LEMBARAN BARU SANG TUAN MUDA

LEMBARAN BARU SANG TUAN MUDA
MEMASTIKAN


__ADS_3

***


Malam ini Dita membawa pulang pekerjaan karena dua hari tak masuk. Ia terlihat tak kalah sibuk dengan presdir Dwidarma yang setiap harinya membuka laptop sebelum tidur untuk mengecek pekerjaan.


"Sayang, aku boleh ijin mengerjakan pekerjaanku yang terlewat beberapa hari ini ya?." Dita meminta ijin dulu kepada suaminya.


"Ya." Romi menjawab singkat. Perkataannya terdengar ambigu. Mulutnya mengatakan iya, namun ekspresi wajahnya jelas mengatakan tidak.


Dita yang melihat ekspresi tak senang dari wajah Romi mengurungkan niatnya untuk lembur.


"Haha...Sepertinya aku bisa mengerjakannya besok saja." Dita buru-buru menutup laptopnya dan beranjak bergabung ke tempat tidur.


"Ayo kita tidur saja, sudah malam." Dita langsung menutup badannya dengan selimut sebatas leher. Kini hanya wajahnya yang ia tampakkan.


Romi tersenyum ketika kodenya berhasil diterima oleh Dita.


"Kenapa tidak melanjutkan pekerjaanmu? Bukankah pekerjaanmu sepertinya terlihat penting?." Romi menyindir.


"Tidak sepenting itu kok. Berselimut di cuaca seperti ini rasanya lebih menarik."


"Lebih mengerikan jika kau ngambek karena aku kerja hingga larut malam."


Dita mengeratkan selimutnya, masih di posisi menghadap langit-langit dan mulai ingin memejamkan mata.


"Kau ingin menggodaku ya?." Romi menarik Dita mendekat.


"Eh...Tidak suamiku." Dita gugup.


"Apa maksudmu lebih menarik berselimut di cuaca begini?." Romi menyeringai jahil dan kini mendekap tubuh Dita dengan erat.


"Sa...Sayang aku sedang me..." Belum selesai Dita menyelesaikan kalimatnya Romi melepaskan pelukannya dan menatap wajah Dita.


"Memangnya tidak boleh jika hanya berpelukan?." Dijawab dengan gelengan oleh Dita.


"Lalu kenapa kau protes? Kau kira aku mau melakukan apa? Wah...Pikiranmu sekarang sudah mulai macam-macam ya." Romi menyentil pelan kening Dita.


"Tidurlah. Aku suka kau hari ini menjadi gadis baik. Jangan terlalu membuat tubuhmu lelah. Kau harus selalu sehat agar kita bisa segera membuat bayi-bayi lucu." Romi kembali memeluk istrinya dan membelai kepalanya dengan lembut.


Dita tak bergerak. Ada pertanyaan besar yang ingin ia tanyakan, ia sedang mengumpulkan keberanian besar untuk bisa mengungkapkannya.


"Sa...Sayang. Apa aku boleh bertanya sesuatu?." Dita sedikit mendongakkan kepalanya. Romi memejamkan matanya.


"Sayang. Apa kau sudah tidur?." Disentuh mata Romi untuk mengecek kesadaran suaminya.


"Tidak ada yang melarangmu bertanya. Jangan biarkan pikiran buruk di kepalamu yang mungil itu terus membuatmu bertingkah yang macam-macam." Romi sangat senang jika Dita bisa mengungkapkan perasaannya.


"Tapi kau jangan marah ya? Janji?." Dita masih meraba ekspresi wajah Romi. Tidak ada yang berubah, masih tenang.


"Apa kau benar-benar menginginkan anak dari pernikahan ini? Bukan karena orang lain?." Akhirnya Dita berani mengungkapkan keraguannya. Ia benar-benar membuat pergerakan besar, ia membuktikan perkataannya untuk lebih membuka diri untuk suaminya.


"Apa kau lupa bahwa aku tidak pernah mengulang kata-kataku dan aku tidak pernah bermain-main dengan ucapanku?." Romi masih memejamkan mata tenang.


"Maksudnya apa? Kenapa perkataannya jadi susah dimengerti lagi?." Dita masih meraba-raba jawaban Romi.


"Apa maksudnya dia serius dengan perkataannya sebelumnya?." Dita merasa lega dan senang.


"Apa benar nanti kau tidak akan mengambil anak kita dariku dan mengijinkanku membesarkannya bersamamu?." Dita memastikan jawabannya dengan pertanyaan lain.

__ADS_1


"Apa kau pikir aku mau membesarkan anak kita sendiri?." Kini Romi sudah terlalu gemas dengan pertanyaan istrinya. Ia buka mata dan menangkupkan kedua tangannya ke wajah Dita.


"Sekarang apa lagi yang ada dipikiranmu, huh?."


"Tidak ada sayangku. Hehe..." Dita tersenyum manis membuat Romi tak tahan untuk tidak mengecup bibir mungil istrinya.


Malam itu lagi-lagi mereka bisa merasakan hangatnya pelukan dengan suasana hati bahagia.


***


"Dit, lo udah dapet info reuni angkatan kita belom?." Pagi ini Nisa dan Dita sedang bersiap untuk membahas rapat kerjasama dengan industri rumah tangga.


Perusahaan tempat Dita bekerja sedang meluncurkan projek terbaru dengan membangun kerjasama dengan beberapa industri rumah tangga untuk saling membantu perekonomian.


Kebetulan salah satu kepala perhimpunan industri rumah tangga yang berencana menjalin kerjasama adalah teman satu kampus Nisa dan Dita.


"Emang kapan gitu acaranya? Gue belum buka grup alumni lagi sih." Dita sambil merapikan presentasi yang akan dibawakannya nanti.


"Baru rencana sih kayanya. Bimo kemarin pas ketemu ngasih info ke gue." Bimo adalah teman satu angkatan mereka sekaligus calon partner kerja mereka.


"Oh." Dita tampak tak begitu tertarik.


"Oia pas rapat terakhir lo ga sempet ketemu Bimo ya?."


"Kayanya rapatnya pas gue ga masuk beberapa minggu lalu ya?."


"Iya. Pas jaman lo masih labil pake kabur segala itu." Nisa menjahili Dita.


" Eh, gue ga ada niat kabur ya. Emang gue punya keberanian segeda apa buat kabur?." Dita bergidik ketika mengingat insiden yang sangat tak mau ia ulang. Insiden pertengkaran yang cukup menguras emosi dan tenaga, meski berakhir dengan damai. Dita sekarang sudah banyak belajar dari kejadian itu.


"Dasar kurang kerjaan lo. Sana beresein materinya bentar lagi rapatnya mulai loh." Dita meminta Nisa buat memeriksa materi rapat nanti.


***


Seperti biasanya, rapat hari ini membuat Beni puas dengan materi yang dibawakan Dita dan Nisa. Minggu depan rencananya mereka akan melakukan rapat tindak lanjut kerjasama dengan Bimo.


"Eh, Nis. Gue duluan ya." Dita sudah siap-siap pulang saat Nisa baru mau mematikan laptopnya.


"Mau kemana lo buru-buru amat?."


"Ada kerjaan sebentar. Udah janji, udah ya gue pulang." Dita buru-buru keluar kantor.


"Dih mau kemana sih tuh anak? Mau candle light dinner ya? Bikin iri aja sih." Nisa gigit jari.


***


Dita sudah mengendarai mobilnya. Kali ini mobilnya sudah diupgrade. Pasalnya Romi merasa kesal dengan mobil lama Dita yang secara tidak langsung menyebabkan pertengkaran besar mereka sebelumnya. Pertengkaran yang terjadi karena kebetulan Dita menyaksikan adegan tak menyenangkan saat hendak mengambil kunci mobil yang ketinggalan.


Beberapa kali ia lirik jam di tangan, takut janji yang sudah ia buat dengan dokter terlewat karena jam praktek dokter Nina berakhir dalam waktu tiga puluh menit lagi. Sedikit ia naikkan kecepatan mobilnya.


Beruntung ia tiba di rumah sakit lima beas menit sebelum praktek berakhir. Nomor antriannya sudah dilewat oleh beberapa pasien.


"Dokter maaf tadi sedikit macet di jalan." Dita kini sudah berada di dalam periksa.


"Oh iya nona Dita, ga masalah. Lagian waktu praktek saya masih lima belas menit lagi, kalau memang diperlukan saya bisa perpanjang waktu praktek saya." Dokter Nina tersenyum ramah.


Dokter Nina adalah dokter kandungan yang kebetulan sebelumnya pernah membantu kakak Dita untuk program hamil.

__ADS_1


"Terimakasih dok."


"Ngomong-ngomong apa ada yang bisa saya bantu?." Dokter Nina sudah memulai wawancara.


"Begini dok. Periode menstruasi saya sudah lewat beberapa hari. Saya cuma ingin memastikan saja." Tujuan Dita datang hari ini adalah untuk memastikan kehamilannya.


"Oh begitu. Apakah sebelumnya sudah melakukan tes pack?." Dijawab dengan gelengan oleh Dita.


"Saya pernah ada pengalaman kurang baik dengan pemeriksaan test pack, Dok."


"Bagaimana maksudnya, Nona?."


"Iya dok. Jadi saya pernah periksa hasilnya positif tapi ternyata negatif." Dita kembali mengingat kejadian tak menyenangkan itu.


"Baik. Memang beberapa kasus hasilnya tidak akurat, terkadang positif palsu bisa juga negatif palsu." Dokter Nina memberikan penjelasan sama seperti dokter sebelumnya yang menangani Dita.


"Iya dokter. Makanya saya lebih memilih memastikan dengan USG saja. Takut kecewa lagi."


"Baiklah. Ngomong-ngomong terlambat mens nya sudah berapa hari ya?." Asisten dokter Nina sudah mulai menyiapkan pemeriksaan USG.


"Sekitar lebih dari semingguan dok. Kebetulan kalender menstruasinya terhapus dok."


"Baiklah. Sebetulnya pemeriksaan USG juga tidak begitu bisa melihat tanda-tanda kehamilan bila kehamilannya masih terlalu kecil. Tapi kita coba saja ya." Kini dokter Nina sudah meletakkan probe USG di perut Dita dan menampilkan gambar abstrak di monitor USG. Beberapa kali dokter Nina menelusuri sekitar pusat.


"Bagaimana dok?." Dita begitu penasaran.


"Hmm...Untuk saat ini saya belum bisa lihat tanda-tanda kehamilan sih. Seperti yang saya bilang sebenarnya bisa aja karena ukurannya yang terlalu kecil atau memang belum ada yang tumbuh." Kini dokter Nina menyudahi pemeriksaannya.


Dita sudah merapikan pakaiannya dan kembali duduk di kursi periksa.


"Kalo dalam waktu dua minggu ini belum mengalami menstruasi, maka datang lagi ya. Biar kita liat perkembangannya." Dita mendengarkan saran dokter Nina dan menerima resep asam folat untuk ditebus di apotek.


"Ini resep hanya sebagai suplemen. Jaga-jaga kalo memang ternyata sudah ada janin yang tumbuh bisa diberi nutrisi tambahan agar perkembangannya bagus. Jangan lupa istrirahat cukup, kurangi stres, makan bergizi, dan olahraga. Tapi sementara olahraganya jangan yang berat-berat dulu ya, apalagi kalo untuk olahraga yang satu itu. Boleh asal pelan-pelan." Dita memerah menahan malu ketika mendengar pesan terakhir yang disampaikan dokter.


"Si..siap dokter. Terimakasih banyak ya dok." Dita buru-buru pamit.


"Dengan senang hati." Dokter Nina pun bersiap untuk mengakhiri prakteknya karena Dita adalah pasien terkahirnya


***


"Bagaimana bilangnya coba kalo untuk urusan olahraga yang satu itu ya? Apa aku pura-pura menstruasi aja ya?." Dita yang sedang mengenakan pakaian di ruang ganti sehabis mandi kembali teringat dengan pesan dokter.


"Sayang sudah pulang?." Romi tiba di kamar begitu Dita selesai berganti pakaian.


Romi langsung meminta pelukan dari istrinya yang seharian tidak ia temui, meminta pelukan untuk mengurangi penatnya seharian bekerja dan mengisi energinya kembali.


"Sayang mandi dulu." Dita memberi saran, meski sarannya sia-sia karena kini Romi yang menghampirinya dan menjatuhkan kepalanya di bahu Dita.


"Apa kau hanya suka kalo aku sudah rapi dan bersih? Tidak suka dengan tampilanku yang seperti ini?" Romi mulai mengusili Dita dengan meniupi telinga Dita.


"Sayang." Dita bergidik geli.


"Aku akan memberimu pelajaran karena sudah menolak pelukanku." Romi membawa Dita ke sofa untuk mulai kegiatan panas mereka.


"Bagaimana untuk mengurangi olahraga yang tadi disarankan dokter kalo begini kejadiannya."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2