
Dalam perjalanan menuju kantor wajah Romi terlihat dingin, namun kali ini wajahnya terlihat lebih dingin dari biasanya. Bima membaca gurat wajah tuan mudanya kali ini, ia mencoba untuk membuka pembicaraan dengan Romi.
"Tuan, apakah ada masalah? Tuan terlihat sedang berpikir keras nampaknya? " Romi berusaha menyampaikan apa yang ada di dalam pikirannya.
"Kau ini seperti cenayang Bim. Bagaimana kau tau aku sedang memikirkan hal yang serius?" Romi mencoba menjawab sedatar mungkin.
"Saya sudah lama hidup bersama tuan, terlihat dari wajah tuan hari ini berbeda. Seperti sedang ada beban. Tapi setahu saya saat ini urusan perusahaan tidak ada masalah." Bima menjawab penuh percaya diri. Benar apa yang dikatakan Bima, ia hampir 24 jam dalam seminggu selalu bersama tuan mudanya, sehingga tidak sulit untuk menebak suasana hati dan isi pikiran tuan mudanya.
"Hahaha...Kau benar juga. Aku bahkan hampir lupa sudah berapa lama kita saling mengenal." Romi tertawa mendengar ucapan Bima, namun tawanya terlihat garing seperti kerupuk yg melempam 😂😂😂
"Iya tuan muda. Saya selalu siap membantu tuan bila ada yg mengganjal di pikiran tuan." Masih berusaha menggali apa yang sedang terjadi dengan tuan mudanya.
__ADS_1
Nampak Romi agak ragu mengutarakan isi pikirannya. Tidak seperti biasanya, ia selalu terbuka dengan sekretaris sejatinya ini. Namun, kali ini berbeda, ini bukan menyangkut urusan perusahaan atau pekerjaan. Kali ini karena urusan pribadi yang sebelumnya tidak pernah ada di pikirannya.
Tapi kalau bukan bercerita kepada Bima, ia akan bercerita kepada siapa? Karena siklus pertemanan Romi memang cukup sempit semenjak ia menjadi presdir. Karakter asli teman-temannya sedikit demi terungkap, kebanyakan mereka berteman hanya karena status Romi sebagai Presdir Perusahaan Ekadarma.
"Ini karena keinginan ibu." Akhirnya Romi kembali bersuara. "Ibu memintaku untuk menikah dan memberinya cucu." Seketika hening.
Bima bingung menanggapi. Secara ia dan Romi sama-sama jomblo, tidak punya pengalaman berkencan atau sejenisnya. Yang mereka tau hanya bisnis, saham, dan teman-temannya.
"Kenapa kau diam? Kau bingung ya mau memberi saran apa? Harusnya aku sadar tidak berguna menceritakan ini kepada kau?" Sambil sedikit tertawa, lagi-lagi tawanya garing. Terdengar sedikit nada menghina dari perkataan Romi kepada Bima
"Memang kau punya pengalaman, hah?" Menohok di hati Bima mendengar pertanyaan dari tuan mudanya.
__ADS_1
"Saya akan belajar, Tuan." Kali ini jawabannya terdengar menciut diiringi dengan tawa yang dipaksakan.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, dengan pengemudi dan penumpang yang sedang tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Mencari cara untuk memecahkan masalah yang belum pernah mereka hadapi sebelumnya. Yaitu Mengenal Wanita - Pacaran - Menikah - Memiliki Anak, kedua makhluk dalam mobil mewah ini belum ada yang mempunyai pengalaman mengenai hal-hal ini.
***
Di tempat lain Jinny berangkat ke lokasi pemotretan dengan kegundahan di hati. Ia harus segera memenuhi janjinya pada ibu. Meski ia tahu bahwa ini sebuah keegoisan, tapi ia rasa tidak ada salahnya mencoba. Kalau usahanya mencarikan kakaknya istri gagal, ia akan mencari cara lain agar tetap bisa lolos dari keinginan ibu untuk meminta ia segera menikah.
Karena kegundahan hatinya, Jinny menepikan mobilnya ke bahu jalan. Ia kemudian menelpon seseorang.
"Sayang, bisa bertemu sebentar sebelum pemotretanku siang ini?" Ternyata Jinny menghubungi Adit. Adit adalah laki-laki yang ia pacari baru-baru ini, sekitar 6 bulan lalu Adit mengungkapkan isi hatinya dan langsung diterima oleh Jinny. Jinny bukan perempuan gampangan, ia selalu diingatkan oleh kakaknya untuk tidak mengikuti pergaulan bebas era sekarang, dan ia selalu mengingat pesan kakak kesayangannya itu.
__ADS_1
Namun kenapa dengan mudahnya Jinny menerima Adit sebagai pacarnya? Padahal mereka belum lama saling mengenal. Entahlah, Jinny merasa Adit adalah pria baik-baik dan merasa nyaman bila bersama. Sejauh mereka berpacaran bahkan Adit hanya sebatas memegang tangan, dan maksimal memberikan ciuman di pipi. Entah karena Adit tahu kalau Jinny selalu dalam pengawasan Presdir Ekadarma, atau memang Adit adalah pria baik-baik, atau karena alasan lain? Hanya Adit dan author yang tahu jawabannya 😂
Bersambung....