
Sebulan berlalu setelah kejadian kecelakaan itu.
Bram sudah banyak mendapatkan informasi tentang gadis itu dari temannya, Aziz.
Tempat kerja Aziz memang berdekatan dengan tempat kerja gadis itu, gadis yang sehari-harinya dipanggil, Rea.
Sungguh kebetulan yang sangat menguntungkan untuk Bram.
Bram ingin mengenal Rea terlebih dahulu, sebelum memutuskan untuk mengambil keputusan yang besar.
Dia tidak ingin salah melangkah, karena ini menyangkut perjalanan hidupnya untuk ke depan.
***
Sore ini, sebelum pulang kerja Bram akan mampir terlebih dahulu untuk membeli bunga, karena itu sudah menjadi kebiasaannya.
Setiap pagi dan sore ia akan menyempatkan diri untuk menemui Rea, sekedar memastikannya baik-baik saja.
"Permisi, Mbak. Saya mau mencari bunga Mawar putih yang masih segar. Ada Mbak?" Bram bertanya pada Rea.
"Bukannya biasanya Mawar merah, Mas?" Tanya Rea dengan raut muka agak bingung.
__ADS_1
"Mbaknya perhatian sekali, hingga bunga yang sering saya beli aja Mbak hapal," jawab Bram dengan senyuman menggoda.
Wajah Rea memerah, mungkin karena malu atau merasa telah lancang bertanya seperti itu kepada pelanggannya.
"Kebetulan Mas, bunga mawar putihnya sudah habis. Toko juga udah mau tutup, Mas." Rea menjawab dengan canggung, terlihat dari caranya yang salah tingkah.
"Ok, Mbak. Besok pagi saya akan datang lagi, tetap semangat ya. Saya selalu ada di sisi kamu saat kamu butuhkan." Sambil tersenyum penuh arti, Bram berlalu. Meninggalkan Rea yang berdiri mematung di tempatnya.
Menerka-nerka atas pernyataan Bram barusan.
***
Bram memang sudah melakukan pendekatan melalui hal-hal kecil, seperti bercanda, menanyakan kabarnya, atau hanya sekedar ucapan-ucapan penyemangat untuk Rea.
Entah jual mahal, atau memang enggan di dekati, pikir Bram.
Dalam pemantauannya selama sebulan ini, Rea adalah gadis yang baik, jujur, mandiri, dan belum memiliki kekasih, karena selama yang Bram lihat belum ada satu orangpun yang datang menjemputnya ketika pulang kerja.
Lagi lagi kesempatan itu datang menghampiri.
***
__ADS_1
Hari ini rumah Marya tampak berbeda dari biasanya, ketegangan sedang terjadi di sana.
Bram, dengan keinginan dan harapannya. Sedangkan ibunya dan kakak-kakaknya dengan ego dan penolakannya.
"Bram, setulus apapun niat kamu, tetap saja Ibu tidak akan pernah setuju! Ini tidak adil untuk kamu, kita bisa bertanggung jawab dengan cara menanggung biaya hidup gadis itu, atau kita juga bisa mengangkatnya menjadi saudara! Pikirkan lagi, nak! Apa yang bisa kamu harapkan dari perempuan seperti itu." Marya berbicara dengan tangan mengepal menahan amarah, dia tetap tidak bisa menerima keinginan Bram yang menurutnya sangat tidak masuk akal.
"Apa yang Ibu bilang itu benar, Bram. Kamu tidak bisa mengorbankan masa depan kamu dengan menikahi Rea. Jangan karena kamu masih terluka karena Ayra, kamu menjadikan Rea sebagai pelarian. Ini salah, tolong kamu pertimbangkan sekali lagi." Arsyad berbicara dengan tenang namun penuh dengan ketegasan.
"Bingung sama pikiran kamu, Bram. Menyelamatkan apa mau menghancurkan? Kamu pikir cinta bisa hadir segampang itu?" Rasyid berujar sambil tersenyum mengejek.
Bram menghela nafas, kemudian berlutut di depan ibunya. Ditatapnya lekat wajah cantik ibunya, dan digenggamnya tangan yang selama ini telah bekerja keras untuk menjadikan hidupnya lebih baik, tangan yang selalu menolongnya ketika jatuh, dan tangan yang selalu mampu menenangkan lewat usapan lembutnya.
"Selama ini aku tidak pernah mengecewakan Ibu, kan? Sama, Buk. Keputusanku hari ini aku juga tidak akan mengecewakan Ibu. Rea gadis yang baik, jujur, dan aku yakin dia bisa membahagiakan aku. Aku tidak akan bisa hidup dengan benar, jika terus menurus dihantui dengan rasa bersalah. Tolong restui Bram, Buk." Bram mencium tangan Marya, dan tersirat harapan yang besar di matanya.
Marya berdiri, kemudian dia berjalan ke arah jendela kaca yang terletak di sisi kanan ruang tengah. Dia membuang pandangannya ke luar jendela, melihat tanaman bunga yang sedang bermekaran di sana.
"Yakinkan sekali lagi hatimu, Bram. Karena Ibu tidak yakin pernikahan kalian akan baik-baik saja, karena kamu menikahinya bukan karena cinta. Dan satu lagi yang perlu kamu pertimbangkan, sebaik apapun dia, Ibu tidak akan pernah bisa menganggapnya menantu." Ibunya berbicara dengan sarkas.
"Beri aku waktu setahun untuk membuktikan pada ibu, bahwa pilihan aku tidak salah, Buk. Dan keinginanku ini tidak ada hubungannya dengan Ayra sama sekali." Bram berbicara dengan tegas, berharap keinginannya dapat terwujud.
"Baiklah, Ibu bisa apa jika kamu sudah nekat seperti ini. Tidak ada acara pertunangan, dan nikahnya hanya dihadiri oleh keluarga, dan yang paling penting nikahnya dilakukan secara siri. Langsungkan pernikahannya tiga bulan lagi, tidak bisa sekarang. Kita tutup pembicaraan ini." Kemudian ibunya berlalu pergi.
__ADS_1
Bram berusaha memantapkan hatinya untuk menikahi Rea. Pendekatannya selama dua bukan ini ternyata tidak sia-sia. Tersirat ragu di hatinya, apakah dia mampu mencintai Rea dengan mereka terus bersama?
Atau malah sebaliknya, seperti yang kakaknya bilang, dia tidak akan menyelamatkan Rea tapi malah menghancurkannya.