
Hari sudah hampir subuh. Pertengkaran malam itu telah berakhir. Romi kini mendekap erat tubuh istrinya, seolah tak ingin lagi ia kehilangan. Dita kembali tertidur karena telah melewati hari yang melelahkan secara fisik dan mental.
"Tolong gunakan isi di dalam kepalamu yang mungil ini dengan benar. Jangan gunakan untuk berpikir yang macam-macam." Romi mengelus-elus kepala Dita dengan lembut, sesekali ia beri kecupan di keningnya. Kehilangan istri beberapa jam, membuatnya begitu takut dan tak ingin melewatkan momen baikan mereka.
"Lihat matamu sampai bengkak begini." Romi kini menciumi ke dua kelopak mata Dita yang benar-benar bengkak karena menangis seharian.
***
Mereka sama-sama bangun kesiangan. Sebenarnya Romi tadi sudah bangun lebih dulu, tapi ia kembali menarik selimutnya dan menikmati pelukan pagi dari istrinya yang masih tertidur sangat pulas.
Hari ini sengaja ia tak membangunkan Dita, dan membiarkan istrinya bolos kerja.
Hari sudah menunjukkan pukul sepuluh, Dita terbangun gelagapan. Sudah sangat terlambat baginya untuk berangkat ke kantor.
Romi terbangun karena gerakan grasak-grusuk istrinya.
"Sayang...Hari ini tidak perlu berangkat ke kantor. Bima sudah mengurus ijinmu." Romi menghentikan aktifitas Dita yang sedang bersiap untuk mandi dan berangkat kerja.
"Apa boleh begitu?." Dita tak enak hati jika harus ijin lagi hari ini.
"Kau sudah mendapat ijin dari bosmu." Romi meyakinkan.
"Benarkah?." Dita sedikit bernapa lega. Namun ia tetap berlalu ke kamar mandi. Romi hanya menggangguk lemah karena ia masih mengantuk.
***
"Ada apa dengan wajahku?." Dita terkejut saat melihat wajahnya di cermin. Matanya benar-benar sembab dan merah, hidungnya memerah, bibirnya sedikit bengkak, dan rambutnya benar-benar kusut. Ia menutup wajahnya malu, mengingat barusan ia menampilkan penampakannya yang berantakan di depan suaminya.
"Bodoh...bodoh..." Dita merutuki dirinya sendiri ketika mengingat kejadian kemarin.
"Kenapa pakai acara ketiduran segala sih." Sebenarnya awalnya Dita tak berniat kabur. Ia mampir ke kantor karena tak ada lagi tempat lain yang bisa ia tuju untuk menenangkan diri. Namun sayangnya ia ketiduran hingga tengah malam.
Pagi itu agak lama Dita beraktifitas di kamar mandi. Ia terkejut ketika mendapati adanya darah dari jalan kahirnya saat ia hendak mengenakan pakaian dalam. Dita menjadi panik karena ia tau saat ini ia hamil berdasarkan hasil pemeriksaan kehamilan yang ia lakukan di apotek kemarin.
"Bagaimana ini?." Dita tak berani keluar kamar.
"Sayang...Kenapa lama sekali di kamar mandi? Kau baik-baik saja kan?." Romi yang sejak tadi menunggu istrinya selesai bersih-bersih kini merasa khawatir karena Dita sudah lebih dari satu jam setengah berada di kamar mandi.
"I..iya sayang." Dita menyahut dengan suara agak serak.
__ADS_1
"Buka pintunya kalau kau memang baik-baik saja." Romi merasa ada yang tidak beres.
'Ceklek.' Pintu kamar mandi dibuka oleh Dita.
"Sayang, kau kenapa? Kenapa berdarah?." Romi panik saat melihat ada darah yang menempel di handuk putih yang dikenakan Dita.
"Aku tidak tau." Dita menjawab ragu.
"Kenapa tak bilang dari tadi? Kenapa bilang baik-baik saja." Romi segera mengambil kimono untuk dikenakan oleh Dita sebelum menggendong istrinya dan membawanya ke rumah sakit.
"Sayang aku bisa jalan sendiri." Dita menolak saat hendak digendong.
"Diam. Menurut saja." Romi tak mengindahkan permintaan istrinya.
***
"Dokter, tolong segera periksa istri saya." Romi segera menemui dokter ketika tiba di rumah sakit.
"Tuan silakan tenang, kami akan segera menangani istri tuan." Dokter berusaha menenangkan Romi yang sangat jelas terlihat panik.
"Bagaimana aku bisa tenang, istriku berdarah!." Romi tak berhasil ditenangkan. Namun dokter tak menanggapinya lagi dan langsung memeriksa keadaan Dita.
"Saya mengalami perdarahan dari jalan lahir dokter." Dita takut-takut menjelaskan. Romi memberi tatapan tajam pada dokter seolah ingin menjelaskan kalau wajar jika ia sepanik itu.
"Baik, keluhan apa lagi yang dirasakan? Apakah ada rasa nyeri atau kram pada perut nona?." Dokter melanjutkan wawancara dengan tenang.
"Iya dokter, sedikit kram di perut bawah." Dita masih takut-takut menjawab sambil melihat ekspresi suaminya.
"Kenapa kau menahannya?." Romi kembali panik saat Dita mengatakan kalau dia mengalami kram perut.
"Tidak separah itu sayang." Dita memegang tangan Romi untuk menenangkan suaminya itu.
"Baik. Kapan terakhir nona mendapatkan menstruasi?."
"Saya lupa dokter." Dita sedikit berpikir karena ia tak tahu persis kapan periode menstruasinya.
"Tapi kemari saya baru melakukan tes pack dan hasilnya ada dua garis samar." Dita melanjutkan.
"Kalau begitu ijinkan saya melakukan pemeriksaan USG untuk memastikan kondisinya." Dokter meminta asistennya untuk menyiapkan alat USG.
__ADS_1
"Hmm...Coba nona ingat-ingat lagi periode mestruasi nona." Dokter yang sedang melakukan USG merasa menemukan kejanggalan.
"Sebentar dokter." Dita mengambil ponselnya karena ia ingat mempunyai catatan periode menstruasinya di kalender.
"Ada apa dokter?." Romi kembali terlihat cemas.
"Seharusnya hari ini adalah hari pertama haid saya dokter." Dita menunjukkan kalender menstruasinya.
"Kalau begitu cocok dengan pemeriksaan saya." Dokter menyudahi pemeriksaan USG nya.
"Maksudnya bagaimana dokter?." Dita dan Romi serentak bertanya.
"Nona Dita saat ini mengalami menstruasi biasa." Pernyataan dokter membuat sepasang suami istri tersebut bingung.
"Bagaimana bisa dokter? Istri saya sedang hamil." Romi tak terima.
"Begini tuan. Pemerisaan tes pack bisa saja memberikan hasil false positive, artinya seharusnya hasilnya negatif namun terbaca positif. Makanya sangat disarankan untuk melakukan pemeriksaa USG untuk mengkonfirmasi hasil pemeriksaan test pack tersebut. Selain untuk memastikan kebenaran kehamilan, USG bisa juga untuk memastikan keadaan janin bila memang ternyata hasilnya sesuai dengan hasil test pack. Dari hasil pemeriksaan USG yang saya lakukan tadi tidak ditemukan adanya kantong kehamilan maupun janin, hanya terlihat dinding rahim yang menebal pertanda sedang meluruh atau menstruasi. Jika masih merasa belum yakin kita bisa mengulang pemeriksaan tes pack dengan menggunakan jenis yang berbeda dengan yang sebelumnya nona pakai." Dokter menjelaskan panjang lebar. Sepenuhnya Romi dan Dita mengerti maksudnya, namun sedikit bingung untuk menerima kenyataan ini.
"Silakah nona mengumpulkan air urin untuk kami lakukan pemeriksaan ulang." Perawat membuyarkan lamunan Dita.
"Ba..Baik." Dita beranjak dari tempat tidur.
Romi masih bertahan dengan posisinya. Jujur, ada rasa kecewa di hatinya setelah mendengar penjelasan dari dokter tadi.
***
Mereka kini telah berada dalam mobil untuk kembali ke rumah setelah mendapatkan hasil pemeriksaa ulang, hasilnya ternyata memang negatif.
Tak ada obrolan. Semua orang berwajah muram.
"Sayang. Maafkan aku." Dita meraih tangan suaminya, merasa tak enak hati.
"Ya..." Romi tersadar dari lamunannya.
"Tidak apa-apa sayang." Perkataan dan ekspresi wajahnya jelas sangat bertolak belakang.
"Apakah seharusnya aku merasa ikut bersedih atau justru merasa lega?." Sejujurnya Dita masih belum siap memberikan keturunan untuk Romi, ia masih belum sepenuhnya yakin terhadap hubungan mereka. Pikirannya mengenai permintaan cucu dari ibu masih menjadi ganjalan besar di hatinya. Ia masih belum yakin seratus persen bahwa Romi sendiri yang benar-benar menginginkan anak darinya, bukan karena faktor lain. Ia sendiri bahkan belum yakin dengan perasaan yang mereka punya satu sama lain, karena belum pernah ada deklarasi cinta dari kedua belah pihak.
Bersambung...
__ADS_1