LEMBARAN BARU SANG TUAN MUDA

LEMBARAN BARU SANG TUAN MUDA
KEINGINAN IBU


__ADS_3

Suatu pagi di meja makan...


Semua orang pagi ini sudah berkumpul untuk sarapan. Aktifitas ini menjadi kegiatan rutin dan wajib diikuti seluruh anggota keluarga. Yaa... ini adalah permintaan Anne. Ibu yang ingin menebus kesalahan masa lalu ia dan suaminya, dulu mereka terlalu sibuk sehingga tidak banyak waktu yang bisa mereka habiskan bersama keluarga. Kali ini Anne ingin merubahnya, merubah kehidupan di rumah ini menjadi lebih hangat. Johan mendukung sang istri, karena ia pun sepakat untuk lebih bisa mengakrabkan diri dengan keluarga.


"Bagaimana dengan pekerjaanmu akhir-akhir ini Rom?" Anne membuka pembicaraan pagi ini dengan sedikit canggung.


"Bu, bisakah tidak membicarakan pekerjaan di pagi hari begini?" Sahun Johan yang berusaha menengahi, karena tau Romi tidak terlalu suka bila ditanya mengenai pekerjaan, karena pekerjaan sudah membuatnya pusing saat di kantor.


"Tidah apa-apa ayah, Romi tidak masalah." Padahal di dalam hati ia mengamini ucapan sang ayah. "Syukur perusahaan baik-baik saja bu, saat ini sedang membuat program baru untuk Perusahaan Cabang" Romi menjawab sekenanya.


"Jangan terlalu tenggelam dalam pekerjaan nak, jangan seperti ayah dan ibu dulu." Ucap ibu lirih, terlihat dari sorot matanya ada penyesalan dan kesedihan.


"Iya bu." jawab Romi singkat.


"Kau harus mencari kebahagiaanmu nak, kau sudah dewasa. Ibu rasa saat ini kau sudah seharusnya mencari pasangan hidup. Lagi pula ibu rasa, ayah dan ibu sudah saatnya memiliki cucu." Ibu berkata sambil tersenyum tulus. Terdengar satu harapan dari ucapan ibu

__ADS_1


Jinny yang saat itu sedang menyuapkan makanan ke dalam mulut hampir tersedak saat mendengar ucapan ibu yang sudah ingin memiliki cucu. Ia merasa terancam, jika kakaknya menolak maka secara otomatis harapan itu akan ditumpukan kepadanya. Jinny hanya menunduk, tidak ingin menjadi sasaran pembicaraan ibu berikutnya


"Akan Romi pikirkan, Bu." Kata-kata Romi mengakhiri acara sarapannya hari ini. Selesai sarapan Romi pamit untuk berangkat ke kantor diantar oleh Bima sang sekretaris.


"Bu, jangan memaksakan kehendak kepada anak-anak. Biarkan mereka memilih jalan mereka, bila sudah waktunya mereka akan menikan dan memberi kita cucu." Ucap Johan tak ingin menambah renggang hubungan orang tua-anak yang saat ini sedang berusaha diperbaiki. Saat ini hanya Romi yang masih kaku dalam komunikasi dengan ayah dan ibunya, sedangkan Jinny sudah bisa bersikap baik karena memang pada dasarnya dia adalah anak yang periang, ceriwis, dan manja. Jika dulu Jinny hanya bisa bermanja dengan kakaknya saat ini ia sudah bisa bermanja dengan ayah dan ibunya.


"Iya bu, biarkan kakak memilih jalan hidupnya. Jinny yakin kalau sudah waktunya kakak pasti akan menemukan pasangannya." Jinny ikut menimpali pendapat sang ayah


"Jika ibu tidak minta kakakmu untuk segera menikah, apa kau mau untuk memenuhi permintaan ibu?" Pertanyaan ibu bagai petir di siang bolong bagi Jinny. Ia ingin segera menarik kata-katanya barusan


"Kau sudah cukup umur kan nak? Lagipula kau sudah punya Adit, ibu yakin Adit sudah siap jika kau minta ia untuk menikahimu" Ibu membalikkan keadaan, membuat Jinny gusar.


"Ibuu... menikah tidak hanya mengenai umur. Jinny rasa Jinny belum siap secara mental." Ucap Jinny sok dewasa. "Baiklah, kalau ibu benar-benar sudah menginginkan cucu, Jinny rasa ucapan ibu tadi tidak salah." Ia melanjutkan kata-katanya dengan mantap.


"Maksudmu kau setuju untuk menikah sekarang dengan Adit? Ibu akan bantu untuk berbicara perihal ini dengan Adit." Mata ibu berbinar, terlihat pancaran kebahagiaan dari sorot matanya.

__ADS_1


"Bu..buukan begitu maksud Jinny, Bu." Jinny menjadi gagap karena kesalahpahaman ibu.


"Lalu?" Ibu kecewa...


"Maksud Jinny mengenai kak Romi bu. Mungkin memang sudah saatnya kak Romi menikah." Maafkan aku kak, kau boleh mengutukku nanti, ucap Jinny dalam hati. "Jinny tau kak Romi belum punya pacar, tapi Jinny akan bantu untuk mencarikan kakak wanita yg baik untuk kakak." Ya tuhan maafkan aku, dan mohon segera pertemukan kakak dengan wanita yang baik yang mau menjadi istrinya, Jinny berdoa penuh harap.


Ada sedikit harapan bagi ibu. "Kau berjanji ya akan membantu ibu mencarikan pasangan buat kakakmu!" Ibu mencatat ucapan Jinny sebagai janji yang tidak boleh diingkari.


"Siap, buuu." Jinny bangkit sambil mencium pipi ibunya, yang ia pikirkan saat ini yang penting ia selamat dari permintaan ibu untuk menikah.


Johan yang melihat percakapan ibu dan anak itu hanya bisa menggelengkan kepala.


"Tapi pesan ayah, tolong kalian jangan terlalu memaksakan Romi. Akan tidak baik nantinya. Apalagi ini menyangkut pernikahan" Johan tau betul karakter Romi yang sulit untuk menolak keinginan orang tuanya. Seperti saat Romi diminta menggantikan posisi Johan sebagai Presdir, sebenarnya Romi merasa belum siap walaupun Johan tau bahwa Romi pasti mampu menggantikannya sebagai Presdir.


Akhirnya sarapan hari itu berakhir untuk keluarga Johan-Anne. Jinny pun ikut pamit berangkat ke lokasi pemotretan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2