LEMBARAN BARU SANG TUAN MUDA

LEMBARAN BARU SANG TUAN MUDA
MENAHAN RASA SAKIT


__ADS_3

Dita sedikit terburu-buru karena ucapan ayah, sehingga kaki kanannya tersandung pintu saat masuk kamar.


Yang katanya sedang sakit saat ini sudah menyandarkan badannya di kepala ranjang. Menatap tajam orang yang sejak tadi ia tunggu.


"Maaf tuan menunggu lama." Dita meletakkan alat kompres di nakas samping tempat tidur. Meminta pelayan meletakkan makanan di atas meja.


"Siapa yang menunggumu?." Yang sedang sakit masih saja bisa galak.


Dita tak menanggapi perkataan Romi dan sibuk menyiapkan kompres hangat.


"Maaf tuan, boleh saya mulai." Dita meminta ijin, tak ada jawaban dari suaminya. "Ini orang sebenernya maunya apa sih? Udah ah bodo amat." Dita tak memerdulikan ijin dari Romi dan memulai kengiatan mengompres. Ia mulai dari kening, leher, kemudian semakin turun ke dada dan ketiak.


"Heh apa kau mesum?." Romi protes dan berontak saat Dita mulai membuka kancing piyamanya agar bisa mengompres bagian leher dan ketiak Romi.


"Maaf tuan, saya akan mengompres bagian leher, dan ketiak." Dita yang polos hendak mengaplikasikan ilmu yang ia peroleh.


"Apa harus begitu? Jangan cari-cari kesempatan ya!." Romi jadi salah tingkah.


"Ti..tidak tuan, mana berani saya macam-macam. Saya hanya menerapkan apa yang saya tahu. Agar demam cepat turun kompres hangat sebaiknya dikerjakan untuk daerah lipatan-lipatan seperti leher, ketiak, dan lipatan-lipatan lainnya" Dita ingin meluruskan kesalahpahaman.


Romi yang mendengarkan penjelasan dari Dita jadi malu sendiri. Ia akhirnya pasrah dan mengalah.


Dita akhirnya melanjutkan pekerjaannya.


"Sekarang tuan harus makan dan banyak minum air. Saya bawakan sandwich dan bubur. Tuan mau yang mana?." Begitu acara kompres mengompres selesai, Dita menawarkan dua menu sarapan, yang satu menu untuk orang sakit dan yang satu menu rutin sarapan Romi.


"Bubur." Ternyata hari ini ia tidak memilih menu sarapan rutinnya.


"Baik tuan." Dita menyodorkan mangkok bubur beserta sendok makan.


"Apa bisa orang sakit menyuap bubur sendiri? Kalau nanti tumpah-tumpah aku minta kau sendiri yang bersihkan tempat tidur ini!." Oh rupanya ia memilih bubur agar pagi itu bisa disuapi oleh istrinya, padahal ia masih sangat punya energi bahkan untuk marah-marah.


"Baik tuan, akan saya suapi." Dita lebih memilih untuk meyuapi ketimbang membereskan bekas makan di tempat tidur.

__ADS_1


"Kalo aku tak suapi, bisa saja ia mengerjaiku dengan sengaja menumpahkan semua bubur di atas tempat tidur. Cih, aku tak akan semudah itu kau kerjai." Dita yang merasa bangga, tak sadar kalau sebenarnya ia sekarang sedang dikerjai. Romi terlalu kuat jika hanya untuk menyuapkan bubur ke mulutnya sendiri.


Dita dengan sabar menyuapkan sendok persendok bubur untuk suaminya yang katanya sedang sakit.


Sesungguhnya Romi sendiri tak tahu apakah dirinya benaran sakit atau tidak. Sejak semalam dadanya berdebar tak karuan, badannya menjadi panas, sesekali dadanya terasa sesak. Hal itu kembali ia rasakan ketika ia bangun pagi hingga sekarang.


***


Usai sarapan Romi kembali merebahkan badannya ke kasur dibantu oleh Dita. Dita membantu merapikan bajunya yang nampak kusut, menyelimuti tubuhnya hingga dada.


Romi kembali tertidur. Entah mengapa energinya seolah menjadi berkurang dan harus dicas dengan memejamkan mata. Mungkin energinya habis untuk mengerjai istrinya pagi ini.


Dita meraba kembali kening suaminya, masih terasa hangat. Kembali ia kompres di bagian kening dan leher dengan hati-hati dan tulus. Dita menatap lama wajah suaminya yang terlihat lebih tampan saat tidur, meski wajahnya ada raut lelah dan kurang tidur.


Tak terasa hari sudah siang, Romi terbangun dan mendapati kain kompres melekat di keningnya. Ia lirik di sebalah kanan ranjang, nampak Dita sedang tertidur dengan posisi duduk dan kepala direbahkan di lengan kanan Romi.


"Lihat, ia malah ikut tertidur. Apa sebegitu lelahnya mengurusiku pagi ini?" Romi mengelus rambut Dita dengan tangan kirinya, membuat Dita kaget dan terbangun.


"Apa kau sesenang itu menyentuh tubuhku." Romi protes padahal dalam hatinya senang.


"Maaf, tuan. Saya hanya ingin memastikan suhu tubuh tuan." Dita merasakan suhu tubuh Romi sepertinya sudah membaik.


"Saya akan minta pelayan untuk membawakan makan siang. Apa ada makanan tertentu yang tuan inginkan?." Dita pamit hendak ke dapur.


"Mana ada orang sakit yang selera makan." Romi gengsi untuk meminta makanan tertentu memilih pasrah dengan apa saja makanan yang ada di dapur.


"Baik tuan." Dita paham maksudnya, dan berlalu keluar kamar.


"Kenapa dengan kakinya? Apa karena terlalu lama tidur sambil duduk?." Romi mengamati cara berjalan Dita yang sedikit pincang.


***


Dita sudah kembali ditemani beberapa pelayan yang mebawakan makan siang. Makan siang kali ini sama seperti tadi pagi, Romi minta di atas tempat tidur. Bedanya kali ini Dita sudah dengan suka rela menyuapi tanpa diminta.

__ADS_1


Sepertinya kondisi badannya sudah kembali normal. Yang mulia raja sudah bisa membuka lebar mulutnya saat makanan disuapkan. Banyak sekali protes saat Dita menyuapkan makanan ke mulutnya, entah karena potongan lauk yang terlalu besar, jumlah nasi yang terlalu banyak, bahkan protes saat ada satu biji cabai yang ikut tersendok.


Usai makan siang Romi minta Dita membantunya ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dita merasa berat saat Romi sengaja membebankan berat badannya pada Dita.


"Aw..." Dita meringis saat kaki kanan yang tadi tersandung secara tak sengaja tersenggol oleh kaki kiri Romi.


"Kau kenapa?." Romi kemudian melepaskan rangkulan Dita dan mengecek kondisi Dita.


Dita meraba jempol kaki kanannya yang mengeluarkan sedikit darah.


"Kakimu kenapa?". Romi sedikit berteriak kesal saat melihat kondisi kaki istrinya.


"Sepertinya karena tersandung tadi." Dita mencoba mengingat penyebab sakit pada kakinya.


"Apa kau tidak punya mata sampai tersandung. Benar-benar ceroboh!" Romi kesal dengan kecerobohan istrinya. Kini gantian Romi yang memapah Dita, menuju tempat tidur.


"Saya tidak apa-apa tuan." Dita hendak menolak, namun tenaga Romi jauh lebih kuat saat memaksanya naik ke tempat tidur.


Romi meraih telpon rumah yang berada dalam laci nakas untuk menghubungi pelayan membawakan obat luka.


"Apa? Ternyata di kamar ini ada telepon? Kalau begitu kenapa aku cape-cape naik turun tangga hanya untuk memesan makanan ke dapur." Dita sedikit kesal saat mengetahui ternyata di kamar itu ada telepon rumah.


Romi meminta pelayan membantu mengobati luka Dita begitu mereka tiba di kamar dengan kotak P3K lengkap.


"Shhhh..." Beberapa kali Dita meringis saat cairan pembersih dan betadin mengenai lukanya.


"Apa tidak bisa pelan?." Romi memarahi pelayan ketika melihat Dita kesakitan.


"Baaa...baik tuan. Maaf nona." Pelayan tersebut ketakutan.


Dita akhirnya memilih menahan rasa sakitnya daripada mengeluh yang membuat pelayan tersebut jadi dimarahi oleh Romi. Karena menjelaskan yang sebenarnya kepada Romi tidak akan menyelesaikan masalah.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2