
Sejak diputuskan pindah ke rumah utama, saat itu juga Romi dan Dita mulai tidur satu kamar. Mungkin itulah yang dimaksud 'Have fun' oleh Nisa 😂😂😂
Romi yang awalnya tidak ingin hidup berdua dalam satu hotel dengan kamar terpisah, kini malah hidup berdua dalam satu kamar, meskipun tidak satu ranjang. Sejak perintah untuk tidur sekamar dengan Romi, Dita inisiatif memilih sofa menjadi tempat tidurnya. Ia tidak ingin membeku seperti es batu saat tidur satu ranjang dengan suaminya, si manusia kutub.
Beberapa bulan kehidupan baru mereka lalui. Tidak banyak yang terjadi antara keduanya, begitupun dengan ibu. Ibu masih sama dengan pendiriannya, belum bisa menerima Dita sebagai menantunya. Bahkan sejak awal Dita tinggal serumah, ibu belum pernah mengajak menantunya itu sekedar bicara, apalagi mengobrol.
Hubungan Romi dan Dita pun masih jalan di tempat. Romi disibukkan dengan urusan perusahaannya.
Begitupun dengan Dita, saat ini ia bersama Nisa sedang mengelola produk baru minuman kekinian "Boba". Setelah beberapa kali melakukan survey pasar kecil-kecilan akhirnya mereka mampu memasarkan produk terbaru mereka. Produk yang kali ini sedang mereka tangani terbilang cukup sukses, beberapa perusahaan skala menengah tertarik untuk menjalin kerjasama dengan mereka.
---------------------------------------
Siang ini Dita dan Nisa ada janji bertemu perusahaan yang mengajukan kerjasama. Sudah lama sekali rasanya mereka tidak mendapat penawaran kerjasama sebesar ini, sedikit gugup. Mereka sudah tiba lebih dulu di sebuah kafe yang telah disepakti. Tak lama calon rekanan mereka tiba, seorang perempuan dan seorang laki-laki.
"Perkenalkan saya Dita, dan ini Nisa rekan saya." Dita menyapa lebih dahulu ketika tamu mereka tiba.
"Senang bertemu dengan anda nona Dita dan nona Nisa. Saya Rian, dan ini sekretaris saya Nina." Rian balik memperkenalkan diri.
Pertemuan pertama berjalan cukup baik. Pihak Rian berencana menjadikan produk terbaru Dita dan Nisa menjadi hak paten milik perusahaannya.
Mereka berencana akan melakukan tanda tangan kesepakatan perjanjian di pertemuan berikutnya.
-----------------------------------------
Seperti biasa, setiap hari Bima diminta laporan mengenai kegiatan nona muda. Hari ini tidak ada kejadian yang begitu spesial bagi Romi.
--------------------------------------------------
Hari penandatanganan perjanjian jatuh pada hari ini. Pagi itu Dita dan Nisa sudah mengatur perjanjian dengan pihak Rian di tempat yang sama saat pertemuan pertama. Seperti biasa Dita dan Nisa tiba lebih dahulu, mereka berangkat bersama menggunakan mobil kantor. Kali ini Rian datang sendiri tanpa ditemani oleh sekretarisnya. Saat Rian tiba, Nisa mendapat telpon dari kakaknya bahwa saat ini ayahnya sedang dibawa ke rumah sakit karena serangan jantung. Nisa meminta ijin kepada Dita untuk absen dalam penandatangan perjanjian kali ini.
"Pak Rian, mohon maaf ada yang mendadak harus saya urus. Untuk kesepakatan saya serahkan semuanya kepada nona Dita. Saya permisi dulu pak." Nisa menyempatkan diri menyapa Rian.
"Baik, nona. Tidak masalah. Semoga urusannya lancar." Rian termasuk orang yang tidak ribet dan terkesan santai.
"Terimakasih pak." Nisa meninggalkan kafe dan melambaikan tangan pada Dita.
"Abis ini gue nyusul. Hati-hati." Dita berjanji akan menjenguk ayah Nisa di rumah sakit begitu urusan ini selesai.
"Maaf ya pak, kalau penandatangan perjanjian kali ini hanya diwakilkan oleh saya." Dita kembali menyampaikan permohonan maaf atas kejadian tak terduga pagi itu.
__ADS_1
"Tidak masalah nona. Ngomong-ngomong bisakah saya tidak dipanggil dengan panggilan 'bapak'. Tua sekali rasanya. Jika tidak keberatan, nona bisa panggil saya Rian saja." Rian merasa risih dengan panggilan bapak yang disematkan kepadanya.
"Aaaa...maaf pak. Eh, Rian." Dita masih canggung menyesuaikan panggilannya.
Penandatangan telah selesai. "Senang bisa bekerjasama denganmu, Dit." Rian mengubah panggilannya tanpa diminta oleh Dita
"Kami juga, Rian. Semoga kerjasama kita ke depannya bisa berjalan lancar dan sukses." Dita pamit. Sesuai janjinya tadi, setelah ini ia akan menjenguk ayah Nisa.
Begitu keluar kafe, Dita langsung mencari sebuah taksi, karena tadi mobil kantor dibawa oleh Nisa. Agak lama Dita menunggu, taksi tak kunjung ia dapatkan.
"Biar saya antar, Dit. Kayanya susah cari taksi di sekitar sini." Rian tiba-tiba menawarkna tumpangan.
"Ga usah repot-repot, Rian. Bentar lagi juga akan ada taksi." Dita berusaha menolak secara halus.
Tiba-tiba bumi dibasahi oleh air hujan rintik-rintik, membuat Dita tak bisa lagi menolak tawaran dari Rian.
Butuh waktu setengah jam untuk tiba di rumah sakit tempat ayah Nisa dirawat. Begitu sampai Rian turut ikut masuk ke rumah sakit meski tanpa ijin dari Dita maupun Nisa.
"Ga ada salahnya kan menjenguk keluarga rekan kerja saya yang sedang sakit." Rian seolah menjawab keheranan yang ditunjukkan wajah Dita ketika melihat Rian mengikutinya ke dalam rumah sakit.
"Iya sih." Dita terpaksa mengangguk, mengamini ucapan Rian.
-------------------------------‐-----------------
"Dit, apa boleh sekalian liat sampel produk terbaru yang kemarin belum sempet dibawa?" Rian tiba-tiba teringat bahwa ada produk yang kemarin sempat belum ditunjukkan oleh Nisa dan Dita.
"Oh. Bo..boleh." Dita menjawab ragu, karena saat ini tidak ada orang selain ia dan Rian di toko.
Setelah selesai membahas lebih lanjut produk yang terbaru, akhirnya Rian pamit pulang. Obrolan berlangsung agak lama, karena Rian nampak begitu tertarik dengan produk yang sedang mereka bahas.
Karena hari sudah sore, Dita pun bersiap-siap untuk pulang.
--------------------------------------------------
Dita tiba di rumah seperti biasa sekitar jam lima sore. Hari itu ia begitu lelah, ingin rasanya segera ia menjatuhkan diri ke dalam bak berisi air hangat. Saat masuk kamar, Dita terkejut karena suaminya sudah tiba lebih dulu. Biasanya Romi pulang ketika matahari sudah terbenam.
"Kau seperti orang yang sedang tertangkap basah saja." Suara Romi terdengar dingin dan menyeramkan saat menyapa Dita yang memasang wajah kaget ketika mendapati suaminya sudah pulang lebih dulu.
"Tuu..tuan sudah pulang? Saya pamit membersihkan diri dulu, tuan." Dita merasa takut mendengar suara dan melihat ekspresi Romi yang berbeda dari biasanya. Segera Dita masuk ke kamar mandi. Cukup lama ia di kamar mandi, berendam air hangat membuatnya tertidur untuk beberapa saat. Dita menyelesaikan ritual mandi dan ketidurannya sekitar satu setengah jam.
__ADS_1
Romi merasa aneh karena Dita begitu lama membersihkan diri di kamar mandi, tidak seperti biasanya.
Dita yang sudah rapi dengan pakainan tidurnya bersiap menuju sofa favoritnya.
"Apa kau ingin menghilangkan aroma lelaki itu dari tubuhmu sehingga kau mandi hampir satu setengah jam?." Dita tersentak dengan pertanyaan tak terduga dari Romi.
"Maksud tuan apa? Lelaki mana yang tuan maksud?" Dita merasa kesal dengan tuduhan Romi, memberikan pandangan tidak suka ke arah Romi.
"Ternyata lelaki itu cukup membuatmu berani memelototiku ya. Hebat sekali dia." Lagi-lagi Romi meracau, membuat Dita makin kesal.
"Maaf tuan. Saya tidak mengerti yang tuan bicarakan."Dita segera ingin menjauh dari Romi. Namun usahanya gagal karena Romi menarik tangannya hingga ia terjatuh ke kasur.
"Kau gadis kecil, jangan berani macam-macam di luar sana. Aku sudah cukup berbaik hati membiarkanmu memiliki kehidupan seperti sekarang. Tidak kekurangan apapun. Cukup ikuti alurnya sampai kita menemukan jalan kita masing-masing. Tapi sepertinya aku salah, seharusnya sejak awal aku mendengarkan nasehat ibu." Romi menahan tubuh Dita yang hendak kabur, dia posisikan tubuhnya di atas tubuh Dita.
"Tuan, saya tidak bisa membaca dengan pasti apa yang tuan pikirkan saat ini. Tapi sepertinya apa yang ada di pikiran tuan saat ini salah." Dita berusaha menenangkan diri dan membujuk Romi yang saat itu terlihat sangat marah.
"Apa yang bisa membuktikan ucapanmu barusan? Apa kau bisa menunjukkan kepadaku bahwa saat ini kau masih perawan?" Sungguh, saat ini pikiran Romi sedang tidak sehat. Pikirannya seketika meracau kemana-mana ketika menerima laporan Dita sedang berduaan dengan kliennya. Romi berpikir Dita sudah berselingkuh seperti mantan istrinya dulu.
"Tuan, maaf. Saya rasa pikiran tuan saat ini sedang kurang baik." Dita menjadi ketakutan, raut wajahnya berubah panik, napasnya tersengal, ingin sekali ia lepas dari kungkungan badan kekar Romi.
"Kau sekarang bahkan berani mengataiku tak waras ya?" Kata-kata Dita barusan makin memprovokasi Romi. Secepat kilat Romi mengecup kasar bibir Dita.
Dita menolak dengan menggeleng-gelengkan kepalanya, namun usahanya sia-sia. Tenaganya kalah jauh dibandingkan dengan Romi. Romi semakin brutal kini mulai melucuti pakaian tidur Dita. Dua kancing bagian atas sudah terbuka.
"Tuan saya mohon lepaskan saya." Dita memohon ketika Romi melepas ciuman bibirnya.
"Tuan saya mohon jangan p*erkosa saya. Tuan saya mohon. Tuan..." Dita menjadi histeris, wajahnya pucat, badannya bergetar, air matanya mengalir deras.
Kejadian masa lalu tiba-tiba terlintas kembali di pikiran Dita. Kejadian ketika ia hampir diperkosa oleh orang bayaran bibi dan sepupunya. Kejadian yang masih menyisakan trauma.
Romi yang melihat kondisi Dita menjadi tak tega. Segera ia lepaskan kungkungannya.
"Tuan saya mohon...tuan...tuan saya mohon...." Dita terus memohon, kali ini menagkupkan kedua tangan di dadanya dengan pandangan kosong.
Romi bingung menghadapi situasi yang mendadak berubah. Hati dan pikirannya ikut berubah, yang awalnya dipenuhi amarah berubah menjadi iba.
Segera ia dekap tubuh istrinya.
"Maafkan aku. Maafkan aku." Kata maaf yang jarang sekali terucap, kini lolos begitu saja dari mulut Romi. Pelukan semakin ia eratkan, sambil beberapa kali mengusap rambut Dita.
__ADS_1
Dita sudah nampak tenang kali ini, napasnya sudah teratur, badannya sudah tak bergetar. Namun air mata masih sesekali keluar melalui kedua sudut matanya, dan mulutnya masih terus berucap.."Tuan saya mohon...tuan...tuan...tuan." Semakin lama suaranya semakin mengecil dan akhirnya terhenti saat Dita sepenuhnya terlelap dalam pelukan suaminya.
Bersambung....