
***
Flashback On
Pertemuan pertama antara Romi dan Dita ketika rencana kencan buta yang gagal ternyata telah membuat Romi jatuh hati saat pertama ia melihat Dita. Dita yang dengan tampilan sederhananya, menggunakan dress setinggi lutut, bermotif bunga-bunga, manis sekali. Entah ia manusia dari jaman mana, sehingga masih memercayai 'Cinta pada Pandangan Pertama'. Ya, tapi itulah Romi. Namun sayangnya cinta pandangan pertamanya itu langsung gagal mungkin hanya dalam hitungan menit. Dita hari itu tiba-tiba membatalkan janji. Bukan tanpa sebab, hari itu Dita mendapat telepon dari kakak iparnya yang meberitahukan bahwa kakaknya masuk rumah sakit karena serangan jantung.
Romi saat itu benar-benar marah, dan kecewa.
Pertemuan ke dua mereka terjadi saat insiden kecelakaan. Saat itu Romi langsung mengenali wajah Dita meski dari dalam mobil dalam remangnya malam, sehingga ia meminta Bima untuk menghentikan mobil. Pertemuan mereka saat itu tidak terduga dan kondisinya sangat berbeda. Kala itu wajah Dita yang kesakitan membuat Romi seketika melupakan kemarahannya, yang timbul kini rasa iba dan debaran yang sulit untuk diartikan. Debaran yang ia rasakan saat itu sama persis dengan saat ia bertemu Dita pertama kali, sepertinya kali itu Romi mengalami 'Cinta pada Pandangan Ke Dua'. Sejak kejadian itu Romi memutuskan tak ingin lagi kehilangan cinta pandangan pertamanya, dan tak ingin mengalami kegagalan pada cinta pandangan keduanya. Romi segera meminta Bima untuk menyiapkan pernikahannya. Sesungguhnya pernikahan itu sudah direncanakan beberapa saat sebelum penikahan antara Riana dan Adit terjadi.
Bima yang memang sudah memastikan latar belakang calon istri tuan mudanya, seratus persen mendukung pernikahan itu.
***
Flashback Off
Malam sudah pulang, kini pagi yang datang. Air embun yang menggantung di ujung daun, perlahan mengering ketika matahari beranjak tinggi. Kedua manusia yang masih di bawah selimut masih enggan bangun. Rasa nyaman yang dirasakan keduanya membuat mereka semakin mengeratkan pelukan. Mereka seolah lupa bahwa hari ini adalah hari sibuk untuk orang kantoran yang sudah kehabisan akhir pekan.
Dita menjadi yang pertama membuka mata di kamar itu. Betapa terkejutnya ketika ia mendapati dirinya berada dalam pelukan Romi, hampir saja ia berteriak karena sangking kagetnya. Untung ia segera sadar sehingga urung berteriak, dan mulai beringsut dari kasur. Pelan-pelan ia turun dari ranjang, kemudian secepat kilat menuju kamar mandi.
"Seingatku semalam ada bantal guling yang memisahkan kami." Dita mencoba mengingat kembali kejadian semalam, tidak ada hal aneh yang terjadi seingatnya.
__ADS_1
"Bagaimana bisa aku tiba-tiba terbangun dalam pelukannya? Untung manusia menyebalkan itu belum bangun. Bisa-bisa dia mengira aku yang mencari kesempatan". Dita merapihkan wajahnya, mukanya merona. Ia buru-buru mengambil handuk untuk bersiap mandi begitu ia menyadari bahwa ia sudah terlambat datang ke toko.
Usai mandi kilat, Dita merapikan diri dengan pakaian kerja dan siap berangkat. Ia lirik ke arah tempat tidur, Romi masih memejamkan mata. Dita beranikan diri mendekat untuk membangunkan suaminya.
"Tuan, apakah hari ini anda tidak berangkat bekerja?". Dita yang tak mendapat jawaban akhirnya menyerah dan memutuskan segera berangkat bekerja.
"Apa kau akan meninggalkan suamimu yang sedang sakit hanya demi tokomu itu?". Tiba-tiba Romi bersuara dari balik selimut. Suaranya nampak sedikit serak dan lemah.
"Apa? Apa yang sakit tuan? Apa perlu saya panggilkan dokter?". Dita langsung panik dan menghampiri Romi. Ia reflek meraba kening Romi. "Hangat." Itu yang dirasakan Dita begitu tangannya menempel di kening Romi.
"Sepertinya tuan betulan demam. Biar saya siapkan kompres dan sarapan, tuan." Dita bergegas hendak ke bawah untuk mengambil apa yang ia janjikan kepada Romi.
"Apa kau kira aku pura-pura?" Romi tak terima ketika sebelumnya Dita seolah meragukan kalau saat ini dirinya sakit.
"Saya tinggal ke bawah sebentar, tuan." Kali ini langkahnya tidak dicegah oleh Romi.
***
Di lantai satu semua orang sudah selesai sarapan.
Bima sudah berada di ruang tengah, saat ini sedang memegang ponselnya. Ia membaca pesan yang dikirim oleh Romi. "Tidak perlu memanggil dokter. Aku hanya butuh istirahat sebentar."
"Di mana suamimu nak? Apa kalian tidak berangkat bekerja hari ini?". Ayah menyapa Dita ketika bertemu di ruang makan.
__ADS_1
"Hari ini tuan Romi sedang kurang sehat, Ayah." Dita memberi kabar yang membuat semua orang di lantai satu khawatir, kecuali Bima.
Ibu segera hendak menuju ke kamar Romi begitu mendengar kabar bahwa Romi sedang sakit. Namun langkahnya dicegah oleh Bima.
"Maaf nyonya. Tuan Romi berpesan bahwa hari ini tuan Romi hanya ingin istrirahat, tidak ingin diganggu oleh siapapun, Hanya nona Dita yang boleh menemaninya." Romi sambil menunjukkan pesan yang dikirimkan oleh Romi kepada ibu.
Ibu kemudian kesal, sehingga mengampiri Dita.
"Kau apakan anakku sehingga ia tak membolehkan ibunya sendiri menjenguknya saat ia sedang sakit." Dita yang sedang menyiapkan kompres hangat terkaget ketika ibu melotot ke arahnya.
"Maaf ibu, maksud ibu apa?," Dita benar-benar tak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh ibu mertuanya.
Ibu yang tak ingin amarahnya tak terkontrol memilih menenangkan diri di kamar.
Ayah yang mendapat penjelasan dari Bima kini merasa lebih tenang.
"Cepat temui suamimu, jangan meninggalkannya terlalu lama. Sepertinya yang ia butuhkan hanya dirimu saat ini." Ayah tersenyum penuh makna ke arah Dita.
"Baik, ayah." Dita bergegas menuju kamar ketika memastikan pelayan sudah menyiapkan semua kebutuhan suaminya.
Bersambung...
Menurut reader Romi sakit betulan apa sakit pura-pura? Hihi...
__ADS_1