LELAH

LELAH
Misi Siska


__ADS_3

Seorang wanita berpakaian dress pink bercorak bunga, kini tengah sibuk memakai makeup diwajahnya, bahkan ia tidak memperdulikan anaknya yang berada disampingnya yang sedari tadi menangis.


" Siska."


" kenapa kau membiarkan bayu menangis?" katanya seraya mengendong pria kecil disamping wanita yang tengah berdandan, wanita itu adalah siska. Siska kekasih daniel yang sekarang statusnya telah berganti menjadi istrinya.


Mereka benar-benar melangsungkan pernikahan, sehari setelah daniel melemparkan surat cerai untuk ana, lebih tepatnya dihari dimana ana baru melahirkan putrany. putra yang tak pernah ia anggap.


Tangan mungil itu mengenggam jemari ana sangat erat , seolah-olah ia tidak menginginkan bundanya pergi jauh darinya.


Ana tersenyum dengan mata yang berbinar, ini adalah pertama kalinya ia bisa benar-benar memeluk anaknya. perasaannya bercampur aduk, antara bahagia dan sedih.


Ia bahagia karena anak yang sangat ia harapkan lahir didunia ini dengan selamat, dan sedih karena hadirnya ia didunia ini tidak diharapakan oleh ayah kandungnya sendiri.


Ana mengecup kening anaknya


Tap..tap..tap


Seorang suster menghampiri ana yang tengah mengendongnya diatas ranjang.


"selamat malam ibu ana ," jawab suster itu dengan ramah .


"malam," balas ana dengan senyuman.


" sekarang, waktunya bayi ibu untuk istirahat."


Ana mengangguk dengan senyuman yang masih melekat dibibirnya, ana mulai memberikan bayinya pada suster rumah sakit ini.


" saya permisi bu," ucap suster itu kemudian pergi.


Ana menyadarkan kembali tubuhnya, matanya menatap langit-langit kamar rawat inap, wajah anaknya muncul disana, wajahnya mengingatkannya pada daniel. Anaknya benar- benar mirip dengan ayahnya itu.


"Dia mirip dengan mu daniel ," lirih ana.


walaupun ana telah mengatakan bahwa daniel tidak akan bisa menemui anaknya itu, tapi ana tidak benar-benar mengatakannya dari hati, ia juga sadar, ia tidak bisa memisahkan anaknya dari ayah kandungnya.


Ana masih mengharapkan daniel, suami sahnya itu. Ia berharap daniel sadar dan menemui dirinya dan bersama anaknya.


Ana menurunkan kembali pandangannya. Ia memutarkan tubuhnya kekanan, matanya menatap sebuah tangan yang menyodorkan sebuah amplop coklat.


Ana menatap cukup lama, kemudian ia alihkan matanya untuk mentapa siapa yang menyodorkan sebuah amplop coklat.


pancaran bahagia langsung tercetak jelas diwajah ana, senyumannya perlahan melengkung. Ana merubah posisinya menjadi duduk.


"Daniel.."kata ana bahagia. Ana benar-benar bahagia, suaminya itu mau datang, pasti ia menyadari apa kesalahannya dan ingin segera menatap anaknya yang benar- benar mirip sekali dengannya.


Ya, orang itu adalah daniel.


"kau....."


Daniel memutar bola matanya, lalu menghela nafasnya dengan kasar.


"Ambil."


Ana mengernyitkan dahinya tidak mengerti.


Tanpa basa basi daniel melemparkan amplop itu pada ana.


Ana menatap amplop coklat yang daniel lempar untuknya,


"Apa ini?" tanya ana lembut.


Daniel diam acuh, dan membuang pandangannya.


" apa ia ingin meminta maaf padaku melalui surat yang ada diamplop ini? Kalaupun benar, tanpa harus membuat surat ini aku sudah memafkannya dengan ia menyadari kesalahannya..."batin ana bahagia.


Ana perlahan- lahan mulai membuka amplop coklat itu dengan senyum kebahagian, ia tidak sabar membaca surat yang daniel tuliskan untuknya, atas kesalahan yang telah dilakukannya.


"sudah jelas?" jawab daniel dingin.


Senyum dibibir itu perlahan-lahan menghilang, paru-paru itu terasa kehilangan terasa kehilangan udara untuk ia pompa, jantungnya pun seakan dihujam ribuan panah yang begitu tajam dan menusuk.


"Ce-cerai?" katana ana yang tersekat air salivanya, kemudian menatap manik biru milik daniel.


Daniel masih bersikap dingin, dan tak mau menjawabnya.


Apa keterangan surat dari pengadilan itu tidak cukup untuk menjadi jawabanya?


Ana melempar surat yang berada digenggamannya keatas lantai. Ia menggeleng tidak percaya, tidak mungkin daniel menceraikannya.


"tidak, ini pasti salahkan, surat itu pasti salahkan. Ya, surat itu pasti salah."


"seharusnya surat itu, surat perminta maafmu atas semuanyakan?"


"tidak, kau tidak perlu menulis apapun, aku sudah memaafkannya. Surat itu pasti bukan milikku,"jawab ana beruntun yang mulai frustasi.


Ana meraih pergelangan tangan daniel," K-kau kesini ingin bertemu dengan anak kitakan?" dia sangat lucu, dia benar- benar mirip denganmu daniel."


"wajahnya, hidungnya, dan mata...."


" bagaimana bisa?!"ketus daniel.


Ana mengernyitkan dahinya, "tentu, dia anakmu, anak kita. Dia...."


"Dia anak pria hidung belang?"jawab daniel, kemudian ia menghempaskan tangan ana yang sebelumnya dipegang dengan begitu erat oleh ana.


Ana menggeleng keras, kemudian bangkit dari ranjang.


"Anakmu, dia begitu mirip dengan mu."


"kau ingin melihatnya?" aku akan menemani mu untuk melihat anak kita," ana tersenyum, kemudian mengambil kembali tangan daniel dan hendak mengajaknya untuk melihat bayi mereka walau hanya melalui kaca saja, tapi daniel malah menahan langkahnya kemudian menghempaskan tangan ana kembali.


" Ada apa?" dia pasti ingin melihat ayah..."


"Ayah? Sampai kapanpun dia tidak akan pernah bertemu dengan ayah kandungnya, untuk menentu ayah kandungnya sendiri saja dia tidak akan bisa."


Ana memundurkan langkahnya kembali.


sekarang dirinya berada tepat dihadapan daniel, "maksudmu apa? Aku tidak mengerti."


Daniel tertawa devil pelan " kau kan tau profesimu itu apa. Jadi, ya, anak mu itu akan sulit mengetahui siapa ayahnya yang sebenarnya..."


hati ana sakit mendengarnya. ****** yang daniel dimaksud untuknya?


daniel mengambil kembali surat cerai yang tadi ana buang, dan memberikannya kembali pada ana. Kemudian daniel merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah pulpen.


" Tanda tangan, dan stop berbasa -basi!" bentak daniel.

__ADS_1


" bayi-kita... kau ingin melihatnya kan?" lirih ana dengan kepala yang tertunduk dan mata yang menatap surat peceraian itu.


Daniel diam tak menjawab.


" Daniel.."


"Tanda tangan!!" bentak daniel.


" aku tidak benar-benar mengatakan itu semua, saat kau mengusir..."


" TANDA TANGAN !" kata daniel penuh penekanan. Emosi daniel kini berada dipuncak.


"apa kau tega dengan bayi kita ?"


"bayi kita?,bayimu! bayi ku masih berada didalam kandungan siska."


ana memejamkan matanya,


"kau boleh memaduku, kau boleh menikahi siska dan bertanggung jawab atas kehamilannya. Tapi aku mohon, jangan menceraikan ku, kau lihat bayi kita, apa kau tega...."


" Kita cerai."


Ana membuka matanya, ia menaikan kembali kepalanya, matanya menatap manik mata daniel dalam-dalam.


" 1 tahun lebih, apa sama sekali tidak ada ruang untuk ku, dihatimu?" tanya ana menahan sesak didadanya.


"Kita cerai," jawaban daniel masih sama manik mata daniel sudah bisa menjelaskan semuanya, memang dirinya tidak berhak atas ruang dihati daniel, tidak ada, ruang itu hanya untuk siska, siska seorang. Daniel tidak akan pernah bisa membaginya.


Ana melangkah kakinya perlahan menuju nakas, lalu meletakan kertas itu diatas nakas.


"Apa tidak ada?"


Daniel hanya diam. Diamnya menjelaskan semuanya ditingkat tertinggi.


Ana memahaminya, dengan berat hati, ana haru melakukannya. Mengakhiri semuanya, benar-benar mengakhiri hubungannya dengan daniel.


Buliran air mata ana mulai menjatuhi kertas perceraian itu, saat bubuan tanda tangan yang daniel inginkan sedang ana buat.


Melihat ana selesai membubuhi tanda tangan diatas surat peceraian itu, daniel segera mengambil alih kertas itu.


Daniel tersenyum puas ini lah yang ia tunggu-tunggu peceraiannya dengan ana akan benar-benar terjadi. Ia sudah membuang perasaan baik untuk ana, karena ia yakin itu hanyalah kesalahan yang ia lakukan.


" Bagu."


Ana memutar tubuhnya, ia pun tak lupa menghapus air mata yang sebelumnya jatuh dipipinya.


"Tapi, kau menyisakkan ruang itu untuk anak kita kan?" tanya ana sebaik mungkin, yang kenyataan adalah ucapan penuh kesakitan. Setidaknya biar anaknya saja yang menempat ruang dihatinya itu.


" kau dan anakmu itu, tidak akan pernah bisa mendapatkan ruang itu." daniel memutarkan tubuhnya dan hendak keluar dari ruangan ana, tapi dengan sekuat tenaga ana mengejar daniel dan menahan tangannya.


" karena ruang itu hanya untuk siska dan anak yang berada dikandungan siska. Bukan bayi yang tidak diharapkan itu!!"


...----------------...


Tidak ramai, namun ini pernikahan yang daniel harapkan.menikah dengan orang yang dicintainya siska.


Daniel menikahi siska, namun tidak ada 1pun keluarganya yang mengetahuinya. Tentu daniel tidak akan mengatakannya. Bila ia meminta restu kepada kedua orang tuanya, pernikahan ini tidak akan terjadi, terlebih papanya yang amat sangat tidak menyukai siska.


Namun sekali lagi daniel tidak perduli, yang terpenting adalah ia menikahi wanita yang amat ia cintai itu.


" kalian berdua telah resmi menjadi pasangan suami istri."


Setalah sumpah pernikahan sudah selesai, daniel mengajak siska keluar. Kemudian menepi sejenak.


" maaf kita menikah tanpa ada keluarga ku, mereka semua berada diluar negeri, tapi mereka semua merestui kita." dusta daniel


" tidak apa-apa, aku mengerti. Yang terpenting kita sudah terikat dalam sebuah hubungan resmi.


......................


" Kau saja yang mengurusnya!" bentak siska, sembari terus mengoles makeup diwajahnya.


Daniel menggeleng tidak percaya dengan kelakuan istrinya itu, siska benar-benar berbeda.


ia segera mengendong balita yang bernama bayu itu.


" bayu, kenapa sayang?" tanya daniel, mencoba menenangkan anaknya itu.


" yu, mau cucu..."katanya diselingi sesenggukan.


dani menatap tajam kearah siska.


"dia mau susu sis,"


siska masih tidak perduli, ia tetap meneruskan memoleskan bubuk makeup kewajahnya.


"siska!" panggil daniel sedikit membentak.


Siska menatap tajam daniel


"Ck! Minta sama bi eliza saja, aku ada arisan,"


" Hiikkss...yu, mau cucu, mama yang buat...


"rengek bayu terus- menerus.


" diam bayu!" bentak siska, yang mulai pusing dengan rengekan anaknya itu.


daniel menggeleng tidak percaya dengan tingkah istrinya itu. Ia beranjak pergi dari kamar dengan membawa anaknya pula.


" Aku minta uang," pinta siska santai.


Daniel sontak menghentikan langkahnya, rahanngnya mengeras, perkataan siska sungguh memancing emosinya.


setelah membiarkan anaknya menangis,ia meminta uang padanya? Apa ia tidak berfikir sama sekali?


Ia menghampiri siska kembali.


"Tidak, tidak ada arisan-arisan dengan kelompok mu itu!!"


"Kau mengurus bayu saja dulu yang benar."


Braks! siska menggebrak meja riasnya, membuat setengah peralatan makeupnya yang berada dimeja riasnya menjadi berserakkan.


" memangnya aku babby sister? Kau saja yang mengurusnya!" bentak siska.


Daniel menghela nafasnya

__ADS_1


" kau mamanya siska."


"Aku bosan!" bentak siska tak kalah sadis.


Kini tangan daniel melayang diatas udara, dan siap didaratkan dipipi siska.


Maksudnya apa mengatakan bahwa ia bosan?!


"Apa? kau mau menampar ku?tampar!" kata siska dengan nafas yang tersengal-sengal.


Daniel mengurungkan niatnya, ia menghempaskan tangannya kebawah dengan tangan yang terkepal. Tidak mungkin ia menapar siska didepan bayu yang masih kecil.


"Aku minta uang," pinta siska lagi.


"tidak ada, kau kan tau, kita sedang dalam masalah keuangan!" kata daniel mencoba memberi pengertian pada istrinya itu.


" Aku tidak peduli, aku minta 20 juta. Dan secepatnya kau harus transfer ke rekeningku!" pinta siska lagi, setelah itu ia meninggalkan suami beserta anaknya.


Daniel menggeratkan rahangnya, rasanya detik itu juga dirinya ingin mengejar siska kemudian memakinya, tapi tidak bisa karena tertahan dengan rengekan bayu.


" ssstt....iya papa buatkan susu untuk bayu," daniel bergegas menuju dapur untuk membuatkan susu anaknya itu.


...----------------...


" sebentar lagi kita akan kaya,"


"ya, secepatnya kita harus menguras habis harta daniel!"


ke-2 orang ini adalah fahri dan siska.


Sahabat dan istri daniel mengkhianatinya.


Tenyata, mereka sudah menjalin berhubungan jauh sebelum daniel mengenal siska. Bahkan mereka telah terikat ikatan suci pernikahan.


Awalnya fahri memang membenci daniel karena ia menaruh hati pada istrinya, terlebih ia pernah menyetubuhi siska! Itu sangat diluar batas.


Ia-pun sempat ikut marah pada siska, dengan sukarela memberikan tubuhnya, yang seharusnya hanya untuk dirinya.


Tapi kemarahan itu perlahan-lahan menghilang dan menimbulkan perasaan baru, yaitu dendam.


Fahri dendam kepada daniel, seorang sahabat yang berani menaruh hatinya pada istri sahabatnya sendiri. Tapi apa boleh buat, danielpun tidak bersalah, bila fahri berkata yang sejujurnya danielpun tidak akan mungkin menaruh hatinya pada siska dengan sangat berharap.


Dan sekarang? misi mereka ber- 2 hampir selesai yaitu, menguras semua harta daniel dan menghancurkannya.


" kau tidak pernah disentuh lagi pria brengsek itu lagi kan?" tanya fahri khawatir, siska hanya menggeleng.


Ya, sejak pernikahan daniel tidak pernah menyentuhnya, karena kondisi siska yang tengah mengandung. Selama pernikahan mereka, danielpun sama sekali tidak menyentuhnya, walaupun daniel selalu mencoba untuk melakukannya, tapi ia selaku mendapat penolakan dari siska, dengan alasan ia terlalu lelah karena seharian mengurus bayu.


Daniel mencoba mengerti, ia tidak menginginkan istri tercintanya itu sampai kelelahan. Yang terpenting anaknyabitu terurus dengan baik.


Siska bersikap sedikit keras pada bayu hanya saat dirinya berada dirumah dan bersama daniel.bila ia berada diluar rumah atau tidak berada disisi daniel, ia sangat menyayangi anaknya itu.


" bayu, dimana?" tanya fahri dengan intonasi yang sama.


" kau tenang saja, dia ada bersama papa palsunya itu."


Rencana itu terlalu mulus untuk mereka.entah daniel yang terlalu bodoh, atau memang terlalu mencintai siska.


dengan mudahnya daniel percaya bahwa anak itu adalah buah cinta mereka. Kenyataannya, bayu adalah buah cinta siska dan fahri.


Mungkin daniel menganggap saat dirinya sedang berlibur dengan siska, ia telah menyetubuhinya. Tapi sayangnya, belum sempat daniel menyetubuhi siska, dirinya sudah tekapar diatas ranjang, karena terlalu banyak mengkonsumsi wine.


Dengan otak cerdik dan berisikan fikiran licik. Pagi datang, siska segera melepaskan seluruh pakaiannya dan menutupinya memakai selimut. Ia merekayasa semua, seakan-akan mereka memang benar telah melakukan semuanya.


"kamu menyakiti anaku kan?" tanya fahri mengintrogasi.


Siska mencubit gemas pipi fahri "tidak sayang, aku hanya membentaknya sedikit saja..."


Fahri membulat matanya.


"Astaga kasian anak ku."


"ssttt,,Yang terpenting hari ini aku mendapatkan 20 juta." kata siska senang.


" 20 juta? Pelit sekali si brengsek itu!" kata fahri dengan nada penghinaan.


"Kalau aku hitung-hitung, setengah dari kekayaannya sudah masuk direkeningku."


Fahri membulatkan matanya kembali, bahkan membulatkannya lebih besar dari sebelumnya.


"setengah kekayaannya?"


siska dengan segera menganggukkan kepalanya.


"Dan kita tunggu tanggal dimana kita benar- benar mengambil seluruhnya." kata siska, diakhiri senyuman devilnya.


...----------------...


Bayu tidak mau menghentikan tangisnya, hampir 1 jam dirinya terus menangis didalam gendongan daniel.


" mama sebentar lagi pulang sayang," kata daniel mencoba menenangkan bayu yang ke sekian kalinya, karena tak kunjung juga menghentikan tangisannya.


"yu, mau mama!!" mama hiikksss...hiikkss.."


isak bayu yang terdengar begitu miris .


" iya sayang, mama sebentar lagi pulang." daniel terus menenangkan bayu yang masih belum bisa menghentikan tangisannya.


"hiikkss...hiikkss..papa bohong!" mama nda puyang-puyang! Papa boong..."


Daniel akhirnya menurunkan bayu diatas ranjang.


" bayu bisa diam tidak!" bentak daniel. Ia tidak tahu lagi harus dengan cara apa agar bayu diam.


Bayu semakin mengeraskan suara isak tangisnya.


"Astaga, sayang. Kau kenapa?" siska yang melihat anaknya menangis sesenggukan, segera menghampirinya lalu mengendongnya.


" papa imel yu." adu pria kecil ini.


" hampir 1 jam lebih, bayu tidak mau berhenti menangis.jawab daniel dengan diakhiri helaan nafas.


" Dia masih kecil, tidak seharusnya kau memarahinya." bentak siska tak terima.


" Aku tidak tau lagi harus memakai cara apa lagi, agar bayu diam."


"Aku hanya memberitahunya agar diam...."

__ADS_1


Belum selesai melanjutkan perkataannya, siska sudah lebih dulu pergi dari hadapan daniel sembari membawa bayu.


Mohon dukungannya untuk karya ku🙏🏻🙏🏻😊😊


__ADS_2