
Kejadian hari ini sangat membekas di hati Romi. Ia betul-betul kesal dengan sang wanita dan juga Bima. Setelah masuk kamar ia sama sekali tak keluar hingga esok harinya, bahkan makan siang dan makan malam pun diantar oleh pelayan ke kamarnya. Bima yang setia menunggu di ruang kerja akhirnya pulang saat tuan muda selesai dengan makan malamnya.
Haripun akhirnya berganti, Romi berusaha untuk melupakan kejadian kemarin. Ia ikut sarapan seperti biasa, ibu dan Jinny masih takut-takut untuk menyapa.
"Siapa wanita yang kemarin kau bicarakan, apa kau yakin Adit bisa mengenalkanku dengan wanita baik-baik?." Jinny yang sedang diajak bicara langsung berhenti menyuap, matanya melotot kaget.
"Kakak yakin mau mencoba perjodohan ini? Benarkan ya aku bilang, tau apa sekretaris menyebalkan itu masalah kencan dan percintaan? Pasti kemarin acaranya tidak berhasil ya?". Jinny dengan polosnya secara tidak langsung mengingatkan kejadian kemarin yang membuat kakaknya mendengus kesal. Refleks Jinny menutup mulutnya, sadar apa yang barusan ia ucapkan membuat kakaknya kesal. "Maaf, kak. Aku terlalu berlebihan ya?". Lagi-lagi ibu hanya menyaksikan dan memberi kode dengan matanya, meminta Jinny untuk lebih tenang. "Jangan terlalu bereaksi berlebihan." Seperti itu kira-kira yang ingin ibu sampaikan.
"Tapi kau harus bisa memastikan bahwa wanita yang akan kau dan Adit jodohkan denganku adalah wanita baik-baik, kalau tidak habis kau." Adit akhirnya menyudahi sarapannya walaupun makanannya belum habis, teringat kejadian kemarin membuat selera makannya seketika menghilang.
Bima yang masih menjadi objek kekesalan Romi tidak berani mengajak tuan mudanya bicara, sehingga suasana hening terjadi mulai dari berangkat sampai tiba di kantor.
Setibanya di kantor Romi berusaha terlihat cool seperti biasanya di depan para karyawan yang menyapanya saat bertemu. Hari ini ia ingin melupakan kejadian kemarin dengan menenggelamkan diri dengan pekerjaan kantornya, dan mempersiapkan diri untuk mengikuti perjodohan yang nanti akan diatur oleh sang adik. Lucunya dia seolah menelan omongannya sendiri, dia malah berguru percintaan pada adik yang masih ia anggap anak kecil.
***
Di tempat lain, sang adik dengan antusias menceritakan pada Adit bahwa kakaknya menerima ide perjodohan yang mereka rencanakan. Untung Adit sudah mencoba menyaring dari semua kenalan wanitanya siapa saja yang kira-kira mendekati kriteria calon kakak iparnya.
"Coba sayang lihat, aku sudah membawa beberapa profil calon yang nanti akan kita jodohkan dengan kak Romi. Kalau aku lebih memilih yang ini, karena aku sudah lumayan lama mengenalnya. Sejauh aku mengenalnya aku rasanya dia cukup bisa mengimbangi kak Romi." Adit menyodorkan satu berkas yang kemudian diterima oleh Jinny dan mulai membaca profil wanita tersebut. Namanya Riana usia 26 tahun. "Cantik." Ucap Jinny dalam hati sambil mengamati foto yang ada di tangannya. Dengan serius ia membaca detail profil Riana.
__ADS_1
" Aku mengenalnya sejak di bangku SMA, kebetulan aku satu sekolah dengannya. Dia anak yang cerdas, mandiri, sepengetahuanku dia juga bukan tipe yang manja. Karena semenjak SMA dia sudah memiliki pekerjaan sampingan, karena bisa dibilang dia bukan dari keluarga kaya raya. Saat ini sedang membuka usaha Cafe kecil-kecilan." Adit berusaha menjelaskan panjang lebar.
"Kalian sedekat apa dulu? Jangan-jangan pernah pacaran? Sepertinya kau sangat mengenalnya?." Jinny mengeluarkan apa yang ada diisi kepalanya tanpa disaring, cemberut.
"Hahaha...sayang kau ini lucu sekali. Jangan cemberut gitu dong, pengen aku cium jadinya." Hanya gertakan, mana berani Adit melakukan itu, karena ia tau Jinny adalah adik kesayangan tua muda Romi, setiap gerak-gerik mereka pasti diawasi. Matilah dia kalau melakukan hal macam-macam kepada Jinny. "Aku dan Riana hanya teman, kami mana punya waktu untuk pacaran. Aku dan dia itu mirip, kami hanya fokus belajar dan mencari tambahan uang." Yang diajak bicara sepertinya sudah mulai mengerti dan berusaha membuang jauh pikiran buruknya.
"Baiklah, aku percaya padamu. Lagipula kalau aku mau menjodohkan kakak dengan teman-temanku, nanti kakakku dibilang om-om lagi. Ayo kita mulai rencanakan pertemuan Kakak dan Ri..". Jinny lupa dengan wanita yg akan dijodohkan dengan kakaknya
"Riana." Adit membantu mengingatkan
"Oia, Riana. Semoga bisa cocok dan berjalan lancar ya." Akhirnya mereka merencanakan semuanya, sebelum akhirnya Jinny menelpon kakaknya untuk menyampaikan perihal waktu, tempat, dan tak lupa Jinny mengirimkan profil Riana ke email Romi.
Notifikasi email masuk ke handphone Romi. Romi meraih handphonenya dan mulai membuka profil calon teman kencannya. "Lumayan juga." Ucap Romi selesai membaca profil Riana yang dikirimkan oleh adiknya. Kali ini dia tidak mau melibatkan Bima, karena ia masih kesal. Semua sudah bisa ia serahkan kepada Jinny, begitu pikirnya.
***
"Riana." Ucap sang wanita mengulurkan tangannya sambil tersenyum manis kepada Romi begitu tuan muda tiba di tempat yang sudah dijanjikan.
Agak ragu Romi menerima uluran tangan dari Riana, entah gugup atau memang Romi jarang melakukan jabat tangan dengan orang lain. Maklum presdir songong. Namun sadar akan situasi kali ini berbeda, dia harus bersikap biasa dan akhirnya menerima uluran tangan Riana.
__ADS_1
"Romi." Jawabnya singkat.
Keduanya langsung duduk dan mulai menyantap makan malam. Sengaja Jinny mengatur pertemuan kali ini di malam hari, biar terkesan romantis dan ia bisa pilih ruangan dengan pencahayaan yang tidak begitu bagus. Karena ia tahu kakaknya pasti sangat gugup, biar tidak begitu terlihat jelas ekspresi gugupnya oleh teman kencan kakaknya. Sebegitu detailnya Jinny, salute!
Selama acara berlangsung, terlihat sekali Riana yang terlihat lebih aktif. Romi hanya menanggapi pembicaraan sekenanya. Riana memang tipe yang supel dan juga ramah, tidak sulit baginya untuk memulai sebuah pembicaraan. Sesekali Romi menanggapi obrolan mereka dengan sedikit senyum kakunya. Sekitar dua jam mereka bertemu akhirnya diputuskan untuk pulang. Kali ini mereka pulang sendiri-sendiri, kebetulan Riana membawa kendaraan sendiri. Bima, Jinny, dan Adit yang menunggu di meja lain sedang harap-harap cemas.
Begitu Romi dan Riana meninggalkan meja mereka, segera geng yg ada di meja seberang ikut berdiri. Romi mengantar Riana sampa ke lobi restoran.
"Kak bagaimana?." Jinny langsung menyergap kakaknya dengan pertanyaan. Tidak sabaran
"Not bad." Jawaban singkat Romi, diartikan positif oleh yang mendengar. Kemudian Romi berlalu meninggalkan ketiganya, berjalan menuju mobil yang langsung diikuti oleh sekretaris sejatinya.
"Yes, berarti bisa lanjut pertemuan berikutnya." Jinny terdengar sangat bersemangat.
***
"Apa rencanan tuan selanjutnya." Bima yang tidak bisa tidak kepo terhadap urusan tuan mudanya. Dari kemarin ia sudah sekuat tenaga menahan untuk tidak ikut campur, tapi tidak bisa.
"Kau tak perlu ikut camput untuk urusan kali ini." Romi masih benar-benar kesal dengan kejadian sebelumnya, sehingga ia berpikir tidak mau melibatkan Bima kali ini. Lagian urusan begini sudah jelas Bima tidak akan bisa handle. Ia hanya jago dalam urusa kerja, begitu yang ada di pikiran tuan muda.
__ADS_1
" Baik, Tuan. Sekali lagi saya mohon maf atas kejadinya sebelumnya." Bima kembali menundukkan kepalanya, terlihat Romi memperhatikan dari kaca spion. Lagi-lagi hening tercipta sampai mereka tiba di rumah.
Bersambung........