
"Nis, sori hari ini kayanya gue ijin ga masuk. Ini lagi urus pindahan rumah. Bisa ngamuk baginda kalo kemauannya ga dituruti." Dita mengirim pesan melalui whatsapp .
"Siip, santai aja. Bisa-bisa gue juga bisa dipecat kalo ga ngijinin lo ga masuk hari ini. Hahahha..." Nisa memang sahabat paling pengertian, tak pernah hitung-hitungan dalam hal apapun. Hal inilah yang membuat Dita menganggapnya sebagai saudara perempuan, yang tak jarang dijadikannya tempat berkeluh kesah.
"Lo emang yang terbaeeek. Makasih ya sayang. Muaaach." Dita menggombal, tak lupa ditambahkannya emoticon hati dan cium di akhir pesan.
"Hmmm...Yaudah siap-siap sana, katanya mau pindahan. Have fun yaaa 🤭". Nisa menggoda Dita di akhir pesannya.
"Siaap." Dita menjawab singkat dan buru-buru siap-siap, takut diomelin oleh sang baginda raja.
"Eh, ngomong-ngomong apa maksudnya si Nisa, 'Have Fun'?. Emang pindah ke rumah mertua semenyenangkan itukah? Kaya pengalaman aja nih si Nisa." Dita tiba-tiba kepikiran dengan kalimat terakhir Nisa sebelum mengakhiri pesannya.
------------------------------------------------------
Sesungguhnya tak banyak yang dikerjakan Dita dalam mengurus kepindahan mereka kali ini. Semua sudah diurus oleh orang bawaan Bima.
Ibu dan Jinny begitu antusias dalam menyambut kepulangan Romi. Tapi sepertinya ada yang mengganjal di hati ibu, ia masih tak rela Dita menjadi istri anaknya. Bayang-bayang mantan menantunya yang dulu masih begitu lekat menghantui. Ibu begitu trauma, karena masa lalu itu membuat kehidupan Romi benar-benar berantakan, bahkan mengakibatkan Romi meninggalkan rumah mereka cukup lama.
Sekitar jam sebelas lewat Dita dan Romi tiba di rumah utama yang tentunya diantar oleh Bima. Mereka menumpangi mobil yang sama. Namun selama perjalanan tak ada sama sekali basa-basi obrolan di antara ketiganya.
Saat tiba, mereka langsung disambut oleh ayah, ibu, dan Jinny. Ayah dan Jinny hari ini sengaja meliburkan diri untuk menyambut kepulangan Romi dan kedatangan Dita.
"Ya Tuhaan...Akhirnya kau mengembalikan anakku. Terima kasih Tuhan." Ibu menghambur memeluk Romi begitu Romi tiba di ruang tamu. Romi tak membalas pelukan ibu.
Dita melirik ke arah Romi memberi isyarat kepada Romi untuk membalas pelukan ibu. Tak ada respon sama sekali dari Romi.
"Susah sekali kalau berhubungan sama batu." Umpat Dita dalam hati.
"Kakak selamat datang." Kali ini Jinny memeluk kakak iparnya, tak ingin suasana canggung tercipta. Ia tahu kalau ibu tak akan menyambut baik menantunya itu.
"Selamat datang anak dan menantu ayah." Ayah berusaha ikut menetralkan suasana.
"Terimakasih Jinny, Ayah, dan Ibu." Dita membalas pelukan Jinny, sambil menunduk sopan ke arah ayah.
Ibu yang sudah melepaskan pelukan sebelah pihaknya menatap tidak suka ke arah Dita.
__ADS_1
"Ayo kita ngobrol-ngobrol sambil makan siang. Rasanya tidak terlalu dini untuk makan siang." Ayah tersenyum menarik tangan ibu, seolah ingin menyadarkan ibu untuk tidak bersikap buruk kepada menantunya.
Semuanya mengikuti langkah ayah menuju ruang makan. Nampak sekali kecanggungan dari gerak gerik Dita. Tak dipungkiri, semua orang yang sedang bersamanya adalah orang asing yang sayangnya saat ini berstatus sebagai keluarga. Dita bertemu dengan Ayah, Ibu, dan Jinny hanya sekali saat hari penikahannya. Sudah jelas ibu sangat tidak menyukainya. Ayah, terlihat seperti sosok yang cukup bijaksana. Jinny, Dita masih meraba-raba karakternya, sejauh ini sikap bersahabat yang ditunjukkan Jinny sejak pertama mereka bertemu.
"Ayo dinikmati, tak perlu sungkan." Ayah
"Iya, kak. Semua disiapkan khusus untuk menyambut kedatangan kakak dan kakak ipar looh." Jinny refleks menyendokkan nasi ke piring Dita yang masih kosong.
"Jinny, jangan berlebihan perlakuanmu kepada wanita itu. Nanti bisa-bisa dia besar kepala." Ibu sontak melarang saat melihat Jinny hendak menyendokkan nasi ke piring Dita.
Semua orang tampak kaget, termasuk Romi. Namun Romi tak memberikan tindakan apapun. Tidak membenarkan maupun menyalahkan tindakan ibu. Ia tetap menyuapkan makanan ke mulutnya.
Ayah hanya melirik tak suka ke arah ibu, ibu hanya melengos menghindari tatapan ayah.
Jinny seketika kaku menghentikan tindakannya. Speecless.
"Ahh...i..iya adik ipar. Tak usah repot-repot. Saya bisa mengambil makanannya sendiri." Dita menengahi suasana tidak mengenakkan itu. Ia ditempatkan dalam posisi yang sulit.
"TING!" Sendok nasi yang tadi dipegang Jinny seketika jatuh saat Dita hendak meraihnya. Membuat suasana di ruang makan semakin tak nyaman.
"Ma..maafkan saya." Dita menyempatkan meminta maaf sebelum ditarik paksa oleh suaminya itu.
---------------------‐---------------------------------
"ANNE...! Tolong hentikan tingkah konyolmu itu." Ayah yang kesal dengan kelakuan ibu, memperingatkan istrinya agar tidak bersikap berlebihan kepada menantunya itu. Apalagi di hari pertama kembalinya Romi dan menantunya itu.
"Ayah, ibu sungguh tidak suka melihat wajah sok polos dan sok sucinya itu. Dia itu tak ada bedanya dengan Riana. Ibu hanya tidak ingin Romi terluka untuk kedua kalinya." Ibu menumpahkan kekesalan dan isi hatinya.
"Tolong jangan berprasangka buruk dulu. Ayah tahu kita semua masih memiliki trauma atas kejadian masa lalu. Tapi kali ini biarkan Romi membuka lembaran barunya, kita berdoa agar lembaran lamanya yang kelam terhapus dengan lembaran baru yang bersih." Ayah berusaha membukakan pikiran istrinya.
"Jinny rasa ayah benar, bu." Jinny membenarkan perkataan ayahnya.
Tak ada tanggapan dari ibu. Ibu memilih menyudahi makan siangnya dan menuju kamar.
-------------------------------------------------
__ADS_1
Di kamar lantai 2 yang sudah lama tak dihuni oleh pemiliknya, terdapat dua manusia yang sedang mematung tak berkata ataupun bergerak.
Romi bingung dihadapkan dengan situasi barusan yang sangat mengejutkannya. Ia tak menyangka reaksi berlebihan ibu barusan.
Romi saja kaget, apalagi Dita. Kalau ada pilihan membenamkan diri ke dasar bumi mungkin akan lebih dipilih oleh Dita saat ini.
"Apanya yang dibilang have fun?". Dalam hati ingin sekali rasanya Dita mengutuk Nisa saat ini.
Romi yang tadi berdiri mematung di dekat jendela akhirmya merebahkan diri ke sofa yang terletak menghadap jendela kaca. Dita mengintip gerak-gerak suaminya itu.
"Tuan, maafkan saya yang menyebabkan keributan, bahkan di hari pertama saya pindah ke sini." Dita memberanikan diri bersuara saat melihat Romi nampak rileks. Tak ada respon dari Romi.
Kini Romi sedang melayang-layang dengan pikirannya sendiri. Ia mengulas kembali apa yang sudah terjadi dalam hidupmya beberapa waktu terakhir, sejak ia memutuskan untuk menduda hingga ia memutuskan kembali berumah tangga. Ia seolah menyadari betapa pendek pikirannya saat itu. Ia bertindak tanpa berpikir dua kali, semua tindakan yang ia ambil saat itu di bawah pengaruh emosi yang tidak stabil.
"Apakah tindakan yang kulakukan saat ini tidak berlebihan?". Lagi-lagi pertanyaan itu muncul kembali. Namun semua sudah terlanjur, tak bisa dibatalkan. Yang bisa ia lakukan saat ini adalah menjalaninya, meski tak tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Ia saat ini bahkan belum memiliki rencana apapun dengan pernikahannya yang sekarang, pernikahan yang terjadi begitu saja akibat emosi sesaatnya untuk membalas dendam kepada mantan istrinya, dan Dita.
"Apa yang kau lakukan? Apa kau anak sekolah yang sedang dihukum oleh guru?." Romi memutuskan menyudahi pikiran rumitnya. Kini Romi melirik ke arah Dita yang sejak tadi masih setia berdiri sambil menunduk. Dita terlalu bingung dengan apa yang harus ia kerjakan sekarang.
"Maaf tuan." Lagi-lagi Dita minta maaf.
"Apa cuma minta maaf yang bisa kau kerjakan?". Romi gerah mendengar kata maaf yang sejak tadi diucapkan oleh Dita.
"Kau bisa berkeliling melihat ruangan ini yang kedepannya akan kau tempati." Romi melanjutkan ucapannya, meminta Dita untuk mengenali seluk beluk kamar yang akan mereka tempati berdua.
"Maksudnya apa, tuan?". Dita merasa kaget dan rancu dengan ucapan yang ia dengar.
"Ternyata selain bodoh, ternyata kau itu tuli ya." Romi memang anti untuk mengulang kata-katanya untuk kedua kali.
"Mana pantas saya menempati kamar ini bersama tuan." Dita berusaha mengartikan kalimat Romi. "Matilah aku kalau salah mengartikan ucapannya barusan". Dita berdoa dalam hati agar ia tak salah mengerti.
"Lalu, apa kau mau ibu semakin tidak menyukaimu?." Romi dengan enteng membalikkan keadaan.
"Ti..tidak, Tuan." Dita akhirnya mengalah. Tak mungkin ia memperkeruh suasana kebencian ibu kepadanya. Bila ibu tahu mereka tidur terpisah, akan makin mudah bagi ibu untuk menindas Dita. Akan sangat kelihatan pernikahan pura-pura mereka. Meski Dita tidak tahu persis apa yang membuat ibu begitu tak menyukainya, namun yang Dita pikirkan adalah Romi dan Dita harus terlihat bahagia dengan pernikahan mereka saat ini.
Bersambung...
__ADS_1