
Matahari sudah terbit, cahaya masuk ke dalam kamar pengantin baru melalui cela jendela kamar hotel. Riana yang lebih dulu bangun langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Kesepakatan sebelum menikah telah mereka buat, setelah menikah mereka akan tinggal di rumah Romi. Riana boleh bekerja seperti biasa. Tak banyak perjanjian yang mereka buat.
Tak lama setelah Riana beres dengan aktifitas paginya, Romi bangun. Belum terbiasa dengan keadaan yang sekarang, kedepannya setiap hari ia akan melihat sosok wanita saat awal membuka mata. Bergegas menuju kamar mandi untuk kemudian sarapan bersama. Awalnya Riana mengira akan sarapan di tempat sarapan hotel, namun sepertinya ia lupa siapa suaminya. Tentu sarapan pagi ini akan dihabiskan di kamar, pelayan hotel yang akan mengantarkan menu sarapan ke kamar.
Sarapan masih diselimuti rasa canggung, tak ada obrolan di antara ke duanya. Entah mengapa Riana mendadak tidak bisa memulai obrolan seperti saat di awal-awal mereka pendekatan. Setelah menyandang status istri tuan muda, perasaannya berubah yang awalnya cukup excited menjadi ciut. Entah sedikit banyak sekarang ia mulai merasakan sifat asli dari Romi yang sebelumnya hanya ia temui seminggu sekali. Ia tak bisa menyangkal aura dingin dari Romi, apalagi setelah merasakan dalam satu ruangan hanya berdua.
"Setelah ini kita akan kembali ke rumah." Kata-kata Romi memecah keheningan
"Baik, tuan." Riana masih kaku, dan belum mengganti panggilan kepada suaminya.
Tak lama sarapan selesai, Bima mengetuk pintu dan masuk ke kamar untuk memastikan tuan dan nona barunya siap untuk pulang ke rumah. Selama perjalananpun tak ada obrolan sama sekali. Butuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai di rumah, semua orang di rumah menyambut kedatangan pengantin baru termasuk ayah, ibu dan Jinny. Raut bahagia di wajah ayah dan ibu terlihat jelas, apalagi ibu. Sungguh tidak sabar ia mendengar kabar kehamilan menantunya. (Ya ampun bu baru sehari nikah udah ngarep cucu 😄)
"Selamat datang anak mantu ibu." Ibu memberikan pelukan kepada menantu pertama di rumah ini. Riana membalas pelukan ibu tak kalah hangatnya. Mereka segera menuju ke ruang tamu, ibu berniat untuk mengajak menantunya mengobrol. "Bu, biarkan Romi bawa Riana ke kamar dulu." Romi langsung memotong begitu tau niat ibunya. "Ya ampun Rom, ini masih siang. Ibu tau kalian pengantin baru. Ibu pinjam sebentar istri kamu, mau ibu ajak ngobrol." Ibu salah paham maksud Romi. "Bukan begitu bu, Riana kan belum tau dimana kamarnya. Lagian biar Riana meletakkan barang-barangnya dulu." Romi berusaha meluruskan pikiran ibunya.
"Iya bu, nanti setelah beres-beres Riana kembali ke sini." Riana berusaha menetralkan.
Romi segera mengajak Riana ke kamar mereka, kamar yang dulu hanya ditempati oleh Romi semasa lajang. Romi menunjukkan berbagai sudut ruangan, berusaha agar Riana tidak tampak seperti orang asing di kamar mereka. Setelah selesai dengan urusan kamar, Romi mengajak Riana kembali ke ruang tamu memenuhi janjinya pada ibu. "Maafkan kalo ibu terlalu cerewet, ibu hanya begitu senang mendapat menantu baru." Romi berusaha agar Riana tidak membuat sikap berlebihan ibu menjadi beban. Riana hanya menjawab dengan anggukan.
***
"Ibu kira kalian g akan keluar kamar lagi." Ibu sedikit meledek anak dan menantunya begitu melihat mereka menuju ruang tamu.
"Tadi sudah selesai liat kamar dan beres-beresnya, Bu." Riana terlihat sangat hati-hati dalam bicara dengan ibu.
__ADS_1
"Sini ayo kita ngobrol-ngobrol." Di ruang tamu sudah ada ayah, ibu, dan Jinny.
"Kakak dan kakak ipar rencananya mau bulan madu kemana?" Jinny langsung membom dengan pertanyaan mematikan. Bagaimana tidak, pengatin baru ini saja bahkan lupa merencanakan acara bulan madu mereka. Maklum persiapan pernikahan yang mepet, kedua pengantinpun sama-sama sibuk dengan pekerjaannya. Yang menjadi objek pertanyaan saling berpandangan, bingung mau memberi jawaban apa. "Nanti saja dijadwalkannya, karena di kantor masih ada proyek baru yang tidak bisa ditinggalkan untuk beberapa bulan ke depan." Romi memberikan jawaban, karena ia tau tidak mungkin Riana yang akan bersuara duluan.
"Iya, kami memang akan menunda dulu bulan madunya untuk sementara waktu." Riana mengamini kata-kata suaminya. Padahal sebelum ini mereka sama sekali belum ada sesi diskusi mengenai bulan madu mereka.
"Kalian jangan terlalu sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Harus sering menghabiskan waktu bersama. Biar hubungan tetap harmonis." Kali ini ayah bersuara memberi saran, seolah tidak ingin kejadian ia dan istrinya dulu terjadi pada anak menantunya.
"Iya, Ayah." Romi dan Riana memberikan jawaban serentak.
"Cie pengantin baru kompak banget jawabannya." Dasar Jinny, memang terlihat masih kekanakan yaa.
Obrolan berlanjut antara kelima orang tersebut. Riana lebih banyak mendengarkan, bicara ketika ada pertanyaan yang langsung ditujukan padanya.
***
" Tapi kau tenang saja, aku tidak akan memulainya jika kau belum siap. Aku akan berusaha untuk bersikap lebih baik, dan memantaskan diri menjadi seorang suami. Aku mohon kau bisa membantuku dan menungguku dengan sabar." Riana tidak menyangka seorang Presdir Ekadarma bisa mengucapkan kata-kata itu kepada dirinya.
"I..iya, Tuan." Riana semakin gugup.
"Dan mulai sekarang bisakah kau tidak memanggilku dengan panggilanmu barusan?" Permintaan Romi barusan tak kalah mengejutkan Riana.
"Baik, saya harus memanggil tuan dengan panggilan apa?" Riana polos bertanya.
__ADS_1
"Terserah." Jawaban singkat Romi membuat Riana bingung. (Emang dasarnya dingin dan jutek dari lahir emang susah untuk berubah ya 😂)
Obrolan malam mereka berakhir begitu saja. Romi sudah memejamkan matanya, sedang Riana masih memikirkan panggilan apa yang cocok untuk suaminya.
***
Romi tampak menggeliat di bawah selimut. "Apakah sudah bangun, Rom?" Riana memutuskan untuk memanggil suaminya dengan nama, ia pikir itu bisa mengurangi kecanggungan di antara mereka. Lagi pula usia mereka tidak terpaut jauh. Terlalu menggelikan jika harus memanggil Romi dengan panggilan 'sayang', 'suamiku' di awal pernikahan mereka, begitu pemikiran Riana.
"Iya." Yang disapa di bawah selimut pun nampaknya tidak masalah dengan panggilan barunya.
Hari ini semua orang sudah memulai aktifikas masing-masing seperti biasa, termasuk pasangan pengantin baru. Romi akan mulai ke kantor hari ini. Begitu pula dengan Riana, dia mulai mengurus Cafe nya kembali mulai hari ini juga. Sesuai kesepakatan mereka, Riana akan tetap bekerja. Meskipun Romi bisa memberikan uang bulanan sepuluh kali lipat dari penghasilan istrinya itu. Riana termasuk wanita yang cukup ambisius dalam karirnya.
Mereka berangkat ke tempat kerja sendiri-sendiri. Romi sudah menawarkan sopir untuk membantu istrinya menyetir, namun Riana lebih memilih untuk membawa mobil sendiri.
Bagaimana kehidupan Romi dan Riana selanjutnya.
Apakah Romi bisa berubah menjadi lebih hangat?
Apakah Riana bisa memenuhi permintaan Romi untuk menunggunya dan membantunya berubah?
We'll see
Bersambung...
__ADS_1