
Pengantin wanita memasuki area resepsi. Mukanya terlihat sekali tegang, Dimas yang menggandeng tangan Dita, berkali-kali mencoba menenangkan Dita dengan menepuk punggung tangan kanan adiknya yang dilingkarkan ke lengan kirinya. Sesekali tatapan mata mereka bertemu dan Dimas sesekali mengedipkan matanya, seperti ingin mengisyaratkan 'tenang, semua akan berlalu dan baik-baik saja', Dita hanya membalas dengan senyum kakunya. Tiba di altar pernikahan, sang pengantin pria sudah siap menyambut calon wanitanya. Sebelumnya ayah berpesan kepada Romi untuk sedikit mengubah ekspresi wajahnya yang dingin agar menjadi sedikit lebih hangat. Romi berusaha sebisa yang dia lakukan, yaah tidak terlalu buruk, rasanya memang aura pengantinnya yang membantu perubahan ekspresi wajahnya.
Usai pengucapan janji pernikahan selesai, kali ini sesi menyambut para tamu undangan. Sengaja tak banyak tamu yang Romi undang, hanya beberapa kenalan dekatnya, kerabat, dan kolega ayahnya. Romi juga meminta kepada Bima agar tak ada media yang meliput. Karena ini hanya pernikahan settingan dan hanya memenuhi balas dendamnya saja, begitu pikirnya.
Di tengah-tengah acara berlangsung, Dita meminta ijin sebentar kepada Romi untuk ke kamar kecil.
"Tuan, maaf saya ijin sebentar ke kamar kecil." Dita mendekatkan diri berbisik ke telinga kiri Romi. Tak ada jawaban yang diucapkan, hanya tatapan ke arah Dita yang tak dimengerti artinya. Namun, tanpa menunggu ijin dari Romi, Dita segera ke kamar kecil.
Ia begitu lelah dengan hari ini, hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidupnya berbalik menjadi hari yang mungkin menjadi awal kehancurannya.
Tiba di kamar kecil, Dita langsung bersandar ke dinding dan melepas sepatu heels yang ia kenakan. Kakinya begitu pegal dan terasa sedikit kram di bagian betis. Ia pukul-pukul betisnya dengan tangan, tak mengurangi rasa kramnya.
Seketika seorang wanita paruh baya masuk, tak disangka ternyata itu adalah ibu. Ibu sengaja mengikuti Dita saat tahu Dita menuju kamar kecil.
"Apa tujuanmu menikahi anakku? Apa kau bersekongkol dengan Riana, si wanita licik itu?." Ibu yang sedari tadi ingin mengungkapkan isi pikirnya langsung menyerang Dita dengan pertanyaan yang membingungkan Dita.
"Maaf, ibu. Saya menikah dengan tuan Romi atas permintaan dari tuan sendiri. Siapa wanita yang ibu maksud? Sungguh saya bahkan tidak mengenalnya." Dita berusaha menarik badannya agar tak bersandar di tembok. 'Siapa itu Riana?' pikirnya.
"Jangan berpura-pura. Saya tahu pasti kau menikahi anakku karena harta. Jika itu tujuanmu, maka kau salah besar. Urungkan segera niatmu itu, jika tidak kau tidak akan bisa membayangkan apa yang akan terjadi. Lagi pula lihatlah dirimu, benar-benar tidak satu kelas dengan keluarga kami." Ibu menjadi begitu kasar, tatapannya seperti seperti melihat benda yang menjijikkan.
"Sekali lagi maafkan saya ibu. Saya rasa ibu sudah salah mengira, sama sekali tidak pernah terpikirkan oleh saya masalah harta yang dimiliki tuan Romi. Saya bahkan tidak tahu seberapa banyak harta yang tuan Romi punya, lagi pula saya tidak tertarik untuk mengetahuinya." Dita berusaha mengontrol suaranya agar tak terdengar bergetar, karena saat ini hatinya bergetar hebat. Tak pernah ia sangka di hari pernikahannya ia langsung dirundung oleh ibu mertuanya. Ini yang mungkin dinamakan 'welcome to the jungle'.
"Cih...Kau terlalu munafik. Pikirkan baik-baik ucapanku barusan." Ibu kemudian berlalu meninggalkan Dita .
Seketika Dita menghembuskan napasnya kasar, menyandarkan tubuhnya kembali ke dinding, kali ini kakinya terasa semakin kram, perutnya mendadak seperti diaduk-aduk, kepalanya berat dan berputar.
__ADS_1
"Brukk...." Tubuh Dita ambruk di lantar kamar kecil.
Romi berulang kali melihat ke arah lorong menuju kamar kecil, mengabsen kembalinya Dita yang sudah pamit ke kamar kecil sejak tiga puluh menit yang lalu. Yang dinanti tak kunjung muncul. Bima yang tak pernah melepaskan perhatiannya dari Romi menangkap sinyal keresahan, lalu menghampiri tuan mudanya.
"Tuan apa ada yang bisa saya bantu?." Bima selalu saja tak pernah salah membaca isi hati tuan mudanya.
"Coba kau periksa wanita itu. Sejak tadi pamit belum kembali. Pastikan jangan sampai ia kabur, kalau tidak kau pasti tahu apa yang akan kuperbuat." Romi adalah orang yang selalu serius dalam setiap ucapannya, dan nampak kali ini ia cukup serius dengan ucapannya.
"Baik, Tuan." Bima berlalu menuju kamar kecil untuk mengecek keberadaan Dita.
Tak butuh waktu lama, Bima langsung mendapati tubuh Dita yang sedari tadi tergeletak pingsan di lantai kamar kecil. Tubuhnya tampak meringkuk menyedihkan, tangannya dalam posisi memegang perutnya. Bima dengan cekatan menutup tubuh nona mudanya, kemudian membopongnya ke luar. Sekelebat Romi menangkap adegan Bima membopong tubuh Dita menuju lorong khusus menuju parkiran mobil, ekspresinya nampak sedikit kaget saat itu.
Setibanya di mobil, Bima langsung menghubungi Romi.
"Tuan maaf saya harus memberitahukan bahwa saat ini saya sedang membawa nona Dita menuju rumah sakit, karena saya mendapati nona tak sadarkan diri saat saya tiba di kamar kecil." Bima melaporkan kondisi Dita.
"Baik, tuan saya segera membawa nona ke hotel." Bima segera meminta sopir memutar arah.
----------------------------------------
Tiga puluh menit sejak kejadian Bima membawa Dita ke hotel, Romi terus mengikuti pesta pernikahannya yang masih berlangsung tanpa mempelai wanita. Di sela-sela waktunya berbicara dengan beberaa kolega bisnis, ia menyempatkan mengecek ponselnya berkala, mengantisipasi kalau saja ada pesan atau telpon dari Bima.
"Tuan, maaf apakah terjadi sesuatu hal yang buruk?." Salah satu kolega bisnis seperti menangkap suatu hal yang tidak beres dengan Romi yang sejak tadi bolak-balik memeriksa ponselnya.
"Tidak ada apa-apa. Silahkan dilanjutkan." Romi yang sebenarnya sejak tadi sudah muak dengan basa-basi semua orang akhirnya pamit meninggalkan pesta yang masih ramai dengan tamu undangan.
__ADS_1
"Ayah, maaf. Romi ijin pamit duluan. Ada sesuatu yang harus Romi urus." Sebelum pergi iya menyempatkan menyapa ayah. Ayah nampak terkejut, namun akhirnya mengijinkan Romi pergi. Ayah tahu pasti ada hal yang lebih penting dibandingkan pesta pernikahannya saat ini.
--------------------------------
Sekitar empat puluh lima menit Romi tiba di hotel tempat ia tinggal. Tak jarang saat di jalan ia mengumpat karena kesal dengan kemacetan malam minggu. Setibanya di ruang hotel, Romi langsung menuju kamar tidurnya. Ia mendapati istrinya saat ini baru selesai diperiksa dan dipasang cairan infus.
Dokter Ricky yang mengetahui kedatangan Romi segera berdiri. Menghampiri Romi dan memberikan beberapa penjelasan mengenai kondisi Dita.
"Maaf, tuan. Saat ini tubuh nona ini sangat lemah, sepertinya perlu bed rest total untuk beberapa hari." Dokter Ricky menjelaskan keadaan umum Dita saat ini.
"Apa kau pikir dia lumpuh sehingga harus istirahat total?." Romi sewot, tak terima dengan penjelasan yang ia dapat.
"Bukan begitu maksud saya tuan. Yang saya maksud adalah semua aktifitasnya di kerjakan di atas tempat tidur. Tapi tidak dulu untuk aktifitas yang satu itu." Tiba-tiba ucapan dokter Ricky terhenti.
"Aktifitas apa yang kau maksud?". Sok-sok polos tidak mengerti.
"Saya rasa tuan dan nona adalah sepasang pengantin baru." Dokter Ricky segera mengatupkan erat bibirnya, Bima yang berdiri di belakang Romi berusaha menahan tawanya.
"Apa kau pikir aku sudah gila, apa enaknya berbuat seperti itu pada orang pingsan." Romi kesal, mukanya memerah. Kemudian mencoba berlalu meninggalkan kamar tidurnya.
"Satu lagi yang perlu saya sampaikan, tuan. Selain kelelahan fisik, sepertinya nona ini sedang ada tekanan secara psikisnya. Saran saya selain menjaga kondisi fisiknya, penting juga untuk menjaga kondisi psikisnya." Dokter Ricky melanjutkan penjelasannya sebelum keburu Romi pergi.
Romi yang sempat menghentikan langkahnya, kemudian benar-benar berlalu setelah mendengar semua pesan yang disampaikan dokter Ricky.
"Memang beban psikis apa yang sedang dia tanggung? Dia masih tidak terima dengan pernikahan ini? Akan aku pastikan dia menyesali apa yang sudah ia pikirkan selama ini, pikiran bahwa dia akan tersiksa menikah denganku. Tunggu saja." Ucapan dokter Ricky barusan ternyata merasuki pikiran Romi yang saat ini sedang merebahkan diri di sofa ruang tamu.
__ADS_1
Bersambung...