LEMBARAN BARU SANG TUAN MUDA

LEMBARAN BARU SANG TUAN MUDA
JANGAN MENCOBA KABUR


__ADS_3

Bima mengatarkan Dita sesuai janjinya kepada tuan muda. Atmosfer di dalam mobil yang hanya berisi satu pengemudi dan satu penumpang itu hening. "Kemana lagi tuan akan mengantarkan saya?." Dita yang ternyata sedari tadi hanya mengikuti ajakan Romi tanpa tahu tujuannya memberanikan diri bertanya, nada suaranya terdengar lesu dan pasrah seperti seseorang yang tak punya energi.


"Nona akan tahu ketika kita sampai tujuan." Benar saja, tak ada gunanya Dita bertanya pada makhluk aneh satu ini.


"Apa coba susahnya menjawab pertanyaanku barusan dengan benar." Bisik-bisik dengan gumam kecil.


"Semua rencana pernikahan sudah disiapkan. Resepsi akan digelar minggu depan." Ucapan Bima barusan bagaikan sambaran petir yang menyambar anggota tubuh Dita.


"Apaaa? Pernikahannya akan digelar minggu depan?." Dita berteriak tak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Nona tidak lupa kan dengan yang saya ucapkan tadi, saya tidak pernah mengulang kata-kata saya. Dan di dalam hidup saya tidak ada kata bercanda." Bima membuat Dita tak berkutik.


"Apa kalian sudah gila. Saya perlu mendiskusikan ini dengan keluarga saya. Pernikahan bukan suatu hal yang main-main." Masih sedikit berteriak, tersulut emosinya.


"Apa kecelakaan kemarin membuat nona menjadi sering lupa? Tapi dokter bilang tidak ada luka serius di kepala nona." -Bima


"Apa maksudmu? Kenapa kalau bicara susah sekali untuk dimengerti?. Apa kau tidak biasa berbicara dengan sesama manusia sehingga susah sekali perkataanmu untuk dicerna oleh manusia?" Dita semakin emosi.


"Surat yang tadi nona sudah tandatangani." Jawab Bima singkat


"Sial, kenapa aku bisa lupa dengan surat perjanjian itu?" Seketika Dita terdiam saat mengingat kembali isi perjanjian itu. Bahkan tandatangan di atas materai atas namanya sudah sah secara hukum membuatnya terikat dengan Romi, tak ada yang bisa mengganggu gugat, keluarganya sekalipun. Hanya Romi yang punya kuasa atas dirinya saat ini. (Dan Tuhan tentunya 😁)


"Jangan pura-pura lupa, apalagi mencoba kabur dari kenyataan ini. Saya hanya ingin mengingatkan, mudah saja bagi tuan muda untuk mengubah hidup nona, tergantung dari apa yang nona perbuat nantinya." Kalimat barusan mengakhiri pembicaraan mereka, karena mobil sudah berhenti di tempat tujuan tanpa Dita sadari. Seketika Dita melihat ke arah luar mobil, ternyata ia diantar ke rumahnya. Awalnya agak terkejut, bagaimana bisa Bima mengetahui tempat tinggalnya. Setelah mengingat-ingat obrolan mereka sebelumnya, sepertinya ia mulai sadar dengan siapa ia berhadapan.


"Besok akan ada acara pengukuran baju pengantin. Harap datang tepat waktu. Saya pamit." Bima menundukkan kepalanya saat pamit. Kali ini Dita mencoba tak begitu terkejut mendengar permintaan barusan, ia nampaknya sedang berusaha beradaptasi dengan situasi yang sekarang ia hadapi. Bisa jadi esok hari atau bahkan sedetik kemudian akan ada kejadian-kejadian yang lebih mengejutkan lagi.


Dita masih mematung hingga mobil yang dikendarai Bima tak nampak lagi di pandangan matanya. Saat hendak memasuki rumah ia tersadar akan satu hal, "Di mana ia akan melakukan pengukuran baju pengantin?". Tadi sekretaris sialan itu tak sempat memberikannya informasi.

__ADS_1


'Kling' Notifikasi pesan masuk ke ponsel Dita. Pesan tersebut berbunyi, "Xxx Bride Boutiqe, Jl. Abc No. 123, pukul 16.00 pm". Dari nomor yang tak dikenal


"Luar biasa, bagaimana bisa dia membaca pikiranku, dan bagaimana ia tahu nomor ponselku." Dita menggelengkan kepala berkali-kali seperti takjub dengan apa yang barusan terjadi, ia tahu pesan barusan adalah pesan dari Bima.


------------------------------------------


Hari yang panjang ia lalui. Saat ia pulang sepertinya semua orang sudah terlelap. Segera ia menuju kamar yang sudah beberapa hari ini ia tinggal, membersihkan diri lalu berbaring di kasur. Matanya menapat kosong langit-langit kamar, mencoba mengingat kembali kejadian beberapa hari terakhir, terutama hari ini. Hari ini adalah hari yang akan mengubah dan menentukan hidupnya ke depan, mungkin sampai akhir hidupnya. Lelah dengan pikirannya akhirnya Dita terlelap menuggu hari esok yang tak kalah melelahkan.


Yang sedang berada di tempat berbeda sudah tidak sabar menanti waktu ia menyiksa perempuan yang dianggap menjadi awal dari kehancuran kehidupannya.


----------------------------


Pagi itu Dita bangun lebih siang dari biasanya. Ia sudah menginformasikan kepada karyawannya bahwa hari ini ia akan datang terlambat. Ya, Dita saat ini menggeluti usaha minuman dan cemilan yang hits di pasaran.


Suara perutnya terdengar nyaring, setelah diingat-ingat terakhir ia makan adalah sebelum keluar dari rumah sakit. Dengan gontai Dita menuju dapur untuk mengisi perutnya yang sudah protes.


Dita yang bahkan sudah lupa dengan kejadian kecelakaan dan kejadian tak pulang ke rumah beberapa hari ini agak bingung menanggapi kepanikan kakaknya. "Oh iya kak, maafin Dita. Kemarin ada sedikit tragedi, dan handphone Dita sempat hilang jadi ga bisa kasih kabar. Maaf kalau sudah bikin kakak cemas. Tapi sekarang sudah gapapa kok." Dita berusaha mengurangi kepanikan kakaknya.


"Ya Tuhan syukurlah. Jangan diulangi lagi yaa. Jangan buat kakak cemas. Hari ini hampir saja kakak ke kantor polisi untuk membuat laporan orang hilang. Kamu tahu betapa berharganya kamu bagi kakak." Semenjak kedua orang tua Dita meninggal, hanya Dimas keluarga yang ia punya. Dimas dititipkan untuk menjaga adik semata wayangnya ini.


"Ia Dita janji. Sekali lagi maafin Dita ya kak." Menunjukkan dua jari telunjuk dan tengahnya membuat janji kemudian memeluk kakaknya. Ia tahu kalau sudah begini kakaknya pasti tidak akan marah lagi.


Bersyukur Dita masih memiliki seorang kakak yang begitu menyayanginya. Namun sayangnya ia dan kakak iparnya memiliki hubungan yang kurang baik. Selama ini di belakang Dimas, kakak iparnya itu sering memperlakukan dia kurang baik. Untuk menjaga keharmonisan hubungan suami istri kakaknya, Dita memilih untuk menyembunyikannya dari kakaknya. Entah apa yang membuat Putri, istri Dimas memperlakukan Dita kurang baik. Mungkin karena perlakuan Dimas yang begitu menyayangi adiknya sehingga membuat Putri menaruh rasa iri dan merasa disaingi, ditambah hasutan dari paman dan bibi Dita yang juga tidak menyukai Dita. Paman dan bibi yang tidak menyukai Dita karena Dita suka dibanding-bandingkan dengan anak-anak mereka. Ya, Dita memang termasuk anak yang pintar, rajin, sopan, dan supel. Tak heran jika ia menjadi anak berprestasi dan mudah bergaul, bahkan saat kuliah ia mendapat beasiswa.


"Iya Dit, kita semua mencemaskanmu loh. Beberapa hari ini mbak sibuk minta tolong kenalan mbak buat cari info keberadaan kamu. Kamu ga ada masalah apa-apakan?". Putri kala itu mengaktifkan mode sok baiknya karena sedang di depan Dimas, tapi tidak lupa terselip pertanyaan yang sedikit memojokkan Dita.


"Hehe maaf ya mbak. Ga ada masalah apa-apa kok mbak." Dita menanggapi dengan canggung dibumbui tawa yang sedikit dipaksakan.

__ADS_1


"Sudah-sudah tadi kan Dita udah bilang ga ada masalah. Ayo kita lanjut sarapan." Dimas mengajak Dita yang sedari tadi sudah kelaparan. Putri menatap Dita dengan kesal, tentu saja saat Dimas tidak sedang melihatnya.


--------------------------------------


Usai sarapan Dimas pamit ke kantor. Putri dan Dita sibuk membereskan meja makan karena kebetulan mereka tidak memiliki asisten rumah tangga, karena kebetulan beberapa bulan ini kondisi keuangan kakaknya sedang tidak stabil. Saat Dimas hendak meninggalkan rumah secepat kilat Dita menghampiri kakaknya, mengantarkan menuju pintu.


"Tumben pake nganterin segala." Celetuk Dimas yang melihat tingkah tak biasa adiknya.


"Hehe... gapapa kak. Kan udah lama ga ketemu. Kak Dita boleh tanya?." Bener kan ada maunya.


"Hmm... mau tanya apa? Pasti deh kalo lagi kaya gini kamu itu ada maunya kan? Mau tanya apa? Kalo masalah bisnis nanti bayar biaya konsulnya ya!." Dimas sudah bisa menebak kelaukan adiknya itu.


"Kakak emang yang paling tau Dita hahaha..." Tawanya garing, karena saat ini ia sedang mengumpulkan keberanian untuk menanyakan perihal kondisi bisnis kakaknya yang selama ini memang tidak pernah ia ikut campur, sekaligus ia ingin menginformasikan masalah pernikahannya minggu depan. Ingat menginformasikan, bukan meminta persetujuan. Itu yang membuatnya takut untuk menyampaikan kepada kakaknya.


"Akhir-akhir ini gimana dengan bisnis kakak?" Akhirnya memberanikan diri.


Dimas mengerutkan keningnya. "Kamu sehatkan, Dit? Kok tumben nanya beginian?". Dimas memeriksa kening adiknya menggunakan punggung tangan kanannya.


"Hahaha Dita kan udah bilang kalo Dita baik-baik aja. Dita cuma pengen tau aja. Kakak kan lebih jago ilmu bisnisnya. Kebetulan Dita lagi ada masalah dengan pemasaran produk baru di tokonya Dita." Dita mencari-cari alasan agar tampak mencurigakan.


"Yaa, namanya bisnis ya pasti aja ada turun naiknya. Memang beberapa bulan lalu sempet lagi down-down nya. Tapi beberapa minggu ini sudah mulai stabil. Jangan khawatir, namanya usaha ya begitu. Kalo ada apa-apa sama tokomu nanti kasih tahu kakak aja, mana tahu bisa dibantu. Udah ah, kamu bikin kakak telat." Dimas berlalu meninggalkan Dita dan menyempatkan mengacak-acak rambut adiknya yang memang sudah berantakan.


Dita masih mematung berusaha mencerna perkataan kakanya barusan. "Apa benar yang membantu masalah bisnis kakak adalah tuan muda mengerikan itu? Berarti benar apa yang dikatakan sekretaris brengsek itu kalau mereka tak pernah main-main dan punya kekuasaan sebegitu besarnya?." Akhirnya Diita bisa membuat kesimpulan yang tepat, yang membuat ia semakin bingung dengan posisinya sekarang.


"Heh ngapain berdiri di sana? Buruan cuci piring dan beresin dapur!". Putri yang sudah kembali ke mode nenek sihir membuyarkan lamunan Dita.


"Iya, mbak." Dita tak bisa menolak perintah sang nenek sihir 😅😅😅

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2