LEMBARAN BARU SANG TUAN MUDA

LEMBARAN BARU SANG TUAN MUDA
MATA-MATA


__ADS_3

***


Satu ronde terjadi dengan cukup panas. Dita beberapa kali minta dipelankan ritmenya karena mengingat pesan dokter Nina, awalnya dituruti namun terkadang ritme berubah menjadi cepat tak terkendali. Dan pergumulan berakhir dengan mandi bersama.


"Sangat salah jika aku menolaknya mentah-mentah seperti tadi. Yang ada malah aku yang dikerjai." Dita mengingat-ingat supaya kejadian tadi tak terulang lagi.


"Apa tidak apa-apa jika ternyata ada janin sedang tumbuh di sini?." Dita tak sadar mengusap-usap perutnya.


"Kau kenapa? Apa ada yang sakit?." Romi yang sadar dengan pergerakan Dita tiba-tiba terlihat panik.


"Apa aku melakukannya terlalu kasar?." Terselip nada penyesalan dari Romi.


"Bu...Bukan begitu sayang. Aku hanya lapar." Dita mencari alasan termasuk akal dan buru-buru beranjak dari bathup.


"Ayo kita makan malam. Bibi hari ini masak apa ya?." Dita menarik tangan Romi untuk menyudahi acara mandi mereka.


"Tumben sekali, biasanya kau paling susah untuk diajak makan malam." Romi mengomentari perilaku tak biasa istrinya.


"Haha..Tidak juga." Mereka sudah selesai berganti dengan pakaian rumahan. Dita mengenakan pakaian yang sama seperti sebelum mereka melakukan aktifitas panas.


"Apa ibu dan ayah sudah selesai makan malam, Bi?." Dita tak mendapati kedua mertuanya di meja makan.


"Iya, Non. Barusan selesai makan dan masuk kamar."


"Huh...Semua karena ulahmu." Dita cemberut pada Romi.


"Kenapa jadi aku yang disalahkan? Itu terjadi sebagai hukuman karena sudah menolak suamimu." Romi tak mau kalah argumen.


Makan malam hari itu hanya mereka lalui berdua. Jinny kebetulan sedang ada pemotretan di luar kota.


***


"Apa malam ini akan lembur?." Dita bertanya pada Romi ketika melihat Romi membuka laptopnya.


"Kenapa? Mau mengulang yang tadi?." Romi tersenyum nakal.


"Hahaha...Sayang apa tidak capek?." Dita tak ingin mengulang kesalahannya tadi dengan menolak mentah-mentah lagi.


"Lalu?." Romi sebentar menghentikan pekerjaannya.


"Tidak apa-apa. Ehmm...Apa aku akan mengganggumu jika aku mengajak mengobrol sambil bekerja?."


"Tentu saja....Tidak." Romi sedikit menggoda Dita dengan jawabannya.


"Aku perhatikan akhir-akhir ini kau menjadi sedikit cerewet ya?."


"Iyakah? Aku rasa dari dulu aku memang sudah seperti ini." Dita tersenyum dibuat-buat.


"Jadi maksudmu aku salah menilai istriku sendiri?." Romi mulai lagi dengan kesensitifannya.


"Hahahaha...Sayang bukan begitu maksudku. Aku hanya...Aku hanya..." Dita menggigit bibir bawahnya, menegaskan keragu-raguannya.


"Hanya apa?." Romi sudah menghadapkan tubuhnya ke arah Dita.


"Aku....Apa salah jika aku ingin lebih dekat dengan suamiku?." Dita langsung membenamkan seluruh tubuhnya di bawah selimut.

__ADS_1


Senyum langsung mengembang di bibir Romi, semekar bunga mawar yang habis disiram hujan.


"Apa kau bilang? Aku tidak dengar." Romi menarik selimut agar Dita keluar dari sana, namun mendapat perlawanan. Dita terlalu malu untuk menampakkan wajah memerahnya.


"Sayang...Jangan mengusiliku. Aku malu." Dita masih bertahan di bawah selimut.


"HAHAHAHA...Kenapa tingkahmu lucu sekali sih? Kenapa tidak dari dulu kau bersikap begini?. Hey keluar dari sana. Apa kau mau kehabisan napas di sana?." Romi masih menarik selimut dan kali ini menggelitiki Dita agar melepaskan selimutnya.


Malam itu berakhir dengan Romi mengusili istrinya, sehingga ia tak jadi lembur.


***


"Tuan, apakah tuan sudah membuka laporan yang kemarin sore saya kirim ke email?." Bima mengkonfirmasi ke tuan mudanya, karena laporannya tidak mendapat respon.


"Laporan yang mana? Semalam aku belum sempat mengecek emailku." Romi kini minta dilaporkan secara langsung.


"Kemarin nona mendatangi rumah sakit xxx." Perkataan Bima cukup mengejutkan Romi.


"Apa? Kenapa kau tak bilang dari kemarin?." Romi melimpahkan kesalahannya kepada Bima, padahal salahnya sendiri yang tidak langsung membuka laporan dari sekretarisnya itu.


"Maafkan saya, Tuan." Bima yang sudah sangat hapal karakter Romi, lebih baik mengaku salah.


"Apa yang terjadi? Kenapa sampai dia datang ke rumah sakit?." Romi akhirnya memilih untuk sambil membuka berkas laporan yang dikirim Bima.


"Nona datang untuk memeriksakan kehamilan."


"Apa istriku sekarang sedang hamil?." Romi terlihat begitu semangat.


"Maaf, Tuan. Sepertinya belum." Raut muka Romi seketika berubah.


"Buatkan aku janji dengan dokter yang kemarin memeriksa istriku." Dijawab anggukan oleh Bima.


***


Romi sudah berada di ruang konsultasi seorang diri.


"Maaf tuan, dimana istri tuan?." Dokter Nina mengira kalau Romi datang hari ini karena hendak memeriksakan istrinya.


"Tuan suaminya nona Dita? Apakah ada masalah? Karena baru kemarin nona Dita berkonsultasi dengan saya." Dokter Nina terlihat bingung.


"Saya datang kesini karena ingin bertanya mengenai hasil pemeriksaan istri saya kemarin. Tolong jelaskan kepada saya semuanya." Romi langsung ke inti dari kedatangannya.


Dokter Nina masih terlihat sama bingungnya saat pertama kali Romi mendatangi ruangannya. Mengapa ia tak menanyakan langsung kepada istrinya, begitu pikir dokter Nina.


"Maaf, tuan. Apakah sebaiknya nona Dita perlu datang kesini juga agar kita mendapat persetujuan dari nona Dita untuk memberikan informasi kepada tuan?." Dalam dunia kedokteran ada istilahnya privacy pasien. Yang mana semua informasi yang diperoleh dokter hanya boleh diketahui oleh orang lain atas persetujuan pasien itu sendiri.


"Saya suaminya. Saya berhak tahu tentang istri saya." Romi beradu argumen.


"Betul tuan. Tapi kami tetap tidak bisa membuka informasi kepada siapapun kecuali atas persetujuan pasien." Dokter Nina masih menjawab dengan tenang sambil membumbui bibirnya dengan senyum tipis.


Romi mendesah tak suka. Bima yang sangat sensitif terhadap semua gerak gerik tuan mudanya segera ikut masuk ke ruangan minimalis itu.


Bima menunjukkan sebuah surat perjanjian yang ditandatangani Dita di atas materai kepada dokter Nina, yang menyatakan semua hidup Dita adalah milik suaminya.


Dokter Nina menggelengkan kepalanya tak percaya.

__ADS_1


"Apa masih kurang?." Romi kini tak terkalahkan.


Dokter Nina akhirnya menceritakan secara detail hasil pemeriksaannya kemarin.


***


"Aku masih tak habis pikir kenapa dia melakukan semuanya sendiri? Apa dikira aku ini tak bisa menjadi suami siaga untuknya?." Romi mengomel pelan.


"Dari mana tuan tau istilah suami siaga?." Bima yang sedang mengemudi berkomentar dalam hati.


***


Romi sudah tiba di rumah lebih dulu, Dita sudah ijin pulang terlambat hari ini.


Ketika Dita tiba di rumah, Romi sudah rapi dengan pakaian tidurnya.


"Sayang maafkan aku hari ini pulang terlambat." Dita hendak menghambur ke arah Romi, namun ia urungkan karena takut hal-hal tak diinginkan terjadi lagi.


"Kenapa tidak jadi peluk?." Romi sudah bergerak dari posisinya.


"Maaf sayang tadi aku lupa kalau aku belum mandi." Dita buru-buru kabur ke kamar mandi. Namun terlambat, Dita sudah jatuh ke dalam pelukan suaminya.


"Sebentar saja. Aku tak akan macam-macam. Aku cuma butuh pelukan dari istriku. Dan aku ingin mendengar cerita apa saja yang kau kerjakan kemarin dan hari ini." Romi sudah membawa Dita ke atas sofa. Tidur di pangkuan istrinya menghadap jendela dengan pemandangan taman.


"Eh...Kenapa tiba-tiba begini?." Dita meraba-raba maksud suaminya.


"Hmm...Kemarin dan hari ini aku rapat untuk projek baru bersama tim di kantor. Tidak ada yang spesial. Kenapakah?." Dita mengelus rambut hitam dan lurus yang ada di hadapannya.


"Benarkah? Tak ada yang lain?." Suara Romi datar dan ekspresinya tak terbaca.


"Memangnya apalagi yang terjadi? Aaa...kenapa aku bodoh sekali. Dia pasti tau kemarin aku ke rumah sakit kan?." Dita melupakan satu hal, dia merasa sudah bebas dari mata-mata sejak hubungan mereka membaik. Tapi semua ternyata hanya persepsi dirinya saja.


"Hmm...Apa ya?." Dita masih pura-pura lupa. Sebenarnya Dita sengaja tak ingin ditemani oleh suaminya saat memastikan kehamilannya, karena takut hasilnya mengecewakan bila ternyata belum positif. Dita memilih memastikan terlebih dahulu sendiri.


"Oh...Iya. Minggu depan aku ada undangan reuni angkatan kuliah. Apakah aku boleh bergabung?." Dita mengalihkan pembicaraan.


Romi seketika membalikkan tubuhnya menghadap Dita.


"Apakah dulu ada laki-laki yang menyukaimu di bangku kuliah?." Romi bertanya dengan tatapan tajam dan suara dingin.


"Hahahha...Tentu saja tidak suamiku. Aku ini hanya gadis biasa. Dulu yang aku tau hanya kuliah dan mencari tambahan biaya kuliah." Dita menunjukkan jari telunjuk dan tengahnya bersamaan, meyakinkan bahwa perkataannya benar. Ia sangat tidak mau menyulut kecemburuan suaminya yang kadang bisa membabi buta.


"Jadi maksudmu aku mencintai wanita biasa saja?." Preferensi pembicaraannya tiba-tiba berubah.


"Apa? Dia bilang cinta? Apa semudah itu dia mengucapkannya?." Dita ikut-ikutan menangkap pembicaraan mereka dari preferensi yang berbeda.


"Ehm..ehm..." Dita merasa ada yang menyangkut ditenggorokannya setelah mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Romi.


"Hey...Kenapa tidak menjawab?." Romi menyentil kening Dita.


"Sayang, ijinkan aku mandi dulu ya. Hari ini sangat panas." Dita berlari menuju kamar mandi.


Pembicaraan mereka sore itu berakhir menggantung.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2