LEMBARAN BARU SANG TUAN MUDA

LEMBARAN BARU SANG TUAN MUDA
REUNI (2)


__ADS_3

Selamat malam semuanya...


Sebelumnya author mohon maaf kepada para pembaca yang setia menunggu. Beberapa waktu terakhir author sedang disibukkan dengan kegiatan di dunia nyata, sehingga aktifitas di dunia mayanya terhambat 😁😁😁🙏🙏🙏


Terimakasih bagi yang sudah setia menunggu, semoga cerita di episode ini bisa menghibur para pembaca.


Salam hangat


__Cho


***


Dita sudah siap dengan kostum acara malam ini. Kostum yang ia kenakan bukan sembarang kostum, ia sudah mencoba puluhan stel pakaian yang akhirnya sesuai dengan kemauan baginda raja. Pakaian berupa atasan lengan panjang dan rok di bawah lutut membuat penampilan Dita sedikit formal.


"Sayang apa tidak terlalu kaku jika aku berpakaian begini di acara reuni kampus?." Dita cemberut sambil memegang baju yang ia kenakan.


"Mau ijinmu kucabut?." Jawaban Romi membuat Dita tak berkutik.


"Aaahh...Mana bisa begitu sayang. Hmm...rasanya nyaman juga menggunakan pakaian seperti ini." Nada menyindir tersirat dalam ucapan Dita yang kini sudah bersiap untuk pamit.


"Sayang, kalau begitu aku pamit ya. Jam sepuluh kurang aku pastikan sudah sampai rumah. Bye..." Dita melambaikan tangannya hendak meninggalkan ruangan. Langkahnya tak ia teruskan karena melihat ekspresi suaminya.


"Sayang kenapa tidak menjawab. Apa benar ijin ku dicabut?." Dita khawatir dan langsung menghampiri Romi yang sedang menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Sayang." Dita masih tak bisa membaca isi pikir Romi.


"Apa begini caramu pamit meninggalkan suamimu sendiri di rumah?."


"Hmmm...ini maksudnya gimana sih? Aku mesti melakukan apa memangnya? Kenapa ga bilang dengan jelas maunya apa sih?."


Romi mulai kesal ketika isyaratnya tak ditangkap dengan baik.


"Ehmm...". Romi kini hendak berjalan meninggalkan kamar.


"Sayang, maaf harus meninggalkanmu sendiri. Aku janji akan segera kembali. Cup!." Satu kecupan mendarat di pipi Romi.


"Apa benar ini yang dimaksud berpamitan dengan benar?. Ah...Masa bodo!" Dita memalingkan wajahnya yang bersemu.


"Ehm...ehm...Awas kalau sampai janjimu tak kau penuhi." Ternyata aksi Dita berhasil.


"Siap, laksanakan." Senyum sumringah bertengger di bibir Dita. Dengan girang ia menuju mobil yang akan dia kemudikan menuju acara reuni.


"Kenapa tingkahnya selalu menggemaskan sih?." Romi tersenyum tak kalah riang.


***


Sekitar empat puluh tiga menit Dita tiba di lokasi. Ia langsung nimbrung kedalam kerumunan teman-teman semasa kuliahnya.


"Eh...Dit, udah lama banget ga ketemu. Kok lu sekarang makin seger aja sih, keliatan berisi. Ga cungkring kaya jaman kuliah dulu." Giska mengomentari penampilan Dita yang kini memang sudah menyandang gelar istri.


"Hahaha...Iya nih, kan udah bukan anak kos lagi. Makannya sekarang udah ga ngirit dong..." Dita asal menimpali, disambut tawa renyah dari yang mendengarkan.


Hingga pukul setengah delapan mereka asyik bercengkrama mengenang masa-masa kuliah mereka. Mulai dari kisah lucu, konyol, sedih mereka remind sekedar untuk membuat mereka tertawa terbahak saat menceritakan kejadian-kejadian itu.


***


"Eh ada nona muda. Kirain udah ga level dateng di acara begini, secara kan udah jadi istri orang tajir." Riri tiba-tiba menghampiri Dita yang sedang memindahkan makanan ke dalam piring.

__ADS_1


"Emangnya istri orang tajir ga boleh dateng di acara reuni angkatan sendiri?." Dita tersenyum separuh menyeringai menanggapi ucapan sepupunya itu.


"Eh sombong banget ya. Yang tajir itu suami lo, kalo ga mana bisa lo hidup enak." Riri terbawa emosi, padahal ia yang awalnya ingin menyulut emosi Dita.


"Emang siapa yang bilang kalo gue yang tajir?. Kalo ga ada yang perlu diobrolin gue tinggal dulu". Dita berlalu menyudahi pertemuan yang tak diinginkan itu.


"Awas aja, tunggu pembalasan gue." Riri geram sambil mengepalkan tangannya.


***


"Dari mana aja lo, kok lama bener?." Nisa yang dari tadi menungu di meja makan protes saat Dita duduk di kursi di sebelahnya.


"Hahaha...Sory...sory tadi ngantri. Yok makan, keburu habis waktu gue nih." Dita tak berkata jujur. Lagian tak ada gunanya menceritakan kejadian menyebalkan barusan.


"Nis, gue ke kamar mandi bentar ya." Dita bergegas menuju kamar mandi untuk merapikan diri sebelum pulang.


"Mau ditemenin ga?." Letak kamar mandi agak jauh dari lokasi yang mereka sewa untuk acara.


"Ga usah." Dita berlalu dari pandangan Nisa.


***


"Dit, mau kemana buru-buru?." Bimo tiba-tiba menyapa Dita di tengah perjalanannya ke kamar mandi.


"Eh, Bim. Ke belakang sebentar mau ke kamar mandi." Dita sedikit terkaget.


"Perlu dianter ga?." Bimo menawarkan bantuan seperti Nisa.


"Oh...Gapapa gue bisa sendiri. Gue pamit dulu ya." Dita sedikit berlari kecil meninggalkan Bimo. Bisa-bisa semua akan berantakan kalo sampai ia terlihat mengobrol lama dengan laki-laki.


Sekitar lima menit Dita beres dengan aktifitasnya, ia segera keluar dari kamar mandi.


"Eh...Siapa ini?. TOO..." Mulut Dita keburu dibungkam.


Ia diseret menuju ruang di sebelah kamar mandi. Kondisi sekitar kamar mandi memang kurang pencahayaan.


Dita memberontak dengan kencang hendak melepaskan diri. Ia menyadari bahwa yang membawanya ke ruangan itu adalah seorang laki-laki karena sangat jelas dari tenaganya.


"Kalau kau ingin selamat. Tutup mulutmu. Dan ikuti apa yang aku mau!" Laki-laki itu mengancam.


"Siapa kau? Bimo?." Dita seperti mengenali suaranya.


"Hahahah...Ternyata kau mengenaliku meski dalam kegelapan." Tawa Bimo sedikit menyeramkan.


"Aa..apa maumu?." Terdengar rasa takut dari ucapan Dita.


"Aku mau KAU!. Kenapa dari dulu kau sama sekali tak pernah menerima sinyalku hah?!." Bimo mendekatkan diri kepada Dita hendak mencium.


"Bimo....Tidak begini caranya." Dita mundur ke arah pintu.


"Apa aku harus memaksamu untuk kedua kalinya? Aku akan mencobanya lagi. HAHAHA.." Bimo yang ternyata berada di bawah pengaruh alkohol bicara meracau.


"Apa maksudmu?." Dita terbelalak mendengar ucapan Bimo.


"Ternyata kau ini wanita bodoh. Kau masih belum sadar bahwa aku dulu yang menginginkanmu?." Kini Bimo menarik tangan Dita dengan keras hendak memeluk.


"Lepaskan. Apa maksudmu?." Dita menepis tubuh Bimo sambil tetap menuntut jawaban dari pernyataan Bimo.

__ADS_1


"Kali ini kau tak akan bisa lepas dariku. Aku akan menikmati tubuh ini." Tenaga Bimo ia tambah untuk memeluk tubuh Dita.


Dita yang terkejut dengan pernyataan Bimo kini mendorong dengan sekuat tenaganya hingga tubuhnya membentur keras pada gagang pintu sebelum akhirnya ia berhasil keluar dari ruangan menakutkan itu. Sialnya, ia tersandung pembatas pintu ketika keluar dan membuatnya tersungkur ke tanah.


"NONA!." Pengawal yang sejak tadi mengawasi Dita segera menghampiri. Celakanya pandangan mereka terlewat saat Bimo menarik Dita ke ruangan terkutuk itu.


Dua pengawal lagi segera mengecek ruangan Dita berasal dan menemukan Bimo.


"Nona, apa nona baik-baik saja?." Ekspresi wajah Dita terlihat pias, tatapan matanya kosong, namun air mata mengalir deras dari kedua kelopak matanya.


Dita segera dibawa ke rumah sakit. Selama perjalanan pengawal tersebut memberi laporan kepada Bima.


Begitu berita tersebut sampai di telinga Romi, Romi bergegas mengemudikan mobil dengan amarah yang sedang menguasainya.


***


"Apa kalian main-main? Bagaimana bisa hal seceroboh ini terjadi?." Bima tak kalah emosi.


"Maafkan kami tuan." Ketiga pengawal tak berani berbuat apa-apa. Yang mereka tahu, hidup mereka akan berakhir malam itu.


***


"Dokter apa yang terjadi dengan istri saya?." Romi yang sedang tak karuan menodong dokter ketika ia tiba di rumah sakit.


"Mohon maaf, tuan. Sepertinya telah terjadi benturan cukup kuat yang mengakibatkan bayi yang ada di dalam kandungan nona Dita tak bisa bertahan. Kami sedang mempersiapkan untuk proses kuret." Dokter Nina berlalu meninggalkan Romi menuju ruang operasi.


Seketika tubuh Romi lunglai tak berdaya. Bima yang ada di ujung lorong beribu kali lipat merasa bersalah mendengar penjelasan dokter barusan.


Dengan langkah tertatih Romi memasuki ruang perawatan sementara, menemui istrinya yang sedang terbaring lemah.


"Sayang." Dita hendak bangun dari tempat tidurnya begitu Romi tiba di ruangan. Romi mencegahnya. Romi duduk di samping tempat tidur. Dita segera menghambur ke dalam pelukan suaminya. Ia peluk sangat erat, seperti hendak melepaskan semua ketakutannya di sana.


"Aku takut." Dita terisak kuat dengan badan bergetar. Romi khawatir dengan kondisi istrinya.


"Aku ada di sini. Maaf karena datang terlambat." Romi membalas pelukan istrinya, menepuk punggung dan mengelus rambut Dita, berusaha menenangkan istrinya.


"Menangislah jika bisa membuatmu merasa lebih baik. Aku akan selalu ada di sini." Tangis Dita masih tak surut hingga ia kelelahan dan akhirnya terlelap.


***


Dita sudah dibawa ke ruang operasi untuk tindakan kuret.


Romi menunggu di luar dengan cemas.


"Apa yang membuat istriku menjadi ketakutan seperti ini?." Suara Romi terdengar sangat dingin kepada Bima.


"Mohon maaf sebelumnya tuan. Bimo yang tadi menyekap nona muda ternyata adalah laki-laki yang dulu hendak memperk*sa nona. Kenyataan ini sepertinya membuat nona sangat terpukul." Bima tak berani menatap mata Romi.


Terlihat tangan Romi mengepal dengan keras. Bima sudah tau apa yang harus ia lakukan.


"Rahasiakan perihal operasi ini dari siapapun!."


"Baik, Tuan."


Romi memutuskan tidak akan membiarkan siapaun tahu mengenai keguguran Dita, termasuk Dita sendiri.


Ia mempunyai alasan cukup kuat untuk merahasiakan semuanya. Ia tak ingin menambah beban dan kesedihan untuk istrinya, yang ia tahu selama ini sudah sangat berusaha keras untuk memberinya keturunan.

__ADS_1


Biar ia sendiri yang menyimpan berita duka dan kesedihan ini.


Bersambung...


__ADS_2