dikampung halamannya sayang, jawab daniel secepat mungkin.
Ana merasakan sakit saat mendengar perkataan yang daniel lontarkan dari mulutnya untuk siska.
"lalu kau kenapa disini?" tanya siska kepada ana.
"Aku..."
Hati ana begitu tertohok, pemandangan itu seharusnya tidak boleh ia lihat. Karena ini sungguh sangat menyakitkan baginya.
Siska melepaskan tangannya yang berada diatas perut ana lalu memindahkannya di pipi daniel.
"iya sayang."
Daniel buru-buru menarik lembut siska untuk segera pergi dari taman ini beserta dari hadapan ana. Sebelum semuanya terbongkar, karena pertanyaan-pertanyaan penasaran dari kekasihnya itu.
Ana menatap kepergian suaminya bersama kekasihnya, kakinya terasa melemas dan tanpa sadar ia sudah terduduk diatas bangku taman yang sempat suami duduki bersama kekasihnya ia.
Caiaran benang yang sudah lama tidak ia keluarkan kembali lagi, kembali bersma perihnya hati.
" Aku fikir suami ku telah..."
Ana menutup kedua wajahnya dengan tangannya, ia menangis.
Ana telah salah faham dengan sikapnya daniel. Ia berfikir daniel telah melupakan kekasihnya itu, setelah beberapa ini ia tidak menampakan dirinya. Dan sedikit demi sedikit mulai membuka hatinya untuk ana. Ternyata semuanya salah! Pemikirannya salah besar, pemikirannya itu membuat ia hancur!
Ana mengusap wajahnya kasar
"Aku salah,"
"Aku bodoh,"
"Aku bodoh!!!" ana merutuki dirinya, ia membenci dirinya untuk saat ini.
" Nana..." suara itu membuat ana segera mengusap air mata kepedihannya. Buru-buru ia kengkungkan senyuman kepalsuan.
__ADS_1
Tapi percuma, orang ini tidak bisa tertipu daya oleh senyuman manis yang ana berikan.
pra itu menduduki sisi bagian bangku yang kosong.
"kau kenapa?"
" siapa yang membuat mu menangis? Katakan"
Ana menggeleng, sebisa mungkin ia membuat wajahnya seperti biasanya. Hanya kebagahagian saja yang boleh ia perlihatkan pada orang lain, ia tidak boleh rapuh.
"Jawab noven," katanya seraya mengguncangkan pelan bahu ana. Pria ini adalah noven teman kelasnya, sekaligus adik iparnya yang belum ia ketahui.
Sekuat apapun dirinya menahan air, matanya itu tetap lolos.isakan tangis itu pun tidak bisa tertahankan juga.
Noven yang tidak bisa melihat wanita yang ia cintai menangis, segera memeluknya, memeluk dengan erat.
"siapa yang menyakiti mu ana?"
" bilang pada ku ana...." kata noven tak terima.
Ana tak menjawab, sakit didadanya terus menyeruak, dan hanya isakan tangisnyalah yang dapat menjawab semuanya.
Noven sudah bisa menebak, ini pasti ulah kakaknya itu! Pasti ia telah berbuat sesuatu kepada ana hingga ia menangis begitu pilu.
"Dia menyakiti mu?" tanya noven semabri menguncang-nguncangkan tubuh ana.
Tidak, ana tidak bisa menjawabnya. Entah apa yang membuatnya tetap membungkamkan mulutnya.
****! Noven mengumpat.
noven hendak bangkit namun tangannya ditahan oleh ana.
"Tidak noven..."
"Aku hanya menginginkan Es cream.." dusta ana yang berada diluar pikiran yang konyol.
tidak mungkin hanya karena sebuah es krim ana menangis sampai begitu pilu.
" jangan membohongi ku,"
"aku tahu ana..."
Ana mengusap air matanya kemudian memaksakan senyuman dibibirnya, "aku tidak berbohong."
ana kemudian menuntun tangan noven untuk berada diatas perutnya " dia menginginkan es krim...."
Matanya cukup lama menatap perut ana. Sekarang wanita yanh dicintainya sedang mengandung, Mengandung ana dari kakak kandungnya sendiri.
Noven mencoba mengihklaskan semuanya, sekarang didalam perut ana telah tumbuh bayi yang kelak akan menjadi keponakannya itu.
"Dia menginginkan es krim noven."
"tapi aku tidak tau harus membelinya dimana,"
"Jadi aku memutuskan untuk menangis." dusta ana
Percaya tidak percaya noven harus percaya kepada ana, mungkin benar apa yang dikatakannya.
"aku akan carikan." noven bangkit dari duduknya, kini ana ikut bangkit. Ia tidak mau menunggu seperti tadi.
" Aku ikut,"
"kau disini saja,"
__ADS_1
Ana menggeleng keras, "Aku ingin ikut." pinta ana, noven pun meng-iyakan permintaan ana.
Mohon dukungannya untuk karya ku🙏🏻🙏🏻😊😊