
***
Dita digiring untuk naik ke tempat tidur segera setelah proses pembersihan lukanya selesai.
“Jangan kemana-mana!.” Romi memperingati Dita agar tak turun dari tempat tidur.
“Iya, Tuan.” “Mana berani aku kabur kalau kau sudah bertitah begini. Tuhan sampai kapan aku akan hidup seperti ini?. Hiks...” Dita merutuki nasibnya yang sudah terlanjut terjerat dalam pernikahan yang ia sendiri tak tahu statusnya.
Pernikahan kontrak? Di dalam perjanjian bahkan tak tertulis jangka waktu kontrak. Pernikahan sungguhan? Cih, bahkan itu terdengar seperti sebuah bualan terbesar abad ini. Mana ada pernikahan sungguhan membuatnya seperti saat ini. Meskipun tak semua pernikahan berjalan sesuai keinginan, minimal ada fase naik turun, kadang
bahagia, kadang kecewa. Pernikahannya ini dari awal sudah tak jelas tujuannya, yang secara tidak langsung diputuskan sepihak dengan berbagai ancaman yang membuatnya tak bisa menolak.
Yang bisa diharapkan Dita hanyalah kehidupan kakaknya terjamin. Ia tak ingin masalah bisnis kakaknya membuatnya kembali mengalami masalah kesehatan seperti terakhir kali saat mengalami serangan jantung.
Sambil menunggu Romi selesai mandi Dita memainkan ponselnya. Beberapa panggilan tak terjawab dan beberapa pesan masuk ke ponselnya. Sejak pagi memang ia sudah disibukkan mengurus tuan muda sehingga sama sekali tak membuka ponselnya. Bahkan ia tak sempat mengabari Nisa kalau hari ini ia tak bisa datang ke toko.
“Nis, maafin gue. Tadi pagi ga sempet ngabarin. Jangan marah yaaa.” Dita menghubungi sahabat karib sekaligus partner kerjanya itu melalui sambungan telepon.
“Huh, lo tu kebiasaan ya. Bikin orang panik, ga ngasih kabar, dihubungi juga ga bisa. Lo baik-baik aja kan?.” Nisa mengomel sekaligus cemas di ujung telepon.
“Maafin yaaa. Sejak pagi sibuk ngurusin suami gue yang lagi sakit.” Dita menyampaikan alasannya mengapa tidak bisa datang ke toko.
“Ohh...Syukur deh. Gue kira ada masalah apa. Gue masih trauma dengan insiden waktu lo ngilang dulu tauu.” Kini Nisa bisa bernapas lega ketika mendengar bahwa sahabatnya itu baik-baik saja.
“Haha..enggalah. Gue baik-baik aja kok.” Suara Dita sedikit bergetar, seperti tak singkron antara ucapan dengan kenyataannya.
“Dit, lo yakin baik-baik aja?. Kok gue merasa lo lagi ga baik-baik aja ya?.” Nisa yang memang
__ADS_1
sudah cukup lama mengenal Dita bisa membaca nada suara sahabatnya itu.
“Beneran, Nis. Udah ya gue tutup dulu teleponnya. Mau ada yang disiapin.” Dita cepat mematikan panggilan suaranya. Segera ia benamkan seluruh tubuhnya di bawah selimut. Terdengar samar isak tangis dari dalam selimut. Rupanya Dita yang mengatakan bahwa dia baik-baik saja, saat ini sedang manangisi nasib malangnya.
“Huh...Kenapa gue jadi melow begini sih. Dit, lo harus bisa menghadapi ini semua. Yakin pasti bisa!.” Dita menasehati dan memberi semangat untuk dirinya sendiri.
Lelah dengan tangisannya, akhirnya Dita tertidur dengan selimut menutupi sampai kepalanya. Romi yang sudah selesai mandi, rupanya memperhatikan istrinya sejak tadi ketika menelepon Nisa.
Romi mendudukkan dirinya di sofa bekas tempat tidur istrinya, memandangi bunga di taman yang sedang bermekaran karena semalaman disiram hujan, sedikit menenangkan pikirannya yang agak kacau karena insiden yang barusan ia lihat.
“Betah sekali dulu ia tidur di sini, bahkan berbulan-bulan.” Romi yang mencoba merebahkan tubuhnya di sofa itu merasa kesal karena terlalu sempit untuk ukuran tubuhnya.
Karena ukuran sofa yang tak mendukung, Romi mengurungkan diri untuk berbaring di sana. Kini ia menuju tempat tidur, ia dapati istrinya yang masih tertutupi selimut dari ujung kaki sampai ujung kepala.
“Kenapa kau hobi sekali menyelimuti diri seperti ini, apa kau bisa bernapas?”. Romi menurunkan sedikit selimut hingga wajah Dita kali ini bisa ia pandangi. Matanya terlihat sekali seperti orang habis menangis, ia rapikah beberapa rambut yang menutupi mata istrinya.
***
“Nak, apa kau baik-baik saja? Ibu sejak tadi mencemaskanmu.” Ibu langsung menghambur ke arah Romi, memeriksa keadaan anaknya yang sejak pagi ia cemaskan.
“Romi baik-baik saja bu.” Jawab Romi siangkat.
“Apa dia mengurusmu dengan baik?.” Ibu meragukan menantunya yang sejak pagi padahal sudah sangat
direpotkan oleh anaknya.
“Iya bu. Romi pamit dulu bu.” Romi berlalu meninggalkan ibu menuju ruang kerjanya.
__ADS_1
***
Ketika Dita terbangun hari sudah malam. Romi sudah berada di sampingnya masih sibuk dengan laptopnya.
“Maafkan saya tuan, saya ketiduran!.” Dita terkejut dan reflek untuk bangun dari tidurnya.
“Sudah kubilang jangan turun dari tempat tidur.” Romi memperingatkan.
“Yang sakit hanya jempol kakiku, Tuan. Bukan seluruh kakiku. Aku masih terlalu kuat jika hanya untuk berjalan.” Dita kesal atas perintah kurang masuk akal dari suaminya.
Romi singkirkan laptopnya kemudian menuju meja yang sudah terdapat beberapa menu makanan. Membawa ke arah tempat tidur, kemudian duduk di samping istrinya.
“Saya bisa makan sendiri, tuan.” Dita terperanjak dan refleks mengambil piring dan sendok yang tadi hendak disuapkan ke mulutnya.
Romi tak kalah cepat, ia tarik piring dan sendok yang tadi hendak diambil Dita.
“Jangan salah paham. Aku hanya ingin membalas budimu tadi pagi. Aku bukan tipe orang yang suka berhutang, apalagi berhutang budi. Cepat buka mulutmu.” Romi kembali menyendokkan makanan ke mulut Dita. Kali ini tak mendapat penolakan.
Dita sangat tak terbiasa dengan tingkah suaminya. Hingga selesai makan ia terus memerhatikan wajah suaminya yang bertingkah aneh.
Usai makan malam tak biasa, Dita meminta ijin untuk ke kamar mandi.
“Bahkan untuk ke kamar mandi saja harus meminta ijin. Menyedihkan sekali kau, Dit.” Dita kembali meratapi nasib malangnya ketika sampai di kamar mandi. Kali ini agak lama ia membersihkan diri dan berendam air hangat.
***
Malam itu Dita kembali memasang pengaman pembatas tidur mereka. Romi kali ini membiarkan pembatas itu berada di posisinya hingga pagi tiba.
__ADS_1
Bersambung...