
Beberapa lama Romi mendekap tubuh istrinya sampai Dita benar-benar terlelap, sampai isakan tangis dan beberapa racauan dari mulut Dita benar-benar berhenti.
Romi meraih ponselnya untuk menghubungi Bima. Beberapa pesan belum sempat ia baca, sejak terakhir ia menerima pesan berupa sebuah foto. Foto yang menampakkan Dita sedang berdua dengan Rian tadi siang. Foto yang membuat amarah Romi memuncak dan melempar ponselnya, padahal ia belum sepenuhnya membaca pesan yang dikirimkan oleh Bima.
Flashback On
Sore tadi Romi sesekali memeriksa ponselnya untuk mengusir kejenuhan. Seperti biasa Bima mengirimkan laporan rutin kegiatan pagi, siang, dan sore nona muda saat berada di luar rumah kepada tuan mudanya. Sore itu Bima mengirim beberapa foto saat Dita sedang membahas produk bersama Rian. Setelah foto dikirimkan, Bima menambahkan pesan penutup.
"Siang ini nona Dita sedang membahas produk dengan klien baru. Kebetulan nona Nisa tidak bisa bergabung karena ayahnya sedang dirawat di rumah sakit. Saya sudah memastikan tidak ada hal yang mencurigakan di antara keduanya." Begitu kira-kira pesan yang dikirimkan Bima.
Sayangnya pesan tersebut tak sempat terbaca oleh Romi. Romi terlanjur emosi ketika melihat foto istrinya sedang berduaan dengan laki-laki asing. Romi mendadak ingin segera pulang untuk memberikan hukuman kepada istrinya. Sepanjang perjalanan pulang Bima melihat perubahan emosi di wajah Romi, namun Bima segan untuk menanyakan kepada tuannya. Emosi tuannya sudah biasa sering berubah-ubah, begitu pikirnya.
-----------------------------------------------------------
Flashback off
"Astaga...Kenapa aku bisa jadi sebodoh ini." Romi mengutuk perbuatan gelap matanya tadi, setelah ia mendapat penjelasan dari pesan yang baru ia baca.
Kembali ditatapnya wajah sendu Dita, perasaan bersalahnya menjadi dua kali lipat. Ia benahi selimut agar menyelimuti tubuh Dita hingga ke leher, tak ingin ada angin yang menggangu tidur istrinya. Beberapa kali ia usap pipi lembut Dita, Dita menggeliat memberi respon terhadap sentuhan suaminya. Lama ia pandangi wajah Dita. Ia baru menyadari ternyata istrinya itu sangat manis, selama ini memang belum pernah menatap wajah istrinya selekat ini.
"Apa yang membuatmu menjadi begitu ketakutan?" Romi kembali mengingat kejadian beberapa menit yang lalu, ketika Dita ketakutan dan panik saat Romi memaksa untuk menyerahkan kesuciannya.
"Tolong cari tau apakah ada kejadian di masa lalu yang membuat istriku menjadi trauma?" Romi memberikan instruksi kepada Bima melalui sambungan telepon.
"Baik tuan. Akan segera saya cari tahu." Bima yang berada di ujung telepon tersenyum tipis saat mendengar kata 'istriku' dari mulut tuan mudanya. Selama menikah dengan Riana tak sekalipun Romi memberikan panggilan itu. Secara tidak langsung Romi sudah mengakui Dita sebagai istrinya.
"Semoga nona benar-benar bisa mengobati luka di hati tuan." Doa yang kesekian kali dipanjatkan oleh Bima.
-----------------------------------------------------------------
Romi menyadari Dita belum sempat makan malam, namun ia tak tega membangunkan istrinya. Romi sudah meminta pelayan untuk membawakan makanan ke kamar berjaga-jaga kalau saja tengah malam Dita terbangun.
Malam semakin larut, Romi pun yang belum sempat makan malam lebih memilih ikut tenggelam ke dalam alam mimpi bersama istrinya.
__ADS_1
Bima sudah mendapatkan informasi yang tadi diminta oleh Romi dan mengirimkan beberapa berkas ke email Romi.
--------------------------------------------------------------------
Hampir dua belas jam Dita tertidur. Ia terbangun dengan posisi tubuhnya berada dalam pelukan suaminya. Dita kaget dan refleks hendak menjauhkan tubuhnya. Romi yang sudah bangun sedari tadi menahan pergerakan Dita.
"Sepuluh menit lagi." Romi meminta pelukan sepuluh menit lagi dari Dita.
Tubuh Dita seketika membeku, namun entah mengapa tubuh bekunya dijalari oleh rasa hangat. Rasa yang muncul dari perlakuan Romi yang sangat berbeda dari tadi malam. Dita kembali teringat kejadian tadi malam.
"Tuan, maaf. Sepertinya apa yang tuan pikirkan semalam adalah sebuah kesalahpahaman." Dita mencoba mengklarifikasi salah prasangka yang ditujukan kepadanya semalam. Sama sekali tak ada respon dari Romi. Ditapun tak berani membaca ekspresi wajah suaminya itu.
"Saya rasa laki-laki yang tuan maksud semalam adalah Rian. Beliau adalah rekan bisnis yang baru mendatagani kontrak dengan toko kami." Dita melanjutkan penjelasannya, ia tak ingin kesalahpahaman terus terjadi. Walaupun sebenarnya semua sudah terluruskan dengan sendirinya.
"Cih, bahkan panggilan untuk laki-laki itu sudah terdengar sangat akrab." Romi yang masih memejamkan mata menikmati hangat pelukan pagi protes dalam hati.
"Aku tak suka kau menyebut nama laki-laki lain di hadapanku." Romi seketika melepaskan pelukannya kemudian berlalu ke kamar mandi.
----------------‐-‐-------------------------------------------------
Entah mengapa hari itu Romi meminta Dita untuk tak berangkat ke toko. Begitupun dengan dirinya, ia memberitahu Bima bahwa hari ini ia berniat bekerja dari rumah.
Dita tak bisa menolak perintah tuan muda. Bahkan pagi itu Romi meminta agar sarapan diantar ke kamar. Selama sarapan berdua di kamar, beberapa kali Dita mencuri pandang ke arah Romi. Berpikir keras dengan situasi apa yang ia hadapi saat ini, mengapa perlakuannya begitu berbeda dari sebelum-sebelumnya. Bahkan berbeda tiga ratus enam puluh derajat jika dibandingkan semalam. Sejak pagi ini Romi tampak lebih tampan dari biasanya di mata Dita. Wajahnya tak sedingin biasanya, tatapan matanya tak sedatar biasanya.
Meski dengan perubahan sikap yang diberikan oleh Romi, Dita tetap tak bisa berprilaku normal layaknya kepada sahabat-sahabatnya. Dita masih enggan untuk memulai pembicaraan lebih dulu. Bahkan sejak pagi tak ada obrolan di antara keduanya.
"Tuan, jika boleh saya ijin pamit ke bawah sebentar." Dita yang sejak tadi merasa tertekan berada dalam satu ruangan tanpa ada obrolan, memberanikan diri untuk mencari suasana yang lebih manusiawi. Ia ingin mencari seseorang yang bisa diajak bicara layaknya manusia.
"Ya." Dita mendapat persetujuan dengan jawaban singkat dari Romi.
"Terima kasih tuan atas kebaikannya." Dita lagsung bergerak ke luar kamar sebelum pikiran tuan plin-plannya itu berubah.
"Apa dia sedang dikejar setan?." Romi memperhatikan gerak-gerik Dita yang nampak buru-buru keluar kamar.
__ADS_1
----‐-------------------------------------------------------------------
Dita yang sejak pertama menginjakkan kaki di rumah mewah itu, belum sepenuhnya sempat menjelajahi setiap sudut ruangannya. Di samping rumah terdapat taman bunga yang cukup luas, letaknya sejajar dengan kamar tidurnya. Selama ini ia hanya memandanginya dari sofa tempat tidur yang mengarah ke taman bunga itu. Ternyata sangat berbeda ketika mendatanginya langsung, aroma segar bunga yang sedang mekar masuk melalui indra penciumannya, membuat pikirannya tenang.
Dari jendela kaca kamar lantai dua, Romi memperhatikan Dita yang sedang duduk di taman menikmati harumnya aroma mawar. Tak lama Jinny menghampiri Dita dan bergabung duduk di kursi taman.
"Kakak ipar...Apa hari ini kakak ipar tidak masuk kerja?" Jinny menyapa Dita dengan ramah.
Saat pertama bertemu dengan Dita, Jinny merasa bahwa Dita adalah perempuan baik-baik, sehingga ia berusahan menunjukkan sikap baik agar ke depannya bisa saling mengakrabkan diri. Jinny berusaha untuk mendukung hubungan Dita dengan kakaknya, tak ingin pernikahan kakaknya gagal untuk ke dua kali. Berbeda dengan ibu yang ternyata berpikiran lebih sempit dibandingkan anak bungsunya itu. Ibu tidak pernah berpikir bahwa tindakannya selama ini dapat membuat pernikahan Romi bisa gagal untuk ke dua kali.
"Aaa, adik ipar. Kebetulan hari ini sedang ingin istirahat dulu." Dita tak ingin membuka rahasia di balik hari libur dadakannya hari ini.
"Kau sendiri tidak berangkat kerja?." Dita balik bertanya.
"Kebetulan pemotretan hari ini ditunda. Jadi hari ini aku menganggur." Jinny memuncungkan bibirnya.
"Ternyata adik tuan muda ini seorang model. Sangat cocok dengan wajah dan tubuh indahnya itu." Dita membatin memperhatikan wajah adik iparnya.
"Apa kakak ipar mau menemaniku jalan-jalan hari ini? Suntuk sekali rasanya bila tidak ada kegiatan di luar rumah." Jinny tiba-tiba merangkul tangan Dita, menunjukkan wajahnya yang dibuat imut saat meminta Dita menemaninya keluar rumah.
"Eh..e..." Dita bingung memberikan jawaban. Apa mungkin Romi yang memintanya libur hari ini akan membiarkannya untuk keluar rumah.
"Kakak ipar takut ya sama kak Romi?". Jinny meberikan tebakan yang seratus persen benar.
"Ke..kenapa harus takut. Dia kan suamiku. Hehe." Dita menjawab canggung dengan penuh kebohongan.
"Baiklah, kalau begitu artinya kita bisa jalan-jalan hari ini." Jinny seenaknya memutuskan, membuat Dita kebingungan.
"Ayo kak bersiap-siap. Dandan yang cantik ya." Jinny menarik tangan Dita untuk masuk ke rumah dan bersiap-siap pergi.
"Matilah aku...." Kenapa semua orang di keluarga ini suka sekali memutuskan sepihak dan bersikap seenaknya. Dita mengutuk keluarga asingnya itu.
Bersambung...
__ADS_1