LEMBARAN BARU SANG TUAN MUDA

LEMBARAN BARU SANG TUAN MUDA
MENIKAH


__ADS_3

Seminggu setelah pertemuan pertama, Jinny membantu mengatur pertemuan ke dua. Romi dan Riana sudah bertukar nomor handphone. Riana lebih aktif memulai chat.


Pertemuan kedua berjalan lancar, namun Romi masih saja kaku. Maklum ini pengalaman pertamanya. Pertemuan ketiga dan berikutnya sudah tidak melibatkan campur tangan Jinny dan Adit. Romi dan Riana sudah sepakat untuk bertemu minimal satu kali dalam seminggu untuk saling mengakrabkan diri. Romi selalu berkomitmen untuk selalu menyempatkan diri ketika jadwal mereka bertemu. Sejauh ini hubungan mereka dirasa lumayan, entah karena Riana yang terlalu santai bisa mengikuti kekaukan Romi atau memang Romi yang sudah mulai pandai menyesuaikan diri.


Tiga bulan telah berlalu sejak mereka saling mengenal. Seperti biasa hari ini adalah jadwal mereka bertemu. "Apa kau sudah siap jika aku mengajakmu menikah?". Pertanyaan Romi mengejutkan Riana, ia tidak menyangka secepat itu ia diajak menikah. Riana berusaha terlihat biasa saja, padahal di dalam hatinya bergemuruh campur aduk antara bingung, namun juga terselip kegembiraan di sana. "Apa tidak terlalu cepat, tuan?. Kita baru tiga bulan saling mengenal." Ya, hubungan mereka belum seakrab itu, bahkan Riana masih memamggilnya dengan panggilan 'Tuan'. "Saya rasa mungkin kita masih perlu waktu untuk saling memahami satu sama lain." Riana berusaha menanggapi dengan senetral mungkin.


"Aku bukan orang yang suka menghabiskan waktu untuk sesuat hal yang tidak jelas arahnya, kalau dari awal sudah tidak merasa cocok untuk apa aku lanjutan perkenalan kita sampai berjalan tiga bulan ini. Tiga bulan bagiku sudah lebih dari cukup, kita bisa belajar saling mendekatkan diri lagi setelah menikah". Jujur dan lugas sekali pemikirannya, Riana tak bisa berkata apa-apa.


"Kalau itu yang terbaik menurut tuan saya tidak bisa menolak." Agak ragu dengan ucapannya, namun Riana berusaha terlihat sesantai mungkin.


Pertemuan terakhir menghasilkan keputusan mereka akan menikah bulan depan. Mereka sudah mengumumkan kepada keluarga masing-masing. Semua yang mendengar turut senang, dan sibuk membantu persiapan menikah. Tak sedikit yang merasa heran dengan keputusan menikah yang secepat ini, ya hanya sebulan waktu persiapannya. Ada sesorang yang paling punya pemikiran nyeleneh, "Kak, kak Riana tidak sedang mengandung anak kakak kan?." Pertanyaan Jenny membuat Romi menoleh ke arahnya dengan pandangan kaget sekaligus kesal.


"Jangan sembarangan kalau bicara." Romi menjawanb dengan nada tinggi.


"Maaf kak...Habisnya, kenapa kakak terkesan buru-buru memutuskan untuk menikah. Satu bulan kan terlalu singkat untuk persiapan menikah. Aku harus membuat baju khusus agar tampil cantik di pernikahan kakak kesayanganku." Suaranya dibuat seimut mugkin untuk menguranginkekesalan kakaknya atas pertanyaannya tadi.

__ADS_1


"Yang mau menikah siapa yang sibuk siapa? Tidak usah berlebihan, yang penting adalah kakak bisa segra menikah dan memberi cucu untuk ibu." Tidak ada yang bisa membantah ucapan Romi barusan, meski ini kenyataan tapi kenapa terdengar menyedihkan ya pikir Jinny.


"Kak, maafkan aku. Belum bisa menjadi anak yang bisa memenuhi keinginan ibu untuk segera punya cucu." Lagi-lagi Jinny mengungkapkan rasa bersalahnya.


"Tidak usah dipikirkan, sebentar lagi semua akan beres." Tegas Romi. Namun dalam hati iya bertanya oada dirinya sendiri. "Benarkah tindakan yang kuambil ini? Bisakah aku hidup bersama orang ya belum aku cintai? Bisakah Riana menerima dan mencoba menjalani hidup bersama denganku?" Pertanyaan itu sesungguhnya mulai muncul setelah ia mengungkapkan keinginanya menikahi Riana beberapa waktu lalu. Tapi ia berusaha menggunakan akal sehatnya. Menurutnya menikah dengan siapapun akan sama saja, dia akan tetap mencoba mencitai istrinya nanti. Yang terpenting adalah menurutnya Riana akan bisa menerimanya.


Obrolan kakak adik itu akhirnya berakhir dengan pemikiran masing-masing.


***


Hari yang ditunggu semua orang akhirnya tiba. Pernikahan Romi dan Riana berlangsung di sebuah hotel mewah, salah satu milik keluarga Johan. Hari ini Romi terlihat lebih tampan dari biasanya dengan stelan jas berwarna hitam, dan ia sudah didampingi wanita cantik berbalut gaun putih setinggi mata kaki dengan senyum simpul di bibirnya. Kalau Romi jangan ditanya, wajahnya seperti biasa, datar tanpa senyuman.


Acara berlangsung dengan lancar, usai acara ucap janji pernikahan, foto keluarga, menyapa tamu, dan sebagainya. Akhirnya acara ditutup dengan persembahan lagu pernikahan oleh Jinny dan Adit. Lagu diakhiri tepuk tangan meriah dari semua tamu, tidak terkecuali kedua mempelai. Meski Romi tetap dengan wajah datarnya.


***

__ADS_1


Malam semakin larut, pengantin baru sudah berada di kamar hotel. Hotel yang sama dengan tempat pernikahan mereka, sudah diatur sedemikian rupa agar pengantin bisa segera istirahat dan memulai malam pertama segera setelah acara selesai.


Tunggu dulu, malam pertama? Akankah malam pertama Romi akan terjadi malam ini?


Riana tampak canggung bersama seorang laki-laki dingin hanya berdua di dalam ruangan seprivat ini. "Apa tuan akan menggunakan kamar mandi terlebih dahulu." Riana berusaha memecah kecanggungan.


"Silakan, kau duluan saja." Jawab Romi tak kalah canggung.


"Baik." Riana berlalu menuju kamar mandi.


Dalam kamar ini ada dua insan manusia yang hatinya sama-sama bergemuruh, bingung apa yang selanjutkan akan mereka kerjakan untuk menghabiskan malam ini. Melakukan kegiatan layaknya pengantin baru atau hanya menghabiskan malam untuk mengusir lelah karena aktifitas hari ini?


Setelah satu jam membersihkan diri, Riana keluar dari kamar mandi. Sudah berganti dengan baju piyama atas bawah, rambut masih basah dikeringkan dengan handuk yang masih melekat di kepalanya. Tau sang istri sudah selesai dengan acara mandinya, Romi beranjak dari sofa yang iya duduki seera menuju ke kamar mandi. Riana mengintip apakah suami sudah masuk ke kamar mandi, ia berniat menyiapkan baju ganti untuk suami dan meletakkannya di ruang ganti. Tak butuh waktu lama bagi Romi untuk mandi, ia segera keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk. Tidak ada yang akan menyangkal akan ketampanan dan kesempurnaan bentuk bandannya, wajar jika dia membanggakannya. Diliriknya satu stel piyama di ruang ganti yang sudah disiapkan Riana tadi. "Begini rupanya mempunyai istri." Ucap nya dalam hati.


Riana sudah selesai dengan acara mengeringkan rambutnga, dan saat ini sedang menyandarkan diri di tempat tidur sambil sibuk dengan handphonenya. Mengecek pesan-pesan ucapan selamat atas pernikahannya, sebenarnya ia tidak begitu fokus. Memainkan HP nya hanya sebuah alasan untuk menutupi kegugupannya. Romipun sepertinya tau mengenai hal itu.

__ADS_1


"Tidurlah, hari ini pasti melelahkan." Tau situasi yang terjadi Romi dengan bijak menyarankan Riana untuk segera tidur tanpa melalui ritual malam pengantin baru. Romi ikut merebahkan tubuh lelahnya di samping istrinya. Sekilas ia melirik sang istri yang sudah terlelap di balik selimut, sebelum akhirnya ikut memenjamkan mata. "Akhirnya hari ini bisa terlalui", begitu batin Romi. Kedepannya dia sudah harus siap dengan statusnya sebagai suami. Bisakah presdir yang dingin ini berubah menjadi suami yang hangat?


Bersambung.......


__ADS_2