LEMBARAN BARU SANG TUAN MUDA

LEMBARAN BARU SANG TUAN MUDA
JALAN-JALAN PERTAMA


__ADS_3

Akhirnya setelah sekian lama, Dita akan merasakan udara segar pantai. Terakhir kali ia jalan-jalan adalah sejak sebelum menikah, setelah menikah rasanya kehidupannya hanya dijalani di rumah utama, toko, dan pasar saat sesekali mereka survey.


Tak heran jika sekarang ia merasa sesemangat itu. Ia sudah merencanakan akan membawa apa saja untuk keberangkatannya nanti, termasuk outfit. Ingin sekali ia berpose cantik di pinggir pantai menggunakan outfit yang pas dengan suasana pantai. Ia sudah berniat sepulang kerja akan membongkar isi lemari untuk memenuhi niatannya itu.


***


"Bi, apakah koper yang ada di kamar itu milikku?." Dita menghampiri bibi yang biasa menyiapkan keperluannya dengan terburu-buru. Dita merasa heran melihat satu buah koper sudah tersusun rapi begitu ia tiba di kamar.


"Maaf, Non. Tadi bibi diminta oleh pak Bima buat siapin semuanya. Jangan marah sama bibi ya non." Pelayan tersebut ketakutan.


"Oh gapapa, Bi. Aku hanya ingin memastikan kok, syukur kalau memang itu ternyata disiapkan buatku. Terimakasih ya, Bi." Dita yang sebetulnya kesal kini harus berpura-pura, tak ingin pelayan yang tadi sudah repot-repot malah menjadi merasa bersalah.


"Menyebalkan sekali!. Awas ya kau sekretaris rese." Dita mengutuk Bima begitu tau bahwa itu adalah instruksi dari Bima, meskipun ia tahu dalang di balik semua ini. Tapi mana berani dia kesal kepada suaminya itu.


Pupus harapan Dita untuk perpose cantik sesuai niatannya. Tapi mau bagaimana lagi, daripada ijinnya dicabut ia memilih untuk pasrah.


***


Dita terlihat sekali begitu excited di malam sebelum keberangkatan mereka ke Kota B. Malam itu ia sulit sekali memejamkan mata, tubuhnya tak berhenti ia bolak-balikkan posisinya yang tak jarang menimbulkan suara dan gerakan di bawah selimut.


"Cih, apa dia sesenang itu sampai tak bisa tidur?." Romi mencibir kelakuan istrinya malam itu.


***

__ADS_1


"Ahh...Senangnyaa...Udah lama banget ga nginep di hotel gini." Dita langsung merebahkan tubuhnya begitu mereka tiba di penginapan.


"Bukannya dulu lo nginep di hotel berbulan-bulan ya. Hahaahha..." Nisa yang mendapat jatah sekamar dengan Dita sedang menggoda sahabatnya itu. Mengingatkannya pada masa-masa awal pernihakannya.


"Dih, lo ini ya ngerusak suasana aja. Jelas beda lah. Ih udah ah serem kalo nginget masa lalu." Dita bergidik ketika mengingat masa-masa dia hanya tinggal berdua dengan Romi di hotel. Meski sekarang perlakuan sikap Romi tak jauh beda dibandingkan dulu, minimal di rumah utama ia bisa menjumpai manusia lain selain Romi, yang bisa ia ajak ngobrol.


Mereka disibukkan merapikan barang-barang mereka sebelum mulai rapat yang diadakan nanti siang.


Kamar yang mereka tempati cukup luas. Ketika melihat ke luar, mereka langsung disuguhi dengan pemandangan indah dari pantai berwarna hijau kebiruan dengan suara deburan ombak. Menenangkan sekali.


"Pengen banget gue nginep lama di sini...Ah...Waktu janganlah cepat beralu untuk dua hari ke depan." Dita menghirup dalam-dalam udara sejuk di balkon kamar, seolah tak ingin menyia-nyiakan waktunya yang tak akan lama menikmat suasana seperti ini.


***


"Karena kalian sudah bekerja dengan sangat baik, malam ini kita akan makan besar." Beni membuat semua orang bersorak senang. Mereka segera menuju restoran yang dijanjikan.


"Lo kaya ga dikasih makan setahun aja ama laki lo, Dit." Nisa mengomentari cara makan Dita yang agak bar-bar.


"Lo jangan sembarangan ngomong, Nis. Bisa digantung lo ama suaminya kalo denger. Hahahha..." Beni memperingati Nisa sambil tertawa keras.


"Ehehe...maaf, Dit. Gue cuma bercanda kok. Terimakasih pak udah diingetin." Nisa langsung meralat omongannya, tak ingin ia punya urusan tak menyenangkan dengan suami sahabatnya itu.


"Hahahha...Kalian ini. Gue dikasih makan lebih mewah dari ini kok. Cuma gue sekarang emang lagi laper aja." Dita ikut-ikutan meluruskan maksudnya, tak ingin ada yang salah paham. Karena Dita tahu betul di sekelilingnya pasti ada mata-mata suaminya, yang bisa saja sewaktu-waktu melaporkan semua tindak tanduknya.

__ADS_1


Malam itu semua orang begitu senang, selepas makan besar mereka menyempatkan menonton live music di pinggir pantai. Entah mengapa Dita serasa begitu senang, seperti tak ada beban. Tak jarang sesekali ia ikut melapalkan lirik mengiringi sang penyanyi.


Malam sudah agak larut. Mereka memutuskan untuk kembali ke hotel yang jaraknya tak jauh, sekitar sepuluh menit jika mengendarai mobil.


Begitu tiba di hotel, Dita tak langsung ikut ke kamar. Ia mengurus beberapa keperluan tambahan selama mereka menginap. Sedangkan Nisa buru-buru ke kamar karena ingin ke kamar kecil.


***


Dita agak heran ketika masuk ke kamarnya. Suasananaya agak berbeda dibandingkan saat ia keluar. Karena tubuhnya sudah terasa sangat lelah, ia memutuskan menyudahi pemikirannya. Ia rebahkan tubuhnya sambil memainkan ponsel. Puas dengan bermain sosial media, Dita memutuskan mengecek kamar mandi. Rasanya terlalu lama Nisa sudah berada di sana. Ternyata ia tak mendapati keberadaan Nisa di kamar mandi.


"Kemana si Nisa? Katanya tadi buru-buru ke kamar mandi." Dita merasa heran, ia akhirnya memutuskan untuk membersihkan diri. Berendam air sabun plus air hangat membuat tubuhnya kembali segar.


Ia pandangi setelan baju tidurnya begitu ia selesai dengan acara mandinya.


"Apa iya di luar rumah pun aku harus menggunakan pakaian sesuai dengan seleranya? Menyebalkan sekali." Dita kembali menggerutu ketika mengingat semua pakaian yang ia bawa adalah sesuai dengan permintaan dari suaminya.


Segera ia putuskan untuk memejamkan mata, mempersiapkan energi untuk hari esok yang menyenangkan. Besok mereka berencana untuk jalan-jalan seharian sebelum malamnya akan meninggalkan kota ini. Ia bahkan melupakan sahabatnya yang sejak saat ini belum tiba di kamar.


***


"Ehmm...Nis kemana aja lo kok baru balik?." Dita sedikit terbangun saat ada tangan yang melingkat di pinggangnya. Ia balik kan badannya, membalas pelukan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2