
***
"Sayang tolong buka pintunya." Romi masih bersabar menunggu di depan pintu kamar dengan sesekali menggedor pintu. Tak ada jawaban sama sekali dari dalam kamar.
"Ceklek!." Romi kini sudah membuka pintu dengan kunci cadangan yang ia miliki. Sejak tadi sesungguhnya ia sudah memegang kunci cadangan di tangannya, hanya saja ia ingin melihat sejauh mana istrinya mengacuhkannya. Sepertinya kali ini tidak main-main.
Begitu berhasil masuk ke dalam kamar, Romi mendapati istrinya sedang menangkupkan wajahnya ke kedua lutut, terduduk di lantai bersandar pada pinggiran tempat tidur. Pemandangan itu membuat hati Romi teriris.
"Kau benar-benar tidak mau memberi tahuku apa yang terjadi?." Romi menghampiri Dita dan mengangkat wajah istrinya agar pandangan mereka bisa bertemu. Dita tersentak tak menyangka Romi bisa masuk ke dalam kamar.
Pandangan mereka gagal bertemu, karena mata Dita sudah terlalu sembab dan bengkak karena menangis.
"Tolong tinggalkan aku sendiri!." Dita menepis tangan Romi. Romi tak senang.
"Aku tidak mau!." Romi membawa Dita naik ke tempat tidur karena tak tega istrinya terduduk di lantai yang dingin.
"Lepaskan aku, aku mohon. Biarkan aku sendiri. Atau aku yang akan pergi." Dita memberontak dan sedikit memberi ancaman saat hendak dipindahkan ke tempat tidur.
"Jangan pernah bermimpi aku akan melepaskanmu!." Suara Romi mendadak meninggi ketika Dita minta untuk di lepaskan.
"Apa yang membuatmu menjadi berani membangkang seperti ini?." Romi sudah tak tahan karena sikap tak biasa Dita.
"Seharusnya dari dulu saja aku berani membangkang." Tatapan mata Dita kini dipenuhi kebencian.
"Sudah ku bilang jangan pernah menatapku seperti itu!." Romi makin kesal ketika Dita menatapnya dengan tatapan yang tak ia suka. Sayangnya kali ini Dita tak bergeming dengan ancaman Romi.
"Oh, rupanya kau sudah berani melawanku ya? Kau lupa dengan posisimu sekarang?." Suara Romi berubah menjadi menakutkan.
"Seharusnya dari dulu aku tak pernah melibatkan diriku dalam kehidupanmu yang menyeramkan ini." Dita masih bertahan dengan amarahnya.
"Kau yakin? Dalam sekejap aku bisa saja menghancurkan hidup kakak yang sangat kau sayangi itu? Apa kau lupa sehingga harus aku ingatkan?." Romi kini berusaha terlihat tenang dan mendudukkan dirinya di tempat tidur, menyandar pada kepala ranjang.
"Pergilah jika kau berani!." Ancam Romi.
Dita kembali bergetar, selalu saja kelemahannya bisa dipegang oleh Romi. Amarah membuat ia sebentar lupa dengan posisinya yang sekarang.
__ADS_1
"Kenapa masih berdiam diri?." Romi masih menggertak Dita, padahal di dalam hatinya ketar ketir takut ancamannya tadi tak berhasil dan membuat Dita benar-benar pergi.
"Jika tak berani pergi, maka beri tahu aku kenapa kau bersikap begini!." Romi benar-benar penasaran dengan sikap diam dan membangkang yang ditunjukkan istrinya.
"Kenapa kau jadi begini ketika buah cinta kita tumbuh dan membutuhkan kasih sayang orang tuanya?." Romi kembali membahas perihal kehamilan Dita.
"Tak ada yang menginginkan kehamilan ini dengan sebenarnya." Dita membuat Romi tersentak.
"Apa maksudmu? Siapa yang tak menginginkannya? Jangan bicara sembarangan!." Romi kini memegang kedua pundak Dita.
Dita kembali menangis tersedu dan menjauhkan tangan Romi dari bahunya.
"Hey...Sadarlah!. Bualan macam apa yang sedang kau bicarakan?." Romi tak ingin melepas pegangannya pada bahu Dita.
"Aku tau kau tak benar-benar menginginkannya. Aku tau tujuan kau menikah hanya karena ingin memberikan cucu untuk ibu. Aku tau kau hanya bermain-main denganku." Dita menumpahkan isi hati yang sejak tadi siang ia pendam. Kali ini tangisnya menjadi histeris, Dita mulai memukul dada dan tangan Romi dengan keras, seolah ingin menumpahkan semuanya kepada orang yang menjadi sumber kekesalannya.
Romi tak bergeming, merasa tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. Ia biarkan Dita menumpahkan semua kekesalannya.
"Hey...hey..Dari mana pikiran bodoh itu muncul? Apa kau sedang mengarang sebuah novel?." Romi kini kembali ingin menenangkan Dita dengan memberinya pelukan, sedikit memaksa dengan tenaganya. Dita yang sudah tak punya energi tak bisa melawan lagi.
"Aku tak mau setelah anak ini lahir kau merampasnya dariku. Aku tak mau. Biarkan aku saja yang pergi bersamanya. Kau sudah punya segalanya." Suara Dita terdengar melemah, kepalanya ia gelengkan karena membayangkan perkataannya sendiri.
"Siapa yang bilang akan mengambilnya darimu. Kita akan membesarkannya bersama. Kau ini kenapa tiba-tiba bersikap aneh seperti ini? Apa ada orang yang memengaruhimu?." Romi mengusap-usap punggung Dita yang masih menangis tersedu.
"Kau bohong!." Dita menjauhkan tubuhnya dari pelukan Romi ketika mengingat adegan ciuman tadi siang.
"Kau tak pernah menginginkanku." Dita membelakangi Romi.
Romi kalang kabut dibuat bingung dengan perubahan sikap istrinya, padahal tadi siang hubungan mereka masih sangat baik-baik saja.
Tiba-tiba ada panggilan masuk di ponsel Romi dari Bima.
"Kenapa dia menelepon di waktu yang tidak tepat begini sih." Panggilan teleponnya ditolak oleh Romi.
Notifikasi pesan masuk ke ponselnya, masih dari orang yang sama.
__ADS_1
"Tuan saya mengirimkan beberapa file yang mungkin bisa membantu tuan dalam menghadapi nona." Pesan dari Bima diikuti oleh beberapa file gambar dan video.
Segera Romi buka pesan yang ia terima.
Romi meremas kasar rambutnya setelah melihat gambar dan video yang dikirimkan oleh Bima.
"Kenapa momennya bisa pas begini sih? Sial!." Romi akhirnya mengetahui penyebab perubahan sikap istrinya. Saat ini ingin sekali ia menenggelamkan Rindi ke dasar bumi.
"Aku harus bilang apa kalau sudah begini? Ini bagian dari sikap cemburunya kah?." Dalam kebingungannya terselip rasa senang.
Ia biarkan beberapa saat Dita menenangkan dirinya. Dita dengan posisinya yang sama saat pertama Romi masuk ke kamar itu. Isak tangisnya kali ini tertahan, seperti sedang menahan beban berat dalam dirinya.
"Sayang!." Romi kini kembali melunak.
"Berhentilah menangis, dan sudahilah pikiran macam-macammu itu. Semua yang kau pikirkan saat ini sama sekali tak benar." Romi kembali membujuk Dita.
"Satu, aku sangat menginginkan anak darimu. Semua keinginaku tidak pernah dipengaruhi oleh siapapun." Dita mencerna perkataan Romi.
"Kedua, kau mungkin bukan wanita pertamaku. Tapi kau adalah wanita yang akan menjalani sisa hidup bersamaku. Tidak akan pernah ada wanita lain dalam hidupku." Lagi-lagi Dita dibuat terkejut, kini mengalihkan pandangannya ke arah Romi.
"Dia bukan siapa-siapa. Dia hanyalah wanita di masa laluku yang tak ingin aku kenang." Romi menunjukkan foto yang tadi dikirim Bima.
"Kenapa kalian berciuman?." Akhirnya pertanyaan itu terungkap juga.
"Apa bisa disebut berciuman bila hanya salah satu pihak yang melakukan?." Romi balik bertanya dan membuat Dita bingung.
"Aku hanya ingin berciuman dengan istriku."
"Ini baru disebut berciuman." Romi seketika ******* bibir Dita yang sejak tadi membuatnya gemas. Dita terkesiap dan hendak mendorong dada Romi, namun sia-sia. Tubuhnya seolah bereaksi berbeda dengan pikirannya. Kini ia sudah membalas ciuman panas yang diberikan Romi.
"Hah..." Dita menghela napas ketika ciuman panjang dilepaskan oleh Romi.
"Jangan pernah bersikap begini lagi. Jangan menyiksaku dengan sikapmu seperti tadi." Romi memejamkan mata dan menempelkan keningnya di kening Dita, dengan kedua tangan mengelus pipi istrinya. Di raut wajahnya tergambar perasaan lega.
Bersambung...
__ADS_1