
Dita kembali tidur di sofa untuk malam-malam setelah kejadian kesalah pahaman Romi malam itu. Romi seperti biasa akan masuk kamar setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan di ruang kerja. Romi biasanya kembali ke kamar sekitar pukul sepuluh, di saat Dita sudah terlelap.
Malam itu Romi selesai dengan pekerjaannya lebih larut dari biasa. Sebelum tidur ia membersihkan diri dan berganti pakaian tidur, kemudian mematikan lampu kamar. Romi terbiasa tidur dengan lampu remang-remang. Sesungguhnya hal ini bertolak belakang dengan Dita, sehingga memang sengaja Dita tidur sebelum Romi kembali ke kamar dan mematikan lampu.
Dita tak menyukai suasana gelap karena tak jarang mimpi buruk datang saat ia tidur dalam kegelapan. Mimpi yang sering muncul adalah kejadian ia terperangkap di kegelapan dalam mobil saat kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tuanya.
"Ayah, ibu, kakak..." Terdengar suara dari balik sofa ketika Romi hendak masuk ke dalam selimut. Kata-kata tersebut terucap beberapa kali dari mulut Dita sebelum akhirnya Dita terbangun. Romi dapat melihat dalam keremangan Dita beberapa kali mengusap wajah dengan kedua tangannya, sebelum akhirnya Dita beranjak dari Sofa menuju dapur untuk mengambil air dingin.
Cukup lama Dita tak kembali ke kamar, Romi penasaran dengan apa yang terjadi. Ia paksakan dirinya untuk mengintip dari lantai dua di mana
keberadaan istrinya. Ternyata Dita saat ini berada di ruang TV dengan lampu menyala. Beberapa saat Romi perhatikan, tak ada tanda-tanda Dita akan kembali ke kamar. Romi memutuskan kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan rasa penuh penasaran dengan mimpi yang dialami istrinya.
Dita memutuskan tidur di ruang TV hingga subuh, karena ia pasti tidak akan bisa tidur kembali di kamar dengan lampu yang remang. Kejadian ini sudah terjadi beberapa kali sejak Dita tinggal di rumah utama, ia selalu melanjutkan tidurnya di ruang TV ketika terbangun tengah malam, dan akan kembali ke kamar sebelum orang di rumah itu terbangun.
------------------------------------------------------------
Saat jam istirahat, Romi mulai membuka kembali berkas yang dimintanya pada Bima beberapa waktu lalu. Ada satu berkas yang belum selesai ia baca. Di dalam berkas yang ia baca, Romi mendapatkan informasi mengenai kecelakaan yang menyebabkan kematian ayah dan ibu Dita. Dalam kecelakaan itu yang berhasil selamat hanya Dita dan kakaknya. Proses evakuasi membutuhkan waktu yang cukup lama, sehingga ke empat korban kecelakaan itu cukup lama terperangkap dalam mobil.
"Mengapa hidupmu malang sekali." Romi kemudian merasa iba setelah mengetahui kejadian buruk di masa lalu yang dialami Dita.
"Bima, apakah sekarang kondisi kesehatan kakak kesayangan wanita itu dalam keadaan baik?" Romi menanyakan keadaan Dimas yang saat ini menjadi satu-satunya keluarga Dita.
"Saat ini kondisi kesehatannya cukup baik. Beliau dijadwalkan kontrol satu kali dalam sebulan. Minggu lalu terakhir kontrol." Sejauh ini Bima detail dalam memantau kondisi nona muda dan lingkungan di sekitarnya. Sekali lagi, Bima tak ingin kecerobohan di masa lalunya terulang.
"Kapan terakhir kali ia menemui kakaknya?" Akhir-akhir ini Romi nampak menjadi lebih perduli terhadap istrinya.
"Terakhir nona dan kakaknya bertemu langsung adalah saat hari pernikahan, tuan. Selebihnya mereka berkomunikasi melalui panggilan suara maupun video." Bima tak mengerti dengan tujuan dari pertanyaan tuan mudanya.
"Adik macam apa yang tak pernah mengunjungi kakaknya sendiri selama itu?." Romi seolah lupa kalau ia sendiri pernah melakukan hal yang sama pada keluarganya.
"Sepertinya nona belum berani meminta ijin untuk pulang ke rumahnya, tuan." Bima mencoba memberikan alasan yang masuk akal menurutnya.
"Apa aku sekejam itu? Apa kau tidak tahu beberapa hari lalu bahkan dia meminta ijin jalan-jalan di saat aku memintanya libur?." Jawaban Bima ditolak mentah-mentah, karena ia tak mau dijadikan alasan yang menyebabkan istrinya seolah melupakan keluarganya. Padahal sebenarnya begitulah kenyataannya.
"Bu..bukan begitu maksud saya, tuan." Bima menggaruk-garuk kepalanya, bingung menanggapi kekesalan tuan muda yang tiba-tiba muncul.
"Malam ini aku akan mengunjungi kakak ipar." Permintaan mendadak Romi seolah ingin membuktikan pernyataan Bima tadi sepenuhnya salah.
__ADS_1
"Baik tuan." Bima tentunya tak bisa menolak permintaan yang mulia.
--------------------------------------------------
Bima mempersiapkan segala kebutuhan untuk kunjungan dadakan itu. Tak lupa malam ini Romi meminta untuk menginap selama satu malam.
Hari ini Romi tiba di rumah bersamaan dengan Dita. Mereka berpapasan di halaman rumah begitu sama-sama keluar dari mobil. Dita mengangguk sopan begitu pandangannya beradu dengan Romi, sebelum Romi lebih dulu masuk.
"Tuan, ada hal apa sehingga hari ini tuan muda pulang lebih awal dari biasanya?." Dita mencium aroma tak beres, takut kejadian seperti sebelumnya terulang.
"Tidak ada hal besar yang terjadi kan?" Dita penasaran karena tak kunjung mendapat jawaban dari Bima.
"Hari ini tuan ingin mengunjungi rumah nona." Bima menjawab santai, memang sejak tadi ia belum sempat memberitahukan perihal kunjungan malam ini kepada Dita.
"Apaaa? Kenapa mendadak sekali?" Dita terkejut bukan kepalang, panik melanda.
"Sebenarnya tuan muda sudah memberitahu sejak tadi siang." Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, kemudian Dita yang kesal memotong pembicaraannya.
"Huh..Dasar pelit informasi. Kenapa kau baru memberitahuku sekarang? aku kan butuh persiapan. Apa susahnya menelpon atau mengirim pesan sih?." Dita buru-buru masuk ke rumah dengan berlari meninggalkan Bima. Bima tertegun karena habis diomeli oleh nona mudanya.
"Memang salahku apa? Kenapa nona jadi marah padaku?" Bima bingung, kemudian akhirnya ikut masuk ke rumah untuk mengecek kebutuhan tuan dan nona muda selama menginap.
---------------------------------------------------
"Selamat malam. Selamat datang tuan di rumah kami yang sangat sederhana ini." Dimas menyambut dengan penuh suka cita, senyum tulus ia persembahkan.
"Kakaaak, lama banget ga ketemu. Dita kangen." Dita langsung memeluk Dimas begitu ia bertemu kakaknya setelah sekian lama tak berjumpa. Tingkahnya langsung berubah seperti anak kecil ketika bersama kakaknya.
"Kau sudah punya suami sekarang. Tolong hormati suamimu, jaga kelakuanmu. Jangan peluk-peluk kakak lagi." Dimas berbisik di telinga Dita, dan segera melepas pelukannya.
"Huh." Dita manyun ketika pelukannya ditolak.
"Silakan masuk tuan." Dimas mengantar Romi untuk menuju ruang makan. Agenda pertama mereka adalah makan malam. Untung Dita langsung menelpon ketika tahu malam ini mereka akan menginap,.sehingga masih punya waktu beberapa jam untuk mempersiapkan makan malam dan beberapa keperluan lain.
"Silakan dinikmati hidangannya, tuan. Mohon maaf bila tidak sesuai dengan selera tuan." Dimas memberi kode kepada Dita untuk mengambilkan menu untuk suaminya.
"Kami berusaha menghidangkan menu terbaik yang kami punya, tuan. Semoga sesuai dengan selera tuan." Putri ikut nimbrung.
__ADS_1
Romi memperhatikan Putri dengan seksama. "Jadi ini wanita yang bermuka dua itu." Romi langsung merasa kesal begitu mengingat kelakuan Putri yang diceritakan Bima beberapa waktu lalu. Putri yang ditatapi oleh Romi menundukkan wajahnya, malu.
----------------------------------------------------
Makan malam berlangsung lancar, meski tak banyak yang mereka bicarakan. Sepanjang makan malam, Romi minta diambilkan menu ini dan itu oleh istrinya, padahal beberapa menu bahkan lebih dekat dengan piringnya. Namun Dita tak bisa menolak, ia tak ingin Dimas mencurigai status pernikahan mereka yang sebenarnya. Dita merasa aneh dengan sikap tak biasa yang ditunjukkan oleh Romi. Berbeda dengan Dita, seseorang yang sedari tadi memantau dari ruang tamu tersenyum melihat kelakuan tuan mudanya.
-----------------------------------------------------
Usai makan malam, mereka pindah ke ruang tamu untuk minum teh dan melakukan obrolan ringan. Obrolan malam itu kebanyakan mengenai masa kecil Dita. Romi terlihat tak begitu memperhatikan. Putri merasa risih dan malas mendengarkan. Dita yang menjadi objek pembicaraan beberapa kali protes dengan cerita yang kadang dibuat berlebihan oleh kakaknya.
"Hoaaaam." Romi tiba-tiba menguap saat Putri hendak memulai ceritanya.
"Apa tuan sudah ingin bersiap untuk tidur?." Dimas peka dengan kode dari Dimas.
"Tolong tunjukkan kamarnya, Dit." Dimas meminta Dita mengantarkan Romi ke kamar.
Tentunya malam ini mereka akan tidur satu kamar, karena hanya ada dua kamar di rumah itu. Satu kamar ditempati Dimas, dan satu kamar lagi adalah kamar Dita semasa gadis yang malam ini akan ia tempati bersama suaminya. Hal inilah yang sejak tadi menjadi beban pikiran Dita, kembali tidur satu ranjang dengan suaminya.
"Tuan, apa tuan bisa tidur di kamar sempit ini?." Dita takut Romi tak nyaman. Tak ada jawaban apapun dari Romi.
Begitu masuk kamar, Romi mengabsen setiap sudut ruangan. Beberapa foto masa kecil Dita terpajang di dinding. Ia pandangi ukuran kasur yang ada di kamar itu, ukurannya setengah dari ukuran kasur di kamarnya. Entah mengapa ia tersenyum tipis saat melihat kasur berukuran sempit itu.
Setelah selesai mebersihkan diri, Romi langsung naik ke kasur. Dita yang tadi mengantri, saat ini masuk kamar mandi untuk sikat gigi dan berganti baju. Dita ragu-ragu untuk keluar kamar mandi. Ia bingung bagaimana memulai tidur dalam satu ranjang dengan Romi.
"Apa kau alergi jika tidur bersamaku?" Romi kesal karena Dita sejak tadi berdiri di sisi kiri ranjang tak berani untuk merebahkan diri.
"Tentu saja tidak tuan". Dita secepat kilat membenamkan dirinya di bawah selimut, hanya ujung kepalanya yang kini terlihat.
"Matikan lampu!" Perintah Romi.
"Maaf tuan, bisakah untuk malam ini lampunya tetap dinyalakan?". Dita sedikit menurunkan selimutnya setinggi hidung. Matanya menatap Romi penuh harap.
"Apa kau pikir aku akan berbuat hal aneh-aneh padamu bila lampu dimatikan?. Jangan berpikiran kotor! Cepat matikan lampunya!." Romi yang justru punya pikiran aneh-aneh kembali memaksa Dita mematikan lampu.
"Maaf tuan, saya tidak bisa tidur kalau lampu tidak menyala." Dita akhirnya mengaku. Ia tak ingin tidurnya malam ini menjadi dua kali lipat lebih sulit, tidur bersama Romi dengan lampu tidak menyala. Ia bahkan tak berpikiran Romi akan berbuat macam-macam padanya.
"Jadi itu alasan dia tidur lebih awal, dan tidur di ruang tamu bila terbangun tengah malam? Kenapa aku merasa seperti orang yang kejam selama ini?" Romi berbicara pada dirinya sendiri dalam hati.
__ADS_1
Romi secara tidak langsung memenuhi permintaan Dita. Dita mencoba memejamkan matanya, ingin rasanya malam ini cepat berlalu.
Bersambung...