LEMBARAN BARU SANG TUAN MUDA

LEMBARAN BARU SANG TUAN MUDA
D1


__ADS_3

Sinar matahari masuk ke kamar tidur utama melalui cela-cela gorden. Dita perlahan mengerjapkan matanya, menyesuaikan cahaya yang masuk ke retinanya. Dipegang kepalanya yang masih terasa berat, nampak dahinya berkerut menahan sakit yang intensitasnya dirasa agak meningkat seiring usahanya mengingat peristwa apa yang sudah terjadi pada dirinya. "Oh, sialan". Batinnya, ketika mengingat kejadian di kamar kecil semalam. Sejenak ia ingin melupakan peristiwa buruk itu. Dita kemudian terkaget setelah menyadari ada sesosok laki-laki yang berbaring di sebelahnya, yang matanya masih terpejam. Keterkejutannya seolah langsung sirna saat ia menatap wajah sempurna lelaki itu. "Betapa sempurnanya wajah suamiku." Masih membatin, sambil tanpa sadari ia senyum-senyum sendiri. Lamunannya terhenti ketika ia merasakan sakit pada tangan kirinya yang tanpa ia sadari sudah terpasang infus.


"Aw...". Seketika Dita menjerit saat ia menggerakkan tangan kirinya, dimana ada darah yang naik ke selang infus.


Teriakannya membangunkan tuan muda. "Apa yang kau lakukan. Kenapa bisa kau tidur di sini?." Romi lupa bahwa semalam ia lah yang merangkak naik di kasur yang sudah lebih dulu ditempati oleh Dita.


"Brukk...". Dita langsung terjatuh dari tempat tidur karena kaget melihat Romi yang terbangun, ia tak sadar posisi ia sebelumnya memang sudah berada di ujung tepi ranjang.


"Aw...Shhhh...". Desisan kembali terdengar dari mulut Dita. Ia kembali memegangi kepalanya yang terasa sakit, kali ini kepalanya terasa lebih sakit dibandingkan dengan tangan kirinya.


"Apa kau bodoh. Kenapa bisa terjatuh?". Romi yang masih belum sepenuhnya sadar terus mengucapkan kata-kata kasar. Namun tindakannya seolah berbeda dengan ucapannya, ia nampak panik dan menghampiri Dita untuk membantu membaringkan Dita ke tempat tidur. Dita masih meringis menahan sakit saat Romi membantunya naik ke atas kasur.


"Sial sekali. Bagaimana bisa aku menikahi wanita bodoh dan cengeng sepertimu?" Romi masih mengumpat, ada rasa kesal namun terselip juga rasa kasihan saat melihat Dita meringis dan mengeluarkan air mata.


Secepat kilat Romi meraih ponselnya menghubungi Bima. Ia meminta Bima menghubungi dokter untuk memeriksa kembali kondisi Dita. Untungnya Bima semalam menginap di hotel yang sama, sehingga tak butuh waktu lama ia sudah tiba di kamar tuan mudanya.


Begitu tiba Bima langsung memanggil pelayan hotel untuk datang, ia meminta pelayan wanita tersebut membantu Dita untuk minum obat yang semalam sudah diresepkan oleh dokter Ricky.


Usai minum obat Dita kembali tertidur, karena sepertinya obat yang diresepkan oleh dokter Ricky semalam mengandung obat penenang. Romi terlihat sedikit santai ketika melihat Dita terlelap.


"Apa perlu kita membawa dia ke rumah sakit? Huh, hari pertama saja sudah merepotkan. Kenapa malah aku yang sepertinya dikerjai? Sungguh sial." Romi masih mengomel.


"Seperti yang dijelaskan dokter semalam, nona mungkin hanya perlu istirahat total untuk sementara, tuan." Bima memberi saran kepada Romi setelah tuan mudanya itu berhenti mengomel.


"Lalu kau pikir siapa yang akan mengurusnya, kalau seharian dia hanya boleh di tempat tidur?." Seketika Romi menjadi seperti orang yang tak punya akal.


"Maaf tuan, kita bisa mempekerjakan pelayan untuk mengurus nona untuk beberapa hari ini." Bima mencoba menjernihkan kembali pikiran Romi.


"Iya juga ya. Kenapa aku mendadak seperti orang miskin saja." Romi mengumpat kesal pada dirinya sendiri. Tanpa menanggapi pernyataan Bima, Romi langsung melenggang ke kamar mandi untuk menyegarkan pikirannya yang mendadak seperti tak berfungsi.

__ADS_1


Bima segera menghubungi kembali pelayan hotel untuk mengurus kebutuhan Dita, meski tidak secara langsung mendapat persetujuan dari Romi. Tak lama kemudian pelayan hotel datang dengan membawa makanan untuk sarapan dan beberapa kebutuhan lainnya.


Romi yang selesai mandi dan merapikan diri dengan pakaian kerjanya sudah siap berangkat ke kantor, ia hanya menyuapkan sepotong sandwich ke mulutnya sebelum benar-benar meninggalkan hotel. Tuan muda yang tadi seketika merasa miskin, di hari pertama pernikahannya sudah langsung masuk kerja. Luar biasa.


Sebelum pergi ke kantor, Bima menitipkan beberapa pesan kepada pelayan hotel untuk memenuhi kebutuhan nona muda. Mulai dari makanan, obat-obatan, pakaian, hingga berpesan kepada pelayan tersebut untuk berada di kamar saat dokter Ricky memeriksa kondisi Dita. Sungguh mendetail, karena Bima tak ingin membuat tuan mudahnya kesal dan kecewa.


-------------------------------------


Setelah kepergian Romi dan Bima, sekitar satu jam kemudian dokter Ricky tiba di hotel untuk memeriksa perkembangan Dita. Ada beberapa obat tambahan yang diberikan melalui suntikan dan juga obat minum. Dokter Ricky melaporkan semuanya kepada Bima sebelum ia meninggalkan pasiennya.


Bima menyodorkan pesan yang disampaikan oleh dokter Ricky mengenai kondisi Dita saat ini. Nampak Romi menghembuskan napas lega. "Sebenarnya kondisi fisik nona Dita sudah jauh membaik dibandingkan semalam, kemungkinan nanti malam infusan sudah bisa dilepas". Begitu kira-kira isi pesan yang disampaikan oleh dokter Ricky.


"Baguslah, dasar merepotkan." Romi berusaha menutupi kelegaannya dengan umpatan. Namun meski demikian, bukan Bima namanya kalau ia tidak bisa menangkap gelagat yang berusaha ditutupi oleh tuannya. Bima bisa menangkap ekspresi lega sekaligus senang dari wajah Romi setelah tuan mudanya itu mendapat kabar baik mengenai kondisi istrinya.


"Iya tuan. Syukurlah." Bima turut senang.


--------------------------------------------


"Maaf nona, apakah nona tau dimana tuan Romi sekarang?." Dita bertanya kepada Mia, pelayan yang sejak tadi menemaninya. Dita tak mendapati keberadaan Romi sejak ia membuka matanya setelah tertidur kembali tadi pagi.


"Saat ini tuan berada di kantor nona. Apakah ada yang bisa saya bantu?." Mia menjawab dengan sopan.


"Oh. Tidak...tidak...Terimakasih sekali sudah membantuku hari ini." Dita yang terkejut mendengar jawaban dari Mia.


"Apaa? Di hari pertamanya menikah dia langsung ke kantor? Katanya orang kaya? Sebegitunya kah mencari uang?" Dita bergumam dalam hati, tak percaya dengan tindakan 'suaminya' itu.


"Sama-sama nona. Tadi tuan Bima berpesan jika ada yang nona butuhkan silahkan beritahu saja." Mia menyampaian pesan yang seharusnya disampaikan oleh suami Dita. Kenapa yang lebih perhatian malah sekretarisnya coba. 😆


"Ah iya. Saya rasa kebutuhan saya sudah sangat cukup untuk saat ini. Terimakasih atas bantuannya ya. Oh iya siapa namamu? Sejak tadi kita bahkan belum saling memperkenalkan diri." Dita mengulurkan tangan kanannya mengajak Mia bersalaman.

__ADS_1


"Maaf nona saya Mia. Tidak pantas saja berjabat tangan dengan nona." Mia merasa sungkan menerima uluran tangan Dita.


"Ah kau ini jangan terlalu kaku. Aku mungkin statusnya sama saja denganmu, jadi tak perlu sungkan." Dita menunjukkan cengir kuda khasnya.


"Maaf nona." Lagi-lagi Mia minta maaf, entah kesalahan apa yang sudah ia perbuat.


Dita yang kondisinya sudah sangat membaik kemudian bangun dari tempat tidur. Ia keluar kamar sambil mendorong tiang infus, awalnya Mia hendak membantu, namun Dita menolaknya. Dita terlalu tidak terbiasa dengan perlakukan yang diberikan kepadanya sejak pagi.


Ia menelusuri setiap sudut ruangan mulai dari ruang tamu, dapur, hingga kamar tidur yang berada di seberang kamar tidur utama. Mulutnya tak berhenti mengaga ketika melihat betapa mewahnya setiap properti yang ada di masing-masing ruangan, kali ini ia percaya kalau suaminya adalah konglomerat. Saat masuk ke kamar tidur yang ukurannya lebih kecil dari kamar tidur utama, Dita mulai berpikir apakah kamar itu adalah kamar yang disiapkan untuknya. Percaya dengan pikirannya barusan, segera ia meminta Mia membawa barang pribadi miliknya yang sebelumnya diletakkan di kamar utama. Mia awalnya merasa heran dengan permintaan Dita. "Ah, kau jangan heran seperti itu dong. Kamar ini memang sudah disiapkan untukku." Dita yang menangkap bahwa Mia heran dengan permintaannya kemudian berbohong.


"Baik, Nona." Mia akhirnya memenuhi permintaan Dita setelah terjawab rasa herannya.


Usai memindahkan semua barang pribadinya, Dita merebahkan badannya di kasur dengan agak keras.


"Huh...ini lebih nyaman." Dita berucap ketika tubuhnya sudah mendarat di kasur. Merasa lebih leluasa dibandingkan saat ia berasa di kamar Romi. Tak lama ia melirik tangan kirinya yang masih terpasang infus, ia merasa mulai tak nyaman.


Dita memanggil Mia untuk membantunya melepas selang infus. Mia yang kaget awalnya menolak untuk membantu.


"Nona, maaf. Dokter Ricky berpesan infusan bisa dilepas nanti malam. Dokter Ricky sendiri yang akan membantu melepaskan selang infus nona." Mia menjelaskan kepada Dita pesan yang disampaikan oleh dokter Ricky.


"Ya ampun Mia. Aku bisa melepasnya sendiri, kemarin aku melihat bagaimana suster melepas infus. Jadi kenapa mesti repot-repot memanggil dokter Ricky. Lagian aku sudah tidak betah dengan benda ini. Kalau kau takut berbalik badan saja." Keinginan Dita tak bisa dihalangi.


Ia mulai melepas selang infusnya sendiri. Setelah mengingat beberapa langkah yang pernah ia lihat. Akhirnya selang infus sudah berhasil terlepas dari tangannya.


"Nah...sudah selesai. Begini saja kok harus merepotkan orang lain." Dita merasa bangga dengan dirinya sendiri ketika berhasil melepas selang infus dari tangannya.


Sesuai pesan dari Bima, Mia melaporkan kondisi Dita secara berkala, termasuk peristiwa melepas selang infus barusan.


Romi yang ikut membaca laporan dari Mia menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2