LEMBARAN BARU SANG TUAN MUDA

LEMBARAN BARU SANG TUAN MUDA
FIRST NIGHT


__ADS_3

Ia raba tangan yang tadi terlingkar dipinggangnya hingga mencapai lengan atas. Kekar dan berotot. Dita terperanjak, segera ia bangun dan hendak turun dari tempat tidur dengan napas yang mulai tak beraturan.


Gerakannya ternyata kalah cepat, tangan tersebut semakin melingkar erat, mencegah Dita kabur.


"Lepaskan aku..Tolong...Siapa kau? Aku mohon tolong lepaskan aku." Dita yang panik tak dapat melihat dengan jelas karena lampu kamar ternyata sudah dimatikan.


"Apa kau sudah lupa dengan suamimu sendiri? Baru setengah hari tak di rumah kau sudah lupa?." Suara Romi tiba-tiba membuat Dita lega. Baru kali ini kata-kata menyebalkan dari Romi berhasil membuatnya tenang, biasanya selalu saja membuat kesal.


"Tu...tuuan...Kenapa tuan bisa ada di sini?." Dita mencoba bangun dari tidurnya, namun lagi-lagi dicegah. Pelukannya makin erat, kali ini Romi sudah menyandarkan kepalanya di bahu Dita.


"Apa kau tak suka aku ada di sini? Bisakah kau mengubah panggilan menyebalkanmu itu? Kau bahkan sudah mengubah panggilanmu untuk sekretarisku." Romi kini mulai menciumi leher Dita dan napas hangatnya membuat Dita bergidik.


"Tuhan...Tolong aku...Ada apa dengan laki-laki ini. Mengapa sikapnya sangat berbeda? Jangan biarkan aku terjerat oleh perlakuan lembutnya ini." Malam itu Romi memang sangat berbeda dari sebelumnya, nada bicaranya lembut, perlakuannya pun terasa sangat berbeda.


"Kenapa tak menjawab? Apa kau mau aku hukum?." Romi menggigit kecil telinga Dita. Membuat perasaan Dita tak karuan. Bercampur antara sedikit sakit, geli, hangat, dan berdebar.


"Tidak, Tuan. Maaf." Hanya kalimat itu yang dapat terucap.


"Jadi kau belum memutuskan panggilan apa yang akan kau berikan kepada suamimu? Haruskah aku yang menentukannya?." Kali ini Romi sedikit melonggarkan pelukannya, sehingga pandangan mereka bertemu. Ia kecup lembut bibir Dita, lama kelamaan semakin dalam. Tak ada balasan dari Dita. Romi sedikit menggigit bibir bagian bawah istrinya, membuat Dita membuka mulutnya dan membuat Romi bisa lebih leluasa menikmati bibir istri sahnya. Ia lepaskan ciuman ketika Dita mulai kehabiaan napas.


Jantung semakin berdebar dan membuat Dita semakin tak karuan, bingung dengan apa yang sedang terjadi. Ia terlalu sulit untuk memahami situasi saat ini, apalagi untuk memikirkan panggilan apa yang akan ia berikan kepada suaminya.


"Jadi, panggilan apa yang akan kau berikan?." Romi mengulang kata-katanya.

__ADS_1


"Terserah, Tuan." Dita pasrah.


"Baiklah, kalau begitu aku yang akan menentukan. Bagaimana kalau dengan panggilan 'Sayang'?." Romi seenaknya menentukan.


"Baik, Tuan." Dita cepat menjawab tanpa berpikir. Yang ia inginkan saat ini hanyalah segera mengakhiri situasi aneh ini.


"Apa? Mengapa ucapanmu tidak sesuai dengan perbuatanmu?." Romi gemas. Kembali ia memberikan hukuman, dan kali ini mulai menyusuri leher Dita dan lama kelamaan menuju area dada. Baju tidur yang Dita kenakan memang sedikit terbuka. Semua ternyata sudah diatur sedemikian rupa untuk memudahkan aksinya.


"Tua..Sa..sayang. Apa yang kau lakukan?." Dita mencoba mencoba mendorong badan suaminya, tak ada hasil. Yang ada malah kecupan semakin menjadi dan membuat Dita kewalahan. Ia merelakan menyebut panggilan 'sayang' demi lolos dari hukuman.


"Aku ingin mengambil hakku. Hakmu kan sudah kau ambil, kau sudah kuberikan hak untuk bekerja, bahkan ke luar kota." Romi ternyata mulai main hitung-hitungan.


"Oh..Tuhan. Kalau begini jadinya lebih baik aku menolak permintaan pak Beni kemarin." Dita kini menyesali perjalanan bisnisnya, padahal sebelumnya ia senang setengah mati.


"Aku sudah menjadi suami sahmu, apa lagi yang membuatmu ragu? Apa ada orang lain di hatimu?." Romi lagi-lagi bersuara karena sejak tadi tak mendapat jawaban, kali ini sedikit menuduh.


"Tidak, Sa..Sayang." Dita tak ingin membuat Romi salah paham lagi. Kejadian terakhir mengenai Rian sudah cukup membuatnya trauma, ia tak ingin kejadian itu terulang.


Kali ini Romi sepertinya sudah tidak tahan. Meski tak secara langsung mendapat persetujuan dari Dita, ia secara perlahan mulai menanggalkan pakaian istrinya. Satu persatu pakaian Dita lepas dari tubuhnya, kini ia hanya mengenakan pakaian dalam yang tertutup selimut.


Tubuh Dita seketika berubah menjadi kaku. Tak bisa dihindari, kejadian masa lalunya kali ini muncul kembali. Napasnya tiba-tiba memburu tak beraturan. Kali ini Romi sudah memahami situasi, tak ingin ia main kasar lagi. Perlahan ia sentuh pipi Dita, memberikan sentuhan lembut, membuat mata Dita yang tadinya terpejam menjadi terbuka.


"Tenang. Aku tidak akan menyakitimu, Sayang." Romi membisikkan kata-kata manis. Ia berikan kecupan lembut, kali ini berupa kecupan singkat. Dita menjadi sedikit tenang, napasnya mulai teratur.

__ADS_1


Kembali mulai ia lucuti semua pakaian dalam Dita hingga membuatnya benar-benar telanjang bulat.


"Tenang. Aku tidak akan menyakitimu." Kata-kata itu terus Romi ucapkan ketika Dita mulai terlihat panik, hingga akhirnya mereka benar-benar melakukan penyatuan.


Selama masa penyatuan, tak jarang Dita kembali tersengal dan mengeluarkan air mata karena masa lalu buruk yang tak ia inginkan kembali muncul di kepalanya. Namun sesuai janji Romi, malam itu ia melakukannya dengan benar-benar lembut. Sesekali ia hentikan aktifitas menghentaknya ketika napas Dita mulai memburu, menenangkannya dengan memberikan kecupan hangat sebelum kembali melakukan hentakan-hentakan lembut.


Malam itu berakhir setelah Romi melakukan pelepasan. Ia begitu bergairan malam itu. Ia lihat wajah istrinya begitu kelelahan, yang segera terlelap begitu aktifitas mereka selesai.


"Tidurlah sayangku. Kau pasti sangat lelah. Terimakasih telah memberikan kewajiban mu. Maafkan aku yang mungkin terlalu cepat menuntut hakku." Romi kembali memberikan kecupan lembut di bibir istrinya.


Malam itu menjadi malam pertama bagi keduanya. Kini tak ada keraguan lagi dalam diri Romi setelah ia benar-benar mendapatkan kesucian istrinya. Malam itu ia kembali mengingat tuduhan kejinya kepada Dita dulu, yang membuatnya hampir menambahkan luka pada istrinya.


Namun dengan kejadian itu, kini Romi menjadi tahu celah untuk bisa mengobati luka masa lalu istrinya. Ia berusaha selembut mungkin memperlakukan istrinya saat bercinta, agar kenangan mengenai pelecehan seksual yang pernah dialami istrinya sedikit demi sedikit terhapuskan.


***


Udara dingin di pagi hari membuat kedua manusia yang habis kerja berat semalam enggan untuk beranjak. Romi sejak tadi sebetulnya sudah bangun, namun ia masih menyibukkan diri dengan menatap wajah lelah istrinya yang masih terlelap.


"Kenapa kau belum sadar juga. Apa sikap ku selama ini masih kurang jelas dalam menunjukkan perasaanku. Atau memang kau yang terlalu bodoh?". Romi kesal, karena perasaannya pada Dita tidak ditangkap dengan baik sinyalnya.


Dita memang bukan tipe yang mudah menangkap perasaan orang lain. Apalagi sebenarnya sikap Romi selama ini memang sulit dipahami, perlakuannya memang tidak pernah lembut kepada Dita. Tapi benar seperti kata Nisa, sikap menyebalkannya adalah bentuk rasa cintanya. Ia melakukan itu karena ingin mendapat perhatian dari Dita, meski pada akhirnya sikapnya ternyata semakin membuat Dita menjauh.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2