LEMBARAN BARU SANG TUAN MUDA

LEMBARAN BARU SANG TUAN MUDA
CYSTITIS HONEYMOON


__ADS_3

***


Satu jam Dita menghabiskan waktunya bermain ponsel, terasa lama. Biasanya bermain ponsel adalah cara paling ampuh untuk mengusir kebosanannya saat sedang di rumah utama. Tapi kali ini hal itu tak berlaku, karena ada hal lain yang sesungguhnya sangat ingin ia lakukan. Bermain di pantai, membeli oleh-oleh, berkuliner ria, dan berswafoto untuk menyimpan kenangannya selama di kota ini. Semua sirna karena tuan muda terlihat sangat betah berada di posisinya saat ini.


"Bima, apa tuan muda tak ada rencana keluar hari ini?." Dita lebih memilih mengirim pesan kepada sekretarisnya dari pada langsung bertanya kepada suaminya.


"Kenapa nona tidak tanyakan sendiri kepasa tuan muda?." Seperti dugaannya, tak ada gunanya ia menggali informasi dari sekretaris yang sama menyebalkan dengan tuannya.


"Kenapa kau menyebalkan sekali seperti tuanmu." Dita yang kesal tak bisa menahan diri untuk mengumpat pada Bima.


"Nona bisa tanyakan langsung kenapa tuan muda kenapa saya dan tuan muda menyebalkan." Bima membuat Dita semakin kesal.


"Huh, tak ada gunanya bicara denganmu." Dita mengakhiri pesannya.


***


Sama sekali tak ada tanda-tanda pergerakan dari Romi hingga hari menjelang siang. Dita nampak sekali gelisah, seperti burung yang ingin keluar terbang dari sangkarnya.


"Apa kau ini ulat? Sejak tadi kuperhatikan tak bisa diam." Romi mengomentari Dita yang sejak tadi terlihat makin gelisah. Apalagi setelah ia mendapat beberapa pesan foto dari Nisa.


"Haha..tidak sayang aku hanya sedikit lapar." Dita tertawa dibuat-buat dan menjawab asal.


Romi melirik jam di ponselnya, jam sebelas lewat tiga puluh menit.


"Apa kau cacingan? Baru jam segini sudah lapar lagi?." Romi merasa heran dengan gelagat istrinya.


"Kenapa dari tadi dia mengumpamakanku dengan hewan sih. Menyebalkan."


"Apa aktifitas semalam benar-benar menghabiskan energimu?." Romi lagi-lagi menggoda istrinya.


Dita jadi salah tingkah lagi.


"Bukan begitu sayang. Sepertinya hormon haid yang membuat nafsu makanku meningkat." Dita mencari-cari alasan menyelamatkan diri dari situasi memalukan itu.


"Mau makan apa?." Tawaran Romi bak angin surga bagi Dita. Kesempatan untuk menghirup udara luar terbuka lebar.


"Apa boleh jika makan di luar? Di pinggir pantai misalnya." Dita tak malu-malu membuat permintaan, tak ingin kesempatan hari ini untuk jalan-jalan sirna begitu saja.


"Cepat ganti bajumu!." Sesungguhnya sejak tadi Romi sudah mengetahui keinginan istrinya. Bima mengirimkan screen shoot pesan yang dikirimkan Dita tadi.


"Apa harus ganti baju sayang? Aku rasa baju ini tak masalah." Dita yang sedang kegirangan, tanpa sadar protes ketika diminta ganti baju.


Romi kembali mendudukkan tubuhnya di tempat tidur begitu mendengar protes dari Dita.


"Aah, baiklah sayang. Maafkan aku. Tiga menit." Dita segera sadar dan buru-buru berganti pakaian sebelum tawarannya dicabut.


"Hanya aku yang boleh melihat kau berpakaian begitu." Romi mencibir Dita dalam hati.


"Ayo berangkat." Dita tampak ngos-ngosan mengejar waktu tiga menit yang ia janjikan sendiri.


"Hey! kau bisa terjatuh jika berlarian seperti itu. Cerobohmu itu tidak pernah hilang ya." Romi khawatir sekaligus kesal melihat istrinya berlarian dari kamar ganti hingga hampir terpeleset. Nada suaranya seketika meninggi.

__ADS_1


"I..iya. Maaf." Dita terkejut dengan perubahan sikap Romi.


"Kenapa moodnya cepat sekali berubah. Seperti sedang PMS saja." Dita kembali merasa takut dengan perubahan mood Romi yang tiba-tiba. Padahal ia baru mulai mau menikmati perlakuan lembut suaminya.


"Hei...hati! Kau lihat apa yang barusan terjadi? Ingat ya, aku sudah peringatkan kau untuk tak berharap apa-apa! Baru begitu saja kau sudah sakit kan?." Dita memarahi dirinya sendiri untuk kesekian kali. Memperingati dirinya sendiri untuk tidak terlalu terbawa suasana.


***


Mereka tiba di restoran pinggir pantai. Suasana angin pantai membuat suasana yang tadi sempat panas sedikit menyejuk.


Entah mengapa tadi Romi betulan menjadi sangat kesal ketika melihat Dita yang hampir terjatuh karena terburu-buru.


Ia tahu tidakan membentaknya tadi membuat Dita jadi ketakutan.


"Tolong lah kau si pemarah, jangan merusak suasana yang sudah kubangun susah payah. Kenapa kau tiba-tiba saja muncul di saat yang tak tepat. Aku tau kau begitu karena mengkhawatirkannya, tapi cobalah sedikit kurangi sifat pemarahmu itu." Kali ini Romi yang menasihati dirinya sendiri. Ia menyesal telah merusak suasana yang sudah sedikit mencair menjadi beku kembali.


"Apa ada menu yang tuan inginkan?." Dita memberanikan diri mulai bersuara, namun panggilannya kembali seperti semula secara tidak sengaja.


"Lihat akibat ulahmu dia jadi mengubah panggilannya lagi. Menyebalkan mendengarnya." Lagi-lagi Romi memarahi dirinya akan ulahnya tadi. Kali ini ia masih gengsi untuk meminta Dita kembali memanggilnya dengan panggilan yang ia suka.


"Terserah..." Lagi-lagi terdengar dingin. Memang tak mudah bagi Romi untuk menyeting dirinya menjadi pribadi yang lembut dan menyenangkan. Sekalinya susah payah ia lakukan, seketika itu pula dengan mudah ia hancurkan usahanya.


Suasana makan siang kali itu berlalu jauh berbeda dibandingkan dengan tadi pagi. Semangat Dita yang tadi menggebu kini menghilang.


Tak terdengar kalimat godaan dari mulut Romi. Tak ada juga ekspresi malu-malu seperti sebelumnya yg ditunjukkan oleh Dita.


***


Liburan impian Dita benar-benar sirna, malam sudah tiba dan ia sudah harus kembali ke kota realita. Penerbangannya sudah dirubah, sehingga kepulangannya diatur hanya bersama tuan muda dan seretarisnya. Sedangkan Nisa dan rekan-rekannya sama sekali tak menampakkan wajahnya setelah berpisah di hotel malam itu.


***


"Dit, Lo kenapa kok kayanya lesu banget? Lo beneran marah sama gue karena kejadian kemarin ya?." Nisa menjadi merasa bersalah melihat sikap Dita hari itu.


"Engga kok." Jawab Dita masih terdengar lesu.


"Terus kenapa kok lo lemes banget? Pucet lagi. Lo lagi sakit?." Nisa nampak khawatir dan menebak-nebak dengan apa yang terjadi pada Dita.


"Engga apa-apa, Nis. Gue baik-baik aja." Dita berbohong.


"Lo kenapa? Lo ga lagi baik-baik aja, Dit. Gue tau itu." Nisa seratus persen yakin kata 'gue baik-baik aja' yang diucapkan Dita adalah kata yang mengartikan 'gue ga baik-baik aja'.


Seketika Dita menangis tersedu dan membuat Nisa bingung. Seketika Nisa menawarkan pelukan dan disambut oleh Dita.


"Lo kenapa sih? Lo kan janji sama gue bakal cerita kalo ada apa-apa." Nisa mengingatkan janji yang pernah mereka buat.


"Gue juga ga gau gue kenapa, Nis. Gue tiba-tiba jadi melow ga jelas gini. Gue kaya lagi kesel aja ama diri gue sendiri, ga tau kenapa." Dita sesungguhnya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada Nisa.


"Ga ada masalah apa-apa sama doi kan?." Nisa mencoba menebak. Dijawab gelengan oleh Dita.


Seketika pelukan dilepaskan oleh Dita.

__ADS_1


"Shhh..." Tiba-tiba Dita meringis memegang perutnya.


"Lo kenapa?." Nisa makin panik saat melihat Dita kesakitan.


"Kayanya gue dapet deh. Apa karena ini gue jadi labil ga jelas ya?." Dita mencoba menebak-nebak penyebab ketidak jelasan moodnya.


"Tapi muka lo beneran pucet lo. Lo yakin ga apa-apa?." Nisa memperhatikan wajah Dita yang pucat dan terdapat keringat di pelipisnya.


"Sshhh...Perut gue sakit, Nis. Tapi ga kaya biasanya. Biasanya ga sesakit ini." Dita akhirnya mengaku.


"Yaudah kita ke rumah sakit." Nisa memutuskan membawa Dita ke rumah sakit, meskipun awalnya Dita menolak.


***


Dita sudah diperiksa oleh dokter begitu tiba di rumah sakit. Beberapa pemeriksaan laboratorium sudah dilakukan termasuk pemeriksaan darah dan urine. Dokter sudah memberikan obat pereda nyeri dan memasang infus. Nyeri perutnya sudah sedikit berkurang.


"Nona, maaf jika pertanyaan yang saya ajukan sedikit sensitif." Dokter yang tadi memeriksa Dita kembali mendatangi bed pasien dengan membawa hasil pemeriksaan laboratorium.


"Iya dokter, ada apa?." Dita menjadi sedikit khawatir mendengar kalimat dokter barusan.


"Maaf, Nona. Sebelum mengalami gejala nyeri pada perut apa nona sempat melakukan hubungan badan?." Pertanyaan dari dokter sontak membuat Dita kaget, tak menyangka.


"Maaf nona, kalau dilihat dari hasil pemeriksaan urine kami mendapatkan bahwa nona mengalami infeksi saluran kencing. Untuk penyebab lain tadi sudah kami singkirkan dari wawancara sebelumnya. Ada salah satu penyebab yang cukup sering mengakibatkan infeksi saluran kencing yaitu berhubungan badan terutama untuk pasangan pengantin baru." Sontak Dita kembali kaget bukan kepalang, kenapa dokter ini seperti peramal saja. Bisa menebak secara pas seperti itu. Dita bungkam belum memberi jawaban.


"Nona Dita. Bagaimana?." Dokter tadi masih menunggu jawaban.


"Ii..iya dokter. Beberapa hari lalu." Dita mengaku dengan ragu.


Nisa seketika memandangi Dita dengan ekspresi tak percaya, ia menahan untuk tak menginterogasinya saat ini. Karena masih ada dokter, dan kondisi Dita yang belum memungkinkan.


"Oh baik, Nona. Kalau begitu kita sudah bisa mengetahui kemungkinan penyebab sakit yang nona alami. Kalau di dunia medis kami menyebutnya dengan 'Cystitis Honeymoon'. Berhubung nyeri yang nona alami cukup berat karena faktor disminore atau nyeri haid, maka kami menganjurkan nona untuk dirawat selama beberapa hari. Sekalian untuk memberikan antibiotik melalui infus. Apakah nona bersedia untuk dirawat inap?." Dokter meminta persetujuan.


(Yang penasaran apa itu cystitis honeymoon bisa googling ya hihi 😁)


"Sebentar dokter, biar kami rundingkan dulu." Dita meminta waktu.


"Baik, nona. Segera kabari kami bila sudah ada keputusan, agar kami bisa segera memberikan penanganan sesuai dengan penyakit yang nona alami. Kalau begitu saya pamit dulu." Dokter pergi meninggalkan Dita.


"Baik, Dokter. Terimakasih." Dita dan Nisa menjawab kompak.


"Kenapa ga langsung setuju buat dirawat aja sih, Dit?." Nisa memberikan saran


"Gue ga mau lama-lama di rumah sakit. Gue takut dimarahin lagi." Seketika Dita kembali teringat saat Romi membentaknya karena ceroboh hampir terjatuh.


"Maksud lo apa? Gila kali kalo ada yang marahin orang sakit." Nisa protes tak percaya.


"Ga apa-apa, Nis. Udah mendingan kok nyeri perut gue." Dita bertingkah sok kuat.


"Kalau sakit ya mesti dirawat." Tiba-tiba terdengar suara laki-laki yang saat ini tak ingin Dita temui. Ia begitu takut kalo saja Romi tiba-tiba memarahinya karena sakit yang diakibatkan karena kecerobohannya, dan mesti merepotkan orang karena harus dirawat di rumah sakit. Segera Dita palingkan mukanya begitu tau Romi ternyata menghampirinya ke rumah sakit.


"Sori, Dit. Tadi gue yang hubungi suami lo. Gue tinggal dulu ya." Nisa pamit begitu Romi tiba.

__ADS_1


"Bagian mana yang sakit? Apa dokter sudah memberikan obat yang terbaik?." Terdengar nada cemas dari pertanyaan Romi yang kini agak canggung memeriksa beberapa bagian tubuh istrinya. Dita masih memalingkan mukanya, kini air matanya tanpa ia sadari sudah mengalir.


Bersambung...


__ADS_2