
Hari melelahkan bagi Romi dan Bima, tak ada urusan kantor yang benar-benar diurus hari ini. Mereka sibuk dengan rencana kencan buta.
Romi hari ini pulang dari kantor lebih awal. Saat tiba di rumah, ia sempat bertemu dengan ibu di ruang tamu. "Kau pulang lebih awal nak?" Ibu terlebih dahulu menyapa.
"Iya bu. Hari ini hanya ingin lebih banyak istirahat." Jawabnya tanpa basa-basi.
"Ya sudah kalau begitu segera ke kamar. Bersihkan diri, kemudian istirahat. Kau tampak lelah." Sebisa mungkin ibu memberikan perhatian kepada Romi yang saat ini sikapnya masih canggung terhadap ibu.
Ibu hanya menerima anggukan dari Romi sebelum pamit untuk ke kamar. Setibanya di kamar Romi segera merebahkan diri di tempat tidur, seperti sudah tidak ada tenaga untuk membersihkan diri. "Hari yang melelahkan." Ucapnya pada diri sendiri, beberapa menit kemudian ia memejamkan mata. Nampak betul raut lelah pada wajahnya. (Good luck ya Romi untuk Blind Datenya 😊)
Pukul 19.00 Romi terbangun dari tidur lelapnya, segera ia melihat ke arah jam di dinding. Ia bernapas lega saat melihat jarum jam, ternyata hari belum berganti menjadi esok. Hari dimana ia akan kencan untuk pertama kali dalam hidupnya.
Segera ia menyegarkan diri dengan mandi air hangat yang membantu meluruhkan penatnya hari ini. Usai mandi dan berganti baju santai, ia segera menuju ruang makan. Ternyata Ibu dan Jinny sudah menunggu di meja makan, kebetulan ayah sedang ada tugas ke luar kota. "Kenapa tidak mulai duluan makannya?" Romi merasa tidak enak pada ibu karena harus menunggu dirinya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa nak, tadi waktu bibi ke kamarmu ternyata kau sedang mandi. Jadi ibu pikir kami bisa menunggumu untuk makan bersama. Lagi pula kita belum begitu lapar, iya kan nak?" Ibu melirik ke arah Jinny untuk mengiyakan pendapat ibu.
"Hehe...iya kak. Lagi pula aku kan diet, jadi hanya sebagai teman mengobrol kalian saat makan malam." Menunjukkan wajah sok imutnya sehingga matanya dibuat-buat membentuk seperti bulan sabit.
Sebenarnya mereka sengaja menunggu Romi untuk makan malam bersama, karena ingin melanjutkan pembicaraan mereka tadi pagi mengenai pernikahan dan cucu. Sebelum Romi bergabung di meja makan, ibu dan Jinny terlebih dahulu bersepakat untuk menyampaikan rencana yang tadi pagi mereka rencanakan. Keduanya sempat saling lempar untuk menentukan siapa yang akan memulai kembali pembicaraan sensitif itu. Akhirnya diputuskan Jinny yang akan memulai obrolan.
Sesaat setelah mereka mulai makan, akhirnya Jinny dengan ragu membuka pembicaraan. "Kak, untuk permintaan ibu tadi pagi menurut kakak bagaimana?" Jinny membuka mulutnya ragu-ragu, ibu terlihat sok santai, padahal di dalam hati sangat penasaran menunggu reaksi Romi. Ibu dan Jinny, keduanya kemudian saling menatap menunggu jawaban Romi yang tak kunjung keluar dari mulutnya.
"Kau masih kecil, belum waktunya kau untuk menikah." Jinny bisa bernapas lega, namun tidak dengan ibu. Jawaban Romi masih menggantung
"Kalo belum waktunya menikah aku setuju kak, tapi aku sudah bukan anak kecil lagi kak." Menyetujui namun juga menolak ucapan kakaknya. Jinny kesal masih dianggap anak kecil oleh kakaknya.
" Kalau sudah bukan anak kecil, maka menikahlah!" Ucap Romi membuat yang mendengar lagsung meralat kata-kata yang ia ucapkan sebelumnya.
__ADS_1
"Iya aku ralat, aku masih anak kecil." Jinny akhirnya mengalah, menunjukkan wajah khas cemberutnya. Romi sedikit tertawa melihat adik kecilnya ngambek.
"Lihat kelakuanmu masih seperti anak kecil begini, mau dibilang sudah dewasa." Semakin meledek adiknya.
Ibu hanya bisa menyaksikan perdebatan kecil kakak adik itu, karena terlalu fokus menunggu jawaban dari Romi mengenai pertanyaan Jinny yang di awal.
"Besok aku akan mencoba berkencan, bu." Romi spontan berucap tanpa melemparkan pandangannya pada ibu.
Ibu dan Jinny kompak menutup mulut mereka dengan kedua tangan, tidak percaya dengan apa yang diucapkan Romi barusan.
"Benarkah?" Ibu.
Bersambung.....
__ADS_1