
Usai mebereskan pekerjaan dapur, Dita bersiap menuju tokonya. Ia mengendarai mobil bututnya dengan kecepatan sedang selama empat puluh lima menit untuk tiba di salah satu tempat favoritnya itu. Ia sudah menggeluti usaha di toko itu hampir tiga tahun, sejak ia lulus kuliah. Ia menjalankan usahanya bersama dengan sahabat dekatnya saat mereka kuliah di jurusan yang sama.
"Dit, kemana aja lo? Ga ngasih-ngasih kabar, eh tetiba udah nongol aja. Lo ga kenapa-kenapa kan?." Begitu sampai Dita langsung diberondong pertanyaan oleh sahabatnya itu.
"Sory sahabatku yang paling baik sedunia. Nanti diceritain deh, tapi sekarang mau beresin laporan keuangan dulu yang udah numpuk dari kemaren. Makasih juga udah ngehandle kerjaan gue selama beberapa hari ini." Dita udah mau memajukan mulutnya untuk mencium pipi Nisa, namun keburu dicegah oleh Nisa.
"Ihhh...Lo itu kebiasaan ya cium-cium orang." Nisa sewot. Karena ciumannya ditolak akhirnya Dita memaksa untuk memeluk Nisa sahabat karibnya itu. Dita sudah menganggap Nisa sebagai saudara perempuannya, mereka sudah saling terbuka dengan masalah pribadi masing-masing.
"Sekali lagi makasih ya, Nis." Dita semakin mengeratkan pelukannya. Nisa merasa aneh dengan tingkah laku Dita pagi itu, tak biasanya ia memeluknya dengan begitu erat. Pelukan terasa seperti ingin melepaskan beban berat yang sedang ditanggung.
"Dit, lo ga kenapa-kenapa kan?". Nisa mencoba melepas pelukannya dan menatap wajah Dita.
"Gue lagi ga baik-baik aja." Dita menggelengkan kepalanya, jawabannya jujur. "Nanti gue ceritain semuanya kalo udah beres PR-PR nya ya." Lanjur Dita sambil berlalu menuju meja kerjanya
Nisa menghela napas panjang, penasaran dengan apa yang terjadi pada sahabatnya itu. "Kok hidup lo kayanya menderita banget sih, Dit. Dari kemarin-kemarin ada aja masalah lo. Tapi untungnya lo itu wanita tahan banting ya." Nisa berkutat dengan pikirannya sambil mengingat-ingat apa yang sudah terjadi pada Dita belakangan ini.
Beberapa waktu belakangan ini Dita memang banyak melewati masa-masa sulit. Mulai dari perlakuan kurang baik kakak iparnya, serangan jantung yang dialami oleh kakaknya, hingga pelecehan seksual yang didalangi oleh bibinya yang tak rela lelaki idaman anak mereka ternyata menyukai Dita.
Mungkin yang paling menyeramkan adalah masalah pelecehan seksual. Bibi dan sepupunya menjebak Dita supaya terlihat murahan di depan Reno yang kala itu sedang mendekatinya. Bibi Lia dan Luna menyewa seseorang untuk memperkosa Dita. Kejadian mereka atur sedemikian rupa sehingga Reno salah paham dan membenci Dita, untungnya saat kejadian pemerkosaan itu Dita berhasil kabur menyelamatkan diri. Kejadian hari itu membuatnya sangat trauma, meski kejadiannya sudah hampir satu tahun yang lalu.
"Semoga setelah ini lo menemukan kebahagiaan sejati lo ya, Dit." Nisa menyudahi lamunannya dan kembali bekerja.
--------------------------------------------
Jam makan siang sudah tiba, Nisa menagih janjinya pada Dita.
"Yuk makan siang dulu, sambil bayar hutang cerita lo." Nisa menghampiri meja kerja Dita begitu jam makan siang tiba.
"Ya ampun...Ga sabaran banget sih." Dita mencucu namun berdiri dari duduknya dan memenuhi ajakan Nisa.
Mereka makan siang hanya jalan kaki, karena tempat makan langganan tak jauh dari toko mereka. Siang itu mereka memesan sop iga masing-masing satu porsi. Sepertinya makan sop iga akan membantu menyegarkan pikiran mereka.
"Jadi kemana aja lo beberapa hari ini ngilang? Mas Dimas waktu itu panik banget pas ngubungin gue nanyain keberadaan lo?." Lagi-lagi Nisa menyerbu Dita dengan pertanyaan yang berapi-api.
Seketika hati Dita menghangat mendengar ucapan Nisa barusan. "Terimakasih Tuhan, ternyata masih ada orang yang tulus sayang sama Dita meskipun hanya sedikit." Dita yang ditanya Nisa sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Dit, lo ga kenapa-kenapa kan? Ditanya dari tadi malah diem." Nisa makin kesal.
__ADS_1
"Gue kemarin habis kecelakaan, Nis." Kata-kata Dita barusan membuat Nisa kaget dan beranjak dari kursinya untuk memeriksa kondisi fisik Dita. "Badan gue ga kenapa-kenapa, Nis. Kata dokter ga ada luka yang serius." Dita risih mendapat perlakuan dari Nisa dan meminta Nisa untuk duduk kembali ke kursinya.
"Syukurlah." Nisa bernapa lega."Terus?" Nisa masih pensaran dengan kelanjutan cerita Dita.
" Ih...makanya dengerin dulu ceritanya baru komen." Dita
"Siap bos, maaf-maaf terlalu kepo." Nisa
"Terus minggu depan gue bakalan nikah." Lagi-lagi Pernyataan Dita mengejutkan Nisa, kali ini reaksinya lebih lebay dari yang tadi.
"What? Apa? Kok bisa? Sama siapa? Bukan sama Reno yang cemen itu kan?." Pertanyaan Nisa bertubi-tubi. Wajar kali ini dia bereaksi berlebihan, karena ini adalah hal besar yang tak terduga dan tidak main-main.
"Gue baru kenal sama itu orang beberapa hari yang lalu." Jawabnya kagi singkat.
"What? Apa?." Nisa mengulang lagi pertanyaan yang sama seperti sebelumnya, kali ini makin tinggi nada bicaranya. "Kok bisa-bisanya lo nikah ama orang yang baru lo kenal? Kalo dia bukan orang baik gimana? Jangan aneh-aneh deh, Dit." Nisa tak terima.
"Ceritanya panjang dan rumit, Nis." Dita menceritakan kejadian beberapa hari belakangan secara detail kepada Nisa.
Nisa tak bisa berkata apa-apa. Yang bisa dia lakukan saat ini hanyalah mendoakan yang terbaik untuk sahabatnya itu.
Akhirnya mereka kembali ke kantor lewat dari jatah jam makan siang.
-----------------------------------
"Maaf nona, apakah nona sebelumnya sudah membuat janji? Karena butik kami tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang?" Pertanyaan karyawan tersebut terdengar lembut namun penuh arti.
"Sudah." Dita menjawab singkat dan sok cool. Tidak ingin harga dirinya diremehkan.
"Maaf jika sudah membuat janji, atas nama siapa?" Karyawan tersebut agak kaget.
"Aduh sialan, kenapa aku tidak mengingat nama kedua orang sialan itu?." Dita bergumam, berusaha tidak menunjukkan kepanikannya.
"Kalau tidak bisa menunjukkan bukti telah membuat perjanjian silahkan nona tunggu di luar." Dita diusir secara halus.
Tak ingin berlama-lama dipermalukan Dita segera keluar dan menunggu di mobil. Saat itu masih jam tiga sore. Masih ada waktu satu jam dari perjanjian, pikirnya ia bisa tidur sebentar sambil menunggu karena memang beberapa hari ini ia kurang tidur.
--------------------------------------
__ADS_1
Pukul 16.00 Wib Romi yang diantar sekretaris andalannya tiba di butik. Semua karyawan memberikan salam hormat dengan menundukkan kepala. Romi langsung diantar menuju ruang fitting.
"Dimana gadis itu?" Wajah Romi seketika kesal karena tak mendapati Dita di ruangan itu.
"Maaf tuan, membuat tuan menunggu. Akan saya pastikan gadis itu segera ke sini." Bima dengan cekatan membuka ponselnya menghubungi Dita.
Dering ponsel membuat Dita kaget terbangun dari tidurnya, segera ia raih ponselnya. Kaget saat melihat jam dan melihat nomor yang sedang menghubunginya. "Matilah aku!." Begitu pikirnya
"Ia tuan, saya sudah sampai di butik." Buru-buru ia menjawab dan keluar dari mobil. Sambungan telpon langsung diputuskan tanpa sempat Dita memberi penjelasan. Saat masuk ia kembali dicegah oleh karyawan tadi. "Saya sudah ditunggu oleh tuan muda yang barusan datang!" Sontak karyawan tersebut kaget, tidak menyangka, dan segera mengantar Dita menuju ruang fitting.
"Celakalah aku!" Berani-beraninya ia menghalangi tamu tuan Romi untuk masuk ke butik ini.
Setibanya di ruang fitting Romi langsung melotot ke arah Dita, seringai sinisnya kembali ia tunjukkan. "Berani-beraninya kau membuatku menunggu. Kau pikir kau siapa? Seharusnya kau bersyukur mendapat kehormatan seperti ini dariku!".
"Maafkan saya, tuan. Kejadian ini tidak akan terulang lagi." Hanya kata maaf yang Dita ucapkan, ia tak tega menjelaskan alasan yang sebenarnya. Sepertinya ia sudah mulai hapal dengan karakter Romi, bisa saja karyawan tadi lagsung dipecat bila ia menceritakan kejadian yang sebenarnya.
Selesai percobaan setelan jas pengantin pria selesai, kemudian dilanjutkan dengan gaun pengantin wanita. Gaun pertama yang dicoba adalah gaun berwarna putih menyapu lantai dengan bahu terbuka sehingga membuat belahan dada Dita telihat. Nampak sekali Dita tak nyaman. Begitu ia keluar dari ruangan langsung disambut oleh tatapan calon pengantin pria.
"Apa-apaan baju yang kau kenakan? Kau ingin menggoda laki-laki yang menjadi tamu undangan?". Romi berteriak protes. Susah untuk memenuhi selera dan keinginan tuan muda ini.
Gaun-gaun berikutnya tak begitu saja menjadi pilihan, ada yang dianggap kampungan, kekanakan, dan sebagainya. Sampai di percobaan terakhir semua orang yang sudah tampak lelah dan pasrah kecuali tuan muda. Dita mengenakan gaun putih setinggi telapak kaki, dengan lengan panjang, dan bagian dada tertutup hingga tulang selangka, tampak pas di tubuhnya yang mungil. Ditambah dengan kalung sederhana membuat penampilan Dita semakin manis. Terselip senyum tipis di bibir tuan muda saat menyaksikan penampilan Dita saat itu, senyum yang hanya bisa dirasakan oleh dirinya sendiri dan sekretarisnya tentunya.
"Aku sudah lelah." Tiba-tiba Romi berdiri meninggalkan ruang fitting, membuat semua orang bingung.
"Pilih gaun ini untuk acara pernikahan nanti." Bima meluruskan kebingungan orang-orang sebelum berlalu mengekori tuan mudanya.
"Huuuh." Semua orang bernapas lega.
Saat hendak meninggalkan butik, Dita dihampiri oleh karyawan yang tadi sempat mencegahnya masuk.
"Nona, maafkan atas kejadian tadi. Saya tidak bermaksud apa-apa. Saya hanya menjalankan sesuai prosedur. Terimakasih sudah menyelamatkan pekerjaan saya." Permintaan maaf tersebut terdengar tulus, karyawan itu tahu kalau Dita tidak melaporkan alasan keterlambatannya tadi.
"Buka hal besar. Tapi kalau boleh saya berpesan tolong nantinya jangan menilai seseorang hanya dari penampilannya." Dita kemudian berlalu dengan tetap tersenyum tulus.
"Baik, Nona. Terimakasih."
"Wajar saja tuan Romi menjadikannya sebagai istri. Ternyata nona tadi mempunyai hati yang begitu mulia." Bergumam pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Bersambung.....