LEMBARAN BARU SANG TUAN MUDA

LEMBARAN BARU SANG TUAN MUDA
PAGI YANG PANJANG DAN MELELAHKAN


__ADS_3

***


Seperti pagi setelah malam pertama sebelumnya, Dita kali ini sama ragunya untuk melangkahkan kaki ke kamar mandi. Kali ini ia semakin ragu karena ia tak bisa menggunakan selimut untuk menutupi badannya sendiri. Romi saat ini masih belum mengenakan pakaiannya, sehingga ia akan membuat Romi bertelenjang ria jika Dita menarik selimut untuk menutupi tubuhnya sendiri.


"Kenapa kau masih malu-malu? Ini bahkan bukan pertama kali kita melakukannya. Aku sangat tidak keberatan jika kau melenggang ke kamar mandi tanpa mengenakan apapun." Romi tersenyum menggoda.


"Iya, kau yang tak apa-apa. Sadarlah tuan muda, aku ini berbeda dengan dirimu yang seperti tak punya urat malu!." Dita mencari cara agar ia bisa lolos ke kamar mandi tanpa mempermalukan dirinya.


"Silakan gunakan selimutnya jika kau tak ingin aku melihat tubuhmu!." Lagi-lagi Romi menggoda.


"Mana mungkin bisa begitu. Yang ada kau akan puas menggodaku dengan menunjukkan dan membanggakan tubuhmu itu." Bukan pilihan tepat bagi Dita untuk menarik selimut dan memakainya sendiri.


"Maaf sayang aku pinjam bajunya." Dita seketika melirik kaos milik Romi yang teronggok di lantai di samping tempat tidurnya. Secepat kilat ia kenakan dan berlarian ke kamar mandi dengan menggunakan kaos yang cukup menutupi tubuhnya hingga ke lutut.


"Sialan! Bagaimana bisa dia menemukan benda itu. Akukan jadi tak bisa menggodanya." Romi kesal karena Dita berhasil kabur, dan ia gagal membuat istri polosnya malu-malu dan bertingkah menggemaskan. Lain kali ia akan berpikir bagaimana caranya agar Dita tak bisa kabur lagi dan terpaksa harus berjalan ke kamar mandi tanpa sehelai benangpun. Dasar mesum!


Romi yang tak puas menjahili istrinya kini menyusul ke kamar mandi, sayangnya kamar mandi terkunci dari dalam.


Saat Romi hendak melangkahkan kaki kembali ke kamar, Dita kemudian keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk dengan rambut basah terurai. Kesempatan itu tak ingin disia-siakan Romi. Dengan tatapan tajam bernapsu Romi mengangkat tubuh mungil istrinya ke atas westafel dan mengejutkan Dita. Romi kembali memulai sebuah ciuman panas, membuat Dita lagi-lagi kehabisan napas.


Dita mencoba mendorong tubuh Romi, namun kalah tenaga.


"Sa..sayang. Aku baru selesai mandi." Dita seolah ingin menyadarkan Romi.


"Lalu?." Romi pura-pura tak mengerti.


"Aaku...Lapar." Dita menjawab sembarangan.


"Aku juga lapar, makanya aku butuh melahapmu.!" Nafsu Romi yang sejak tadi memang sudah meninggi tak bisa dielakkan lagi.


Pergumulan panas kembali terjadi pagi itu. Terasa lebih bergairah karena mereka melakukannya dengan suasana baru, posisi baru, dan tempat yang membuat Romi lebih leluasa menjangkau apa yang ia inginkan.

__ADS_1


Dita sudah diposisikan duduk di sebelah westafel ruang ganti, bersandar pada kaca yang memantulkan bayangan mereka yang sedang melakukan aktifitas panas.


Romi sudah gagah dengan menampakkan otot dada dan otot lengannya. Dengan sekali tarikan handuk yang dikenakan Dita terlepas, tubuh Dita sepenuhnya sudah tanpa sehalai benang. Refleks ia meletakkan kedua tangannya di dada.


"Hahaha...Apa gunanya kau melakukan itu sayang?." Romi menertawan tingkah lucu Dita yang sedang menahan malu.


"Turunkan tanganmu!." Perintah Romi dengan suara dibuat-buat serius. Refleks Dita mengikuti perintahnya.


"Ya, aku suka jika kau jadi gadis penurut begini." Romi tanpa basa-basi langsung melahap kedua payudara istrinya dan membuat Dita tak kuasa menahan rasa yang ia tak bisa jelaskan.


Pagi itu menjadi pagi pertama yang panjang dan sangat melelahkan bagi Dita. Usai melakukan aktifitas panas, Romi memaksa Dita untuk mandi bersama. Lebih tepatnya Romi meminta untuk dimandikan. Sebagai imbalan, Romi yang tahu istrinya sudah kehabisan energi kini menggendongnya dari kamar mandi menuju ruang ganti dan kamar. Romi bahkan membantu Dita mengenakan pakaian hingga mengeringkan rambutnya. Bukan tanpa alasan, Romi sengaja membantu Dita mengenakan pakaian agar bisa menentukan pakaian apa yang Romi inginkan untuk Dita pakai. Ia sengaja memilih kemeja lengan panjang miliknya untuk dikenakan Dita tanpa menggunakan bra dan hanya memakaikan celana dalam, aksinya ini akan memudahkannya untuk mengulang kejadian panas seperti saat tadi di ruang ganti.


"Sekarang mari sarapan. Aku akan suapi sebagai imbalan kau sudah menjadi gadis baik hari ini." Romi kembali menggendong Dita untuk sarapan di meja yang sudah tersaji menu makanan. Rasanya sudah terlali siang jika disebut dengan sarapan.


"Aku bisa menyuap sendiri sayang." Dita tak enak hati jika harus disuapi, lebih tepatnya ia merasa sedikit risih dengan perlakuan Romi saat ini.


"Kalau kau tidak mau disuapi maka kau harus menyuapiku." Romi memberikan pilihan dengan menyodorkan sendok yang sudah terisi nasi dan beberapa lauk. Dita memilih membuka mulutnya dan mulai mengunyah.


Romi tersenyum puas ketika kemauannya dituruti.


"Teruslah menjadi gadisku yang penurut!." Kini Romi yang juga sudah terasa lapar ikut menyendokkan makanan dari piring yang sama dengan Dita.


***


Siang ini Romi meminta Dita untuk datang ke perusahaannya, mengajak Dita untuk makan siang bersama. Dita berangkat dari kantornya tepat saat jam makan siang tiba. Ia sudah mendapatkan ijin dari Beni, kemungkinan ia akan terlambat balik ke kantor.


Sebelum tiba di kantor suaminya, Dita menyempatkan diri membeli beberapa makanan untuk mereka habiskan bersama. Dita berusaha kembali mengingat hapalan di kepalanya mengenai menu kesukaan suaminya. Ia putuskan membeli beberapa kue yang ia ingat sebagai kue kesukaan Romi setelah berhasil mengingat hapalannya.


"Pasti kau tidak menyangka aku membawakan ini untukmu." Dita dengan percaya diri membanggakan rencananya, melirik kotak kue yang ada di kursi penumpang.


***

__ADS_1


Dita diantar menuju ruang kerja oleh pengawal penerima tamu khusus untuk tuan muda. Ruangannya berada di lantai tujuh. Butuh waktu sekitar lima menit menggunakan lift.


"Kenapa kau lama sekali? Aku sudah begitu lapar. Kau harus tanggung jawab jika nanti aku tak berselera makan lagi dan memilih melahapmu." Romi langsung mengomeli Dita begitu Dita tiba di ruangannya. Bima yang sejak tadi menjadi sasaran dari ketidaksabaran Romi yang menunggu istrinya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan bosnya, dan kini pamit undur diri.


"Maaf sayang, tadi aku mampir untuk membelikan makanan kesukaanmu." Dita menyodorkan kue yang ia beli. Romi seketika berubah menjadi riang.


"Apa kau tau makanan kesukaanku?." Romi pura-pura menguji Dita.


"Hahaha...Silakan tanyakan kepada sekretaris kesayanganmu. Kenapa aku bisa tahu apa saja yang suamiku suka dan tidak suka." Dita tertawa dibuat-buat.


"Kan memang aku yang memintanya." Romi tiba-tiba mengakui kalau dulu dia yang meminta Bima menyuruh Dita menghapalkan kebiasaannya yang tertera dalam berlembar-lembar kertas.


"Huh...Dasar." Dita cemberut, membuat Romi gemas.


"Kenapa istriku menggemaskan begini sih? Cup!." Romi mencuri sebuah ciuman dari bibir Dita.


"Sayang apa yang kau lakukan? Bagaimana jika ada yang melihat?." Dita yang terkejut refleks memukul pelan dada Romi.


"Memangnya kenapa kalau ada yang lihat? Atau kalau kau mau kita bisa melakukannya secara privat di kamar istirahatku? Bagaimana?." Romi lagi-lagi menggoda Dita dengan mengajaknya berhubungan di kamar khusus di ruang kerjanya.


"Sayang, jangan aneh-aneh deh." Dita langsung memerah.


"Ayo kita makan, katanya sudah lapar." Dita tak mau lagi menanggapi kegilaan suaminya.


"Aku bisa mengganti makan siangku dengan memakanmu." Romi tertawa tipis.


"Tidak." Dita secepat kilat menyumpal mulut Romi dengan makanan. Romi tertawa puas melihat tingkah menggemaskan istrinya.


Makan siang paling menyenangkan bagi kedua insan yang sedang mabuk kepayang.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2